I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Anak Perempuan Mama Hera dan Papa Abdi


__ADS_3


Arkan dan Anjani sudah sampai di kediaman Altair, rumah ini begitu luas. Memang tidak heran sih kalau keluarga Altair masuk ke dalam salah satu orang terkaya. Tapi ya tidak mengagetkan juga, karena Anjani pernah ke sini. Saat makan malam waktu itu..


Para pelayan membantu memindahkan koper Anjani ke kamar Arkan, sementara kini mereka berdua sudah di sambut oleh Hera, karena Abdi sedang berada di kantor jam segini..


"Ya ampun anak cantik Mama. Gimana kabar kamu, Sayang baik-baik saja?" Tanya Hera..


"Anjani baik kok, Tan– eh Ma," jawab Anjani sedikit ragu.


Hera terkekeh melihat kelakuan lucu menantunya, dia begitu manis, lucu, lugu dan polos di mata Hera dan beruntung sekali rasanya memiliki menantu seperti Anjani ini.


"Ya udah kalau gitu masuk yuk, kalian juga pasti lelah perjalanan ke sini. Lebih baik kalian istirahat dan nanti bangun untuk makan malam. Oke?" Ucap Hera.


Anjani dan Arkan mengangguk, memang benar sih. Setelah acara pernikahan kemarin, Anjani masih harus tetap sekolah pada keesokan harinya. Tubuhnya ini sudah sangat lemas ingin beristirahat. Untungnya Ibu mertuanya ini sangat pengertian, jadi Anjani bisa pergi ke kamar dan beristirahat.


Perlahan Anjani melangkahkan kakinya ke dalam kamar milik Arkan. Matanya mengerjap saat melihat kamar ini begitu rapi. Bergaya klasik dengan warna putih dan hitam dominan, ditambah aroma kopi dan teh mencerminkan sekali kalau pemiliknya memang pria maskulin. Apalagi ada kaca besar di sana yang langsung menyuguhkan pemandangan indah perkotaan. Menakjubkan.


Di sebelah kanan kasur ini juga ada Jendela dan juga tempat untuk bersantai. Karena Anjani masih sungkan untuk tidur di kasur, akhirnya dia memilih untuk merebahkan diri di sana sambil menghadap jendela. Sejenak dia menarik napasnya dalam, sebenarnya kehidupan apa yang dia jalani ini?


Sekarang masih belum ada tuntutan, tapi kedepannya pasti ada, kan? Entah harus menjadi istri yang baik, bisa memasak, melakukan kewajiban sebagai istri yang sempurna, mempunyai anak. Apa dia tidak bisa menikmati kehidupan remajanya lagi?

__ADS_1


Tangannya terulur untuk membuka ponselnya untuk menyalakan lagu di spotify. Lucunya wallpaper layar itu masih photo dirinya dengan Bagas. Dengan terpaksa Anjani harus menggantinya dengan photonya sendiri karena takut jika sewaktu-waktu orang rumah melihatnya.


Karena sudah kepalang mengantuk, Anjani ketiduran di sana. Untung saja sore ini sejuk. Jadi Anjani bisa menikmati tidurnya dengan baik di sini. Tanpa sadar kalau ada beberapa pesan masuk ke ponselnya sekarang.


Tiga puluh menit berlalu, Arkan masuk ke dalam kamarnya setelah bicara banyak hal dengan Ibunya. Sudah Hera bilang, meskipun Arkan terlihat dingin, tapi dia sebenarnya adalah sosok yang hangat jika di rumah. Dia sangat menghormati kedua orang tuanya dan dia pasti akan menceritakan apa-apa saja yang menjadi keluhannya kepada sang Ibu.


Matanya tertuju pada Anjani yang tengah pulas tertidur di dekat jendela. Kenapa juga dia memilih tertidur di sana? Padahal kalau tidur di kasur pun tidak akan ada yang melarangnya. Perlahan Arkan langkahkan kakinya dan berlutut di samping tempat Anjani tertidur.


Tangannya terulur di wajah Anjani karena tidak mau dia terbangun karena silaunya matahari yang menembus ke sana. Dia suka wajah Anjani saat tertidur, terlihat lebih damai dibandingkan saat dia terbangun.


"Kamu cuek saja saya jatuh cinta, apalagi kamu mempunyai perasaan yang sama, Anjani. Saya bisa gila sepertinya." Arkan terkekeh, moment-moment saat Anjani tertidur seperti inilah yang bisa dia gunakan untuk bicara banyak hal tentang Anjani. Karena jika terbangun, singa ini akan kembali banyak bicara ketus dan mengacuhkannya.


Matanya tertuju pada ponsel Anjani yang masih mengeluarkan suara. Niatnya ingin mematikan suara itu tapi dia malah menghela napas karena melihat notif pesan dari Bagas.


B For Baby ✨ : Aku rindu kamu


B For Baby ✨ : Rindu dengan semua moment kita


B For Baby ✨ : Kamu perlu tau kalau aku sangat mencintai kamu, Anjani. Bisa kita kembali?


Arkan tersenyum sinis, menurutnya perkataan Bagas ini hanya sebuah bualan anak SMA yang bisa dengan mudah dia lontarkan. Mereka akan melakukan apapun agar mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tapi, Bagas salah lawan. Arkan bukan sekedar sepupunya, tapi dia adalah Giovano, putra tunggal keluarga Alaric yang tidak akan mau membagi apapun yang sudah menjadi miliknya.

__ADS_1


Arkan tidak berniat untuk menghapus pesan itu, dia benar-benar hanya mematikan lagu dari ponsel Anjani yang memang tidak pernah dia kunci. Setelah selesai, dia menyelipkan tangan di antara bahu dan juga lutut istrinya untuk dia gendong ke atas kasur.


"Selamat tidur." Arkan mencium kening Anjani lalu keluar dari kamar dan menuju ruang kerjanya.


Cukup lama Anjani tertidur, setelah selesai mandi dia tadinya akan siap-siap untuk mengikuti bimbel di tempat lesnya, namun Hera mengatakan kalau Anjani tidak perlu memforsir dirinya. Dia sudah pintar, terlebih suaminya ini guru. Jadi kalau memang butuh, lebih baik Anjani belajar dengan Arkan saja. Bukannya apa-apa, Hera tau kalau rutinitas Anjani padat saat kelas 12, dia tidak mau menantunya sakit karena terlalu memforsir dirinya sendiri.


Anjani tertegun sih, baru kali ini ada seseorang yang mengerti perasaannya. Sejujurnya juga Anjani lelah harus memforsir dirinya sendiri, apalagi bimbel bisa sampai jam 11 malam. Tapi kalau di rumahnya dia tidak bisa membantah. Meskipun Viona tak mengurangi kasih sayang pada Anjani tapi tetap saja terkadang Viona selalu membahas soal pendidikan pada Anjani.


Jadi diperlakukan seperti ini Anjani malah terharu, entah kenapa dia lebih nyaman dengan mama mertuanya ini meskipun baru beberapa jam berada di rumah ini. Bahkan, Hera memasakkan makan malam sesuai kesukaan Anjani.


"Anjani sayang, kenapa diam saja, Nak? Sudah jangan dipikirkan, nanti biar Mama Hera dan juga Papa Abdi yang bicara dengan orang tua kamu. Sekarang kamu anak Mama dan Papa juga, jadi kami pasti akan menyayangi kamu dsn berusaha memahami apa yang tidak dan yang kamu butuhkan." Ucap Hera.


"Iya, nanti Papa akan bilang pada Papa Mario kalau mulai sekarang kamu akan belajar tambahan dengan Gio. Jadi kamu tidak usah khawatir, mereka tidak akan marah," lanjut Abdi.


Mereka berdua paham kok tentang apa yang terjadi pada Anjani. Tentunya Arkan yang menceritakannya, oleh karena itu Hera akan pastikan kalau Anjani akan merasa nyaman tinggal di sini, dia akan menyempurnakan apa-apa saja yang tidak pernah Anjani dapat di rumahnya dan dari orang tuanya.


"M-makasih ya, Pa, Ma. Anjani jadi gak enak udah ngerepotin kalian," cicit Anjani.


"Ehh apa itu? Tidak ada kata tidak enak, kami orang tua kamu juga, kami akan memberikan kenyamanan terbaik untuk kamu di rumah ini. Jadi sekarang ayok kita makan," ajak Hera.


Anjani mengangguk, setelah itu dia menyiukkan makanan untuk Arkan lalu untuk dirinya. Sebenarnya Anjani tidak mau tapi ya tidak enak juga kalau tak terlihat akur di depan mertuanya. Anggap saja ini rasa terima kasih karena mereka membebaskan Anjani dari bimbel yang selama ini membuatnya muak.

__ADS_1


Sementara di sisi lain Arkan tersenyum, dia senang karena orang tuanya menyayangi Anjani. Dia juga senang melihat wajah senang Anjani yang meskipun tidak dia tunjukan tapi bisa Arkan rasakan. Semoga langkah awalnya ini bisa membuat Anjani jatuh cinta padanya dan mereka bisa menjalani pernikahan ini dengan baik ke depannya.


__ADS_2