
Di tengah banyaknya pertanyaan yang ada di dalam otak Andira, tiba-tiba Anjani memanggilnya, membuat Andira menoleh ke arah gadis itu. Tapi dia juga bingung, di sisi lainnya juga ada Bagas yang menghampirinya.
"Andira kamu-"
Plak ...
Satu tamparan dengan spontan Andira layangkan pada Anjani. Membuat orang sekitarnya kini terdiam atas tindakannya, terutama Anjani yang merasa tidak melakukan apapun. Entah kenapa emosinya meluap-meluap, wajar kan dia marah? Apalagi saat mengetahui hubungan Bagas dan Anjani cukup lama.
"Andira!" Bagas menarik Andira ke belakang, namun Andira menghentakkan tangannya seolah tak ingin mendengarkan apapun.
"Kamu kenapa sih?" Tanya Anjani tak mengerti seraya memegangi pipinya yang terasa panas.
"Kamu yang kenapa?! Jahat kamu, di saat aku koma dan Bagas jauh dari aku, kamu beraninya masuk ke dalam kehidupan Bagas dan jadi pacarnya?!"
"KAMU CEWEK MACAM APA SIH?!"
"Eh jaga ya omongan kamu sama Anjani, kalau kamu mau marah, marah aja sama di berengsek itu. Kenapa jadi salahin temenku?!" Della maju ke depan tapi Anjani menahan temannya.
"Udah, Dell," tahan Anjani.
Andira dengan napas yang memburu menatap bergantian ke arah Anjani dan Bagas. Bagas salah, tapi menurut Andira juga mereka sama-sama salah karena hubungan terjadi karena dua orang.
"Kalian jahat!"
Anjani menarik napasnya, dia bukan orang penyabar sebenarnya. Apalagi orang yang tidak jelas langsung menamparnya seperti ini. Jelas dia emosi, tapi mengingat Andira baru bangun dari koma dan dia juga adiknya Arkan dia berusaha menahan itu semua.
Anjani mendekat ke arah Andira dengan mengepalkan tangannya. "Aku gak suka ada orang yang nampar aku tiba-tiba, aku juga gak suka dimarahin di depan orang banyak, aku bukan orang yang sabar dan bisa terus diam."
Anjani melirik ke arah Bagas. Dia tidak peduli akan serusak apa reputasinya di sekolah karena banyak orang yang melihat kejadian ini. "Tapi, aku cuma mau bilang. Aku gak mengenal kamu sama sekali dan gak pernah tau tentang kamu sebelum pertemuan kita di rumah sakit. Kalau kamu pintar simpulkan sendiri, biar cepat tanya orang yang gak bertanggung jawab ini!"
__ADS_1
Anjani menunjuk tepat di hadapan wajah Bagas setelah itu Anjani meninggalkan mereka dan beranjak untuk pulang. Della sebenarnya ingin mengejar, tapi dia tau Anjani sedang emosi, lebih baik dia yang menyelesaikan ini di belakang Anjani.
Anjani mengigit bawahnya kesal, dia kesal sekali dengan Andira. Memang dia siapa sampai menamparnya seperti tadi? Nanda dan Della saja tidak pernah melakukan itu padanya.
Namun saat dia menatap ke langit, ternyata mulai turun hujan. Anjani menandakan tangannya.
"Ck hujan!" Dia tidak peduli harus menerobos hujan, sekalian saja agar tubuhnya tidak panas lagi karena terbakar emosi.
Di satu sisi keadaan di sana semakin panas, belum lagi anak-anak Mading itu dengan semangat mengabadikan moment ini. Semuanya nampak kacau bagi Bagas. Apalagi Azzam dan Rafi nampak terlihat kesal karena ternyata Anjani selama ini diam menutupi kebusukan Bagas.
"Semuanya bisa kita bicarain di rumah, gak harus kaya gini!" Kesal Bagas. Begini nih yang tidak dia suka dari Andira, dia selalu bersikap kekanak-kanakan.
"Di rumah apasih, Gas? kalau aku gak datang ke sekolah ini, aku gak akan tau kelakuan kamu sama Anjani!"
"Kamu udah putus!" Bentak Bagas.
"Tetep aja kamu selingkuh! Kamu ngerti gak konteksnya ini kamu tetep selingkuh!" Balas Andira.
Della meninggalkan mereka setelahnya. Tanpa di sadari Arkan melihat itu semua, memang tidak dari awal, tapi cukup menggambarkan situasi yang terjadi. Satu-satunya hal yang dia khawatirkan sekarang Anjani, di mana dia sekarang?
Dengan cepat dia berjalan ke ruangannya dan mencoba menghubungi Anjani, namun gadis itu tidak meresponnya, di luar hujan lebat. Tanpa peduli banyak hal, Arkan berlari keluar ruangan dan menuju mobilnya, setelah itu mencari Anjani. Karena ternyata di halte pun gadis itu tidak ada.
Hujan semakin lebat, Anjani kalau sedang emosi begini memang lebih suka jalan kaki sih untuk pulang, dia juga tidak peduli dengan hujan yang membasahi tubuhnya.
Bukan ingin menangis, tapi ya memang dia sedang kesal saja. Dia padahal sudah tidak pernah memikirkan Bagas lagi dan sekarang harus berhubungan dengan Bagas? Malas sekali, memang di sini Andira saja yang jadi korbannya? Dia juga. Tapi tidak pernah tuh Anjani bertindak berlebihan seperti tadi apalagi konteksnya mereka tidak terlalu dekat. Menyebalkan sekali.
Sesekali Anjani menendang botol di jalan atau sengaja menghentakkan kakinya di genangan air. Dia sedang marah, tapi tidak tau harus marah pada siapa, biasanya Anjani selalu blak-blakan dan sekarang dia harus menahannya, rasanya tidak enak kalau harus diutarakan.
Anjani tidak peduli pokoknya, hingga seseorang menarik tangannya dari samping. "Anjani."
Anjani yang kaget menatap ke arah pria yang ada di hadapannya. "Mas?"
__ADS_1
"Kenapa hujan-hujanan? Nanti sakit, ayok!" Ajak Arkan.
Anjani menahan tubuhnya dengan wajah yang masih dibuat datar. Membuat Arkan menghela napasnya, bandel sekali istri kecilnya ini. "Anjani jangan seperti anak kecil!"
"Aku emang anak kecil kamu baru sadar kalau kamu nikahin anak kecil?!" Balas Anjani. Ya orang kesal diperlakukan begitu malah semakin kesal. Apa sikapnya begini kekanak-kanakan ya? Padahal Anjani hanya ingin menenangkan dirinya sendiri. Bukan drama ingin menangis di bawah hujan.
"Bukan begitu maksud saya, ini hujannya semakin deras. Kalau kamu sakit, kalau kamu kenapa-kenapa, kamu tanggung jawab saya. Ayok, kita bicarakan. Bicara sebanyak apapun yang kamu mau biar saya dengarkan." Arkan berusaha untuk tetap menjadi seorang penenang, walaupun sebenarnya dia tidak tenang.
"Emang mau dengerin cerita dari anak kecil? Emang kamu tau apa yang terjadi sama aku?" Tanya Anjani lagi dengan tatapan nyalang.
"Saya tau semua tentang istri saya dan kamu istri saya, saya pasti akan mendengarkan apapun yang kamu keluhkan. Sudah ya, semakin lama kena hujan nanti kamu bisa pusing."
Mendengar itu Anjani meluluh, dia akhirnya terpaksa mengikuti Arkan masuk ke dalam mobilnya. Namun, Arkan tidak langsung masuk, dia tetap di luar. "Kamu lepas baju kamu dan pakai Hoodie saya di belakang, saya tau kamu malu kalau buka baju di hadapan saya, jadi kalau sudah selesai ketuk saja kacanya."
"Tapi di luar hujan, kamu nanti makin basah."
"Terlanjur basah, sudah cepat jangan banyak bicara."
Anjani menghela napas, dia mengambil Hoodie milik Arkan di jok belakang, perlahan dia mulai membuka bajunya dan memakai Hoodie itu. Hoodie yang wanginya wangi Arkan yang menenangkan.
Dia pernah memakainya sekali dan sekarang dia memakainya lagi. Dia jadi sedikit tersenyum. Tapi karena mengingat Arkan masih di luar dia segera mengetuk kaca dan Arkan pun masuk ke mobil.
"Kamu menangis?" Tanya Arka seraya menoleh ke arah Anjani.
"Engga, emangnya aku drama banget ya sampe harus nangis di bawah hujan?" Kesal Anjani.
"Lalu kenapa kamu tidak berteduh dan menunggu saya di halte saja?" Tanya Arkan.
"Karena kalau aku kesel aku lebih suka jalan kemana aja daripada aku diem terus marah gak karuan. Kenapa?"
"Sudah jelas saya khawatir, bagaimana kalau kamu sakit? Kalau kamu mau tau saya orang yang mau paling peduli kalau kamu sedang tidak baik-baik saja."
__ADS_1
Setelah itu Arkan kembali memfokuskan diri ke depan dan melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang.