
Anjani sadar, kalau kehidupannya sekarang ini bukan lagi tentang Bagas. Akan aneh bila dipikirannya setiap hari adalah Bagas. Anjani terus menyadarkan diri sedari tadi. Iya, dia sudah menikah dan dia harus fokus pada Arkan saja. Itu kenapa Anjani tidak mau membahas atau menegur tentang masalah mading, yang jelas dia tidak bersalah, hubungan dia dengan Bagas memang sudah selesai dan semua yang orang-orang bilang itu tidak terpenting, termasuk Bagas.
Anjani melangkahkan kakinya masuk ke dalam supermarket, dia mencari beberapa bahan. Sedari tadi sembari mengisi waktu luangnya Anjani melihat banyak video tentang masak. Mungkin Anjani tidak paham di awal tapi mulai sekarang dia akan belajar banyak hal pokoknya.
Meskipun dia tau pasti rasanya tidak akan cepat diterima oleh Arkan tapi setidaknya dia memulai dan tidak diam di zona nyaman. Ya Arkan tidak menuntut banyak hal darinya, tapi di sini dia harus banyak sadar diri untuk memberikan feedback yang baik juga dalam hubungan pernikahannya dengan Arkan.
Setelah selesai membayar Anjani mengecek notif pesan. Ternyata itu dari Arkan. Dia lupa kalau Arkan sudah mewanti-wanti mereka akan pulang bersama, tapi Anjani malah mampir ke supermarket. Sebenarnya kulkas juga sepertinya lengkap, tapi Anjani antisipasi saja deh, malas kalau nanti tidak ada dan harus keluar.
Tukang Es 🌨️ : Kamu di mana?
Tukang Es 🌨️ : Saya di depan halte
Tukang Es 🌨️ : Anjani
Tukang Es 🌨️ : Astaga jangan buat saya khawatir
^^^Clarissa Anjani : Aku di supermarket deket persimpangan sekolah. Lagi jajan.^^^
Tukang Es 🌨️ : Anak nakal
Tukang Es 🌨️ : Tunggu saya di sana!
^^^Clarissa Anjani : 😲😥😱^^^
Tukang Es 🌨️ : Ck!
Setelah puas meledek Arkan Anjani memasukan kembali ponselnya lalu terkekeh. Entah kenapa dia jadi merasa memiliki Abang, padahal Arkan adalah suaminya. Tapi seru juga bisa dijahili. Rasanya memang ada yang kurang jika sehari saja tidak membuat Arkan kesal. Namanya juga Anjani.
__ADS_1
Tak selang beberapa lama sebuah mobil SUV hitam berhenti di depan supermarket, setelah aman barulah dia naik ke sana. Arkan menatap Anjani dengan tajam. "Saya kan sudah bilang kalau kamu pulang bersama saya. Bagaimana kalau kamu hilang?!"
Anjani yang sedang memasang seatbeltnya langsung menoleh pada Arkan. "Aku gak kecil-kecil banget kok, aku bisa jaga diri. Lagi pula gak ada yang mau culik juga nanti bangkrut karena aku banyak jajan."
"Tapi kamu bisa dijual pada om-om! Wajah kamu memumpuni untuk dijual dan mendapatkan bayaran mahal, kamu mau?"
Anjani bergidik ngeri, benar juga. Tapi ah sudahlah, dia tidak hilang ini kok. Lagian Arkan terlalu jauh berpikirnya, padahal jarak dari sekolah ke sini juga tidak terlalu jauh. Dasar om-om posesif! Arkan menghela napasnya, dia mendekat ke arah Anjani dan mengecup puncak kepalanya, syukurlah dia tidak kenapa-kenapa. Setelah itu Arkan pun melajukan mobilnya, kembali dengan mode tenang seraya mengusap-usap punggung tangan Anjani.
Anjani suka seperti ini, bukan karena tangannya diusap bukan. Tapi senang saja melihat pria menyetir dengan satu tangan, seperti ada kharismatik-nya tersendiri, apalagi Arkan sekarang sudah melepas jas yang menyisakan kemeja putihnya dengan dasi yang dilonggarkan dan dia melintingkan lengan kemejanya. Yang terlihat hanya tangan kekar dan sebuah jam tangan branded. Ahh sial, Anjani merasa seperti dalam drama Korea.
"Kamu darimana, Mas? Kenapa di sekolah gak ada?" Tanya Anjani yang memang penasaran kenapa Arkan tidak ada di sekolah.
"Saya mendadak harus ke kantor cabang, ada artis yang terkena skandal. Jadi harus segera di tangani agar tidak merugi."
"Wahhh skandal apa tuh, bisik-bisik cobaa," ucap Anjani.
Anjani memajukan bibirnya seraya mengusap keningnya yang terkena jari nakal Arkan, memang kenapa sih kalau mengajak suaminya sendiri berghibah? Katanya seru loh mempunyai pria yang bisa diajak ghibah, tapi ya memang Arkan nampaknya bukan pria seperti itu. Dia pria yang lebih suka romantis-romantisan sepertinya?
"Ishhh, tapi ya pantesan aja kamu gak ada di sekolah. Mana gak bilang dulu lagi, aku kan ditanyain sama temen-temenku. Ya aku jawab gak tau, nyebelin banget."
"Rindu ya?"
"Bukan gitu! Tau ah!" Anjani melipat tangannya di dada, memang suka sekali Arkan menggodanya. Tapi sebenarnya bukan rindu sih, memang ada yang kurang saja tadi saat Arkan tidak mengajar.
Anjani juga sedikit khawatir karena Arkan tadi sudah memakai seragam dinas sekolahnya. Kan takut ya kalau di jalan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Itu yang ada dipikiran Anjani tadi. Apalagi Arkan tidak bisa dihubungi.
"Oh jadi istri saya sedang merajuk rupanya. Maaf ya, tadi saya berniat ke sekolah tapi ya mendadak, Sayang. Maafkan saya ya? Jangan marah begitu."
Anjani mengulum senyumnya, tapi tidak boleh kelihatan. Pokoknya dia harus tetap biasa saja di tengah salting yang melanda. "Cih, artisnya diurusin. Padahal aku yang katanya istri kamu aja di sekolah kena skandal. Parah emang."
__ADS_1
"Skandal apa?" Tanya Arkan yang lumayan terkejut mendengarnya. Pasalnya Anjani bukan tipe murid pembuat onar, tapi sesekali pernah lah.
"Putusnya couple goals sekolah karena Anjani selingkuh! Terus dipajang deh photo kita yang di bioskop, kayanya diambil diem-diem. Untung kamunya gak keliatan," ucap Anjani sembari memperagakan pembawa acara gosip.
"Lalu kamu bagaimana? Menangis?" Tanya Arkan.
"Ishh aku bukan anak kecil dibilang, aku biasa aja. Yaudah biarin aja mau bicara apapun, walaupun kesel pingin acak-acak ruangan mading, tapi gapapa Anjani stay cool."
"Baguslah kalau kamu tidak kenapa-kenapa, saya hanya memikirkan kamu takut menangis di sana atau merengek memanggil nama saya."
"Gak apasihh lebay tau gak, udah dibilang untung wajah kamu gak keliatan."
"Bagus kalau kelihatan, sekalian saja kita publikasikan."
Nahkan apalagi yang akan dia lakukan. Aneh-aneh saja memang Arkan. Mungkin dia akan aman setelahnya tapi Anjani belum tentu. Apalagi mengingat fans Arkan sangat banyak, belum lagi dengan guru-guru muda yang kegatelan. Risih sekali Anjani melihat mereka.
"Hahahaha gak dulu deh nanti aku diserang P3K," jawab Anjani dengan wajah datar seraya menyeruput susu kalengnya.
"P3K itu kotak obat?" Sungguh? Apa Arkan tidak tau ya kalau di sekolah mereka ada komunitas seperti itu? Apalagi mereka sering melantangkan suaranya menyebut P3K atau Arkan yang tidak ngeh ya?
"Bukan, itu singkatan penggemar kamu di sekolah Para Pecinta Pak Arkan. Mereka sampe buat grup gitu cuma buat bahas kamu. Sebar photo-photo gitu, alay banget." Anjani mengedikan bahunya, ya karena dia memang tidak suka dengan hal yang berlebihan seperti itu. Terlalu alay.
"Dan kamu salah satunya?" Tebak Arkan, dia tertawa sih. Ya lucu saja kalau memang ada grup seperti itu. Dasar remaja, padahal Arkan tidak pernah tebar pesona, bahkan dia cenderung guru yang disiplin dan tegas.
"Gak ya! Ngapain alay banget, orang ketemu setiap hari di rumah, bangun tidur juga liatnya muka kamu. Udah kenyang, aku yang punya banyak moment sama kamu juga daripada mereka. Bahkan aku jadi istri kamu tanpa jalur ngefans. SAH!" Ceplos Anjani.
Arkan melirik Anjani dan seketika dia sadar. Kok dia terkesan seperti tidak suka kalau ada yang mendekat pada Arkan ya? Kok dia merasa posesif?! Aaaaaaaaa Anjani harus bagaimana ini?? Apalagi wajah Arkan sudah seperti menggodanya. Sial sekali Anjani.
"Hahaha iya-iya, kamu saja istri saya. Kamu yang menang dari mereka, oke?" Gemas sekali Arkan melihatnya, kalau bukan karena di mobil sudah pasti dia terkam Anjani sekarang juga.
__ADS_1