
Tepat saat jam istirahat, Della dan Nanda membawa Anjani ke rooftop sekolah. Ada beberapa hal penting yang ingin mereka bicarakan, karena sebagai sahabat mereka memang harus selalu berbagi cerita. Jujur saja kabar putusnya Anjani dan juga Bagas ini mengejutkan untuk mereka. Ditambah Anjani yang mendadak diam, tidak biasanya. Dia pasti akan selalu menceritakan keluh kesahnya pada mereka.
"Kamu kenapa sih putus sama Bagas, padahal aku tau kalau kalian masih saling mencintai," ucap Della memulai percakapan.
"Kamu juga gak ada cerita, Jan sama kita. Kita ini khawatir kamu kenapa-kenapa," timpal Nanda.
Anjani terdiam, sebenarnya dia tidak bisa kalau lama-lama memendam ini semua, tapi bagaimana caranya dia mengatakan pada kedua sahabatnya ini kalau dia sudah menikah, dengan guru matematikanya pula. Apa yang akan mereka pikirkan?
"Anjani," panggil Nanda yang merasa tak ada respon.
"Aku mau cerita tapi aku tau kalian bakalan marah sama aku, tapi kayanya aku juga gak bisa sembunyiin ini dari kalian. Aku-"
"Menikah dengan Pak Arkan, kan?" Tebak Della.
Anjani mematung, kenapa harus tepat sekali. Tidak mungkin hanya tebakan asal saja, kan? Tapi dari mana mereka mengetahui ini semua?
"Kalian?"
"Papa aku yang asal tanya awalnya, Jan. Papa aku nanya kenapa kamu gak ngundang kita, minimal jadi bridesmaid. Tapi bukan masalah, aku tau mungkin kamu juga punya pertimbangan untuk merahasiakan. Tapi, Jan kenapa harus Pak Arkan? Kamu sama aja sakitin Bagas, mau gimana pun kita semua berteman," ungkap Nanda.
"Aku dijodohin, Nan. Kamu tau sendiri orang tua aku se-otoriter apa. Aku udah minta buat Seana aja yang dijodohin sama Pak Arkan. Tapi dia aja gak balik-balik ke rumah semenjak Papa marah karena dia hamil di luar nikah dan keguguran."
"Kamu kan bisa nolak," timpal Della.
"Kamu tau, Papa bilang kalau orang tuanya Bagas gak membiarkan Bagas pacaran. Kalau ketauan dia bisa dibatasi dalam apapun, dia bakalan kehilangan cita-citanya jadi pemain futsal atau basket internasional. Aku gak mau."
"Anjani itu bisa kamu bicarain sama Bagas, kenapa kamu ambil keputusan sepihak kaya gini? Bagas pasti bakalan perjuangin kamu di depan semua orang," balas Nanda.
"Aku juga mikirnya kaya gitu, tapi sebelum aku menikah sama Pak Arkan dia juga ada di acara makan malam. Aku pikir dia bakalan perjuangin aku, tapi kayanya emang bener kalau Bagas dilarang berhubungan dulu jadi dia bilang kita cuma temen."
"Masa sih?"
__ADS_1
Anjani mengangguk dan pada kenyataanya setelah selesai makan malam itu dia benar-benar menyerah pada hubungannya dan juga Bagas. Karena kalau soal menyangkut masa depan, Anjani tidak mau merusak masa depan milik orang lain. Jadi ya biarkan dia saja yang kini entah mau bagaimana lagi masa depannya.
Kalau mendengar sisi Anjani memang sulit ternyata. Yang tadinya Nanda dan Della ingin menceramahi gadis itu, sekarang mereka malah bingung harus bagaimana. Coba saja kalau Anjani bicara lebih awal, mereka akan membantu Anjani lepas dari ikatan pernikahan ini, kalau sekarang bagaimana coba? Dia sudah terlanjur basah menenggelamkan diri.
Apalagi yang di hadapkan mereka adalah keluarga Alaric, mereka sampai bergidik ngeri juga mendengarnya. Karena sudah pasti kalau mereka turun tangan, masalahnya akan merembet kemana-mana.
.
.
.
Pulang sekolah, seperti biasa Anjani menunggu supir di depan halte sekolah. Namun kabarnya sang supir mengalami ban bocor. Jadi dengan terpaksa Anjani harus menggunakan ojek oline atau taxi online.
Namun saat dia akan memesan, tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di hadapannya. Ternyata itu adalah. "Gas?"
"Biar aku antar pulang," ucap Bagas.
"Tapi-"
Dengan ragu Anjani menerima helm yang Bagas berikan. Ini Arkan tidak akan tahu kan ya? Tapi jika tahu pun bukannya tidak apa-apa? Toh Arkan juga pasti menikahinya karena menurut pada orang tuanya. Meskipun dia mengatakan bersungguh-sungguh pada Anjani, tapi tidak pernah tuh Arkan mengatakan perasaannya. Jadi seharusnya dia tidak akan marah atau cemburu, kan?"
Jadi, tanpa basa-basi lagi Anjani ikut dengan Bagas. Selain karena malas menggunakan ojek online, bukannya ini lebih bagus? Ya namanya juga remaja, mereka masih memikirkan kata hatinya, tanpa sadar dia malah lupa kalau sekarang adalah istrinya Arkan dan harus membuat batasan-batasan dengan Bagas.
Sepanjang perjalanan banyak sekali yang Anjani pikirkan, ya kalau bisa dihitung mungkin sudah hampir dua Minggu dia tidak berboncengan dengan Bagas. Padahal biasanya mereka melakukan ini setiap hari. Biasanya juga selalu ada bahasan setiap harinya yang akan Anjani ceritakan pada Bagas. Tapi kali ini dia diam.
Tiba-tiba Bagas menghentikan motornya di sebuah taman. Tak lupa juga dia membelikan satu cup boba brown sugar fresh milk kesukaan Anjani yang tak jauh dari tempat mereka berhenti. Bagas tidak pernah berubah, dia selalu tau apa-apa saja yang menjadi kesukaan Anjani.
"Makasih."
Bagas hanya mengangguk seraya menikmati Americano miliknya. Pandangan mereka berdua teruju pada sebuah danau yang berada di hadapan mereka. Tempat ini memang biasanya mereka pakai untuk tempat berbagi cerita.
"How was your day?" Tanya Bagas memulai percakapan lagi.
__ADS_1
"I'm fine, maybe," jawab Anjani seraya menghela napasnya.
"I'm not sure, i know you very well, Anjani." Iya, Bagas sangat mengenal Anjani, jadi apa-apa yang mungkin Anjani sembunyikan tidak akan bisa lolos dari pantauan seorang Bagas.
"Memangnya kamu mau aku menjawab apa? Kalau kamu tanya aku baik-baik aja, ya aku baik. Tapi kalau kamu tanya aku bahagia ya jawabannya kamu tau sendiri tanpa aku bilang."
"Karena aku tau itu kenapa aku ingin kamu bicara sendiri, ungkapkan semuanya sama aku."
"Aku mau, aku mau banget ungkapin semuanya sama kamu. Tapi keadaannya udah gak sama lagi, Gas. Aku semakin merasa bersalah kalau kamu bersikap baik kaya gini. Kenapa kamu gak maki-maki aku aja, kenapa kamu gak marah aja? Kenapa-"
"Karena rasa sayang aku ke kamu Anjani, apalagi alasan yang tepat untuk semuanya?" Ucap Bagas memotong, ucapan Anjani dengan cepat.
"Tapi ini salah. Mau gimana pun keadaannya udah salah, Bagas. Kita lagi ngelakuin hal yang salah, meskipun kalau boleh jujur aku seneng."
"Gak ada yang salah, Bang Arkan orang ketiga di dalam hubungan kita, Anjani. Kita bersama lebih dulu salahnya di mana? Awalnya aku emang marah, tapi aku gak bisa, Jan. Kamu itu rutinitas aku, jadi kalau gak ada kamu rutinitas aku rasanya ada yang berkurang."
Anjani terdiam, lebih tepatnya dia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba saja dia teringat Arkan, dia teringat dengan status pernikahannya dengan Arkan. Meskipun Anjani tidak menginginkannya tapi dia tau kalau apa yang dia lakukan ini salah, dia jadi merasa was-was.
Tanpa mereka sadari sebuah mobil SUV hitam sedang mengawasi mereka dari kejauhan. Itu Arkan, dia yang mengikuti mereka dari halte sampai ke sini. Tangannya terkepal kuat menggenggam stir, dia berusaha mengontrol napasnya. Ya meskipun kelihatan sabar dan kalem begini, Arkan juga memiliki emosi, dia tidak mungkin akan sabar melihat istrinya jalan berdua dengan pria lagi.
Hai-hai! Jangan lupa follow isntagram aku ya @Cxafixe. Oh iya aku juga mau promo cerita-ceritaku nih. Kali aja kalian berkenan baca atau tertarik. Cus kepoin!
1. Putri Sulung dan Putra Bungsu. [ Tamat ]
2. Life As Ketua Osis [ Tamat ]
3. 10 Tahun Lagi Kita Menikah [ Tamat Bulan Ini ]
__ADS_1
4. My Perfect Bestie! No Husband! [ Tamat Bulan Ini ]