
Anjani sudah bersiap-siap menggunakan kemeja putih dan rok hitamnya. Tidak lupa juga dia membawa nametag karena hari ini adalah hari pertama Anjani ospek. Sebenarnya dia cukup deg-degan sih apalagi mengingat kalau kehidupan kampus itu keras. Tapi Anjani meyakinkan dirinya sendiri kalau dia pasti bisa bersosialisasi nanti di sana.
Arkan yang melihat Anjani sedang menata dirinya di cermin tersenyum. Ternyata gadis kecilnya ini bukan anak SMA lagi yang memakai seragam putih abu, sekarang dia berstatus sebagai mahasiswa..
Perlahan Arkan menghampiri Anjani dan memasangkan dasi hitam itu dengan benar. Membuat Anjani mengerucutkan bibirnya. "Mas kenapa ditaliin, aku gak suka ditaliin."
"Ditali, nanti kamu jadi bulan-bulanan senior."
"Kok gitu?" Tanya Anjani.
"Nakal, kamu terlihat nakal kalau begini, kalau mau begini di depan saya saja," peringat Arkan yang masih fokus memasangkan dasi di leher Anjani.
"Mesum!!"
"Bukan mesum, tapi memang begitu, Sayang. Jadi bersikaplah selayaknya mahasiswa yang baik," nasehat Arkan dengan penuh perhatian.
Kalau begitu Anjani menurut saja, karena ucapan suami biasanya benar, apalagi Arkan jauh lebih dewasa dan lebih paham dengan dunia kampus, meskipun sebenarnya dia tidak mau dasinya diikat begitu. Karena terlihat culun sekali.
Kini giliran Anjani yang membantu membenarkan dasi Arkan dan membantunya memakai jas. Mereka akan berangkat bersama pagi ini. Jadi sama-sama produktif.
"Hari ini pulang jam berapa?" Tanya Arkan.
"Kayanya jam 4 deh, Mas. Kalau di jadwal sih jam segitu, kenapa?" Tanya Anjani.
"Jarak kampus kamu ke kantor dekat, jadi kalau sudah pulang kabari saya, biar saya jemput," ucap Arkan.
Anjani mengangguk patuh, walaupun sebenarnya dia ingin memakai mobil. Tapi yasudah lah, mungkin Arkan sangat mencintainya sehingga tak mau kalau Anjani terluka sedikit pun.
"Matanya dijaga," ucap Arkan lagi.
Anjani menghela napasnya. "Iya nanti aku pake penutup mata aja biar ga liat apa-apa."
"Buka seperti itu maksudnya."
"Ya habis kamu dari kemarin bahasanya itu terus. Lagian kalau ada cowok ganteng juga gak akan bisa aku nikahin," jawab Anjani. Nahkan mulai berulah memang Anjani.
__ADS_1
"Memang saya izinkan kamu poliandri?" Tanya Arkan pada istrinya.
"Ya Allah engga! Engga akan liat yang lain sayangku ... " Anjani terlampau gemas pada suaminya.
Namun Arkan malah salah tingkah sepertinya. Anjani baru kali ini memanggilnya sayang kan jadi mendadak senang. "Coba katakan lagi."
"Sayang, sayangkuu," ulang Anjani yang kali ini tidak mau repot. Dia harus datang ke kampus dengan mood yang baik masalahnya dan pagi-pagi begini dia harus menghadapi Arkan yang takut kalau dirinya dekat dengan pria lain di kampus.
Padahal niatnya ke kampus kan untuk mencari ilmu, untuk apa juga mencari lagi pria, sudah jelas ada Arkan dalam hidupnya. Dia bukan orang yang Maruk kok ingin dekat dengan banyak pria begitu. Satu saja pusing apalagi banyak, satu saja tidak habis-habis.
Dengan cepat Arkan menangkup pipi Anjani dan mencium bibirnya lama. "Iya, Sayangku."
Anjani menggeleng-gelengkan kepalanya, rasanya bukan dia yang bertumbuh dewasa tapi Arkan yang kembali menjadi remaja. Remaja kan begitu kelakuannya posesif, cemburuan dan memerlukan validasi. Ini Anjani tertukar apa ya dengan Arkan?
Tapi dia memposisikan diri saja, kalau dia yang sedang tidak dewasa, arkan selalu menjadi yang paling dewasa begitupun sebaliknya. Agar mereka juga saling. Bukankah rumah tangga memang seperti itu?
Setelah selesai sarapan Arkan dan Anjani langsung bergegas untuk berangkat. Lalu setelah sampai di kampus Anjani, Anjani langsung menyalami suaminya. "Mas aku kuliah dulu. Kamu semangat kerjanya ya."
"Kamu juga semangat ospeknya, Sayang. Jangan terlalu cape. Jangan lupa makan siang," peringat Arkan.
Anjani menganggukkan kepalanya, semua yang Arkan perintahkan sudah dia catat kok di otak agar tidak lupa. Setelah Arkan mencium keningnya Anjani turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada Arkan.
.
.
.
Anjani buru-buru masuk ke auditorium dan tiba-tiba saja ...
Brukk.
Tubuhnya menabrak seseorang dengan jas almamater biru dongkernya. Anjani membulatkan matanya. "M-maaf kak."
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya pria itu ramah.
"E–enggak saya gapapa ... Sekali lagi maaf, Kak," ucap Anjani menyesal.
__ADS_1
"Santai."
Setelah itu mereka saling tersenyum, pria itu lebih dulu masuk ke dalam dan di belakangnya diiringi oleh gadis-gadis yang kini menatapnya tajam.
"Jaga sikap!" Tegur salah satunya pada Anjani, membuat Anjani memicing. Dih memang Anjani melakukan apa sampai harus menjaga sikap. Tidak jelas sekali.
Tapi Anjani harus sadar kalau dia adalah mahasiswa ospek. Jadi dia menahan emosinya, tidak tau ya kalau mereka keterlaluan, karena pada dasarnya Anjani tidak suka ditindas dan dia tidak lemah tentunya.
Setelah itu Anjani ikut duduk berbaur dengan yang lainnya. Ternyata dia menemukan mahasiswa yang satu fakultas dengannya. Mereka adalah Shella dan Dion. Akhirnya Anjani menemukan teman satu frekuensi di hari pertamanya ospek. Sudah dia bilang kalau soal bersosialisasi Anjani itu jagonya. Tapi memang dia selalu menyeleksi dulu mana yang bisa dijadikan teman dan mana yang tidak.
Dari pembukaan ini Anjani tau, kalau yang dia tabrak tadi adalah Ketua BEM di sini. Anjani melongo sih, aduh bagaimana ini? Bagaimana kalau dia ditandai lalu dikerjai? Ah sial sekali Anjani, baru pertama kali masuk sudah berurusan dengan ketua BEM.
Setelah selesai dari auditorium ternyata pembagian kelompok dan mereka bertiga satu kelompok yang sama. Syukurlah, Anjani malas berkenalan lagi soalnya. Kalau sudah ada yang satu frekuensi ya sudah itu saja.
Dari kejauhan Anjani melihat Azzam dan Bagas, mereka nampak telat. Iya mereka satu kampus yang sama tapi berbeda fakultas saja.
"Eh Presma kita ganteng ya," ucap Shella.
"Iya ganteng, ih aku liat dia tuh kaya gimana gitu," ucap Dion dengan nada manjanya. Tepat sekali, dia lebih tepatnya kemayu, tapi harus Anjani akui sih kalau Dion ini tampan, hanya saja ya ... Begitu.
"Kamu kok kaya gak tertarik gitu, Jan? Jangan bilang kamu sukanya sama cewek," kata Shella.
"Engga, jangan ngaco. Emang gak tertarik aja," ucap Anjani.
"Bisa-bisanya gak tertarik, emang cowok impian kamu kaya gimana, Jan?" Tanya Shella penasaran.
"Kaya Dion," jawab Anjani asal tentu bercanda dan itu sontak membuat Dion menjauh dari Anjani.
"Astaga Anjani, jangan. Aku sukanya yang kekar," balas Dion.
Anjani malah tertawa melihat kelakuan teman barunya itu, ya suka saja usil begitu. Lagian sepertinya Arkan tidak akan marah kalau Anjani dekatnya dengan pria macam Dion. Kalau marah keterlaluan sih, Dion sudah terang-terangan begini tidak suka Anjani.
Menurut Anjani lebih tampan juga suaminya, sudah dewasa, mapan, romantis, hot daddy. Untuk yang terakhir Anjani menggelengkan kepalanya, kenapa sekarang dia jadi mesum sih otaknya, pasti sudah tertular oleh Arkan.
Sepanjang jalan jalan menuju lapangan para pria nampak menatap ke arah Anjani, memang ada yang salah ya. Anjani sampai mereview penampilannya sendiri. Namun sudahlah, tidak peduli apa yang mereka pikirkan, asal jangan mesum saja. Sudah pasti dia pastikan mereka akan terkena amukan Arkan.
Harus Anjani akui kalau suasana kampusnya ini bagus. Lebih banyak pepohonan dan tanamannya. Sehingga tidak gersang dan panas. Di sini malah sejuk, membuat mahasiswanya betah sepertinya kalau belajar di alam terbuka begini.
__ADS_1
Belum lagi fasilitas dan gedung fakultasnya keren-keren, tentu ada fakultas arsitektur di sini dan mereka yang merancangnya sendiri. Sungguh luar biasa, tidak menyesal sih Anjani masuk ke sini.
Semoga saja semuanya bisa diajak bekerja sama untuk beberapa tahun ke depan.