I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Pertengkaran


__ADS_3


Sejak pertemuan dengan wanita bernama Rindu itu, Anjani tidak membuka suara dan nampak enggan memulai pembicaraan dengan Arkan. Arkan juga sudah mencoba mengajak Anjani bicara tapi istrinya itu tidak menghiraukannya.


Bahkan saat sampai di rumah Anjani hanya menyalami ibu mertuanya lalu bergegas ke atas meninggalkan Arkan. Hera yang melihat itu menatap ke arah putranya. Bukan kejadian aneh memang kalau mereka berdua bertengkar tapi kali ini sampai tidak menyapa begitu pasti terjadi sesuatu.


Hera menghentikan Arkan yang akan menyusul Anjani namun Hera menahannya. "Ettt kenapa, ada apa? Kalian bertengkar?"


Arkan menghela napas, dia harus menyusul Anjani namun Ibunya meminta penjelasan. Arkan harus bagaimana. "Nanti saya jelaskan, Ma. Sekarang–"


"Apa-apaan nanti, tidak bisa. Anjani tidak biasanya loh marah sampai sebegininya, kamu apakan?" Tanya Hera dengan tatapan mengintimidasi.


"Saya bertemu Rindu dan dia memeluk saya tiba-tiba, Ma."


"Rindu yang suka kirim kue ke sini waktu kamu masih kuliah?"


Arkan mengangguk, nahkan apa lagi ini Hera menghela napasnya. Kenapa wanita itu hadir kembali di dalam kehidupan Arkan? Sudah cukup waktu kuliah dia selalu merecoki anaknya itu, jangan sampai sekarang merecoki rumah tangga anaknya juga. "Ada-ada saja, yasudah susul Anjani ke atas ya. Jangan emosi, kalian harus sama-sama tenang."


"Iya, Ma. Pasti, saya ke atas ya?" Setelah mendapatkan anggukkan dari ibunya Arkan menyusul Anjani ke atas dan masuk ke kamar mereka.


Terlihat Anjani sedang menidurkan Arsy di dalam box sambil duduk di pinggir box bayi itu. Wajahnya terlihat ditekuk dan tak menghiraukan Arkan yang memasuki kamar mereka.


"Sayang ... "


Anjani tidak menjawab, namun Arkan mendekat dan membantu Anjani berdiri untuk menghadap ke arahnya. Anjani masih tidak mau menatap suaminya. Ya kesal saja, memang siapa juga yang senang kalau suaminya dipeluk wanita lain di hadapan matanya sendiri.


"Anjani lihat saya dulu sebentar," pinta Arkan yang menundukkan sedikit wajahnya pada Anjani.


"Apasih, Mas. Aku gak mau bicara sama kamu!" Kesal Anjani.


"Kamu marah sama saya?" Tanya Arkan.


"Emang ada ya istri yang gak marah kalau suaminya dipeluk sama mantannya sendiri gitu? Apalagi di hadapan aku sendiri," Tanya Anjani berbalik sembari menatap ke arah Arkan dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


"Bukan mantan, Sayang. Saya sudah bilang kalau saya tidak memiliki mantan, kan? Sejak awal saya bilang begitu," balas Arkan.


"Terus kalau bukan mantan siapa? Kenapa sedeket itu, kenapa harus sampe peluk-peluk? Berarti kalian dulu sedekat itu, cewek gak mungkin berani kalau emang gak pernah deket."


Arkan menatap Anjani, dia terdiam sejenak. Anjani ini kritis tentu saja dia harus mencari jawaban yang bisa diterima oleh istrinya, kalau sampai salah sedikit saja, maka hari ini bisa dipastikan kalau Arkan tidak akan mendapatkan senyum dari Anjani.


"Kamu mau tau dia siapa?" Tanya Arkan melembut.


"Engga kok, kalau kamu gak mau kasih tau gak usah. Lagian ngapain kasih tau aku juga gak penting, kan? Yaudah sana ketemu sama dia, pelukan lagi sana. Aku bodo amat." Anjani berbalik namun Arkan menahannya dan membawa Anjani ke dalam pelukannya.


Anjani yang merasa tak nyaman berusaha melepaskan diri dari suaminya, namun ya tenaganya memang kalah jauh dari Arkan. "Mass aku gak mau bicara sama kamu."


"Kita harus bicara agar tidak salah paham."


"Gak mau, udah cukup jelas dan aku gak mau nyakitin diri aku buat hal-hal yang seharusnya aku gak tau!"


Arkan tak menghiraukan Anjani dan tetap memeluk istrinya itu sambil menatap matanya. Anjani kan memang begitu, emosinya mudah tersulut dan amarahnya sering meledak-ledak. Jadi salah satu cara agar dia diam kalau tidak dipeluk ya dicium. "Anjani."


"Mas aku gak mau berantem ah, aku cape. Aku udah cape sama emosi aku sendiri kamu mau apalagi?" Kesal Anjani.


Anjani yang ditatap seperti itu membuatnya lemah dan berhenti mengeraskan tubuhnya, merasakan itu Arkan menutup pinggiran box bayi lalu duduk di sofa dan membawa Anjani duduk di pangkuannya.


Arkan terus menatap Anjani yang wajahnya belum berubah, sementara Anjani tidak mau membuka suaranya sebelum Arkan yang memulai pembicaraan di antara mereka.


Dengan lembut Arkan menyelipkan anakan rambut Anjani ke telinganya. "Sabrina pernah bilang kalau ada beberapa orang yang mendekati saya sewaktu masih kuliah, kan?"


"Salah satunya Rindu."


Mendengar itu Anjani menatap ke arah suaminya dan mulai tertarik dengan pembahasan yang pria itu bawa. Bukan tertarik sih, ya karena memang dia harus tau tentang perempuan tidak tau sopan-satun yang memeluk suaminya tadi.


"Dia selalu berusa mendekati saya, memberikan surat cinta, mengambil kelas dan jam yang sama dengan saya, dia juga sampai susah payah mendekati mama lalu mengirimkan kue hampir setiap Minggu."


"Oh deket?" Ketusnya.

__ADS_1


"Dengan dulu, Sayang."


"Tapi saya tidak pernah menyukai siapapun, tidak mau memberikan kesempatan pada siapapun sebelum kamu memang benar-benar tidak bisa saya jangkau. Sampai akhirnya dia dijodohkan oleh orang tuanya dan dia menjauh sendiri," lanjut Arkan.


"Tapi dia kaya masih sayang tuh sama kamu, gak tau deh males," jawab Anjani seraya mengedikan bahunya.


"Dia sudah menikah, Sayang mana mungkin."


Bagaimana Arkan bisa berkata tidak mungkin? Anjani ini perempuan, dia bisa merasakan dari gestur, wajah dan ekspresi yang dia tunjukkan pada Arkan kalau di sana masih ada perasaan yang besar.


"Kamu cemburu? Saya kan tidak membalas tindakannya, saya juga tadi memperkenalkan kamu pada Rindu. Jadi salah saya dimana, Sayang? Coba kamu maunya saya bagaimana?"


Anjani nampak berpikir, ya untuk apa juga dia marah pada Arkan. Tapi namanya juga cemburu, dia cemburu dan tidak tau harus melampiaskannya pada siapa. Hanya ada Arkan di sana jadi dia uring-uringannya pada Arkan.


"Aku gak suka kamu dipeluk orang lain selain aku." Akhirnya hanya satu kalimat itu yang dapat Anjani ungkapkan pada suaminya.


"Ya sudah maaf ya? Saya kan tidak membalas pelukannya."


"Tapi ada bekas perempuan itu aku gak suka, ada wanginya juga. Bukan wangi kamu sama aku lagi gak mau," kata Anjani.


Gemas sekali bukan istrinya ini, Arkan kembali memeluk Anjani dan menciumi seluruh permukaan wajahnya. Ini yang jadi kelemahan Anjani yang tak bisa menahan senyumnya. "Massssss."


"Haha, yasudah kalau begitu saya mandi. Agar tidak membuat kamu kesal, agar wanginya hanya saya dengan kamu. Bagaimana?"


Anjani menahan senyum sembari mengedikan bahunya dia gengsi sebenarnya mengakui kalau suaminya ini manis sekali, dia malu! Melihat itu Arkan menarik hidung istrinya. "Jelek kalau marah, jangan marah lagi. Biar saya bersih-bersih dulu lalu kita bersama lagi."


"Jangan cemberut, wajahnya senyum dulu agar saya tenang, Sayang."


"Gak mau!"


"Senyum dulu, Sayang. Kamu mau buat saya tersiksa karena kemarahan kamu hm?" Tanya Arkan seraya mengusap pipi Anjani.


Tidak kuat! Ini terlalu manis, hingga Anjani tidak dapat mempertahankan gengsinya lagi dan tersenyum. "Mass ihhhh, aku lagi marah jangan digituin nanti gak jadi marah!"

__ADS_1


"Memang itu tujuannya, Sayang. Jangan marah." Arkan menangkup pipi Anjani lalu mengecupinya dengan lembut. "Sayang hanya menyayangi kamu, soo believe me."


__ADS_2