I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Drama Apa Lagi Sih?


__ADS_3

Maaf ya aku baru update lagi. Semoga aja aku update terus, karena aku emang lagi sibuk guys, jadi panitia bukber berturut-turut. Makasih yang masih setia membaca. Happy reading~



Setelah puas menangis Anjani terdiam, dia membersihkan dirinya dan berusaha untuk terlihat biasa saja. Meskipun dadanya sakit sekali tapi dia tidak boleh sampai meledak-ledak sekarang.


Akan tidak enak nantinya kalau sampai mertuanya mendengar. Jadi daripada Anjani marah-marah lebih baik dia diam. Menyusui anaknya seperti ini, dengan telunjuknya yang digenggam sang anak membuat Anjani menghangat.


Ada euforianya sendiri, karena di saat begini dia jadi merasa begitu dekat dengan Arsyla. "Kenapa kamu liatin Mama begitu, Sayang?"


"Mama gak kenapa-kenapa kok, nih Mama senyum. Kamu minum susu yang banyak ya, setelah itu tidur, atau mau main?"


Tidak ada jawaban memang, tapi membiasakan diri berkomunikasi dengan anaknya ini selalu membuat Anjani merasa kalau dia memiliki teman untuk di ajak bicara. Anjani menghela napas berat.


"Kenapa ya Mama susah buat biasa-biasa aja? Menurut kamu Mama harus marah sama papa, tanya ke papa atau diem aja pura-pura gak tau?" Tanya Anjani sembari menatap anaknya.


Nahkan bimbang dia, melihat anaknya menatap penuh cinta, wajah polos dan cantiknya, membuat Anjani merasa kalau dia sepertinya memang harus diam saja sekarang.


Selesai menyusui anaknya Anjani menidurkan Arsy di kasur, kaku setelah itu dia bergerak ke arah box untuk merapikan tempat tidur Arsyla. Dengan pikiran yang kosong, namun perasaannya sangat tidak membuatnya nyaman.


Tak selang beberapa lama, Arkan pulang dari kantor. Dia memasuki kamar dengan sebuah senyuman dan menatap istrinya yang tengah sibuk dengan kegiatan. Ketika dia melihat ke kasur, dia melihat Arsy yang tengah tertidur lelap. Berarti ini waktunya bermain dengan Mamanya saja.


Perlahan Arkan menghampiri Anjani dan memeluknya dari belakang. "Selamat sore, Sayang."


Merasakan kehadiran suaminya Anjani tersadar dan melirik sekilas ke arah Arkan lalu sedikit tersenyum tanpa membalas ucapan dari Arkan. Melihat itu Arkan mengeratkan pelukannya pada Anjani, lalu menciumi tengkuknya. "Pasti lelah menjaga Arsyla seharian. Dia nakal hm?"


Anjani mengangguk kecil. "Sedikit."


"Sayang bagaimana kalau–"


Anjani membalikkan tubuhnya ke belakang, dengan masih di dalam pelukan Arkan, Anjani melepaskan dasi yang masih tergantung di sana. "Kamu mandi dulu, Mas. Setelah itu makan, nanti aku siapin."


Arkan mengernyit, tumben sekali Anjani begini. Seperti ada yang aneh. Perlahan Arkan mendekatkan dirinya untuk mencium bibir kesukaannya, namun Anjani menjauhkan wajahnya. Dia kembali fokus melepas dasi dan jas Arkan lalu menatapnya sekilas. "Mandi dulu, aku mau siapin makanan sama mba di bawah."


"Kamu kenapa?"

__ADS_1


"Gak kenapa-kenapa."


Mendengar jawaban Anjani apa Arkan puas, tentu tidak. Arkan tidak membiarkan Anjani pergi dari hadapannya, dia terus menatap lekat istrinya. "Ada apa?"


Anjani menelan air liurnya dengan susah payah, perlu kah arkan bertanya di saat dia sendiri seharusnya tau kenapa Anjani bersikap demikian, kenapa Arkan seolah pura-pura tidak terjadi sesuatu? Apa dia sering begini sampai Anjani tidak tau mana yang betul dan tidak?


"Aku mau siapin makan."


"Sikap kamu aneh, Anjani. Sejak di kantor tadi, lalu–"


"Aku mau ke bawah, aku mau siapin makan. Gak usah tanya aku kenapa, aku gapapa." Setelah mengatakan itu Anjani melepaskan tubuhnya dari Arkan, tidak ada elakan dari Arkan , dia hanya mengangguk kecil lalu mengikuti permintaan istrinya untuk langsung ke kamar mandi. Sementara Anjani yang kini diam di hadapan keranjang cucian mati-matian menahan gejolak perasaan yang ingin dia tumpahkan sekarang juga. "Jangan emosi, jangan cengeng, jangan kenapa-kenapa!"


Anjani menyeka air mata yang sempat keluar sedikit, setelah itu dia menggendong Arsy dan meletakkannya di dalam box. Lebih baik dia memang menghindari suaminya dulu sekarang, Anjani sulit sekali bersikap biasa saja, dia begitu ekspresif, jadi sejujurnya ini sangat menyiksa.


.


.


.


Berkali-kali Arkan berusaha mengajak Anjani bicara tapi jawabannya hanya iya dan tidak. Kalau begini bagaimana dia tau inti permasalahan mereka? Belum lagi Hera dan Abdi yang baru pulang, merasa keheranan dengan keterdiaman mereka. Namun Arkan mengisyaratkan kalau dia akan segera memperbaikinya.


Saat Anjani akan pergi dari meja makan, perlahan Arkan menggenggam tangan Anjani untuk menghadap ke arahnya. "Aku mau istirahat, Mass."


"Kamu kenapa, saya tau kamu sedang marah. Jadi jelaskan kenapa?"


"Kamu nanya sama aku?" Anjani tanpa sadar tersenyum getir. Bisa bisanya Arkan bertanya kenapa saat dia peka kalau ini semua terjadi sejak di kantor tadi.


"Lalu mau kamu bagaimana? Kalau kamu diam bagaimana saya bisa paham? Anjani, kita ini menikah sudah lama, kamu masih begini?" Arkan menghela napas, ya tidak habis pikir saja.


"Begini katanya? Lalu kalau aku begini kamu itu gimana?" Anjani yang hilang kendali mulai terbakar sumbunya, meskipun dia memelankan suara karena takut ibu dan ayah mertuanya mendengar.


"Bagaimana apanya?" Tanya Arkan tak paham.


"Udah deh, Mas. Gak usah pura-pura bisa gak? Gak usah bersikap seolah gak terjadi apa-apa, aku tau tadi–"

__ADS_1


Dorr ... dorrr


Suara gedoran pintu dari luar rumah terdengar, namun yang membuat Anjani mengernyitkan dahinya adalah suara yang membuatnya sedikit kesal.


"Papaa ... Papa ... Papa ini Jihannnnn!!!" Teriak seorang anak kecil dari luar sana.


Anjani menatap Arkan dengan perasaan yang kian gemuruh. Mendengar itu Arkan memejamkan matanya. Kenapa harus di saat seperti ini.


Arkan melepaskan tangan Anjani lalu berjalan ke arah pintu, membuat Anjani tidak habis pikir, apalagi saat pintu itu terbuka. Jihan memeluk kaki Arkan dengan erat seolah merasakan rindu yang mendalam.


Apa apaan ini?


Hera yang mendengar itu dari kamar keluar dan menghampiri Anjani, dia juga kaget saat mendapati apa yang terjadi hari ini.


Hera ingin mengusap punggung Anjani, namun Anjani langsung menghampiri mereka. "Maksudnya Papa apa, Mas?"


"Papaaaa." Jihan memeluk Arkan dengan erat. Membuat Arkan semakin kebingungan dengan ini semua.


"Mass??!"


"Anjani nanti kita bicara, sekarang saya–"


"Maaf yaa, Jihan demam sekali. Katanya dia mau ikut menginap di sini semalam aja, aku udah kebingungan mau gimana lagi biar Jihan gak rewel."


"Maksudnya dengan bawa kesini apa sih, Mba?! Ini ada apa sih?!!" Suara Anjani meninggi. Membuat anak kecil itu ketakutan. Oh Tuhan Anjani benci drama macam apalagi ini?


"Anjani sudah, dengarkan saya. Saya minta tolong sabar, saya akan jelaskan semuanya, biarkan saya membawa Jihan ke kamar tamu." Arkan mencoba membuat win-win solution tapi menurut Anjani ini semua tidak lucu, sama sekali tidak membantu menjawab apapun yang menjadi pertanyaannya sekarang.


"Maksudnya?!" Anjani sampai menghela napas kasar. Dia tidak peduli, dengan cepat Anjani meninggalkan mereka dan berlari ke atas. Dia tidak bisa menerima ini semua, kenapa Arkan begitu padanya.


Atau jangan jangan anak itu anaknya Arkan? Anjani semakin kacau, dia pada akhirnya mengunci pintu rapat-rapat dan memojokkan dirinya sendiri di tembok.


Yang tidak habis pikir kenapa Jihan memanggil Arkan dengan sebutan papa dan Arkan diam saja? Kenapa harus begitu?


Entahlah kepalanya begitu pusing memikirkan ini semua. Anjani benar-benar tidak tau harus apa sekarang selain menenangkan dirinya sendiri yang sudah kalut dalam emosinya.

__ADS_1


__ADS_2