
Malam ini sesuai musyawarah yang di ambil akhirnya Rafi dan Nanda akan menikah. Orang tua Rafi marah dan sangat kecewa, tapi karena memang mereka orang Jawa yang terkenal dengan kesopanannya, mereka bisa menerima Nanda dan juga memaafkan kelakuan putranya.
Mereka bilang kalau semua ini sudah terjadi, selagi Rafi dan Nanda mau memperbaiki ya itu tidak masalah. Mereka juga meminta maaf atas kelakuannya pada Ayah Nanda.
Ayah Rafi juga tidak marah saat anaknya dipukuli, karena memang itu sudah resiko putranya yang sudah menghamili gadis sembarangan. Iya sebaik itu memang, tapi karena sebaik itulah yang membuat Nanda semakin merasa bersalah.
Kini hanya ada Nanda, Anjani dan juga Della di kamar Nanda. Mereka mendandani Nanda seadanya karena memang ini pernikahan yang sangat mendadak.
"Aku gak bisa, Jan ... "
"Kenapa? Semua orang udah setuju bahkan orang tuanya Rafi mau menerima kamu dengan baik," balas Anjani seraya mengusap bahu Nanda untuk menenangkan.
"Ini bukan anak Rafi dan ini bukan salah Rafi. Karena emang sebaik itu yang bikin aku semakin bersalah sama dia, Jan. Dia gak salah dan aku yang salah di sini." Nanda menunduk, dilema sekali hidupnya. Tapi lebih pengecut karena dia tidak berani untuk membuka apa yang terjadi sebenarnya, Ayah dan Ibunya pasti sangat kecewa padanya kalau sampai tau tentang pekerjaan gelap yang dia lakukan.
"Kata aku si Rafi emang sungguh-sungguh deh, gak mungkin tiba-tiba dia maju dan tanpa pemikiran panjang, pasti itu udah dipikirin. Aku rasa dia emang beneran tulus, aku kayanya ngerasa dia malah suka sama kamu," ucap Della.
Anjani menganggukkan kepalanya, dia sudah bicara dengan Arkan sih dan Arkan memberitahu semuanya jadi dia tau kalau Rafi melakukan itu atas dasar perasaan, tapi memang sebaiknya Nanda tau dari Rafi sendiri sih.
"Tapi aku takut ... "
"Kamu bisa home schooling buat tamatin sekolah atau ikut sekolah khusus gitu kan ada, terus kamu bisa rawat anak kamu dengan baik karena ada Rafi juga di samping kamu." Anjani tersenyum seraya memberikan pengertian pada sahabatnya.
"Nikah muda itu gak mudah, Jan."
"Aku tau, karena aku juga merasakan. Tapi kalau dijalani gak seburuk itu kok, Nan. Di awal kita mungkin banyak berpikir a b dan c tapi Rafi kayanya bijak juga."
Nanda menghela napas, tidak tau lagi harus mengatakan. Lagi, nasi sudah menjadi bubur dan semua sudah berjalan sejauh ini. Jadi dengan. berat Nanda mengangguk saja. Dia akan mempercayakan semuanya pada Rafi. Meskipun sebenarnya dia tidak mencintai Rafi tapi usahanya ini membuat Nanda benar-benar terharu. Ada orang yang berjuang untuknya dan itu pasti tidak mudah.
Apalagi Rafi juga masih punya cita-cita, reputasinya di sekolah bisa rusak, belum lagi berita ini tersebar, kalau mereka tau Nanda menikah dengan Rafi pasti Rafi terkena imbasnya.
"Udah aku percaya kamu bisa lewatinnya. Ayok." Della tersenyum dan mengulurkan tangannya, Setelah itu dia dan Anjani menggandeng Nanda menuju ruang tamu karena penghulu sudah datang.
Tanpa berlama-lama lagi dia duduk di samping Rafi dalam satu selendang pernikahan yang sama. Jujur, bukan pernikahan seperti ini yang mereka berdua inginkan, tapi sepertinya untuk sekarang ini lebih baik.
__ADS_1
Suara penghulu mulai terdengar, Nanda menatap tegang melihat kedua tangan itu berjabatan tangan. Setelah itu ayahnya mengucapkan kalimat sakral pernikahan. Nanda tidak kuat melihat ini semua. Dia benar-benar akan mengorbankan Rafi di sini.
Tangan itu menghentak. "Saya terima nikah dan kawinnya Nanda Priscilla Suherman binti bapak Anton Suherman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!!" Semua orang menjawab dan setelah itu mengangkat kedua tangan mereka untuk mendoakan kehidupan yang akan dijalani oleh Rafi dan juga Nanda.
Mereka hanya berharap awal yang dimulai dengan ketidak baikan ini akan menjadi baik di masa yang akan datang.
.
.
.
Diperjalanan pulang Anjani masih terdiam. Ya dia masih tidak percaya saja kalau mulai hari ini Nanda tidak akan bisa lagi berjuang bersamanya. Padahal celebrate kelulusan adalah hal paling mereka tunggu.
Dia juga memikirkan bagaimana nantinya Rafi bisa menerima resiko di sekolah, belum lagi soal Bagas tadi yang mendekapnya di depan mata Arkan sendiri. Pokoknya banyak yang Anjani pikirkan.
"Masih kepikiran Nanda?" Tanya Arkan mencoba memahami istrinya.
"Kenapa kepikiran saya? Kan bukan saya yang bertanggung jawab dan menikahi Nanda. Jadi apa yang kamu pikirkan?" Tanya Arkan.
"Aku takut kamu mikir aku tadi sengaja pelukan sama Bagas padahal gak gitu ... "
"Memang ada saya bahas soal Bagas?" Tanya Arkan. Dia memang tidak ada membahas tapi sedari tadi Arkan membawa Anjani lebih dekat, bahkan selama di rumah Nanda, Arkan terus menggenggam tangannya.
"Tapi kamu kaya kesel gitu."
"Memang kesal, memang siapa yang tidak kesal istrinya dipeluk pria lagi, mantannya pula."
"Tuhkan kesel."
"Dengan Bagas, bukan dengan kamu. Kesal tapi dia hal berbeda dan tidak ada urusan dengan kamu. Jadi kenapa juga dipikirkan?" Tanya Arkan yang kini melirik sekilas ke arah Anjani.
__ADS_1
"Ya tetep kepikiran."
Arkan tersenyum dan menghentikan laju mobilnya di pekarangan rumah. Setelah itu dia turun dan membukakan pintu Anjani. Melihat itu Anjani menatap wajah Arkan sembari turun dari kursinya.
"Jangan kepikiran. Saya juga yakin kamu cintanya sama saya," goda Arkan.
Anjani memajukan bibirnya cemberut, dia serius loh ini takut kalau Arkan sampai berpikir macam-macam tapi tidak mau membuatnya sedih. Dia maunya Arkan terbuka saja apa yang dia rasakan pada Anjani.
"Saya tidak marah, Anjani. Saya cemburu tapi saya tau kalau kamu dan dia itu hanya masa lalu. Kamu milik saya dan bagaimana pun juga milik saya." Arkan gemas sekali melihat istrinya yang lucu begini, jadi dia menarik Anjani kedalam pelukannya.
"Beneran?" Tanya Anjani memastikan sekali lagi, dia pokoknya harus memastikan perasaannya lega dulu baru dia percaya pada Arkan kalau pria itu tidak marah padanya.
"Iya, Sayang. Tapi ada yang saya pikirkan."
"Apa?"
"Curang sekali teman kamu," ucap Arkan dengan nada kesal. Membuat Anjani mengernyitkan dahinya karena tak paham dengan apa yang Arkan bicarakan.
"Curang apanya?"
"Ya curang, kita yang lebih dulu menikah tapi dia dan Rafi duluan yang punya anak. Anjani kita tidak boleh kalah dari Nanda dan Rafi," kata Arkan sok serius.
Anjani mencubit perut Arkan gemas. Anjani sudah serius tapi Arkan malah menggodanya seperti itu kan kesal ya. "Apasih, Mass!! Gak ada!"
"Akkhhh sakit, Sayang." Arkan mengaduh dan memegangi perutnya. "Boleh tidak?"
"Gak boleh! Aku gak mau sekarang ihh. Gak mau yaaa?" Pinta Anjani dengan nada manjanya.
"Kenapa, mau yaa?" Balas Arkan mengikuti cara bicara Anjani.
"Ihhh gak mau yaa?"
"Mau ya??"
Kemudian mereka tertawa, kenapa ya mereka menjadi cringe begini. Mereka yang melakukannya, mereka juga yang tertawa. Tapi lumayan hiburan lah karena pusing sekali ternyata hari ini. Padahal bukan mereka yang menikah. Setelah puas tertawa Arkan merangkul pinggang Anjani dan mengajaknya masuk ke dalam.
__ADS_1
Tanpa mereka sadar kalau Bagas mengikuti mereka sejak tadi. Bagas mengepalkan tangannya tak terima. Kenapa mereka semakin terlihat dekat dan tak terpisahkan? "Anjani tunggu aku. Aku bakalan perjuangin kita lagi."
Setelah mengatakan itu Bagas menaiki motornya dan menjauh dari rumah Arkan. Ternyata sangat panas kalau dia melihat kedekatan Anjani dan Arkan. Hatinya seolah terbakar karena sakit tidak bisa memiliki Anjani seperti dulu.