
Aku mau nanya kalian maunya di novelku yang ini kasih konflik berat jangan?
"Selamat ulang tahun, Suami aku!" Anjani tersenyum ke arah Arkan dan mengulurkan kue ke hadapan suaminya.
"Ck, kamu ... " Arkan mengubah posisinya menjadi duduk. Ah Arkan sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi saking senangnya. Tahun ini ulang
"Jangan dulu ngomong, make a wish terus tiup lilinnya," ucap Anjani seraya membenarkan posisi duduknya.
Arkan tersenyum dan perlahan memejamkan matanya, cukup lama juga. Anjani sampai heran apa yang menjadi doanya di hari ulang tahun ini.
Tak selang beberapa lama Arkan meniup lilinnya dan tersenyum ke arah Anjani yang kini bersorak gembira. "Selamat ulang tahun, Mas."
"Terima kasih, Sayang. Pantes tidur cepet, mau kerjain saya?" Tanya Arkan seraya menjawil hidung Anjani pelan.
"Gak ngerjain, orang aku mau kasih kejutan. Nih makan kuenya, kata Mama aku kalau makan yang manis di hari ulang tahun bisa bikin kita semakin happy seharian," ucap Anjani.
"Sungguh?"
Anjani mengangguk, ya tradisi yang sering dilakukan Anjani setiap tahun begitu dan terbukti dia akan senang seharian, padahal mungkin itu tidak ada korelasinya sama sekali.
Arkan mengambil sendok kecil di sana dan memotong kuenya, seperti pada acara ulang tahun pada umumnya, potongan pertama akan diberikan untuk orang yang spesial. "Terima kasih karena kamu menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat hari ini, terima kasih karena kamu menjadi pelengkap hidup saya di tahun ini."
Arkan menyuapkan kuenya pada Anjani dan gadis itu menerimanya dengan senang hati. "Sama-sama, Mas. Aku punya hadiah buat kamu."
"Apa?"
Anjani mengambil bingkisan dari belakang punggungnya, lalu dia mengulurkan bingkisan itu pada Arkan. "Gak aku bungkus karena aku rasa orang dewasa cuma perlu isinya."
Arkan mengangguk-anggukkan kepalanya dan membuka kado yang Anjani berikan, ternyata itu adalah sebuah jam koleksi terbaru dari brand favoritnya. "Kenapa kamu tau saya menggunakan brand ini?"
"Jam kamu banyak dan semua brandnya itu, aku pikir kamu bakalan suka. Kamu gak suka ya?" Tanya Anjani ragu.
"Suka, saya suka sekali. Terima kasih ya." Arkan menyimpan kue dan hadiahnya di samping. Setelah itu dia memeluk Anjani dan menciumi puncak kepalanya.
Ternyata gadis ini bisa romantis juga, padahal Arkan tau kalau Anjani adalah orang yang mengutamakan gengsi di atas segalanya. Jadi patut dia apresiasi meskipun hanya dengan banyaknya terima kasih yang bisa diucapkan.
"Kamu suka gak? Aku terlalu kaya anak ABG gak sih? Atau kamu udah gak mau merayakan ulang tahun kaya gini?" Tanya Anjani.
"Apapun yang kamu lakukan dan kamu berikan saya suka." Arkan tersenyum lalu menangkup kedua pipi Anjani.
"Tapi kamu tau tidak apa hadiah terindah yang saya miliki di hari ulang tahun saya?" Tanya Arkan.
__ADS_1
Anjani menggeleng seraya mengernyitkan dahinya. Apa ada yang memberikan Arkan kado sebelum dirinya? Yah dia bukan yang pertama berarti. Padahal dia sudah berharap menjadi orang pertama yang memberikan kado dan ucapan pada suaminya.
"Kamu. Kamu hadiah terindah yang saya dapat tahun ini."
Anjani tidak bisa menahan senyumnya. "Seriously? Hmmm i not sure."
"Sure, Baby. I'm so serious!" Tegas Arkan.
"Yaudah iya percaya!" Anjani terkekeh, ya dia memang senang mencari validasi, ada perasaan tersendiri ketika mendapatkan jawaban yang membuatnya puas dari Arkan.
"Tidak ada hadiah tambahan?" Tanya Arkan dan mendekatkan wajahnya pada Anjani.
"Tambahan? Kamu mau apa?"
"Mau kamu ... "
Anjani membulatkan matanya dan menelan air liurnya dengan susah payah. Mau kamu katanya? Biasanya kalau di novel-novel itu artinya dia meminta berhubungan suami istri begitu?
Melihat wajah panik Anjani membuat Arkan terkekeh. Pasti pikiran gadis itu sudah kemana-mana. "Tidak seperti apa yang kamu pikirkan, coba pikirkan yang lain."
"A-apaa?"
"Give me some kiss?"
"Hmm? Tidak boleh ya, ya sudah kalau begitu–"
Cup.
Satu kecupan Anjani berikan di bibir Arkan. Arkan meneguk air liurnya sendiri, ternyata berbahaya sekali meminta ciuman di tengah malam seperti ini .
Merasa tidak diberi respon Anjani kembali mengecup bibir Arkan dengan lembut, namun alih-alih melepaskan kini Arkan malah menarik tengkuknya dan menyesal bibir ranum milik Anjani. Mereka berdua saling mengecap dan bertukar Saliva seraya merasakan debaran jantung masing-masing.
Iya, Arkan tidak bohong. Anjani lah hadiah paling spesial di tahun ini untuknya.
.
.
.
Anjani terkejut saat akan turun bersama Arkan untuk sarapan, ternyata kedua orang tua dan mertuanya telah menyiapkan kejutan untuk Arkan. Mereka menyanyikan selamat ulang tahun serta membawa kue kehadapan Arkan yang kini sudah berada di lantai bawah.
Arkan tersenyum, tidak menyangka sih meskipun memang setiap tahun ada perayaan, tetap saja dia pikir diusianya yang sudah menginjak 26 tahun ini masih diberi perayaan, Arkan bersyukur untuk itu.
__ADS_1
"Ayin tiup lilinnya, Sayang," ucap Hera seraya mengulurkan kue dengan lilin angka 26 itu.
Namun bukan meniup lilinnya, kini Arkan menarik Anjani untuk berada di sampingnya, membuat Anjani melirik ke arah Arkan dengan wajah bingungnya. "Kita tiup sama-sama."
Hera dan Viona terkekeh mendengar itu, ah pasangan ini membuat iri mereka saja yang sudah tua begini. Mendengar itu Anjani tersenyum dan mengangguk, dalam hitungan ketiga setelah mereka merapalkan doa masing-masing, Anjani dan Arkan meniup lilinnya.
"Selamat ulang tahun, Gio. Semoga selalu bisa membanggakan Papa," ucap Abdi seraya menyalami putranya.
"Selamat ulang tahun, Gio. Semoga semakin sukses dan bisa selalu membahagiakan putri Papa," lanjut Mario.
Arkan terkekeh menerima ucapan dari orang tua dan mertuanya. Semuanya doa baik, jadi Arkan mengaminkan semua doa baik yang dia dapatkan hari ini.
"Mama punya kejutan untuk kamu," kata Hera seraya memberikan sebuah amplop pada Arkan.
Arkan menerima amplop itu, nampak sedikit berat. "Harus saya buka sekarang, Ma?"
"Tentu, ini hadiah dari kami semua untuk kamu."
Arkan mengangguk-anggukkan kepalanya, setelah itu membuka isi amplop tersebut dan ternyata itu adalah : Sebuah kunci mobil berlogo banteng dan juga tiket liburan berdua ke Karimunjawa.
"Wahhhh liburannnn!!! Yes!" Sorak Anjani.
Arkan terkekeh, nahkan kena juga jadi Anjani yang bersemangat. Tapi Anjani tidak peduli dengan tatapan Arkan, itu berdua, kan? Pasti Arkan akan mengajaknya. "Apa saya perlu ajak Andira, Ma? Tiketnya berdua, kan sayang kalau saya sendirian."
Seketika wajah Anjani mendadak murung, bibirnya cemberut seolah dipatahkan oleh realita. Kenapa jadi Andira, padahal jelas-jelas istrinya ini ada di samping. Ah menyebalkan sekali Arkan Altair ini! Hera dan Viona terkekeh melihat itu, memang jahil sekali Arkan pada istrinya.
"Kenapa wajahnya gitu?" Tanya Mario.
"Gak tau ah!" Anjani hendak pergi dari sana namun Arkan menarik pergelangan tangan Anjani lalu membawa gadis itu ke pelukan ternyamannya.
"Bercanda, tentu dengan anaknya Papa Mario dan Mama Viona," ucap Arkan.
Anjani mendengus kesal, menyebalkan sekali suaminya ini. Mana dia menyebut nama Andira lagi, tambah menyebalkan. Tapi karena malu dia hanya merengek dan menenggelamkan wajah di. dada bidang Arkan. Dia malu kalau harus merengek di depan orang tuanya.
"Manjanya sama suaminya," ledek Viona.
"Biarin, orang suami Anjani ini!" Balas Anjani tidak mau kalah dari sang Mama.
"Oh jadi sekarang Pak Arkan itu suaminya Anjani?" Goda Viona lagi.
"Mamaaaaaaaaa!!" Wajah Anjani memerah, kenapa juga dia harus keceplosan seperti tadi, dia malu sekarang digoda habis-habisan oleh orang tua dan mertuanya.
Melihat itu Arkan mengeratkan pelukannya pada Anjani. Benar-benar anak kucing menggemaskan. Kalau bisa dia karungi Anjani sekarang juga. Sayangnya tidak bisa, jadi dia peluk saja agar tidak hilang.
__ADS_1