I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Anak Ayah Happy?


__ADS_3


Hari ini Anjani sudah menyelesaikan mata kuliah pertamanya. Namun tiba-tiba dia merasa ingin sesuatu yang rasanya tidak bisa dia tahan. Pada akhirnya sambil menunggu mata kuliah kedua Anjani membuka ponselnya dan berjalan ke luar gedung.


Anjani mau apa? Tentu dia menghubungi suaminya. Beberapa detik dia menunggu, akhirnya Arkan mengangkat panggilan darinya. "Halo, Mas."


"Iya ada apa, Sayang?" Tanya Arkan dari seberang sana.


"Mas aku mau sesuatu deh," ucap Anjani dan tanpa Anjani ketahui itu membuat Arkan mengerutkan dahinya. Apa Anjani mengidam?


"Ingin apa?" Tanya Arkan.


"Kamu datang dulu ke kampus aku ya, aku udah tunggu di luar gedung. Nanti aku kasih tau aku mau apa," ucap Anjani yang langsung mematikan ponselnya seolah tidak mau ada penawaran dari Arkan.


Setelah itu Anjani duduk di bawah sebuah pohon sambil membaca bukunya. Ya hitung-hitung menghilangkan bosan juga menunggu Arkan. Mungkin ada sekitar 15 menit Anjani menunggu, saking asik membaca dia tidak sadar kalau Arkan sudah ada di hadapannya. "Anjani."


Mendengar suara barithon itu Anjani sontak mengarahkan pandangannya pada Arkan. "Kamu kok udah ada di sini aja?"


"Kamu yang terlalu serius membaca." Arkan tersenyum lalu berjongkok di hadapan istrinya seraya mengusap perut Anjani. "Jadi anak saya mau apa?"


Anjani terkekeh lalu mengembangkan senyumnya, jadi Arkan benar-benar mau mengikuti kemauannya ya sampai datang ke sini dan langsung menanyakan apa yang diinginkannya? Manis sekali. "Aku ... "


"Hmm?"


"Aku mau kamu masuk kelas statistika bareng aku, sekarang," ucap Anjani tanpa keraguan. Namun itu justru membuat Arkan menghela napasnya.


"Saya masuk kelas kamu?" Tanya Arkan. Oh tolonglah, apapun akan Arkan berikan tapi masuk ke kelas Anjani? Ayoklah, apakah Anjani bercanda, apalagi setelannya formal begini.


"Iyaa," jawab Anjani dengan mata berbinar. "Gak muluk-muluk kan aku maunya? Aku mau aja liat kamu di kelas, mau liat kalau kamu jadi mahasiswa gimana, ayoklahh," bujuk Anjani.


Arkan terlihat memijit pangkal hidungnya. Kenapa aneh sekali sih ngidamnya Anjani? "Kamu ingin saya mengerjakan tugas kamu? Kalau itu bisa di rumah, Sayang."


Anjani menggeleng cepat. "Engga ih aku mau liat kamu belajar di kelas aku sekarang ayokk. Masa kamu gak mau sih parah banget ayahnya bayi gak mau ikutin kemauan bayi."

__ADS_1


Anjani beranjak dari duduknya lalu menarik Arkan untuk ikut masuk ke kelasnya. Namun Arkan nampak sudah ditarik, membuat Anjani memajukan bibirnya. "Yaudah kalau kamu gak mau, kamu maunya liat anak kamu ngences ya? Aaa kasian anak Mama nanti lahirnya ngences karena ayahnya gak mau ikutin maunya bayi, padahal ayahnya sendiri yang mau mamanya hamil tapi–"


"Ayok." Arkan mengalah, pada akhirnya dia yang pusing sendiri mendengar ocehan Anjani yang tampak didramatisir. Semoga saja wajahnya ini masih bisa menanggung malu untuk hari ini.


Anjani yang mendengar itu langsung menarik suaminya masuk ke dalam kelas, di sana nampak dosen sudah akan masuk ke sana namun kaget saat melihat Arkan ikut masuk juga.


Tentu dia mengenali karena siapa sih yang tidak mengenal Arkan Altair? Sudah pasti dia mengenalnya dengan baik. "Pak Ar–"


Arkan menghela napas lalu berbisik ke arah dosen yang bernama Mr. Johnson itu. Membuat pria itu nampak senyum-senyum lalu mengangguk pelan seraya menatap Anjani. Memang ada-ada saja. Tapi yasudahlah.


"Kamu bicara apa sama Mr. Johnson?" Tanya Anjani yang penasaran. Pasalnya dosen statistiknya ini dosen killer, tapi kenapa Arkan bisa dengan mudah dan lancar bicara dengannya?


"Izin untuk mengikuti kelas karena kamu sedang ngidam dan tidak ingin jauh dari saya," jawab Arkan enteng.


"Gak gitu loh," protes Anjani.


"Sudah jangan protes, yang terpenting saya ada di sini, kan? Jadi belajar dengan baik." Arkan tersenyum lalu mengusap puncak kepala Anjani. Padahal Anjani hanya ingin ditemani, bukan ingin dekat-dekat suaminya, memang suka saja Arkan menggodanya.


Sudah tampan, mengenakan kemeja berwarna biru dan juga jas yang rapi. Jam tangan branded dan seorang CEO siapa coba yang tidak salah fokus dengan kelas hari ini?


Meskipun Anjani tidak suka kalau suaminya menjadi pusat perhatian. Hanya boleh dia saja yang menikmati ketampanan suaminya. Tapi karena berhubung Anjani sedang baik, yasudahlah. Anggap saja dia beramal dengan memperbolehkan orang menatap suaminya.


Tapi Arkan berusaha biasa saja dan fokus menemani istrinya yang kini sudah mengeluarkan laptop, beberapa buku dan kacamatanya. Dilihatnya Anjani yang nampak senang hati ini sambil sesekali melihat ke arahnya.


"Kamu nulis juga." Anjani mengulurkan bukunya pada Arkan. Karena memang yang Anjani inginkan adalah melihat Arkan belajar.


Bahkan saat Arkan mencatat pun Anjani hanya fokus menatap suaminya itu sambil senyum-senyum sendiri. "Oh jadi ini rasanya ngidam ya."


"Bagaimana memang rasanya?" Tanya Arkan seraya menatap ke arah istrinya.


"Seneng, kaya ada kepuasan tersendiri gitu liatnya. Aku suka liat kamu belajar kaya gini, bayi juga suka." Anjani tersenyum lalu mengusap perutnya dengan senang.


"Anak ayah happy?" Tanya Arkan seraya mengusap perut Anjani, tentunya setengah berbisik karena takut menganggu kelas.

__ADS_1


"Happy, Ayah. I'm Soo happy," balas Anjani seolah mengikuti suara bayi yang ada di dalam perutnya.


Entah kenapa meskipun Arkan tidak merasakan apa yang Anjani rasakan dia ikut senang karena melihat Anjani tersenyum begitu bahagia karena keinginannya diikuti. Mungkin benar apa kata ayahnya yang beberapa hari lalu mengatakan kalau : Ngidamnya wanita itu kadang bikin ribet, tapi setelah kita memenuhinya dan membuat dia senang, ada kepuasan tersendiri dalam hati.


"Makasih, Mass," ucap Anjani dengan senyum manisnya.


Serius deh kalau ini bukan di dalam kelas, Arkan pasti akan menciumi istrinya itu sampai kehabisan napas. Bisa-bisanya dia manis dan menggoda di waktu yang bersamaan. Bikin repot hati orang saja..


Setelah itu Arkan kembali fokus menatap ke arah depan dan kembali mencatat. Sesekali dia menyeka keringat Anjani yang kini sedang fokus dengan laptopnya.


Gila romantis banget.


Jadi pingin nikah.


Demi apapun kalau kaya gini rasanya gak konsen!


Mereka berdua manis banget, mau kaya gitu.


Bisik-bisik itu terdengar di telinga mereka, tapi mereka mengabaikan itu semua. Anjani hanya ingin terpenuhi ngidamnya dan Arkan ingin membuat Anjani senang. Itu tujuannya.


2 jam berlalu, akhirnya mata kuliah ini pun selesai. Arkan mengatakan kalau dia akan mencatat, jadi membiarkan Anjani fokus pada pekerjaannya yang lain. Sehingga hari ini tidak terasa berat.


Enaknya punya suami pintar juga begini, saat Anjani tidak paham, dia malah dibantu oleh Arkan apalagi Arkan dulu adalah guru matematika, walaupun bukan sarjana matematika tapi tetap saja dia mahir. Statistik juga kan dia pelajari saat kuliah.


"Bayi, sering-sering aja mau ya ayah temenin mama ya? Biar Mama lancar jaya."


Dalam hati Arkan dia mengatakan : Yang lain saja ya, Nak. Pasti ayah ikuti asal jangan begini lagi.


Tapi tentu itu di dalam hati, karena kalau menolak di depan Anjani sudah pasti moodnya akan turun dan pada akhirnya dia akan marah seharian. Ujungnya? Arkan juga yang pusing.


"Jadi, kita pulang sekarang?" Tanya Arkan.


Anjani mengangguk, setelah itu mereka saling menggenggam dan keluar kelas dengan wajah ceria yang Anjani pancarkan. Ngidam pertama sukses! Mari repotkan Ayah Arkan lagi.

__ADS_1


__ADS_2