
Anjani menatap Arkan yang sudah bersiap dengan seragam dinasnya, dia sedikit memajukan bibirnya karena ya tidak mau ditinggal sebenarnya.
Arkan melirik ke arah istrinya yang sedari tadi memajukan bibir munginya. "Kenapa?"
"Gak usah sekolah aja deh, Mas," ucap Anjani.
"Kenapa memangnya?" Tanya Arkan yang kini menghampiri Anjani dan duduk di tepi kasur.
"Ya gapapa, gak ada temen di rumah."
"Mama dan papa ada di sini, mama dan papa kamu juga masih di sini, lalu?"
Anjani menghela napas lalu menyenderkan tubuhnya di kepala kasur, memang tidak paham Arkan ini. "Yaudahlah."
Mendadak Anjani tidak mood, bagaimana dia harus menjelaskan kalau dia tidak ingin ditinggal oleh Arkan? Tapi Arkan sebenarnya paham kok kalau Anjani tidak ingin dia tinggal, jadi perlahan dia membawa Anjani dalam dekapannya.
"Sebentar aja, Sayang. Nanti saya langsung pulang, kamu mau saya bawakan apa?" Tanya Arkan seraya mengecup bibir Anjani.
Anjani mengedikan bahunya, dia tidak ingin apapun. Dia hanya ingin Arkan ada di rumah, itu saja.
"Strawberry cheesecake di toko dekat sekolah enak, kan?" Tanya Arkan yang mulai menyogok istrinya dengan makanan-makanan kesukaannya.
Anjani terdiam, aduh kenapa sih Arkan harus menawarkan itu? Tidak! Anjani tidak akan bisa menolak, tapi dia harus mempertahankan gengsinya. "Gak mau."
"Oh, croissant sama kue balok lumer enak juga, kan?"
"Masss!! Yaudah boleh sekolah, tapi bawain semua yang kamu sebutin buat aku!" Akhirnya Anjani membuat keputusan.
Arkan terkekeh gemas lalu mencium kening Anjani. "Oke, nanti saya bawakan. Kamu jangan lupa makan dan minum obat, deal?" Arkan mengulurkan tangan di depan Anjani.
Anjani mengangguk dan menjabat tangan Arkan sebagai kesepakatan. Ahh bisa-bisanya istri kecilnya ini gemas, Arkan paling tidak bisa melihat kegemasan Anjani, dia jadi ingin tidak berangkat ke sekolah dan menghabiskan waktu dengan Anjani.
Anjani yang ditatap seperti itu mengerutkan dahinya. "Kenapa malah jadi diem?"
"Kamu buat saya gemas, jadi tidak mau berangkat."
__ADS_1
"Yaudah gak usah." Anjani tersenyum sumringah mendengar pernyataan suaminya.
"Tidak bisa, nanti pekerjaan saya menumpuk." Arkan mengulurkan tangannya untuk disalami Anjani, setelah itu dia mencium kening istrinya yang mendadak cemberut lagi.
"Saya pergi dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Setelah menjawab Anjani kembali berbaring, katanya nanti juga akan ada dokter Raiden ke sini untuk membantu melepas infusan Anjani yang masih terpasang.
Pukul 12 siang, Anjani memutuskan untuk turun dari kamar. Karena ya tubuhnya sudah jauh lebih enakan. Hal yang pertama kali dia lihat adalah papanya yang sedang menatap ke arah photo pernikahan Anjani dan Arkan yang terpampang besar di sana.
Perlahan Anjani menghampiri Mario dengan raut bertanya-tanya. "Papa ngapain?"
Mario tersenyum lalu melirik ke arah putrinya, ini bukan mimpi ternyata. Gadis kecilnya sudah menikah. "Tidak, tidak apa-apa."
Anjani menghela napas, karena ya dia tidak yakin. Pasalnya ayahnya itu nampak murung, tidak tau juga apa yang dipikirkan. "Papa kangen kak Seana ya?"
Mario menunduk sedikit lalu terkekeh. "Ya meskipun ada beribu alasan papa untuk marah pada anak-anak Papa, begitu juga dengan alasan untuk selalu merindukan kehadiran mereka."
Anjani memeluk Mario seraya tersenyum tipis. "Maaf ya, Pa. Anjani selalu buat papa feel lonely karena sikap Anjani."
Tidak sebenarnya, Anjani bahkan seperti pelita dalam keluarga mereka. Dia selalu mampu untuk memulihkan rasa kecewa kedua orang tuanya pada Seana. Mungkin itu juga alasan kenapa Mario dan Viona lebih banyak menggantungkan harapan pada Anjani.
"Kenapa jangan?"
"Karena bagi seorang anak perempuan itu cinta pertamanya adalah ayah. Walaupun papa senyebelin itu, sepemaksa itu, tapi Anjani sekarang sadar kalau papa mau yang terbaik buat Anjani."
"Papa mau Anjani pintar biar gak diremehkan, papa gak suka Anjani keluar malam karena papa mau Anjani punya masa depan yang baik gak kaya kak Seana, papa buat banyak aturan biar Anjani terbiasa sama semua peraturan yang akan Anjani terima di mana pun. Dan ... Papa nikahin Anjani sama Mas Arkan karena mau yang terbaik buat Anjani."
"Papa sama mama tau kalau Bagas seperti itu, papa sama mama tau kalau Bagas gak akan pernah bisa bahagiain Anjani dan sekarang Anjani baru sadar akan hak itu."
"Sayang ... " Mario mengusap kedua pipi putrinya dan mengecup puncak kepala gadis itu.
"Makasih ya, Pa. Makasih karena papa selalu memikirkan apa yang akan Anjani terima di masa depan."
Mario mengangguk lalu membali mengeratkan pelukan pada putrinya, rasa-rasanya dia sangat merindukan Anjani walaupun dia keras kepala begitu.
Mereka berdua sampai menghabiskan waktu bersama, seperti sekarang mereka malah menikmati teh bersama di tepi kolam renang. Sesekali Mario melirik ke arah putrinya. "Anjani bahagia sekarang?"
__ADS_1
Mendengar itu Anjani menoleh. "Di tahap bahagia yang iya banget juga engga, tapi feel better aja."
"Gio sangat menyayangi kamu kalau Papa lihat," ucap Mario seraya memindahkan buah catur pada papan.
Anjani menghela napas seraya berpikir keras untuk memajukan buah caturnya. "Iya kayanya."
"Kok kayanya?"
"Ya kita gak akan bisa memastikan orang sayang kita itu bener atau engga, sama kaya Bagas kemarin. Jadi Jani cuma ikutin alurnya aja, gak mau berekspektasi apa-apa."
"Tapi Papa lihat kamu sudah mulai mencintai Gio," goda Mario.
Anjani mendadak salah tingkah, ya maksudnya kenapa Mario harus bicara seperti itu? Anjani kan sedang berusaha stay cool dan terlihat seperti wanita mandiri gitu loh. Kan kalau begini dia jadi kelihatan bapernya pada Arkan.
Mario terkekeh, dengan sejuta gengsi yang anaknya miliki, tidak mungkin Anjani mau mengakui kalau dia mencintai suaminya. Mario adalah ayahnya dan sebagian besar sifatnya menurun pada Anjani. Tentu dia sangat hapal dengan putri kecilnya.
"Skak!" Mario semakin terkekeh saat berhasil mengalahkan Anjani.
"Curang!" Cetus Anjani, karena ya biasanya kalau bermain catur Anjani pasti menang.
"Makanya kalau punya perasaan itu ya diakui saja, itu yang akan membuat kamu semakin menikmati pernikahan dengan Gio."
Setelah bermain catur, Anjani kembali ke kamarnya untuk merebahkan diri. Pada akhirnya kata-kata terakhir sang Ayah membuatnya kepikiran. "Jadi aku beneran suka sama orang itu ya?" Gumam Anjani.
Anjani menggeleng lalu mengambil ponselnya untuk mencari nomor Arkan. Dia harus memastikannya sendiri. "Kalau sampai deg-degan denger suaranya, berarti beneran suka!"
Sambungan terhubung, beberapa detik Anjani menunggu dan tak lama dari itu suara suaminya terdengar. "Iya, Sayang? Ada apa hm?"
Anjani membulatkan matanya, seketika debar jantungnya mulai terdengar. Ini gila sih, Anjani sampai beberapa kali menaruh telapak tangan di dadanya. Benar-benar berdebar.
"Sayang?"
Duh kenapa harus sayang sih? Tapi sepertinya dia dekat dengan kelas, mungkin takut juga kalau ketauan murid jika memanggil namanya. "H-hah? Oh emmm itu, apa sih namanya. Jangan lupa bawain pesanan aku!"
Dari seberang sana Arkan terkekeh. "Iya-iya, nanti saya bawakan. Kamu jangan lupa minum obat, jangan lupa makan."
"I-iya, yaudah a-aku cuma mau bilang itu aja."
__ADS_1
Tanpa mendengarkan perkataan Arkan lagi Anjani langsung mematikan sambungannya. Dia tadinya ingin membuktikan tapi reaksinya sebesar ini berimbas pada perasaanya.
"Anjani, kamu udah gila! Iya kamu udah gila karena suka sama Om-Om nyebelin itu!!!" Anjani mendadak heboh sendiri. Serius ini dia menyukai Arkan jadinya?