
"Saya terima nikahnya Clarissa Putri Anjani Binti Mario Abraham, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Semua orang mengucap syukur atas pernikahan Arkan dan Anjani, keduanya seperti memancarkan kebahagiaan pada orang yang ada di sekitarnya. Setelah menandatangani berkas kini mereka saling menyematkan cincin satu-sama lain, setelahnya Anjani menyalami suaminya dan Arkan mencium kening istrinya.
Seharunya ini moment bahagia bagi seorang wanita, kan? Anjani pernah membaca, saat suami mencium kening istri untuk pertama kali itu adalah suatu kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan. Tapi kenapa yang Anjani rasakan tidak begitu, dia justru malah bersedih karena mulai hari ini dia harus terjebak hidup bersama Arkan Altair.
Acara ini tetap diadakan selayaknya pernikahan pada umumnya, bedanya mereka hanya mengundang keluarga dan beberapa orang penting saja. Itu pun mereka semua diinstruksikan untuk menjaga rahasia pernikahan sampai setidaknya satu tahun ke depan. Memang agak riskan dan repot, tapi apa yang tidak bisa dilakukan oleh keluarga Altair?
Acara dilakukan hingga sore hari, tapi sampai acara selesai Anjani tidak menemukan keberadaan Bagas. Menurut informasi Bagas sedang ada urusan mendesak dan tidak bisa hadir. Tapi Anjani paham kok, memang siapa yang akan mampu mendatangi pernikahan mantan, apalagi mereka berpisah karena terpaksa?
"Kamu mencari Bagas?" Bisik Arkan sembari merangkul pinggang Anjani, karena ya posisi mereka masih di pelaminan. Jadi bagaimana pun keadaannya, mereka harus terlihat seperti pasangan yang berbahagia.
"Bukan urusan Bapak!" Ucap Anjani ketus.
"Bagas tidak akan datang, ada hal yang lebih penting yang harus dia lakukan," balas Arkan.
Anjani hanya mengedikkan bahunya, ya meskipun sudah dijawab tapi tetap saja dia penasaran, ada hal penting apa yang harus Bagas lakukan atau memang dia sedang menyendiri karena terpukul? Itu yang Anjani pikirkan.
Tiba-tiba Arkan mencium pipi Anjani, membuat Anjani mematung dengan sikap Arkan saat ini. Iya dia tau kalau mereka sudah sah, tapi kan bukan berarti Arkan bisa melakukan ini tanpa persetujuannya.
"Pakk!!" Peringat Anjani setengah berbisik.
"Tolong sadar kamera dan terus beri pose terbaik, kalau tidak kamu akan menyesalinya di masa depan. Karena mereka akan mencetak semua photo yang mereka ambil," ucap Arkan setengah berbisik.
Anjani menggigit bibir bawahnya, ah kenapa dia harus berada di sini sih?! Padahal semalam dia hampir saja berhasil kabur dari rumah, tapi sayangnya bodyguard-bodyguard suruhan ayahnya ini lebih canggih dari pikiran Anjani sekali pun. Sehingga baru saja sampai gerbang, Anjani sudah ditangkap kembali.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu dan sekarang sudah pukul 8 malam tepat, setelah selesai acara pernikahan Anjani dan Arkan tentu akan pulang ke rumah Anjani terlebih dahulu, besoknya baru dia akan mengajak Anjani pulang ke rumahnya, karena dia tau pasti akan sangat tertekan kalau Anjani harus dia bawa sekarang dan jauh dari orang tuanya.
Sejujurnya Anjani lelah sekali hari ini, ditambah besok dia harus kembali ke sekolah. Dia ingin segera sampai di rumah dan membaringkan tubuhnya di kasur. Apalagi kakinya sudah lecet karena memakai heels tinggi dan berdiri berjam-jam di pelaminan untuk menyalami orang-orang.
Anjani bernapas lega saat sudah sampai di mobil pengantin mereka. Tidak memakai supir, tapi Arkan sendiri lah yang menyupir. Untung saja gaunnya ini berbentuk siluet, jadi tidak ribet saat berjalan atau masuk ke mobil.
.
.
.
Anjani menatap dirinya sendiri di cermin, dia sedang berkutat dengan pemikirannya sendiri. Kalau setelah menikah pasti ada malam pertama, kan? Aduh bagaimana ini? Dia tidak mau melakukan itu dengan Arkan!
Selain tidak bisa ya dia memang tidak mau, tapi kan itu kewajiban seorang istri? Ahh, Anjani dilema sekali. Apalagi sekarang Arkan sudah keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya. Untung saja dia masih berpakaian lengkap, tidak seperti novel-novel yang dia baca.
Anjani meneguk ludahnya beberapa kali, apalagi saat Arkan menatap ke arahnya. Dia bisa tidak kabur saja dari sini? Perlahan Arkan mendekat ke tembok yang berhadapan langsung dengan tempat tidur Anjani. Dia mengangguk-nganggukkan kepala sembari besidekap dada.
Anjani mendengus kesal mendengar perkataan Arkan yang nampak meledeknya. Iya dia kalah di hadapan Arkan sekarang. Dia berusaha kabur, berusaha lari tapi tidak berhasil mencegah pernikahan ini. "Gak usah ngeledek!"
"Siapa yang meledek? Saya hanya bergumam," jawab Arkan santai.
"Tapi kedengaran!!" Kesal Anjani.
"Kamu tersinggung? Tapi yang saya katakan benar, bukan?"
Anjani mengusap dada, dia harus menahan emosinya malam ini. Jangan sampai malam ini dia mengamuk dan mencakar-cakar wajah Arkan, dia tidak mau sampai orang tuanya datang ke sini.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba Anjani teringat sesuatu. Dia mengambil surat-surat yang sudah dia print semalam dan pulpen di meja belajarnya, setelah itu dia menghampiri Arkan dan meletakan surat-surat itu di meja yang ada di sana. "Tanda tangan!"
Arkan menatap ke arah Anjani keheranan, setelah itu dia mengambil surat-surat yang Anjani berikan. Untuk beberapa saat dia membaca rentetan kalimat yang ada di sana lalu mengulum tawanya. "Kontrak pernikahan?"
"Ya iya! Bapak emangnya gak bisa baca?"
Arkan menghela napas, susah sih memang berhadapan dengan anak perempuan remaja yang imajinasinya tinggi seperti Anjani. Mereka pikir pernikahan itu seperti di cerita fiksi yang sering mereka baca? Astaga, Arkan sampai harus menahan tawanya terus menerus.
Tanpa kata apapun yang terlontar, Arkan merobek kertas itu tepat di hadapan Anjani, membuat gadis itu melongo karena tak percaya dengan apa yang Arkan lakukan. "Pakk!! Kok dirobek?!"
Arkan tak menjawab, dengan bersidekap dada dia mendekati Anjani, namun Anjani yang mendapatkan tatapan itu sontak mundur, sepertinya dia sudah membangunkan singa yang sedang tertidur. "Jadi kamu anggap saya menikahi kamu sebatas kontrak, begitu Anjani?"
"Ya-yaa gitu, kan?" Tanyanya ragu.
Punggung Anjani membentur tembok, membuat sang empu kaget setengah mati, apalagi Arkan yang tangannya kini berada di samping kepalanya dan memojokkan dirinya. Jantungnya berdebar kencang, kenapa melihat adegan ini di televisi sangat romantis tapi saat mengalaminya Anjani malah ketar-ketir, ya?
"Saya tegaskan sama kamu, Anjani. Saya menikahi kamu dengan sungguh-sungguh, saya meminta kamu kepada kedua orang tua kamu dan saya sudah berjanji akan menjadi suami sampai akhir khayat untuk kamu di hadapan Tuhan."
"Kamu terlalu banyak membaca cerita fiksi, padahal pada kenyataannya dunia nyata tidak seperti apa yang ada dalam imajinasi kamu. Saya sadarkan kamu sekarang, saya suami kamu. Kita sudah menikah dan kamu harus menjalankan pernikahan ini dengan baik, karena saya juga akan sebaliknya terhadap kamu."
"Pak ..."
"Mas! Saya bukan guru kamu di sini, saya suami kamu!" Tegas Arkan.
Anjani tertegun, baru kali ini dia mendengar Arkan bicara panjang lebar seperti itu dan anehnya Anjani tidak bisa menimpalinya dengan argumen apapun, dia seolah membeku dan bisu mendadak saat ini. Padahal sebenarnya dia ingin berontak. Ada apa sih dengan Anjani malam ini?!
Belum selesai dengan keterkejutannya kini Arkan malah mendekatkan wajahnya pada Anjani, Anjani berusaha menghindar namun ya tidak bisa. Perlahan dia menutup matanya erat, sangat erat dia tidak mau melakukan hal itu dengan Arkan!!!
__ADS_1
"Tidur, besok kamu harus sekolah. Saya tidak akan melakukan apapun kalau kamu belum siap," ucap Arkan tepat di telinga Anjani.
Anjani yang mendengar itu pung langsung menghembuskan napas yang sudah sedari tadi ia tahan, dalam sekejap dia berlari ke kasur dan menenggelamkan dirinya di dalam selimut. Arkan yang melihat itu pun terkekeh, gemas sekali ternyata istri kecilnya ini.