I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Memulai Hubungan Baik Lagi


__ADS_3


Niatnya ingin memberi kejutan, Hera, Viona, Abdi dan Mario malah terkejut karena melihat kedua anaknya sakit dan terbaring lemas di tempat tidur mereka. Yang semulanya mereka sedang anteng tertidur, kini malah terbangun akibat kepanikan sang mama.


Anjani dan Arkan mengubah posisi mereka menjadi duduk, dengan masih mengumpulkan nyawanya Anjani dan Arkan menyalami kedua orang tuanya.


"Astaga kalian kenapa bisa begini? Ini Anjani kenapa harus diinfus?" Tanya Hera seraya memeluk menantunya. Sementara Anjani yang masih mengumpulkan nyawanya malah terdiam karena memang masih belum full sadar.


"Kemarin kehujanan, jadi kami demam. Anjani dehidrasi parah karena demamnya sangat tinggi itu kenapa dia diinfus," jelas Arkan.


"Kasian menantu Mama, sudah makan? Sudah minum obat? Apa yang belum, Anjani mau makan apa?" Tanya Hera.


Anjani menipiskan bibirnya, lucu sekali mertuanya ini. Padahal Anjani rasanya dengan istirahat saja sudah cukup, dia tidak menginginkan apa-apa, jadi dia menggeleng. "Anjani gak mau apa-apa, Ma. Mau istirahat aja."


"Yaudah kalau begitu kamu istirahat ya, biar Mama masak untuk kalian, nanti kalian turun ya untuk makan malam ya."


Anjani mengangguk, Arkan yang melihat raut wajah Viona dan Mario sepertinya paham. Mungkin mereka juga ingin punya waktu bersama Anjani. Jadi Arkan berinisiatif untuk keluar kamar dengan alasan ada hal yang perlu dibicarakan dengan orang tuanya. Lagi pula dia juga sudah bosan seharian di kamar, jadi lebih baik dia menggerakkan tubuhnya agar tidak manja.


Mendengar itu Anjani mengangguk saja dan memutuskan untuk berbaring kembali. Karena memang dia pusing sekali duduk seperti tadi. Kini hanya ada keluarga kecil Mario saja di kamar ini. Mario, Viona dan juga Anjani.


Mereka nampak masih canggung, apalagi melihat Anjani yang sedaritadi hanya diam. Entah karena dia lemas atau karena masih merajuk pada kedua orang tuanya.


Tapi bagaimana pun Viona adalah seorang Ibu, dia khawatir melihat Anjani seperti ini. Apalagi Anjani takut jarum suntik, dia membayangkan bagaimana takutnya Anjani saat pemasangan infuss.


Viona berjalan ke tepi kasur sebelah lalu duduk di samping Anjani, dengan lembut dia mengusap puncak kepala anaknya dan menciumi pipi putri kecilnya. "Mama kangen Jani."


Anjani menghela napasnya lalu mengangguk dan tersenyum tipis. Dia tidak tau sebenarnya harus bicara apa, dia tidak ada waktu untuk mengutarakan apa-apa saja yang dia pikirkan sekarang.

__ADS_1


"Jani masih marah sama mama papa?" Tanya Viona.


Tidak menjawab juga, memang haruskah Anjani menjawa lagi sementara orang tuanya juga tau apa-apa saja yang membuat keluarga mereka retak.


Mario mengusap punggung tangan Anjani dan menciumi tangan gadis kecilnya itu, dia sadar kalau selama ini begitu keras pada Anjani. Trauma yang Seana berikan kepada mereka mau tidak mau harus dilimpahkan pada Anjani dari ekspetasi, penjagaan, semuanya.


Tapi meskipun begitu dia hanya ingin yang terbaik untuk Anjani. Begitu juga dengan menikahkannya pada Arkan, karena Mario tau kalau Bagas tidak akan pernah bisa bertanggung jawab pada putrinya. Meskipun begitu, kalau Anjani masih marah ya mereka berdua harus tetap bersabar. .


"Seana sudah menikah, kemarin dia mengirimkan photo pernikahannya pada kami, tapi dia masih belum mau pulang," ucap Viona.


"Kakak di mana?" Tanya Anjani seraya mendongakkan kepalanya pada sang Mama.


Viona menggeleng, sebenarnya dia juga tidak tau keberadaan putrinya, Seana juga masih nampak takut pulang ke rumah, karena memang dia juga masih belum mau bicara dengan Mario, begitu juga Mario. Mereka berdua sama-sama keras kepala.


Mendengar penjelasan Ibunya Anjani hanya mengangguk paham. Sebenarnya dia juga tidak kuat kalau harus berdiam diri seperti ini. Toh sekarang baginya menikah dengan Arkan bukan suatu kesialan lagi, Arkan memberikannya banyak kebebasan yang sebelumnya tidak dia dapatkan dari kedua orang tuanya.


Anjani menoleh ke arah ayahnya yang kini mengeluarkan sebuah kotak cantik dan memasangkan sebuah gelang ke pergelangan tangan Anjani. Gelang yang pernah Anjani pinta saat dia berlibur ke Amerika waktu itu.


Anjani tersenyum seraya menggerakkan gelang di tangannya, nampak bagus. "Makasih, Pa."


Mario mengangguk seraya kembali menggenggam tangan putrinya. Percayalah, meskipun Mario keras namun kalau sudah berhadapan dengan Anjani pasti akan selalu luluh, walaupun terkadang kelepasan juga karena Anjani yang sering gamblang dalam mengucapkan sesuatu.


Setelah itu Anjani kembali tertidur ditemani kedua orang tuanya. Viona tersenyum, iya Anjani memang telah menikah, tapi di matanya Anjani akan selalu menjadi anak kecil. Anak kecil ya selalu merengek ingin ditemani Ibunya kalau sedang sakit begini.


Begitu juga Mario, bagian terberat dari seorang ayah adalah melepaskan putrinya untuk hidup berumah tangga. Itu juga Mario alami, kalau bisa memilih dia maunya Anjani tetap menjadi anak kecil dan menjadikannya cinta satu-satunya dalam hidup. Tapi sekarang sepertinya dia harus berbagi dengan Arkan. Kemarin dengan Bagas dan sekarang dengan Arkan. Memang sulit ternyata menjadi seorang ayah dari anak perempuan.


Malamnya Anjani turun dari kamar dan menuju meja makan bersama kedua orang tuanya, sebenarnya Viona menawarkan untuk mengambilkan makanan agar Anjani tidak perlu keluar kamar, tapi Anjani kekeh ingin ikut ke bawah meskipun masih menenteng infus.

__ADS_1


Arkan yang melihat itu menghela napasnya, gadis keras kepala memang. Pasti dia yang kekeh ingin turun dari kamar, padahal wajahnya masih terlihat pucat.


Anjani duduk di sebelah Arkan. "Padahal saya bilang jangan turun."


"Alergi sama aku ya, makanya gak mau deket-deket?" Cibir Anjani.


"Bukan seperti itu, kamu masih sakit. Bagaimana kalau jatuh di tangga sampai berguling-guling?" Tanya Arkan.


"Tinggal bangun." Simpel kan, lagian kenapa juga sih Arkan begitu parnoan, lagian Anjani hanya demam bukan penyakit yang parah sampai harus seharian di kamar.


Arkan kembali menghela napas, lalu mengambilkan makanan untuk Anjani. Membuat Anjani protes, karena ya malu lah masa Arkan yang ambilkan. Namun Arkan mengatakan kalau dia turun harus menurut. Kesal sekali.


Lebih kaget lagi Arkan menyuapinya dan makan satu piring berdua, Anjani yang kaget langsung membulatkan matanya pada Arkan seolah bilang 'Aku mau makan sendiri!" namun Arkan juga menatap Anjani seolah tidak ada penolakan yang boleh Anjani lakukan.


Mario, Viona, Hera dan Abdi terkekeh dengan kelakuan kedua anaknya, mereka nampak akur tapi tidak juga. Lucu saja melihatnya.


"Gio, biarkan dia makan sendiri," ucap Abdi.


"Tidak bisa, Pa. Tangan kanannya dipasang infus. Tadi saja menangis setengah jam," lontar Arkan yang membuat Anjani menginjak kakinya di bawah.


"Akhh, sakit Anjani." Arkan mengaduh dan menaruh sendoknya di piring.


Anjani sih hanya menatapnya meledek, lagi pula kenapa sih harus diceritakan bagian sananya. Anjani kan malu. Apalagi Arkan menceritakannya di hadapan Ibu dan Ayah mertuanya. Menyebalkan sekali pokoknya!


"Syukur cuma setengah jam, 6 bulan lalu 2 jam malah," ucap Mario.


"Paaaaa!!" Rengek Anjani, bukannya mendapat pembelaan dia malah semakin diejek. Begini nih jadinya kalau most wanted sekolah lihat jarum suntik? Padahal vibes Anjani di sekolah seperti gadis pemberani yang tidak takut apapun.

__ADS_1


Arkan terkekeh pelan, lucu sekali ini. Rasanya dia puas sekali meledeki istri kecilnya ini, padahal dia masih sakit, tapi masih bisa mengomel. Tapi Abdi dan Hera mewajari sih, semenjak penolakan pertama Anjani pada Arkan pada makan malam itu, mereka sudah tau watak, perilaku, dan sikap Anjani. Justru mereka suka dengan itu.


__ADS_2