I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Romantisme Di Tengah Keributan


__ADS_3


"Anjani kamu belum selesai dengan saya!!" Teriak Arkan.


Membuat Anjani terkekeh dan cepat-cepat keluar kamar karena Arkan kini mengejarnya, mereka nampak seperti anak kecil yang sedang main kucing-kucingan.


Sampai saat mereka sudah menuruni anak tangga, Arkan berhasil menangkap tubuh Anjani dan dia dekap dengan erat. "Belum selesai!"


Anjani tertawa. "Apasih, Mass!! Lepasin aku gak?!"


Mendengar seruan Anjani Arkan malah iseng menggelitik perut istrinya sampai mereka tertawa bersama, tanpa sadar semua orang sudah memperhatikan mereka dari meja makan sana. "Gio ... Anjani."


Mereka berdua sama-sama kaget dan saling melepaskan. Bayangkan saja di meja makan ternyata ada keluarga besar mereka. Tapi kenapa sepagi ini? Oma dan Opanya, Tante dan Omnya dan lagi ada Andira dan keluarganya.


"Gio minta maaf," ucap Arkan seraya menggenggam tangan Anjani.


Sungguh itu membuat Bagas tidak suka, ada perasaan kesal sejak tadi mereka turun dari tangga. Rasanya moodnya sudah berantakan pagi-pagi begini.


Anjani dan Arkan menyalami semua orang yang ada di sana, kecuali Andira dan Bagas. Lebih tepatnya Anjani yang melakukannya, karena memang permasalahan diantara dirinya dan juga Andira belum terselesaikan.


Andira juga nampak tak ingin menatap ke arah Anjani, wanita yang berhasil membuat Bagas berpaling darinya. Dia tidak suka itu. Tapi Anjani santai saja sih, dia malah kini malah sudah ketawa-ketawa dengan Arkan dan kedua orang tuanya.


Lucu karena mereka terlihat sekali seperti pengantin baru yang sedang mesra-mesranya. Bahkan Anjani kini mengalasi piring Arkan dengan senang hati.


"Terima kasih, Sayang," ucap Arkan seraya mengusap puncak kepala Anjani. Setelahnya Anjani mengangguk lalu mengalasi makanan untuk dirinya sendiri. Karena ya itu sudah kebiasaan, jadi ada tambahan orang lain atau tidak rasanya tidak akan ada yang berbeda.


Bagas meneguk air putihnya, tenggorokannya terasa kering, membuat Andira nampak sesekali kesal melihat Bagas yang terus memperhatikan Arkan dan juga Anjani.


"Jadi bagaimana Gio, Anjani? Kalian sudah menyesuaikan diri?" Tanya Adam-Kakeknya Arkan.


Anjani mengalihkan pandangan kepada sang kakek lalu tersenyum. "Sudah, Opa. Mas Arkan baik kok, walaupun nyebelin."


"Nyebelin juga kamu suka sama saya," ledek Arkan.


Anjani melirik tajam ke arah suaminya, namun bukan takut Arkan malah menunjukkan senyumnya. Memang benar-benar menyebalkan manusia satu ini.

__ADS_1


"Oma senang loh melihat kalian sudah akur begini, jadi bisa cepat-cepat memberikan Oma cicit," ucap Sena.


Uhukkk ...


Anjani tersedak mendengar pernyataan Sena, ya bagaimana tidak? Kemarin mereka berdua membahas anak, sekarang ditagih cicit, apalagi ini.


Melihat itu Arkan mengusap punggung Anjani dan memberikannya minum. Dia terkekeh melihat istrinya yang nampaknya kaget dengan permintaan neneknya. "Anjani masih sekolah Oma, nanti setelah Anjani lulus akan Gio segerakan."


"Bagus, memang seperti itu yang Opa dan Oma harapkan," ujar Adam.


Arkan sih mengangguk-nganggukan kepalanya perlahan, berbeda dengan Anjani yang kini membulatkan matanya pada pria itu. Bisa-bisanya dia sat-set begitu, padahal Anjani saja tidak siap.


"Oma mau cicit laki-laki, biar kamu ada penerusnya," pinta Sena.


"Gampang, nanti Gio cetak 12," ucap Arkan enteng.


Lagi-lagi Anjani menghela napasnya, 12 katanya? Melahirkan satu saja sepertinya menyeramkan apalagi 12, sudah gila memang Arkan Altair ini! Ahhh frustrasi Anjani mempunyai suami seperti Arkan.


"Makan lagi, Sayang." Arkan mengusap puncak kepala Anjani lalu mengecup puncak kepalanya lembut.


"Ekhmm, Andira mau bicara sesuatu." Andira menaruh sendok dan garpu ya serta menegakan tubuhnya.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Vanya.


Andira nampak menarik napasnya beberapa kali, setelah itu berusaha memantapkan hatinya tentang keputusan yang sudah dia ambil. Kedua orang tua Andira juga sejak tadi belum bicara, mereka masih menatap Anjani, mengamati gadis yang dibicarakan oleh putrinya.


"Andira mau memutuskan pertunangan Andira sama Bagas, karena Andira gak bisa lagi sama Bagas."


Semua orang nampak terkejut, Anjani dan Arkan juga. Tapi mereka nampak lebih tenang, karena mereka memang sudah memperkirakan ini akan terjadi. Jadi bukan hal yang di luar dugaan.


"Kenapa, Sayang? Ada yang membuat kamu merasa tidak enak?" Tanya Vanya kaget.


"Andira udah tau tentang Anjani dan juga Bagas, Tante. Berhenti sembunyiin ini dari Andira! Andira gak akan bisa hidup sama orang yang hatinya entah ada di mana!"


"Anjani dan Bagas?" Tanya Sena tak paham.

__ADS_1


Anjani menghela napasnya seraya menatap Arkan, masalah apa sih ini? Padahal Anjani sedang diam-diam saja dan tidak banyak tingkah. Selalu saja dia diseret ke permasalahan yang tidak berguna seperti ini.


Semua orang nampak diam, karena memang belum menjelaskan ini pada Sena dan juga Adam. Kalau begini Arkan harus turun tangan karena istrinya di bawa-bawa.


"Andira, tolong jangan selalu membawa Anjani ke dalam masalah kalian. Sudah Kakak bilang kalau Anjani juga sama seperti kamu."


"Cukup ya, Kak. Aku tau dia istri kakak sekarang tapi dia yang bikin aku hancur kaya gini!" Tegas Andira.


Arkan sudah emosi sebenarnya, namun di bawah sana Anjani menggenggam tangannya agar tidak terbawa emosi. Pada akhirnya dia menghela napas dan mulai menjelaskan semuanya pada semua orang. Termasuk kepada keluarga Andira yang nampak tidak suka dengan Anjani. Mereka juga harus tau kalau Anjani tidak seperti apa yang mereka pikirkan.


Pokoknya ini harus diselesaikan sekarang juga, setelah menjelaskan semuanya Arkan menyerahkan masalah ini pada mereka. Karena jelas mereka tidak ada urusan dengan Bagas dan Andira.


"Kamu bisa ya begitu sama Andira, Gas?!" Tanya Fara– ibunya Andira.


"Aku tau anak aku salah, Mba. Tapi tolong jangan batalkan pertunangan Andira dan Bagas."


Terjadi adu argumen di sana, namun bukannya takut Anjani malah anteng memakan pudding yang ada di piringnya seraya menonton drama ini. Sesekali dia tersenyum, pagi-pagi begini sudah disuguhkan banyak drama, menarik sekali.


"Kenapa kamu malah senyum-senyum?" Tanya Arkan seraya menatap Anjani.


Anjani menggeleng, semua orang nampak ribut di hadapannya, namun dengan santainya Anjani masih diam dan duduk menikmati makan paginya dengan suka cita.


"Aku lapar dan ini bukan masalah kita. Mending kamu makan ini, enak aaa." Anjani menyuapkan pudding pada Arkan.


Sedikit aneh memang mereka malah bermesraan di tengah keributan seperti ini. "Enak, lagii." Arkan membuka mulutnya di hadapan Anjani.


Dengan senang hati Anjani kembali menyuapkan pudding pada Arkan. Terkadang memang hidup harus dijalani dengan santai seperti ini daripada terus mempermasalahkan hal yang sudah berlalu, karena bagi Anjani semuanya sudah menjadi masala lalu yang tidak perlu diungkit lagi. Dia dan Bagas sudah selesai dan sekarang Arkan lah kebahagiaannya.


Arkan tersenyum melihat Anjani yang nampak masih bisa tersenyum. Dia pikir Anjani akan emosi atau kesal, tapi dia lebih kuat dari apa yang Arkan bayangkan. Dia malah bisa sesantai ini menghadapi keributan yang terjadi.


"Habis ini manja-manjaan jadi, kan?" Tanya Arkan setengah berbisik.


"Ini kan udah mulai, makanya aku suapin," balas Anjani.


"Oh iya, ya sudah. Lagi." Arkan kembali membuka mulutnya untuk Anjani suapi.

__ADS_1


Sekilas Hera yang sedang melerai Vanya dan juga Fara melirik ke arah Arkan dan Anjani yang justru malah romantis-romantisan di suasana seperti ini. Hera menghela napas, tapi ya sudahlah. Bagus kalau mereka tidak terganggu dengan masalah ini.


__ADS_2