I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3


Arkan berniat mencari istrinya, namun saat dia keluar ternyata Anjani sedang bicara dengan Seana di balkon, jadi dia memutuskan untuk tidak menganggu mereka. Karena memang mereka berdua butuh bicara sebagai seorang kakak dan adik.


Disisi lain Seana menatap Anjani yang masih tidak mau menatapnya. "Kamu tau gak, Jan. Aku ketemu orang yang sayang banget sama kakak, dia yang selalu kasih aku perhatian dari perasaan gak dianggap sama dunia. Sampai akhirnya aku kasih dia semuanya."


Anjani mulai paham, bukankah mereka sama, dulu saat bersama Bagas Anjani juga begitu karena merasa ditekan oleh orang tuanya. Hanya beda kasus saja. Tapi tetap saja dia masih tidak mau bicara.


"Tapi akhirnya dia pergi juga. Sampai akhirnya aku cuma punya Beryl dan di situ aku baru sadar kalau keluarga itu penting."


"Aku minta maaf sama kamu, karena keegoisan aku kamu jadi banyak tekanan, kamu sampai harus menikah muda juga karena aku, aku tau kamu berat banget laluin masa itu dan aku minta maaf karena udah bikin kamu kaya gitu, Jan. Bahkan kayanya aku gak pantes di sebut kakak."


"Emang engga," jawab Anjani gamblang.


"Kamu tau gak, Se. Semua orang numpuin harapan ke aku karena kamu kaya gitu. Mama papa nuntut aku buat belajar siang malem sampe aku lupa caranya istirahat. Kamu tau gak waktu kamu hamil dan kabur itu aku yang nanggung kemarahan mereka? Engga, kan?"


"Tapi yaudahlah, udah kejadian ini. Kedepannya bisa gak kalau ngelakuin apa-apa itu mikir dulu. Jangan semaumu aja dan gak mikirin orang lain. Jangankan aku, kamu aja gak mikirin Beryl sampe kamu ajak dia tinggal di tempat kaya gitu. Kesel banget aku sama kamu serius. Mau aku Jambak!" Lanjut Anjani.


Seana terkekeh. "Yaudah Jambak aja kalau kamu mau begitu."


"Gak, nanti suamiku marah," balas Anjani.


Sejenak Anjani melirik ke arah teh susu yang diberikan oleh Seana. "Ini gak kamu kasih racun kan, Se karena dendam sama aku?"


"Engga, kamu selalu mau aku buatin itu, kan? Dan aku dulu selalu nolak, jadi aku bikinin sekarang," jawab Seana.


Anjani mengulum senyumnya, terlalu gengsi lah kalau dia mengucapkan terima kasih pada Seana. Apalagi dia habis marah begitu. Tanpa kata-kata lagi Anjani meminum teh susu itu, membuat Seana tersenyum lega.


"Jadi kita baikan?" Tanya Seana.


"Harus banget divalidasi kaya gitu ya?" Tanya Anjani sarkas.


Tapi Seana dan Anjani memang seperti itu. Rasanya sudah banyak sekali pertengkaran diantara mereka dan mereka selalu berbaikan tanpa adanya validasi atau kesepakatan. Namanya juga ikatan darah, mau semarah apapun mereka akan selalu kembali lagi.

__ADS_1


Seperti malam ini, mereka berdua kembali mengobrol layaknya seorang adik dan kakak. Mereka lega lebih tepatnya karena sudah mengungkapkan isi hati satu sama lain.


Tanpa mereka sadari Viona dan Mario melihat mereka dari jauh. Mereka berdua senang karena kedua anaknya bisa kembali bersama. Sekarang tugas mereka adalah menjadi orang tua yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Lalu tugas Anjani dan Seana adalah saling mengerti satu sama lain dan memperbaiki apa-apa saja yang salah di masa lalu.


Setidaknya meskipun perlahan, keluarga ini bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Iya semoga saja memang akan begitu.


.


.


.


Setelah bicara panjang lebar, Anjani kembali ke kamar. Dilihatnya Arkan sudah tertidur di sana. Tidak salah sih, dia pasti kelelahan. Jadi setelah mencuci kakinya Anjani ikut berbaring dan menghadap ke arah Arkan. Tidak lupa juga dia menarik selimut mereka agar Arkan juga tidak kedinginan.


Mungkin ada 5 menit Anjani menatap wajah arkan. Entah apa juga yang dia pikirkan, tpi dia malah jadi tidak bisa tidur memperhatikan Arkan begini. Anjani menghela napasnya dan mengulurkan tangannya mengusap pipi Arkan.


"Mas makasih ya, makasih karena kamu udah bikin aku jadi orang yang lebih baik lagi. Sebenernya aku gengsi bilang kaya gini, tapi karena kamu udah tidur jadi aku berani."


Anjani mendekatkan dirinya dan mencium bibir Arkan dengan lembut. Cium saja kok tidak lebih. Sebagai ucapan terima kasih Anjani pada suaminya. "Makasih, i love you soo much."


Setelah mengatakan itu Anjani tersenyum. Ternyata dia suka memandangi Arkan waktu tidur begini, dia jadi bisa melakukan apapun yang dia mau. Kalau Arkan terbangun masalahnya pasti dia akan membalas. Seperti mis Anjani menciumnya duluan, nanti Arkan membalasnya lebih brutal. Tapi kalau sedang tidur begini kan gemas, Arkan hanya diam saja.


Perlahan jari telunjuknya menyentuh kening Arkan, lalu turun ke hidung dan terakhir di bibir Arkan. Namun tiba-tiba Arkan menggenggam jari telunjuk Anjani dan membuat gadis itu kaget bukan main. "M-mass?!!"


"Sudah puas menatap saya seperti itu?" Tanya Arkan yang kini memeluk pinggang Anjani dan mendekat pada istrinya itu.


"Kamu sejak kapan bangunnya?!" Tanya Anjani gugup.


"Sejak kamu masuk pun saya tidak tidur."


Wajah Anjani langsung bersemu merah, itu berarti tadi Arkan tau apa yang dia lakukan. Ahhhh Anjani ingin menenggelamkan dirinya saja sekarang. Dia malu sekali ketauan Arkan begini.


Arkan terkekeh melihat raut wajah Anjani. Anjani pikir dia yang sedang usil, taunya Arkan yang sedang usil pada dirinya. Malu sekali.

__ADS_1


"Sama-sama, saya senang kalau kamu sudah bisa mengendalikan emosi lebih baik dari sebelumnya, i love you too soo much," ucap arkan seolah membalas perkataan Anjani tadi.


Mendengar itu Anjani malu sebenarnya tapi dia malah tersenyum dan membalas pelukan Arkan. Rasanya memang lebih ringan saja bebannya. Tidak seperti kemarin banyak membendung kemarahan..


"Kamu selalu seperti ini ya kalau saya tidur?" Tanya Arkan.


"Ih engga, baru sekarang juga. Tapi kayanya aku suka liat kamu tidur," ucap Anjani jujur.


"Kenapa suka?"


"Karena kamu diapa-apain juga diem, aku cium juga diem, kalau kamu bangun yang ada kamu bales lebih brutal," jawab Anjani jujur.


"Bagaimana brutalnya?" Tanya Arkan. Nahkan mulai usil lagi manusia yang satu ini, membuat Anjani harus sabar-sabar agar tidak terpancing.


"Udah ah tidur!"


"Bagaimana dulu?" Tanya Arkan yang kini mendekatkan wajahnya pada sang istri."


"Ya gitu ih, masa harus dipraktekin," sungut Anjani.


"Harus."


Anjani menggeleng pertanda dia tidak akan melakukannya. Malu lah kalau Anjani melakukannya, tapi justru Anjani yang begitu membuat Arkan gemas. Dipegangnya dagu Anjani agar mendongak ke arahnya Perlahan. Arkan memiringkan kepalanya dan mencium bibir Anjani..


Anjani tetap memejamkan matanya seraya mencoba mengimbangi ciuman yang Arkan lakukan, sementara Arkan semaki memperdalam ciuman mereka dan menyesal bibir Anjani yang membuatnya dengan candu.


Mereka saling menumpahkan kasih sayang di sana seolah sama-sama menikmati apa yang mereka jalani hari ini. Sampai akhirnya Arkan melepaskan ciuman mereka dan mengecupi bibir Anjani berkali-kali dengan tempo lambat. Membuat Anjani menatap Arkan dengan senyumnya ya melengkung manis.


"Istri kecil saya sudah dewasa ternyata, terus jadi pribadi yang lebih baik lagi ya, Sayang."


Anjani mengangguk setelahnya Anjani malah kembali meraup bibir Arkan sampai akhirnya mereka sama-sama terpancing dan melakukan itu pertama kali di kamar Anjani.


Maklum lah namanya juga pengantin baru.

__ADS_1


__ADS_2