I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Kamu Akan Belajar Mencintai Saya, Kan?


__ADS_3

Eits jangan lupa follow aku dulu ya! Happy Reading~ 🤗❤️



Dengan keberanian Anjani menggandeng Arkan untuk masuk ke kamarnya. Sebenarnya dia mempunyai alasan, dia tidak mau kalau sampai Arkan dan Bagas bertengkar hanya karena dirinya. Apalagi Anjani tau kalau Bagas sudah kepalang emosi akan bagaimana. Terlebih dia memikirkan perasaan Andira. Ah kesal sekali Anjani pada dirinya sendiri, padahal dia juga sakit tapi masih sempat memikirkan perasaan orang lain.


Setelah mereka duduk, Arkan mengompres pergelangan tangan Anjani menggunakan ice bag. Pergelangan tangannya nampak memar kebiruan, pantas saja Anjani meringis kesakitan. Kurang ajar memang Bagas melakukan ini pada istrinya.


"Akhh, Mass pelan-pelan," pinta Anjani sedikit meringis, karena ya memang sakit sampai rasanya tulang pergelangan tangan Anjani terasa remuk.


Dengan sabar Arkan melembutkan tangannya, kalau tidak ingat Andira dia sudah pasti menghajar sepupunya itu habis-habisan. Siapapun yang berani berurusan dengan istrinya tentu tidak akan dia biarkan lolos begitu saja, lihat saja nanti. Sekarang dia diam bukan berarti merelakan apa yang sudah terjadi pada Anjani.


"Jangan bilang ini bukan pertama kalinya," ucap Arkan seraya meniupi pergelangan tangan Anjani.


Anjani hanya diam, tidak tau harus menjawab apa. Karena kalau dipikir-pikir dia juga bodoh. Dia juga selalu diam kalau ada masalah, karena dia sebegitu takutnya kehilangan Bagas. "Kenapa kamu nanya gitu?"


"Karena tidak mungkin pria berani melakukan ini di kandang musuhnya kalau bukan karena sering melakukannya dan akhirnya lost control." Tentu Arkan tau, pengalamannya jauh lebih luas dari pada Anjani dan dia adalah pria dewasa yang sudah paham dengan dunia. Jadi kalau Anjani berbohong jelas dia juga pasti akan tahu.


"Jawab saya, Anjani," pinta Arkan yang merasa tidak mendapat jawaban dari istri kecilnya itu.


"Iya sering, kalau dia marah atau emosi suka kasar. Tapi dia baik sebenernya, dia bisa jadi rumahku. Kamu tau sendiri Mama dan Papa gimana. Aku selalu butuh dia karena itu."


"Karena kamu feel lonely akhirnya kamu menjadikannya rumah dan rela disakiti asal dia tidak pergi? Pemikiran macam apa itu, Anjani? Semua remaja melakukan hal seperti ini? Coba jelaskan apa saja yang pernah dia lakukan?" Tanya Arkan, kini tatapannya intens, membuat Anjani jadi takut juga kalau ditatap seperti itu oleh Arkan.


"Ya karena emang serapuh itu aku orangnya, keliatannya aku kaya songong, pemberani, padahal aku butuh ditopang dan Bagas kasih itu ke aku. Udahlah, itu juga masa lalu," ucap Anjani yang memang tak ingin membahasnya. Bukan tidak ingin, tapi takut saja. Lagi pula selama ini dia memang tidak pernah menceritakannya kepada siapapun, termasuk Della dan Nanda.


"Bukan sekedar masa lalu, saya perlu tau apa saja yang sudah terjadi dengan kamu. Kamu tanggung jawab saya sekarang, Anjani. Kalau Bagas melakukannya lagi di belakang saya, saya yang akan merasa gagal menjaga kamu." Arkan berusaha mengontrol emosinya sebaik mungkin untuk bicara ini dengan Anjani. Jelas di khawatir, jadi seharusnya Anjani bisa diajak bekerja sama.


"Awalnya cuma nampar," ucap Anjani ragu.


"Terus ya kaya gini, dia selalu maki-maki aku cewek gak bener kalau aku deket sama cowok lain, pernah satu waktu aku di dorong ke danau, tapi aku gak bisa berenang dan akhirnya dia juga yang nolongin walaupun aku masuk rumah sakit."


"Ini pria yang kamu cintai, Anjani?" Arkan mengepalkan tangannya dengan erat. Ini di luar dugaan, mereka selalu menjadi bahan perbincangan pasangan ter-mesra, tapi ini apa?

__ADS_1


"Dulu aku bodoh banget, tapi trust me dia emang memperlakukan aku dengan baik kalau gak lagi marah. Itu kenapa aku gak mau buat dia marah, dia juga gak akan berani bertindak kalau di sekolah."


"Tetap saja, Anjani. Kamu terjebak dalam toxic relationship namanya. Kamu sadar?"


"Sadar, tapi namanya juga anak kecil yang baru belajar cinta-cintaan. Kata kamu aku labil, kan? Ya emang kaya gitu kenyataannya." Tidak mau mengelak, kalau soal bodoh atau labil memang Anjani merasakan itu pada dirinya.


Arkan menghela napasnya, ya mau dia kata-katai juga tidak ada gunanya. Anjani juga sadar dengan kebodohannya dalam mencintai seseorang. Arkan mengusap pergelangan tangan Anjani dengan lembut. "Masih sakit?"


"Sedikit." Anjani menatap lekat pada Arkan yang kini memperlakukannya dengan lembut, dia terus mengusap-usap pergelangannya dengan perhatian. Sebegitu besarnya kah cinta Arkan padanya? Tidak mengerti dengan jalan pikiran Arkan.


"Ya sudah, kita tidur. Saya mau menaruh ini dulu." Arkan membantu Anjani berbaring, setelah itu dia mengambil ice bag untuk dia taruh ke bawah.


Namun saat Arkan akan beranjak Anjani menahan lengan Arkan, membuat pria itu berbalik menatapnya. "Ada apa?"


Anjani terdiam, sebenarnya dia tidak tau juga kenapa bisa dengan reflek menarik tangan Arkan. Jadi dia menggeleng. "Gak jadi."


Mendengar itu Arkan tersenyum, bukan kembali bangkit tapi dia justru menumpukan tangannya di samping Anjani. Mengukung bagian atasnya seraya merapikan helaian rambut gadis itu dengan lembut. "Kenapa hm?"


"Anjani," panggil Arkan seraya menatap mata coklat itu dengan sorot mata yang hangat.


"Kenapa, Mas?"


"Yang kamu katakan pada Bagas tadi benar, kan?" Tanya Arkan seraya mengusap pipi gadisnya.


"Yang mana?"


"Kamu akan belajar mencintai saya."


Anjani mengangguk, dia memang akan belajar mencintai Arkan kok. Setelah dipikir-pikir ya ini keputusan terbaik untuknya sekarang. "Aku gak bohong, tapi aku tetep butuh kamu untuk lewatin prosesnya. I try my best."


"Saya tidak percaya," ungkap Arkan dengan wajah yang meledek.


"Loh kok gak percaya, emang aku ada tampang penipu, hah?!" Sungut gadis itu.

__ADS_1


"Buktikan kalau kamu memang serius, saya selalu membuktikan apa-apa saja yang saya katakan pada kamu. Jadi sekarang saya butuh bukti," ucap Arkan.


Anjani bingung, dengan cara apa dia harus membuktikannya Aneh, biasanya dia akan cuek begitu saja kalau orang tidak percaya padanya, tapi kenapa sekarang dia jadi memutar otak?


"Harus dibuktikan dengan cara apa?" Tanya Anjani yang mulai lelah berpikir."


"Anything."


Anjani kembali berpikir, tidak ada cara lain sepertinya selain ini. Dia menghela napas lalu membulatkan tekadnya menatap Arkan.


Cup ...


Anjani sedikit mengangkat kepalanya untuk mengecup bibir Arkan dengan singkat. Tapi percayalah, meskipun hanya singkat itu memukul mentalnya. Dia tidak pernah seberani itu terhadap lawan jenis. Bahkan wajahnya kini sudah mirip dengan kepiting rebus.


Arkan terkekeh, sialnya hanya dengan kecupan seperti itu saja dia tergoda oleh Anjani, dengan gerakan lambat Arkan memegang rahang Anjani lalu menautkan bibir mereka kembali.


Anjani tidak menolak, karena memang dia mulai menyukai aktivitas barunya ini. Dengan lembut Arkan menyecap, menyesap dan menjilat bibir itu seolah mengajaknya bermain. Tanpa ragu Anjani juga membalas ciuman itu, sesekali dia mengigit bibir Arkan dan mencoba mendominasi ciuman mereka. Tapi namanya juga baru belajar, semuanya gampang untuk dibolak-balikan oleh Arkan, sampai akhirnya Arkan melepaskan ciumannya. Dia meraup kecil bibir gadis itu beberapa kali dan memberi kecupan manis sebagai penutup. "Saya sangat mencintai kamu, Anjani."


"Dengarkan saya, saya tidak akan berjanji banyak hal. Tapi saya sebisa mungkin tidak akan menyakiti kamu, kalau tanpa sengaja saya melakukannya jangan diam, bilang agar saya perbaiki."


"Sebegitu-nya kamu mau treat aku dengan baik?"


"Memangnya saya salah kalau ingin meratukan istri saya sendiri?"


"Ya engga, tapi ... Udalah terima kasih, Mas."


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih karena selalu mencoba yang terbaik buat aku walaupun feedback yang aku kasih belum sesempurna kamu mencintai aku."


Arkan menggangguk dan kembali menciumi bibir Anjani, ada perasaan lega sebenarnya sekarang. Perasaan lega karena Anjani perlahan mengizinkannya masuk ke dalam hatinya.


Haiii selamat shubuh, aku sebenernya mau update 3 bab. Tapi mata aku udah ngantuk guys, nanti kita lanjut siang ya!! Masih ada 2 bab lagi di draft. 😚❤️

__ADS_1


__ADS_2