I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Pertemuan Arkan dan Saka


__ADS_3


Ospek yang dilalui beberapa hari ini benar-benar menguras tenaga. Sekarang adalah hari terakhir dan ospek ini akan ditutup dengan acara makrab atau malam akrab besok.


Oleh karena itu dia harus pintar, pintar mengambil hati suaminya agar diizinkan ikut. Pokoknya dia mau ikut sih karena acaranya di alam terbuka jadi sekalian hiburan juga dan refreshing.


Mobil Arkan sudah dengan setia menunggu di depan kampus, sementara Anjani yang keluar dari dalam loby kampus terlihat di hampiri beberapa pria.


Hai, Anjani ya? Boleh minta nomornya?


"Cuma satu, " jawab Anjani.


'Maksudnya nomor Wa'


"Boleh, 0821xxxxxxxxx."


"Makasih ya ... "


Anjani tersenyum, sementara Arkan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Anjani. Bisa-bisanya memberikan nomornya ke banyak pria seperti itu. Memang harus diberi hukuman istri kecilnya.


Belum lagi ini nih, seorang pria menghampiri Anjani sambil tersenyum dengan ramah.


"Eh, Kak Saka? Ada apa?" Tanya Anjani tanpa menghentikan langkahnya. Di lihat Arkan sudah bertengger di depan mobilnya sambil bersidekap dada. Waduh mampus ini Anjani..


"Engga, gapapa. Pulang sama siapa?" Tanya Saka.


"Itu dijemput." Anjani menunjuk ke arah Arkan membuat Arkan tersenyum karena ternyata Anjani mengakuinya. Dia pikir Anjani akan pura-pura tidak kenal pada Arkan.


"O-oh di jemput ya." Saka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Anjani dan Saka menghampiri Arkan. Anjani menyalami suaminya lalu Arkan pun memeluk Anjani dan mencium puncak kepalanya.


"Halo, Kak. Kakaknya Anjani ya? Salam kenal, Saka." Saka mengulurkan tangannya pada Arkan.


Sementara Anjani mengernyitkan dahinya. Sudah sejelas ini kenapa Arkan disangka kakaknya Anjani? "Bukan Dia–"


"Arkan Altair." Arkan membalas uluran tangan Saka. Membuat Saka tersenyum dan berpikir, sepertinya Arkan Altair ini tidak asing.


Sejenak dia mengingat-ingat, oh dia anak pengusaha ternama di kota ini, terlebih ayahnya pernah mengajak dia dalam pertemuan kolega beberapa bulan lalu, tapi hanya bertemu dengan Abdi saja. Jadi Anjani ini anak keluarga Altair? Pikirnya.

__ADS_1


Anjani mengernyitkan dahinya, kenapa seolah Arkan mengiyakan kalau dia adalah adiknya. Benar-benar aneh, sama saja kan memberikan kesempatan pada orang lain. Nanti dia juga lagi yang cemburu. Tidak paham memang Anjani pada suaminya yang satu ini.


"Kalau begitu saya duluan, Anjani, Kak Arkan. Hati-hati, jangan lupa besok," peringat Saka sembari mengusap puncak kepala Anjani sebelum dia benar-benar meninggalkan mereka berdua.


Anjani menatap ke arah Arkan. "Kok adek?!"


"Mau lihat saja, seberapa berani dia mendekati istri saya, ternyata hanya segitu saja," ucap Arkan. Tapi percayalah dia ingin mematahkan tangan Saka saat dia mengusap puncak kepala istrinya. Berani sekali.


Anjani menghela napasnya, benar-benar menantang adrenalin sekali ini namanya. Ah ya sudahlah, Arkan ini yang memulai bukan dirinya, padahal Anjani maunya terang terangan saja kalau dia sudah menikah.


"Kenapa tadi kasih nomor?" Tanya Arkan seraya membukakan pintu untuk Anjani.


Anjani mengedikan bahunya, kini giliran Arkan yang menghela napas. Padahal tidak perlu sampai bertukar nomor segala. Untuk apa coba. Arkan berlari ke pintu sebelah dan memakai seatbelt-nya. "Anjani kamu belum jawab pertanyaan saya."


Namun sebelum Anjani menjawab tiba-tiba ponsel Arkan berbunyi. Arkan sampai mengernyitkan dahinya karena begitu banyak pesan yang masuk. Dan.


Save ya, Anjani. – Vero


Save nomorku ya, Jan. -Jerome


Ini Harsyil, save ya!


Dan begitu seterusnya. "Kamu memberikan nomor saya kepada mereka?"


"Apasih, Mas?! Hahahaha sana chattan. Aku sih gak mau, nanti Mas Gionya aku marah. Yaudah jadi aku kasih aja nomor kamu, sekalian bilang kamu suami aku juga gapapa," ucap Anjani enteng.


"Memang kamu tidak malu kalau bilang kamu sudah menikah?" Tanya Arkan.


"Malu kenapa? Kita udah menikah ya gitu, kan? Kenapa juga harus malu orang nikahnya juga nikah sah tanpa ada insiden."


Arkan tersenyum ke arah Anjani. Sebenarnya alasan dia mengaku saja sebagai kakak Anjani ya karena dia tidak mau kalah Anjani sampai malu karena sudah menikah. Tetapi istri kecilnya ini nampak sudah lebih dewasa dan realistis.


"Jadi kamu gak usah mikir aneh-aneh, Mas. Aku temenan cuma sama Shella sama Dion. Dion juga katanya suka yang kekar, kayanya aku lebih takut dia suka sama kamu kalau aku kenalin kamu ke dia."


"Memang selama saya menikah sama kamu, kamu tidak merasakan kalau saya normal? Atau harus saya buktikan lagi malam ini?" Tanya Arkan.


"Ihhhh mesumnya kumat, ya aku percaya kamu normal!"


Setelahnya mereka berdua tertawa. Lucu juga ternyata mereka saat ini. Meskipun Arkan cemburuan minta ampun tapi Anjani tetap nyaman kok. Kalau dia cemburu berarti kan artinya sayang.

__ADS_1


.


.


.


Sesampainya di rumah, setelah membersihkan diri langsung menghabiskan waktu dengan menonton berdua. Memang ditengah kesibukan begini mereka juga tidak boleh melupakan waktu bersama.


Karena keharmonisan keluarga juga harus di utamakan. Posisi Anjani kini bersandar pada dada bidang Arkan, sementara Arkan memeluk perut Anjani dari belakang.


Dengan lembut Arkan mengusap perut rata Anjani. "Sayang, anak saya sudah ada belum di sini?"


"Belum, belum mau ada dia, Mas. Mamanya lagi ospek," ucap Anjani.


"Yasudah Mamanya ospek dulu, setelah ospek ayah tunggu ya, Nak," ucap Arkan yang kembali mengusap perut Anjani dengan lembut.


Anjani terkekeh merasakan tangan Arkan di perutnya. Arkan seperti anak kecil yang meminta adik pada mamanya. Mungkin memang di umur Arkan yang sekarang sudah sangat-sangat siap menjadi seorang ayah. Tapi memang belum dikasih saja.


Jadi untuk sekarang mereka harusnya menikmati waktu saja berdua. Lagi pula mereka sedang sama-sama sibuk, kalau ada anak di tengah mereka begini nanti yang ada anaknya malah terbengkalai.


Setelah selesai menonton, Anjani nampak sedang packing baju ke dalam tasnya di kamar, membuat Arkan duduk di belakang Anjani dan memeluk tubuhnya dari belakang. "Mau kemana, Sayang? Kamu tidak berniat kabur dari saya, kan?"


Arkan menciumi tengkuk istri kecilnya sembari menghirup aroma tubuh Anjani yang kalau malam begini dia menggunakan parfum yang lebih soft dan enak untuk dicium.


"Besok aku ada makrab. Semalem doang boleh, kan?" Tanya Anjani.


"Nanti saya tidur sama siapa kalau kamu tidak ada?" tanya Arkan.


"Semalem doang, Mass. Gak lama-lama, itu penutupan aja. Boleh ya? Besok sorenya langsung pulang kok, please ... " Pinta Anjani,


"Jangan dekat-dekat Saka, dia tertarik sepertinya dengan istri saya," ucap Arkan. Ya harus dia akui sih kalau Saka ini tampan, walaupun dia percaya diri kalau dia lebih tampan.


"Engga, Mas. Dia emang orangnya baik. Iya gak deket-deket. Orang makrab kan lebih Deket sama temen kelompok bukan sama Presma Kampus," jelas Anjani.


Arkan menghela napas lalu mengangguk. "Yasudah boleh, tapi jaga diri di sana. Kalau dikasih permen jangan mau."


"Gak suka permen, kalau dikasih eskrim baru mau," ucap Anjani usil.


"Itu juga tidak boleh, Sayang." Arkan memeluk Anjani lebih erat dan mengecupi pipi istrinya gemas.

__ADS_1


"Iya-iya, Sayang. Siap semuanya udah dicatat dan gak akan dilakuin. Jadi boleh ya?" Tanya Anjani memastikan.


Lagi-lagi Arkan mengangguk, setelah itu Anjani berbalik dan menciumi seluruh permukaan wajah Arkan sampai tidak ada yang terlewat. Dengan ini Arkan jadi bisa tersenyum dan mengizinkannya dengan tenang. Walaupun sebenarnya Anjani juga tidak mau jauh dari Arkan. Tapi semalam tidak akan lama, kan?


__ADS_2