
Gosip mengenai Arkan dan Anjani beredar dengan luas, tapi sejauh ini tidak ada yang berani bertindak lebih jauh. Apalagi memang Arkan adalah guru idola di sekolah.
Yang menjadi masalah di sini adalah Manda yang terlihat sinis pada Anjani. Apalagi dia hanya mengetahui kalau orang-orang menganggapnya selingkuhan Arkan. Tapi seperti apa yang Arkan katakan kalau dia tidak boleh memikirkan perkataan orang yang tidak penting, dia hanya perlu fokus dengan apa yang dia jalani sekarang, itu saja.
Setelah melalui serangkaian ujian Anjani pun bisa menunjukkan dengan bangga pada Arkan kalau dia di terima di Universitas Negeri lewat jalur undangan dan juga nilai ujian tertinggi di sekolahnya. Tentu Arkan bangga sekali dengan istri kecilnya yang pintar ini.
Sampai dia peluk erat di ruangannya. "Selamat, Sayang. Selamat karena kamu mendapatkan apa yang kamu usahakan. Saya bangga sama kamu, bangga sekali."
Anjani mengangguk dan kembali mencium pipi Arkan. "Makasih Mass, ini juga karena kamu dukung aku. Kamu yang support aku sampai ada di titik ini. Makasih ya?"
"Sama-sama, Sayang. Jadi apa ada yang kamu inginkan dari saya sebagai hadiah?" Tanya Arkan seraya merapikan helaian rambut istrinya yang hari ini di kuncir satu dengan poni manis di kedua sisinya.
Anjani nampak menimbang-nimbang, hadiah apa yang akan dia minta pada suaminya ya. Dia bingung sebenarnya karena Arkan itu selalu memberikan apa yang dia butuhkan kalau soal barang. Tapi tiba-tiba terlintas sesuatu dalam pikiran Anjani.
Dia berjinjit dan membisikan sesuatu pada Arkan, membuat Arkan terkekeh mendengarkan permintaan sang istri. "Itu saja?"
"Boleh gak, Mas?" Tanya Anjani memastikan.
Arkan menganggukkan kepalanya, memang apa sih yang tidak akan dia berikan pada Anjani. Kalau Anjani senang Arkan lah yang akan merasa paling bahagia karena bisa memberikan apa yang Anjani inginkan. "As you wish my queen."
"Beneran kan? Awas bohong, soalnya aku gak mau minta apa-apa lagi dari kamu."
"Iya bawel. Banyak bicara sekali istri kecil saya ini."
"Biarin biar kamu gak lupa. Biar gak ingkar janji."
"Kapan coba saya pernah ingkar janji pada istri saya sendiri?" Tanya Arkan seraya mendekatkan wajahnya pada Anjani.
Anjani nampak berpikir lagi, mengingat-ingat bagaimana satu tahun ini mereka menikah. "Gak pernah sih, tapi tetep aja aku harus ingetin lagi biar kamu gak lupa."
"Iyaa, iya sayangku. Saya akan penuhi maunya kamu, sudah puas?" Tanya Arkan lagi.
Anjani mengangguk antusias setelah itu dia mengalungkan tangannya di leher Arkan dan menciumi pipi suaminya. Pokoknya ini hari yang membahagiakan untuk mereka berdua.
"Mau langsung pulang? Atau mau kemana? Hari ini saya akan menemani kamu seharian," ucap Arkan.
__ADS_1
"Cari kebaya buat acara graduate sama ke rumah Papa sama Mama boleh?" Tanya Anjani.
"Tentu, lalu apalagi?" Tanya Arkan penuh perhatian. Pokoknya hari ini semua perhatiannya akan tertuju pada Anjani saja. Semua yang dia inginkan akan Arkan penuhi.
"Makan sate di pinggir jalan, boleh?" Tanya Anjani.
Arkan mengangguk-mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan senang hati dia akan mengikuti apa maunya Anjani ini. Anjani tersenyum puas, ternyata enak ya menjadi istri Arkan. Semuanya akan langsung terpenuhi. Tidak sia-sia dia pernah berteriak dengan lantang ingin menikah dengan anak tunggal kaya raya.
.
.
.
Setelah memilih kebaya mana yang cocok untuknya dan batik yang sesuai dengan Arkan. Anjani dan Arkan kini berada di kediaman Mario dan juga Viona.
Anjani sudah lama tidak ke sini karena sibuk ujian, jadi selagi ada waktu mengunjungi mereka bukan sesuatu yang salah, kan? Apalagi memang mereka hanya berdua di rumah besar ini. Jadi Anjani sebagai anak yang paling dekat harus peka kalau mungkin kedua orang tuanya kesepian..
"Paaaaa aku lulus dengan nilai terbaik, aku juga di terima di universita negeri lewat jalur undangan!" Anjani memeluk Mario dengan erat.
Anjani mengangguk dan Mario pun membalas pelukan putrinya dengan erat. Memang benar Anjani sejak dulu tidak pernah mengecewakan mereka, Anjani memang yang paling bisa diandalkan di rumah ini.
"Selamat ya, Sayang. Selamat karena kamu sudah berusaha keras selama ini, selamat karena kamu bisa mencapai apa yang kamu inginkan. Semoga kedepannya bisa dipertahankan ya, Sayang?" Ucap Viona.
"Siap!!" .
Setelah itu mereka tertawa, Arkan senang melihat Anjani sebahagia ini saat bersama kedua orang tuanya. Berbeda dengan Anjani yang pertama kali menikah dengannya. Memiliki banyak segudang ego dan juga gampang tersinggung dengan hal-hal kecil. Gadis itu sudah dewasa dan bijak sekarang. Padahal mereka belum genap setahun menikah.
Lebih tercengang lagi hadiah yang Mario berikan pada Anjani. Sebuah mobil sport terbaru yang Anjani inginkan beberapa bulan lalu, semakin senang lah istrinya di berikan mobil. Padahal Arkan selalu bilang kalau Anjani harus bersamanya terus.
"Makasih, Paaa." Anjani berbinar melihat mobil berwarna ungu pastel itu dan memegang kuncinya.
Dia senang sekali mendapatkan mobil dari sang ayah. Dia menatap ke arah Arkan sekilas. "Aku boleh pake ini ya?"
"Sesekali boleh," balas Arkan bijak.
"Ke kampus setiap hari pake ini boleh?" Tanya Anjani meminta persetujuan.
__ADS_1
Mario dan Viona terkekeh melihat interaksi keduanya. Mereka tau kalau Arkan tidak mengizinkan Anjani membawa mobil dan dia pernah berkata langsung pada Mario alasannya. "Tidak, Sayang."
Anjani memajukan bibirnya, padahal kan dia sudah lebih dari 17 tahun bahkan dia sudah mau 19 tahun. Kenapa sih Arkan tidak membiarkan dirinya membawa mobil sendiri. "Boleh yaa?"
"Tidak boleh ya ... "
"Massssss!!!"
"Anjani ... "
"Yaakkkk!! Kenapa sih gak boleh, kan sayang kalau mobilnya gak dipake. Boleh ya?"
"Saya bilang boleh kalau sesekali, artinya boleh dipakai. Paham?" Tegas Arkan.
"Betul, Sayang. Boleh dipakai sesekali dan kalau sedang ingin. Tapi kalau kemana-mana lebih baik dengan Gio saja, lebih aman dan lebih terjamin."
"Atau setiap hari Gio yang mengantarkan kamu dengan mobil ini," ide Viona.
Arkan mengangguk setuju, tapi tidak dengan Anjani. Masalahnya pasti Arkan akan selalu mau ikut kemana pun dia pergi, bagaimana kalau dia ingin hangout dengan teman-temannya. Apalagi Arkan posesif begitu, ahh dia terbebas dari orang tuanya sekarang terjebak dengan Arkan yang posesif. Bagus sih tapi sesekali membuatnya kesal.
"Jadi bagaimana?" Tanya Arkan.
"Yaudah deh, tapi aku pulang ke rumah sekarang biar aku yang kemudi. Aku mau cobain mobil baruku!"
Arkan menghela napas, nampaknya ini bukan pertanyaan, tapi sudah pernyataan yang diputuskan eh Anjani. Kalau sudah begini dia hanya mengangguk saja mengikuti permintaan Anjani. Dia juga sudah berjanji akan mengikuti kemauan istrinya hari ini apapun yang dia minta.
Dan benar ....
Sekarang mereka berada di mobil yang terpisah. Arkan sengaja mempersilahkan Anjani membawa mobilnya lebih dulu, sungguh itu sanggup membuat Arkan jantungan.
Mobil sport itu kecepatannya sudah sangat bagus dan Anjani menjalankannya mengikuti kemauan dirinya alias sangat cepat. Memang sepertinya keputusan Arkan untuk tidak memberikan izin sudah bagus.
"Astaga gadis itu bikin saya jantungan saja." Arkan mempercepat laju mobilnya dan menyusul Anjani.
Jalanan yang sangat bebas membuat Anjani bebas juga melakukan mobilnya, tak jarang juga dia menyelip ke celah yang bisa dia lewati. Ngeri sendiri Arkan melihatnya sampai dia harus menghela napas beberapa kali.
Pertama kali melihatnya saja dia sudah khawatir berlebihan, apalagi kalau setiap hari Anjani membawa mobil ke kampusnya nanti. Bisa-bisa dia penuaan dini.
__ADS_1