I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Aku Mau Charger Sebentar


__ADS_3


Kalau ada Hera dan Abdi di rumah, pasti Anjani seperti gadis lagi. Pasalnya sudah pasti Arsy di bawa oleh mereka ke kamar dan bermain-main di sana. Anjani tidak masalah sih, karena memang dia juga jadi punya waktu luang.


Tapi sebenarnya Hera melakukan ini bukan tanpa alasan sih, dia tau kalau Anjani sedang tidak mood akibat kedatangan Rindu, jadi memberikannya waktu sendiri dan memikirkan hal positif Hera rasa itu perlu dan masalahnya jika hal seperti ini hanya mampu di selesaikan oleh Arkan. Dia yang bisa membuat Anjani kembali tersenyum. Tapi berhubung Arkan belum pulang, Anjani mencari aktifitas lain yang bisa dia lakukan.


Seperti saat ini dia sedang menonton tv sembari menunggu suaminya pulang. Sebenarnya mood Anjani hari ini tipis sekali, selain karena kedatangan dari Rindu tadi pagi, ya dia moodyan. Dia akan badmood seharian tanpa sebab yang jelas, namanya juga wanita apalagi wanitanya itu Anjani yang susah sekali dalam mengontrol emosinya.


Dia akan menjadi sangat berantakan karena harinya dirusak oleh sesuatu yang tidak dia suka, jadi Anjani berusaha memperbaiki itu dengan bersantai, menikmati film sambil minum matcha latte kesukaannya.


Tak selang berapa lama, suara mobil terdengar, sepertinya Arkan sudah pulang. Anjani tadinya ingin menyambut Arkan di depan rumah tapi sepertinya dia malas. Jadi dia diam saja dan tetap santai menikmati aktivitasnya.


Di sisi lain, Arkan mengerutkan keningnya. Tumben sekali Anjani dan anaknya tidak menyambutnya di depan, apa terjadi sesuatu ya? Karena penasaran Arkan langsung memasuki rumah dan seketika dia lega karena Anjani sedang menonton di depan tv. "Anjani."


Anjani menoleh pada Arkan, dia tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya seolah meminta pelukan. Melihat itu Arkan tersenyum dan memeluk Anjani yang kini memeluknya erat. "Kenapa tidak menyambut saya di depan hm?"


Anjani menggeleng lalu menciumi pipi suaminya berkali-kali. "Tadinya mau tapi aku males gerak jadinya aku diem, Mas marah kah sama aku?"


"Tidak sayang." Arkan tersenyum lalu mencium bibir Anjani sekilas. "Arsyla mana, Sayang?"


"Lagi main sama Oma dan Opanya. Jadi aku bisa santai deh, tapi aku gak enak sih sebenernya sama Mama. Tapi kata Mama gapapa."


"Tidak apa-apa, Sayang. Istri saya juga butuh rehat, butuh hiburan, butuh waktu untuk bersantai." Arkan duduk di samping Anjani lalu melonggarkan dasinya.


Entah kenapa melihat Arkan yang melonggarkan dasi seperti itu Anjani rasanya selalu terpesona oleh suaminya. Seperti ada damage nya tersendiri yang Anjani rasakan.


Anjani langsung bersender di dada suaminya dan memeluk Arkan dengan manja. Wajahnya yang dibuat seperti anak kecil merajuk seperti ini jujur saja membuat Arkan gemas sendiri. "Kenapa, Sayang? Ada yang kamu inginkan?


Anjani tidak ingin apa-apa sih, tapi dengan begini rasanya dia kembali mood. Seperti batere yang habis, kini dia kembali terisi. "Mau charger dulu 5 menit, aku lemes banget hari ini."

__ADS_1


Lucu sekali, Arkan mengiyakan apa maunya Anjani, membiarkan istrinya melakukan apa yang dia inginkan sampai dia merasa puas, ya itu yang selalu Arkan lakukan. "Ya sudah, charger dulu. Tapi yakin kamu tidak mau apa-apa?"


Anjani menggeleng. "Engga, aku lagi kesel aja. Aku lagi kesel kalau kamu mau tau." Nahkan pada akhirnya dia tidak tahan ingin bicara banyak hal, karena memang hal seperti ini harus dibicarakan langsung pada suaminya, tidak bisa dia pendam-pendam sendiri.


Arkan mengusap pipi Anjani lalu menciumi bibirnya berkali-kali. "Kenapa kesal? Ada yang membuat kamu kesal atau bagaimana?"


"Tuh mantan kamu tadi kesini," ucap Anjani.


"Mantan?" Tanya Arkan tak mengerti.


"Ya maksudnya Mba Rindu ke sini. Sama anaknya, cerita masalah rumah tangga dia yang katanya kena KDRT, terus ke Indonesia mau cari papa baru buat anaknya," ucap Anjani.


Terdengar sarkas memang tapi Arkan sudah paham kenapa Anjani begitu. Itu artinya dia sedang cemburu atau sedang merasa risih. Wajar memang jadi Arkan tidak berusaha untuk menyalahkan Anjani. "Lalu?"


"Ya terus aku tanya kan dia mau suami kaya gimana emang sampe harus pulang ke sini, terus anaknya bilang mau papa kaya kamu. Nyebelin gak sih, Mas? Masa mau kamu, gak boleh lah!"


Arkan terkekeh dan menciumi puncak kepala Anjani. "Namanya juga anak kecil, Sayang. Apa yang ada dipikiran mereka itu spontan, jadi kamu marah karena anak kecil?"


"Yasudah-yasudah, bagaimana kalau saya temui dia sekali lalu saya bicara agar dia tidak ke sini lagi?" Tawar Arkan.


"Apaan?!! Kamu mau modus ya ketemu sama Mba Rindu yang cantik itu?!" Tuduh Anjani.


Arkan tertawa bagaimana bisa Anjani berpikir seperti itu, padahal dia tau sendiri kalau Arkan hanya mencintainya saja. Memang begini nih Anjani selalu saja harus diingatkan kalau Arkan hanya mencintainya.


"Kalau kamu maunya saya begitu, ya sudah," ucap Arkan setengah menggoda.


"Ihhh, Mass!!!" Anjani langsung berpindah untuk duduk di pangkuan Arkan dan memeluknya erat. Tidak akan Anjani biarkan. Enak saja Arkan ingin menemui Rindu si janda gatal itu.


"Gak boleh, gak bisa kemana-mana!" Ucap Anjani.

__ADS_1


"Kenapa tidak boleh, sayang sekali sama saya?" Tanya Arkan seraya menatap Anjani.


"Sayang!"


"Cinta sekali?"


"Banget! Udah ih gak usah temuin janda gatel kaya gitu, aku gak suka. Nanti kamu dijadiin ayah anaknya ih, kamu punya aku, punya Arsy juga nanti dia marah kalau ayahnya punya anak lain, gak boleh ya?" Kata Anjani manja.


"Saya tidak akan menjadi ayah siapapun dan tidak akan menjadi suami siapapun selain kamu dan Arsy, Sayang. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Kamu meragukan saya?"


Anjani menggeleng, bukan meragukan sih dia hanya takut saja. Apalagi harus dia akui kalau Rindu itu cantik, selain cantik dia juga pintar mengurus anak walaupun katanya saja. Tapi tetap saja Anjani takut.


"Itu kamu tau, untuk apa sayangku memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan? Lebih baik daripada kamu marah-marah, kita Quality Time, mumpung Arsy sedang bersama mama dan papa."


Anjani nampak berpikir, benar juga ya. Arkan itu selalu ada kegiatan dan pulang sore hari, daripada dihabiskan dengan marah dan kesal lebih baik kalau dia bermanja-manja pada suaminya.


"Boleh manjaan emang?" Tanya Anjani.


"Boleh, ingin apalagi?" Tanya Arkan seraya memfokuskan diri pada istrinya yang tengah merajuk itu.


"Mau cium banyak-banyak."


"Boleh." Arkan tersenyum lalu mengalungkan tangan Anjani pada lehernya dan menggendong istrinya itu Alan koala.


Sudah lama sekali mereka tidak bermesraan seperti ini, apalagi Anjani ketika hamil berat dan tidak mau digendong, bisa dibilang ini pertama kali setelah dia melahirkan.


"Mas ... "


"Jangan jatuh cinta selain sama aku ya?" Pinta Anjani sembari menaruh dagu di bahu Arkan.

__ADS_1


"Heem tidak akan, kamu jangan banyak pikiran, jangan banyak khawatir, apapun itu kamu cukup percaya sama saya. Karena landasan hubungan itu adalah kepercayaan."


Anjani mengangguk, dia memang tidak kesal sebenarnya pada Arkan, dia hanya ingin meluapkan kekesalannya pada suaminya, karena dia tau, yang bisa memulihkan semua ini banyak Arkan. Suaminya dan benar saja mood Anjani langsung kembali lagi.


__ADS_2