
Meskipun Arkan kalem begitu, tetap saja dia seorang pria yang memiliki emosional yang terkadang sulit untuk diredakan. Saat melihat Anjani di taman tadi dia sudah menahan amarahnya mati-matian. memang ada ya pria yang rela melihat istrinya jalan bersama pria lagi. Terlebih bagas adalah mantan pacar dari Anjani. Arkan benar-benar mengikuti mereka sampai Bagas mengantarkan Anjani tepat di depan rumah. Setelah Anjani masuk barulah Arkan melajukan mobilnya dan masuk ke pekarangan kediaman Altair.
Arkan nampak jalan terburu-buru untuk naik ke atas, untuk menemui Anjani. Dengan napas yang masih sedikit memburu, dia membuka kamar itu. Perlahan emosinya mulai membaik saat Arkan melihat apa yang ada di hadapannya. Sementara Anjani yang kepalang malu karena ketangkap basah sedang menyanyi di atas kasur, langsung turun dan membenarkan posisinya.
Lagian kenapa sih Arkan kalau masuk tidak bilang dulu? Tapi ya tidak salah juga sih, kan ini kamar milik Arkan. Arkan yang tadinya marah kini malah mengulum tawanya, baru kali ini dia melihat sisi lain Anjani yang seperti itu. Kan menggemaskan. "Kamu sedang apa, Anjani?"
"Gak ngapa-ngapain, lupain aja. lagian kenapa sih Pak-"
"Mas!" Peringat Arkan.
"Ya lagian kenapa Mas masuk gak bilang-bilang sih?! Bikin kaget orang aja tau!" Dengus Anjani.
"Ini kamar kita, jadi saya berhak masuk kapan saja."
Ya benar, tapi ah sudahlah. Tidak ada gunanya juga berdebat dengan Arkan. Itu hanya akan merusak hari baiknya karena seharian ini dia menghabiskan waktu bersama Bagas di tempat favorit mereka. Sebenarnya Arkan tau kalau Anjani sedang senang karena bertemu Bagas, tapi karena berhubung tidak jadi marah jadinya dia bingung harus apa.
"Kenapa ngeliatin, ada yang salah?" Tanya Anjani yang kini mereview penampilannya karena mendapatkan tatapan intens dari Arkan.
Tanpa menjawab Arkan kini menghampiri Anjani dan membawanya untuk berdiri di hadapannya. Anjani yang kaget hanya menurut saja, meskipun dia tidak tau apa yang akan dilalukan oleh suaminya ini. Perlahan Arkan menghela napasnya, mencoba mencari kata yang tepat agar Anjani dapat memahaminya dengan mudah. "Saya tau kamu tidak mencintai saya, saya juga tau kamu tidak pernah serius menjalankan rumah tangga bersama saya, tapi saya harap kamu mengerti batasan. Saya tidak akan melarang kamu dalam banyak hal, tapi saya harap kalau soal batasan kamu bisa mengerti apa yang saya maksud."
__ADS_1
Anjani mengerjapkan matanya berkali-kali, maksud Arkan bicara seperti ini apa ya? Apa Arkan mengetahui kalau dia dan Bagas bertemu? Tapi kalau dilihat dari wajahnya tidak ada aura kemarahan dari Arkan. Apalagi setelahnya Arkan langsung pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Tapi tetap saja ada perasaaan tidak enak. Rasanya seperti ketahuan selingkuh padahal keadaannya.
Aneh biasanya Anjani adalah orang yang bodo amat atas segala hal. Tapi kenapa sekarang dia kepikiran ya? Apalagi Arkan yang terlihat tidak marah, nada bicaranya pun lembut, padahal kan biasanya pria akan lebih mudah emosi. Bagas yang bersamanya bertahun-tahun pun kalau dia marah pasti emosi, tapi kenapa Arkan tidak? Anjani menghela napasnya, lebih baik dia berganti pakaian dan mengerjakan tugas daripada memikirkan ini semua.
.
.
.
Malam harinya, Anjani dan Arkan nampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Arkan sibuk merekap nilai dan menyelesaikan pekerjaannya di kantor cabang, sementara Anjani sibuk membuat file presentasi bahasa inggrisnya. Tidak ada yang bicara, semenjak kejadian tadi sore mendadak tidak ada pembicaraan di antar mereka. Tapi ya memang mereka jarang bicara sih, sekalinya bicara pun hanya berdebat, memang apa yang mau dibicarakan?
Arkan sebenarnya ingin mengajak Anjani bicara panjang lebar. Tapi ya memang dia belum berani juga, maksudnya Anjani saja masih cuek begitu. Jadi dia tidak tau harus mulai darimana. Apalagi dia memang kaku kalau soal wanita.
"Presentasi bahasa inggris," jawab Anjani tanpa berpaling dari layarnya.
"Sudah malam, mau saya bantu?" Akhirnya Arkan menawarkan diri untuk itu, karena ya sekarang sudah menunjukkan pukul 9 malam, pasti butuh waktu yang lama untuk Anjani mengerjakannya.
"Aku bisa sendiri." Tanpa sadar Anjani mengubah panggilannya menjadi aku, karena ya tanggung juga harus saya kamu di rumah seperti ini, terlalu formal sekali.
"Saya seorang guru, kamu takut saya salah atau tidak benar mengerjakannya?" Tanya Arkan.
__ADS_1
Anjani menghela napasnya dan menatap Arkan yang ada di sampingnya. "Bukan masalah itu, ini tugasku. Kewajibanku sendiri. Walaupun Mas guru tapi mau gimana pun ini tugasku. Aku bukan orang yang suka mengandalkan orang lain kalau aku mampu."
Arkan menganggukkan-nganggukkan kepalanya seraya mengulum senyum di bibirnya. Selain suka dengan prinsip Anjani, dia juga salah tingkah sebenarnya karena Anjani mengubah panggilan mereka dan memanggilnya Mas tanpa perlu diperingatkan lagi. "Baik, kalau begitu cepat selesaikan agar kamu bisa tidur cukup."
Anjani mengangguk dan kembali mengerjakan tugasnya. Jangan heran kenapa Anjani tidak mengajak Arkan bertengkar, karena posisinya sedang sibuk, dia harus tetap mengontrol moodnya untuk mengerjakan tugas karena Anjani adalah type orang yang moodyan. Dia akan mengerjakan apa-apa sesuai mood yang dia rasakan. Jadi kalau moodnya, jadi kalau dia kehilangan moodnya akan sulit untuk mengembalikannya lagi.
Setengah jam berlalu, Anjani masih anteng mengerjakan tugasnya. Bahkan dia tidak beranjak sedikit pun dari duduknya. Memang Anjani kalau melakukan apapun akan lupa dengan dunia ya? Untung saja Arkan pengertian, perlahan dia menuangkan air yang berada di nakas dan memberikannya pada Anjani. "Minum."
Anjani menatap Arkan dengan bingung, kenapa juga dia tiba-tiba mengambilkan air untuknya. Kan aneh sekali, padahal Anjani tidak memintanya. Arkan yang ditatap seperti itu membuatnya menghela napas. "Berpikir juga butuh otak yang baik, kemampuan otak akan menurun ketika dehidrasi."
Dengan ragu Anjani menerima gelas itu dari tangan Arkan, tenggorokannya memang terasa kering sih. Tapi tetap saja dia meminumnya sambil terus menatap Arkan dengan ribuan pertanyaan di kepalanya. Maksudnya Arkan itu flat, tapi kena bisa menjadi orang yang se-perhatian dan se-peka ini. Untung remaja seusia Anjani, perlakuan seperti ini sangat berpengaruh pada perasaannya. Akan sangat berbahaya menurut Anjani.
"Kamu pasti berpikir kenapa saya melakukannya, kan? Saya hanya melakukan tanggung jawab, kalau kamu sakit juga nanti saya yang repot," ucap Arkan sembari kembali mengambil gelas dari tangan Anjani.
Sementara Anjani mencibir dalam hatinya, jadi dia hanya takut direpotkan kalau Anjani sakit? memang salah ya berpikir yang baik-baik mengenai Arkan, ternyata dia memang se menyebalkan itu. Menyesal sekali Anjani berpikir kalau Arkan adalah pria yang perhatian. Arkan sedikit terkekeh melihat reaksi anjani, tentu dia bercanda. Tapi biarkan saja, senang sekali dia menjahili istri kecilnya ini.
Setelah selesai mengerjakan tugasnya, Anjani menutup laptop dan kembali menaruhnya. Arkan juga menaruh iPad dan juga berkasnya di laci untuk bersiap tidur. Saatnya Anjani membaringkan dirinya, dengan spontan Arkan memeluk gadis itu dan membawanya dalam dekapannya. Sudah biasa memang untuk beberapa hari ini Arkan dan Anjani tertidur dalam posisi seperti ini, Karena sudah mengantuk Anjani membiarkan saja Arkan melakukan apa yang dia mau. Karena pengalaman kemarin-kemarin juga tidak ada gunanya dia berontak, karena Arkan tidak akan melepaskan dirinya.
"Anjani."
"Apa?"
__ADS_1
"Good night." Arkan mencium kening Anjani lama, setelah itu dia memejamkan matanya.
Anjani yang diperlakukan seperti itu mematung, kenapa jantungnya berdebar saat Arkan mencium keningnya? Anjani menghela napasnya beberapa kali, dalam hatinya dia sudah meronta-ronta agar melupakan kejadian barusan. Namun debaran jantungnya tidak bisa berbohong, bahkan meskipun dia sudah memejamkan matanya Arkan bisa merasakan kalau jantung Anjani berdebar kencang. Ahh entah kenapa dia menyukai debaran jantung Anjani.