
Jujur meskipun menikmati drama pagi ini, Anjani tetap lelah dan jengah. Akhirnya dia dan Arkan memilih untuk menghabiskan waktu di kamar dengan kondisi mereka yang masih mencari jalan keluar.
Dengan tanpa ada dosanya Anjani mengambil beberapa cemilan untuk di bawa ke atas, begitu juga Arkan yang telah mengambil brownies beku yang kemarin mereka bekukan berdua. Ini waktunya quality time.
Hera menghela napas melihat tingkah anak dan menantunya, mereka bahkan tidak ingin ribet dengan berdiam diri untuk menyimak. Tapi ya sudahlah, namanya juga Arkan dan Anjani. Keduanya sama, tidak mau memikirkan hal yang ribet-ribet.
Di satu sisi sial sekali, kenapa rasanya sesakit ini melihat Anjani sudah menerima orang baru dalam hidupnya? Bagas pikir gadis itu hanya menggertaknya saja pada malam itu, tapi Anjani ternyata benar-benar melakukannya. Dia benar-benar bisa mencintai Arkan.
Sampai-sampai Bagas rasanya tidak peduli dengan pertunangannya dengan Andira. Dia hanya terobsesi dengan Anjani saja, hanya dengan Anjani. 2 tahun bukan hal mudah untuk Bagas membiasakan diri tanpa Anjani, itu yang dia rasakan akhir-akhir ini.
Memang benar adanya kalau : Cara meninggalkan dan menyakiti seseorang yang menyakiti kita adalah dengan cara bertemu dengan orang baru. Iya, Bagas merasakan penyesalan dan sakit itu sekarang.
Anjani dan Arkan masuk ke kamar mereka, setelah menaruh camilan di meja Arkan dengan segera memeluk istrinya dengan posesif. "Punya saya!"
Anjani yang sedikit kaget menatap ke arah Arkan. "Hah apanya yang punya kamu."
"Kamu punya saya, saya tidak suka Bagas menatap kamu seperti tadi. Jadi kamu harus selalu ingat kalau kamu punya saya!" Tegas Arkan.
"Ya punya kamu, orang nikahnya juga sama aku bukan sama Bagas," jawab Anjani seraya tersenyum ke Arkan.
Nahkan manis kalau Anjani tersenyum seperti ini, coba kalau dia tidak galak sehari saja, Arkan sudah pasti akan sangat-sangat mencintainya. Tapi sekarang juga sudah pakai sangat sih.
"Iya punya saya. Hanya punya saya, Arkan Giovano Altair." Arkan tersenyum lalu mengecup bibir Anjani.
"Iya yaampun, aku punya kamu. Kita udah menikah dan Bagas itu bagian dari masa lalu aku. Aku gak ada hubungan lagi sama dia," jelas Anjani.
"Tetap saja saya cemburu, kamu paham cemburu?" Tanya Arkan.
Anjani terkekeh melihat kelakuan Arkan. "Oh suami aku cemburu? Kasian, padahal aku diem aja."
"Kamu bilang apa barusan, Anjani?" Tanya Arkan menatap Anjani dengan wajah senangnya.
"Apa?" Tanya Anjani seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tadi kamu bilang apa?" Ulangnya.
__ADS_1
"Gak bilang apa-apa, kenapa sihh? Kamu kenapa coba hari ini. Gak biasanya kaya gini."
Arkan tidak menjawab lalu mengajak Anjani menaiki kasur, lalu paha Anjani dia jadikan bantal, setelah itu dia menciumi perut rata Anjani. Ternyata benar apa kata teman-temannya, ini posisi ternyaman untuk pria.
"Kamu kenapa deh hari ini aneh banget? Kaya bukan kamu banget, kenapa coba?" Tanya Anjani yang tanpa sadar tangannya kini mengusap rambut Arkan. Ya reflek saja, berbeda dengan Arkan kalau begini Anjani sudah berpengalaman.
"Memang tidak boleh?" Tanya Arkan seraya menatap ke arah istrinya.
"Boleh sebenernya, tapi gak terbiasa aja. Aku kenal kamu dengan vibes dewasa dan aku baru tau kalau kamu punya sisi kaya gini, Mas," jawab Anjani.
"Ya karena tidak mungkin saya melakukan ini kepada orang lain, saya hanya melakukannya pada istri saya, ya kamu."
"Ya tapi kemarin-kemarin gak gini tauu."
"Karena macannya sedikit lebih jinak. Kemarin-kemarin mungkin saya bisa ditendang. Kalau kamu mau tau aslinya saya begini," ucap Arkan seraya mengecupi tangan Anjani yang ada di genggamannya.
Kalau ditanya kenapa juga sebenarnya Arkan tidak tau, karena dia memang merasa nyaman saja dengan Anjani. Dia tidak pernah melakukan ini kepada orang lain, hanya mendengar cerita teman-temannya lalu mempraktekan sendiri. Ternyata begini rasanya pacaran, apalagi pacaran halal, karena mereka sudah menikah.
"Kaya bayi besar," balas Anjani.
"Tidak apa-apa, kita belum punya anak. Jadi biar saya puas dulu manjaan sama Mamanya. Dengan istri saya sendiri bukan istri tetangga."
"Karena masih tabu di kepala remaja seusia kamu, kalau di saya lain lagi. Saya pria dewasa, tentu lebih siap dari kamu."
Anjani menghela napasnya, ya benar sih. Tapi jujur saja ini membuatnya dilema. Kalau Arkan benar-benar membuatnya hamil setelah lulus bagaimana kuliahnya.
Tapi nanti saja deh dia pikirkan, sekarang terlalu dini untuk stress duluan, lebih baik dia menikmati waktu bersama Arkan seperti ini. Rasanya jauh lebih baik.
Apalagi melihat Arkan yang mengusap-usap perutnya seperti ini, entahlah perasaannya jadi menghangat, ada desiran yang mengalir pada darahnya dan tidak bisa dijelaskan.
"Perut sekecil ini nanti bisa menampung bayi tidak ya?" Tanya Arkan random.
"Bisa lah, di buku dijelasin kalau kulit itu elastis. Jadi udah pasti bisa," jawab Anjani.
"Berarti bisa saya saya isi nanti di sini? Bisa dipakai buat titip anak saya?" Tanya Arkan lagi.
Kenapa ya Arkan bicara seperti itu saja rasanya Anjani Salting brutal. Dia tidak kuat menahan senyumnya entah kenapa. "Yaudah sih nanti aja pikirinnya. Aku mau lulus, mau kuliah, masih mau main-main."
__ADS_1
"Boleh, kamu bisa kuliah, masih boleh bermain-main juga. Tapi saya harus ikut," jawab Arkan.
Anjani tertawa mendengarnya, ini kenapa sih Arkan? Dia posesif sekali ternyata padahal baru membicarakan soal masa depan nanti belum kejadian. "Gak boleh lah, orang aku mainnya sama temen-temen aku."
"Selama tidak ada pria tidak apa-apa sih." Arkan kembali menatap istrinya dari bawah sini.
"Padahal katanya kating kampus ganteng-ganteng, sayang sekali Anjani kamu sudah menikah dengan om-om ini," gumam Anjani.
"Tidak perlu di sesali, saya yakin kating kamu nanti itu kalah dari saya, kamu syukuri saja punya suami seperti saya," ucap Arkan.
"Dihh, kenapa begitu coba? Kalau kating aku lebih ganteng gimana? Tapi kalau kamu lebih ganteng juga kan bukan kating aku, gak bisa digodain atau aku aja tebar pesona."
"Saya ambil program S2 di kampus kamu."
Sungguh Anjani tidak bisa menahan tawanya kali ini, sebegitu tidak mau kalahnya Arkan sampai mau mengambil program S2 segala. Mau heran tapi ini Arkan, suaminya lagi.
Padahal sebenarnya Anjani juga tidak benar-benar akan melakukan itu, Anjani bukan tipe yang seperti itu juga. Lagi, dia tidak yakin bisa melirik kepada yang lain kalau di hadapannya ini ada seorang Arkan Altair yang memiliki segala spek tipe idamannya. Arkan saja yang tidak mau membagi Anjani kepada siapapun.
"Liburan semester nanti, mau jalan-jalan?" Tanya Arkan.
"Liburan kemana?" Tanya Anjani berbalik.
"Ya kemana pun yang kamu mau, saya sadar kalau selama kamu menikah dengan saya, kita belum pernah stay cation bersama, kamu pasti butuh itu."
Anjani berpikir sejenak, dia tidak berpikiran kemana-mana sih, karena ya dia sudah pernah keliling Indonesia, keluar negeri juga sering. Jadi Anjani tidak tau.
"Aku gak pingin kemana-mana sih," jawab Anjani jujur.
"Saya juga, tapi kali ini kalau mau kemana-mana ada kamu, jadi ceritanya berbeda dari perjalanan lain yang pernah saya lakukan."
"Aku pernah kepikiran sesuatu sih, tapi aku gak yakin kamu mau ikutin permintaan aku," ucap Anjani.
"Apa? Apa yang kamu mau?" Tanya Arkan seraya menciumi tangan istrinya.
"Ya keluar kota tapi pake kereta api, soalnya aku gak pernah dibolehin naik kereta sama Mama Papa. Kayanya seru aja gitu."
"Oke, nilai kamu bagus, saya langsung ajak kamu kemana saja yang kamu mau."
__ADS_1
Anjani mengangguk senang, tentu nilainya akan selalu bagus, akan dia usahakan malah agar liburan mereka terjadi. Memang masih lama sih, tapi ya lumayan juga untuk topik pembicaraan seperti ini.