I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Baru Pergi Sudah Rindu


__ADS_3


Setelah panitia memberikan pengarahan dan jadwal untuk nanti malam, Anjani kembali menggendong ranselnya dan berjalan ke tanah lapang untuk membangun tenda di sana. Sebenarnya banyak yang menawarkan bantuan. Tapi Anjani tidak mau, apalagi pria.


Lagian Anjani bukan gadis manja kok, kecuali pada Arkan ya. Dia bisa melakukannya sendiri tanpa dibantu siapapun. Agar dia tidak berhutang Budi juga sih, masalahnya nanti bisa panjang dan dia nanti jadi tidak enakan.


Karena Anjani membawa tenda sendiri, dia jadi hanya mengajak Shella untuk bergabung dengan mereka. Dion juga sebenarnya ingin bergabung tapi panitia tidak mengizinkannya.


Tapi memang aneh juga kalau Dion bersama mereka tidurnya. Jadi Anjani mengatakan pada Dion kalau untuk sekedar mengobrol nanti malam dia bisa datang saja ke tenda Anjani dan juga Shella. Dion pun senang saja dan mengikuti prosesnya.


"Aku gak bisa pasang tenda," ucap Shella.


"Gapapa, ini Tenda dom 4 orang kok. Aku bisa pasang sendiri," ucap Anjani.


Anjani sudah biasa sih memasang tenda Dom sendiri, jadi ini bukan masalah besar. Dari jauh Saka melihat ke arah Anjani yang sedang sibuk memasang tendanya. Semakin kagum saja kan dia pada gadis itu.


Karena merasa ada kesempatan akhirnya Saka menghampiri Anjani. "Mau di bantu?"


"Gak usah, Kak aku bisa sendiri, lagian tinggal finishing'" ucap Anjani.


"Walaupun finishing tetap harus ada yang pegang ujung satunya, karena harus ditekuk. Jadi saya bantu ya." Saka pun berdiri di ujung tenda dan membantu Anjani melengkungkan bersi-besi lalu mematoknya.


Ahh Anjani jadi harus berurusan lagi dengan manusia ini, kan. Bagaimana caranya dia memberitahu Saka kalau dia sudah punya suami. Kalau dia bilang langsung nanti disangkanya gr kan. Arkan sih kemarin sok-sok mengiyakan kalau mereka adik kakak, sulit kan sekarang.


"Ya Allah, Anjani gak dosa kan ya? Salahin Mas Arka aja," ucap Anjani dalam benaknya.


"Makasih, Kak," ucap Anjani.


"Sama-sama." Setelah itu Saka tersenyum dan kembali berkeliling untuk mengecek fakultas yang lainnya.


"Aaaa gila sosweett banget!!" Ucap Shella.


Anjani mendelik melirik ke arah Shella. Ini orang kayanya benar-benar terpikat oleh Saka. Seharunya Saka menyukai Shella saja yang jelas-jelas bisa dimiliki, bukan dirinya.


Anjani menggelengkan kepalanya sekilas lalu masuk ke dalam tenda untuk menata barangnya di sana. Untuk sejenak dia berbaring. Karena memang ini makrab jadi tidak ada kegiatan sih, kegiatannya semua dilaksanakan malam hari. Jadi masih bisa untuk berbaring dan menikmati suasana sejuk dari dalam tenda ini.


Anjani juga tidak lupa ngemil, karena memang perutnya tidak boleh kosong. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dengan cepat Anjani mengecek ponsel yang dia taruh di tas. Benar saja kan.


Tukang Es 🌨️ 20 panggilan tak terjawab.


Anjani membulatkan matanya, banyak sekali panggilan dari Arkan. Langsung saja dia menelepon balik ke sana. Tidak lama dia menunggu, dalam hitungan detik Arkan langsung mengangkatnya.

__ADS_1


"Halo, Mas –"


"Kenapa baru angkat sekarang, Sayang? Baik-baik saja? Sudah sampai? Sudah makan?" Tanya Arkan dari seberang sana.


"Udah, Mas. Aku baru sampe, baru diriin tenda, ini aku lagi makan roti sama susu. Mas udah makan di kantor, lagi apa sekarang?" Tanya Anjani.


"Syukurlah, jaga diri ya di sana. Pakai jaketnya biar tidak kedinginan. Saya sudah makan, saya sedang tanda tangan berkas, rindu ya?" Goda Arkan.


"Iya, kangen. Kenapa gak boleh kah?"


"Boleh, kalau begitu Mas jemput kamu sekarang ya?" Tanya Arkan.


"Kok dijemput, sabar ihh. Besok sore aku pulang, nanti kita kangenan," kata Anjani sambil terkekeh.


Arkan nampak menghela napas di seberang sana, membuat Anjani sedikit tersenyum. Selama menikah memang mereka tidak pernah berjauhan sih jadi memang aneh kalau tidak ada satu sama lain. "Ya sudah, intinya kamu jaga diri di sana ya. I Miss you," ucap Arkan.


"I Miss you too, Mass. Yaudah aku matiin dulu ya, aku mau mandi gerah."


"Iya sayang, have fun!"


"Oke Mass!!"


.


.


.


"Anjani ayok mandi," ajak Shella dari luar.


Anjani mendengar itu langsung mengambil peralatan mandinya dan juga baju ganti. Setelah itu dia keluar dan menyusul Shella untuk mandi bersama. Sepertinya sih bersama, karena Anjani tidak tau kondisi kamar mandinya seperti apa.


"Kita mandi di mana sih?" Tanya Anjani seraya mengikuti Shella dari belakang.


"Katanya di bawah sana ada sungai, ya liat aja deh."


Anjani menghela napas, kalau kamar mandinya terbuka dia memilih tidak akan mandi dan mencuci muka saja. Sangsi lah dia, takut ada yang mengintip.


Benar saja banyak mahasiswa datang ke sana, memang sepertinya itu satu-satunya tempat mandi. Ya sudahlah kalau begini Anjani bersih-bersih saja, tidak akan mandi.


"Ekhmm."

__ADS_1


Sebuah suara mengagetkannya saat Saka berjalan di sampingnya. "Kak Saka, ngapain?"


"Nemenin kamu, mau ke sungai kan? Lagian di bawah bahaya. Saya panitia dan kalian pasti butuh pengawasan."


Anjani menghela napasnya pelan seraya mengangguk-anggukan kepalanya. Terserah deh Anjani tidak peduli dengan itu. Apalagi sekarang terdengar bisik-bisik dari arah belakang yang membuat dia tidak nyaman.


"Kamu Deket banget ya sama Kak Arkan?" Tanya Saka.


"Kenapa emangnya?" Tanya Anjani penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh pria yang ada di sampingnya ini.


"Karena keliatannya begitu, kalian juga mirip. Gak salah sih keluarga Altair katanya emang terkenal ramah," ucap Saka.


Dia tau keluarga Altair, tapi kenapa tidak tau kalau Anjani adalah istri dari Arkan? Benar-benar aneh, tapi tidak salah sih, memangnya dia siapa sampai harus dikenal banyak orang? Dia juga baru tau kalau dia katanya mirip dengan Arkan. Memang iya ya? Anjani jadi membayangkan wajah Arkan kan sekarang.


"Hehehe."


"Tapi aku suka sih liat interaksi kalian, lucu. Jadi pingin deket sama kakak kamu. Katanya kalau mau dekat dengan seseorang harus dekati orang terdekatnya dulu," ucap Arkan.


"Mamaku udah punya suami," ucap Anjani asal.


"Kamunya kan belum, jadi boleh kan kalau usaha?" Tanya Saka.


"Gak boleh pacaran sama Mama," balas Anjani.


"Kalau ajak jalan boleh?"


"Gak akan diizinin Mas Arkan."


"Anak rumahan banget ya, Jan?" Tanya Saka.


"Engga, cuma emang moodyan aja jadi kalau mau kemana-mana, harus nunggu mood. Tapi Mas Arkan gak izinin pergi kalau gak sama dia. Dan emang lebih terbiasa pergi kemana-mana sama dia," ucap Anjani jujur.


"Oh gitu, tapi kalau selesai ospek kita ngedate, gimana?" Tanya Saka to the point.


"Maaf, kak Shella udah nunggu di depan. Duluan ya!" Anjani langsung pamit dan mengejar Shella yang sudah jauh di depan sana. Aneh padahal dia selalu menghindar tapi masih saja bertemu.


Memang powernya sebagai presma tidak main-main. Menyebalkan saja. Anjani tidak suka tau kalau dikejar-kejar begitu, ilfeel jadinya.


Sesampainya di sana ternyata ada bilik-bilik untuk mandi. Anjani menatap sekitarnya. Kalau dari atas sana kelihatan tidak ya? Anjani masalahnya gerah sekali.


Tapi sepertinya aman sih, jadi dia memutuskan untuk mandi saja daripada dia harus tenggelam dengan keringat. Ah akhirnya dia bisa mendinginkan tubuhnya yang yang sudah kepanasan ini.

__ADS_1


__ADS_2