I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Satu Langkah Lebih Dekat Dengan Anjani


__ADS_3


Pagi ini Arkan sudah terbangun lebih dulu dari Anjani. Jam masih menunjukkan pukul 4 pagi dan adzan masih belum berkumandang, matanya kini menatap ke arah Anjani yang masih tertidur pulas dalam dekapannya.


Seolah rutinitas pagi, Arkan mengecup pipi Anjani dengan lembut. "Good morning."


Tidak ada jawaban memang karena Anjani sulit bangun. Terbukti dengkuran halus masih terdengar di sana, dia bak bayi kecil cantik yang sedang tertidur pulas karena mimpi indahnya. Karena sudah pernah mencium bibir milik Anjani, Arkan sekarang mulai berani menciumnya, sekali, dua kali, dia terkekeh karena meskipun diperlakukan seperti itu Anjani tetap setia tertidur tanpa terusik sedikit pun. "Morning kiss."


Arkan dengan anteng menikmati aktifitas nakalnya pagi-pagi, dia terus menggerayangi wajah istrinya dengan kecupan-kecupan lembut. Rutinitas seperti ini menyenangkan sih untuk Arkan yang memang suka usil terhadap istri kecilnya, ya hitung-hitung kegiatan tambahan sebelum adzan subuh berkumandang. Tidak sia-sia memang dia memilih untuk satu langkah lebih dekat dengan Anjani.


"Eummm." Tiba-tiba Anjani menggeliat dan sedikit membuka matanya, dia membulatkan matanya saat melihat Arkan yang sekarang wajahnya sangat dekat.


"Kamu ngapain??!"


Cup ....


Perlahan Arkan mengecup bibir Anjani dengan lembut. Anjani yang masih mengumpulkan nyawanya sedikit mengerjap, ya baru kali ini loh dia dikecup pagi-pagi.


"Morning kiss," ucap Arkan.


Anjani menghela napasnya, apa lagi dan lagi dia harus membiasakan diri seperti ini? Kenapa di setiap harinya ada saja kelakuan Arkan yang membuat dia terkejut. Ada saja kelakuan Arkan yang mengharuskan dia terbiasa dengan semua.


Arkan yang melihat raut wajah kebingungan Anjani terkekeh. Biarkan saja seperti itu, toh mereka sudah sah, kalau Arkan terus diam, malah akan membuat pernikahan ini stuck di situ-situ saja, kan?


"Ke air, sholat subuh dan ganti baju. Kita lari pagi," ucap Arkan.


"Aku gak suka lari pagi loh? Gak mau ikut," kata Anjani mutlak.

__ADS_1


Arkan menatap istrinya, yakin nih dia tidak mau ikut? Baik sepertinya kalau menggunakan cara ini Anjani pasti akan menurut. Perlahan Arkan mengukung tubuh Anjani di bawah lalu menatapnya dengan intens, Anjani yang diperlakukan seperti itu berusaha bangun namun ya sia-sia, tubuhnya ini kecil. Tidak bisa dia melawan Arkan yang tenaganya jauh lebih kuat.


"Pakk! Mass!! Arkan!! GIOVANO!" Teriak Anjani. Arkan malah terkekeh mendengar teriakan Anjani, lucu saja di pendengarannya. Dia memanggilnya dengan berbagai panggilan agar dilepaskan.


"Kamu mau ikut saya olahraga pagi di luar atau ... " Arkan menggantungkan ucapannya, perasaan Anjani mulai tidak enak, atau apa?!


"Mau ikut saya olahraga pagi di ranjang?" Tanyanya seraya mengeluarkan smirk evil miliknya.


"Jangan ngaco, jangan ngawurr!! Lepasin aku gakk??!" Rengek Anjani yang sudah nampak ketar ketir.


Belum mau menurut lupanya, dengan gerakan lambat Arkan mendekatkan wajahnya kepada Anjani. Melihat pergerakan itu Anjani semakin kaget. "OKE! Oke aku ikut kamu olahraga di luar. Udahh!!!"


Arkan tertawa renyah, walaupun tidak menampik kalau dia memang menginginkan Anjani. Tapi jangan dulu, dia akan melakukannya ketika Anjani sudah mencintainya. Dia harus sabar-sabar kalau soal itu. Perlahan dia melepaskan Anjani dan turun dari kasur. Sementara Anjani dengan kesalnya terus mencibir Arkan dalam hatinya.


Selesai sholat subuh, Anjani dan Arkan yang sudah siap dengan setelan olahraga kini keluar dari pekarangan rumah. Rencananya mereka akan berlari ke taman lalu pergi ke car free day. Pasti akan sangat menyenangkan untuk pendekatan, bukan?


Baru beberapa meter mereka berlari, Anjani sudah berhenti dan berjongkok di pinggir trotoar, melihat itu Arkan berdecak. Pemalas sekali rupanya istri kecilnya ini. "Ayok, Anjani. Ini baru beberapa meter."


"Mas aku capek tau! Mana ada anak gen Z kaya aku suka olahraga pagi kaya gini. Liat aja rata-rata orang dewasa yang jogging. Aku mau pulang ah!"


"Tidak bisa, ayokk cepat."


"Mas kamu guru matematika atau guru olahraga sih! Gak mau, aku mau pulang. Mau tidur."


"Saya suami kamu. Dasar pemalas, pantas saja kamu gendut," ucap Arkan. Tentu hanya untuk menantang Anjani, karena pada kenyataannya Anjani kecil, mungil, tapi proporsional lah.


Anjani melongo sih, apa katanya? Gendut? Parah sih Arkan melakukan body shaming terhadapnya itu kesalahan fatal! "Kamu bilang aku gendut?!"

__ADS_1


Arkan melipat tangannya di dada seraya mengangguk-nganggukan kepalanya menatap Anjani. Anjani memajukan bibir sembari menyipitkan matanya. Belum tau saja kalau Anjani sudah ditantang begitu dia akan terpacu. Tanpa menunggu Arkan dia bangkit dan berlari mendahului Arkan.


Arkan melihat itu terkekeh, memang kalau mau melakukan apapun Anjani harus ditantang dulu ya? Baik kalau begitu, sekarang dia tau bagaimana caranya membuat Anjani mengikuti kemauannya. Yaitu, ditantang!


Arkan dan Anjani jogging cukup lama, tubuh mereka juga sudah berkeringat. Oleh karena itu mereka berjalan-jalan di car free day, sebenarnya takut sih Anjani kalau ada yang melihat. Tapi ya mau bagaimana lagi, dia harus realistis. Kalau ketahuan juga Arkan pasti tidak akan tinggal diam.


Arkan cukup geram sebenarnya melihat Anjani karena banyak jajan, masalahnya komposisinya itu loh. Namun ya bagaimana lagi, dia memang masih kecil. Lihat saja jajanannya, telur gulung, risol mayo, sempol ayam, cireng dan semuanya menggunakan saos yang tidak sehat. Belum lagi ada lagi nih kelakuan randomnya. Membeli susu dengan kemasan dot dan juga infusan yang memakai sedotan kacamata. Benar-benar bocah. Arkan jadi tidak berselera untuk mencari lontong kari kesukaannya kalau melihat Anjani yang seperti ini.


Sambil berjalan pulang Arkan terus menatap Anjani, sampai akhirnya mereka duduk di salah satu kursi taman. "Makan begitu tidak sehat. Kamu biasa makan itu dari kecil?"


"Loh ini makanan sejuta umat, jangan bilang kamu gak pernah makan kaya gini?" Tanya Anjani, ya menebak saja sih, secara dia anak keluarga Altair. Kalau Anjani meskipun orang tuanya kaya tapi dia tidak dilarang kalau soal jajanan.


Arkan menggeleng. "Tidak pernah."


Anjani tertawa, sudah dia duga kalau suami kakunya ini tidak pernah makan makanan seperti ini. Karena dia sedang berbaik hati, jadilah dia mengambil satu tusuk sempol dari dalam keresek dan memberikannya pada Arkan.


Arkan menatap Anjani ragu. Yakin Anjani menyuruhnya untuk makan makanan seperti ini? "Tidak sehat, Anjani."


"Makan dulu makanya satu, satu doang kan gak akan bikin sakit," paksa Anjani.


Arkan menghela napas, mau menolak bagaimana tapi kalau diterima juga bagaimana. Akhirnya dengan terpaksa Arkan mengambil tusukan itu dan menyuapkannya ke mulut. Untuk beberapa saat dia terdiam, aneh sih saat pertama kali memakannya. Tapi kenapa semakin dikunyah, semakin enak ya?


Anjani yang melihat itu terkekeh, sudah dia duga kalau Arkan akan menyukainya. Memang siapa sih yang tidak akan suka dengan makanan permicinan, walaupun tidak sehat itu enak sekali.


"Enak, buat saya ya?" Arkan mengambil plastik sempol dari tangan Anjani. Dengan lahap dia memakan makanan yang tadi sudah dia tolak mentah-mentah itu.


Kesal sih Anjani melihatnya, tadi saja sok-sok bicara soal kesehatan. Sekarang dia malah yang paling bersemangat makan. Tapi ya biarkan saja lah manusia goa emas itu menikmatinya. Kasihan juga selama ini sepertinya terkurung di goa jadi baru pertama kali makan sempol. Jadi Anjani fokus saja mengendot susu yang ada ditangannya.

__ADS_1


__ADS_2