I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Ujian Nasional Hari Pertama


__ADS_3


Hari-Hari berlalu, tidak terasa Ujian Nasional pun tiba. Anjani sudah siap dengan peralatan ujian, nametag dan papan yang dia bawa.


Arkan tersenyum saat istrinya turun dari tangga, gadis itu nampak sudah siap sekali melakukan ujian hari pertamanya. Tentulah Anjani semangat, dia bahkan sangat semangat, setelah ini dia bisa bebas dari seragam sekolah dan membeli banyak oufit ke kampus. Dia tidak sabar ingin menjadi Maba.


Melihat Arkan yang sudah siap di meja makan, Anjani menghampirinya. Pelayan juga dengan siap menyiapkan roti dan susu untuk Anjani.


"Nervous?" Tanya Arkan pada sang istri.


Anjani menggeleng. "Engga sih, aku gak boleh mikirin apapun. Aku udah belajar, aku udah punya persiapan yaudah sekarang bukan waktunya buat menghafal atau mikir yang lain."


Arkan tersenyum mendengar ucapan Anjani. Karena memang yang dibutuhkan dalam ujian adalah pikiran yang tenang agar bisa mencerna soal dengan baik. "Kalau tidak bisa kamu datang ke ruangan saya saja."


"Jangan ngaco, masa ngajarin istrinya nyontek! Gak ada, aku bisa sendiri."


"Memang yang bilang kamu tidak bisa siapa, Sayang? Ya sudah intinya kamu fokus dan selesaikan dengan baik. Makan sarapannya, habiskan. Biar perutnya juga terisi dengan baik."


"Ayayay siap captain!" Anjani terkekeh dan menghormat pada Arkan. Membuat Arkan gemas dan mengigit ujung hidung Anjani.


"Lucu sekali istri saya."


"Emang aku lucu, makanya kamu tergila-gila sama aku." Ledek Anjani dengan percaya dirinya sembari menyuapkan roti pada mulutnya.


"Bagus kalau tergila-gila sama kamu, daripada saya tergila-gila dengan gadis perawan anak tetangga?" Balas Arkan.


"KUPUKUL PALAKAU!"


Arkan terkekeh melihat raut wajah istrinya, setelah itu dia mengusap puncak kepala Anjani lembut dan kembali melanjutkan sarapannya. Hari ini mereka memang hanya berdua, karena memang seperti biasa orang tua mereka melakukan perjalanan bisnis ke luar kota, jadi mau tidak mau mereka hanya berdua.


Beres dengan sarapan, Anjani mengikuti Arkan keluar rumah untuk berangkat bersama. Sekarang mereka rasanya sudah terbiasa lagi kalau pergi bersama, meskipun ya masih harus tetap diam-diam.


"Mas mama sama papa kapan pulang?" Tanya Anjani.


"Minggu depan mungkin, mereka juga belum mengabari saya. Kenapa, rindu?" Tanya Arkan.


Anjani mengangguk, tidak heran sih. Anjani adalah kesayangan sekarang di rumah Arkan. Bahkan sepertinya orang tuanya sediri pun lebih menyayangi Anjani daripada Arkan. Arkan bersyukur juga untuk itu.


Memang yang dibutuhkan anak perempuan pasti adalah mertua yang baik, yang bisa dia anggap sebagai ibunya sendiri dan Anjani mendapatkan itu semua dari Hera dan Abdi.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak rindu pada anaknya saja?" tanya Arkan.


"Orang setiap hari ketemu apa juga yang harus dikangenin, heran."


"Ohhh baiklah kalau begitu kapan-kapan saya akan gantikan mereka untuk perjalanan bisnis ke luar kota."


"LOH NGAPAIN LOH KAYA GITU?" Kesal Anjani.


"Agar kamu merindukan saya," jawab Arkan simpel.


Oh Tuhan, kenapa Anjani memiliki suami yang kelakuannya ajaib seperti Arkan. Sudah hampir satu tahun mereka menikah dan masih membahas hal seperti ini?


"Gak usah ngada-ngada! Yaudah aku kangen kamu!" Anjani mengalah saja, kalau ditinggal Arkan dia juga yang Arkan kelimpungan.


"Terpaksa, oh iya orang tua saya bulan depan ada perjalanan bisnis ke London 1 bulan. Kamu harus siap-siap LDR," kata Arkan sok serius sambil mengangguk-nganggukan kepalanya.


Anjani melirik suaminya itu tak percaya. Sungguh dia akan meninggalkannya selama 1 bulan? "Gausahh!! Y-ya oke tapi aku ikut."


"Kalau kamu ikut kamu tidak akan merindukan saya."


Anjani mendengus sebal dan menarik satu tangan Arkan dari kemudinya, Anjani menggenggam tangan itu sambil merajuk. "Gak bolehhhh, aku gak mau ihhh. Jangan yaa??"


"Kangen, aku kangen kamu. Kangennnnn banget, apalagi kalau kamu lama-lama di kantor aku suka kangen. Suka uring-uringan, suka gak jelas."


"Benarkah?"


Anjani menganggukkan kepalanya, membuat Arkan tersenyum puas mendapatkan jawaban istrinya. Setelah itu dia menghentikan mobil di depan halte karena mereka sudah sampai.


"Tidak usah ikut ujian ya?"


Anjani mengernyitkan dahinya. "Kenapa gak usah ih."


"Saya mau kurung kamu seharian di kamar. Kamu gemas sekali, Sayang." Arkan menarik lengan Anjani lalu mengecupi bibirnya. Membuat Anjani memejamkan matanya karena ulah suaminya itu. Astaga ini masih pagi tapi Arkan begini padanya. Semoga saja dia bisa lancar mengerjakan ujian.


.


.


.

__ADS_1


Hari ini adalah pelajaran bahasa Indonesia. Anjani menghela napasnya sebelum memulai ujian. Dia jadi kepikiran bagaimana ya nasibnya Nanda.


Kasian dia, seharusnya dia memiliki hak yang sama untuk berada di sini. Tapi diusianya yang masih muda, dia harus menunda semuanya demi kelahiran anak mereka.


Belum juga Rafi, untuk saja dia tidak stress. Semenjak berita pernikahan mereka mencuat, dia menjadi bahan gosip di lingkungan sekolah. Untuk saja mentalnya sangat luas.


Namun Anjani menepiskan itu, dia harus fokus dengan ujiannya sekarang. Kalau dia tidak fokus bisa-bisa nilainya kecil.


40 menit berlalu. Anjani menghela napas sembari mengecek ulang jawabannya. Dia rasa semuanya sudah selesai. Jadi, karena sudah bisa di close. Dia submit jawabannya dan sudah diizinkan pulang.


"Ahh selesai juga akhirnya." Dia lega sih karena semua yang dipelajari muncul semua, jadi sedikitnya dia bisa merasa puas dengan jawabannya.


Namun tiba-tiba dia melihat Rafi yang berlari dari kelasnya, langsung saja Anjani hentikan. "Raff kenapa?"


"Nanda udah melahirkan! Aku duluan!"


Anjani membulatkan matanya, sungguh? Baru saja Anjani memikirkan Nanda dan sekarang ada kabar kalau Nanda melahirkan. Tanpa pikir panjang Anjani segera menyusul Rafi dan menelusuri koridor.


Tapi tangannya ditarik masuk ke ruangan. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Arkan. "Mass!!"


Siapa yang tidak kaget coba ditarik tiba-tiba begitu. Apalagi Arkan menariknya di sekolah, apa kata satu sekolah kalau melihat ini.


"Kamu mau kemana? Sudah saya bilang, tunggu saya. Kita pulang bersama."


"Ck, Mass. Ini penting. Nanda melahirkan, aku mau nyusul Rafi ke rumah sakit. Mau liat keadaan Nanda."


"Udah melahirkan?" Tanya Arkan memastikan.


Anjani mengangguk, setelah itu tanpa berlama-lama lagi Arkan mengambil kunci mobil dan ponselnya. Dia juga tidak peduli sedang berada di mana. Digenggamnya tangan Anjani dan berjalan ke parkiran.


Kaget? Tentu kaget, apalagi di sana sudah ada beberapa siswa dan Arkan menariknya seperti ini masuk ke dalam mobil. "Diliatin!"


Arkan tidak menjawab, biarkan saja toh sebentar lagi Anjani lulus dan dia bisa mengikuti ujian, kan? Arkan tidak mau sembunyi-sembunyi lagi, kalau memang harus ketahuan ya biarkan saja. Toh mereka menikah dengan sah, bukan nikah lari atau kawin paksa karena MBA.


Setelah beradu nyali dengan Arkan, Anjani langsung masuk ke dalam Civic hitam itu dan menarik napasnya dalam. Gila memang suaminya ini, seperti tidak tau bahaya. Kalau sudah begini semua orang pasti akan curiga.


"Masss!! Gimana kalau ketauan?!" Kesal Anjani.


"Lagi pula terhitung kamu disekolah ini efektif 1 Minggu lagi, lalu apa yang harus ditutup-tutupi lagi, kamu bisa sekolah dengan nyaman, kan selama ini?" Tanya Arkan enteng dan melajukan mobilnya.

__ADS_1


Anjani menghela napas dan memejamkan matanya, terserah deh. Terserah Arkan maunya bagaimana sekarang, yang jelas dia ingin menemui Nanda sekarang juga. Dia khawatir dengan keadaan Nanda. Apalagi Rafi panik begitu.


__ADS_2