I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Silent Treatment


__ADS_3


Hari demi hari berlalu, suasana memang selalu baik. Namun di balik hal baik itu kadang menjadi sebuah ketakutan esok hari, menebak-nebak apa yang akan terjadi ke depan, baik atau buruk tidak ada yang tau. Tapi Anjani berusaha tetap berpikir poaitif meskipun perasaannya sedang tidak karuan. Hari ini Anjani memutuskan untuk membawakan Arkan makan siang, dengan diantar oleh supir Anjani dan Arsy sekarang sudah sampai di depan kantor Arkan.


Semua karyawan di sana menyapa Anjani dengan ramah, apalagi ini pertama kalinya mereka melihat si kecil Arsy yang sangat menggemaskan karena di dandani serba pink oleh ibunya. Ya itu kenapa Anjani ingin mempunyai anak perempuan, karena dia ingin mendadani anaknya lucu begini.


Anjani berjalan ke arah resepsionis, sebenarnya ingin menanyakan dulu jadwal Arkan sih, karena kan tidak enak juga kalau dia datang ternyata sedang rapat. Jadi dia bertanya dulu.


"Mira, Pak Arkan ada di ruangannya?" Tanya Anjani.


"Oh ada ibu, kebetulan baru selesai meeting dan menerima tamu tadi, sepertinya teman lama," ucap Mira.


"Perempuan atau laki-laki?" Tanya Anjani.


"Perempuan, Bu."


"Kak Sabrina?" Tanya Anjani lagi. Ya karena memang hanya Sabrina sih setau dia yang sering berkunjung ke sini, selain karena memang sahabat dekat, Sabrina juga memang salah satu investor di kantor Arkan.


"Bukan, Bu. Perempuan rambut sebahu, sepertinya sudah memiliki anak. Kurang tau juga sih, Bu tapi dulu sering sekali ke sini."


Mira dan Anjani memang dekat sih, maksudnya setiap Anjani ke sana dia lah yang melaporkan kegiatan hari-hari suaminya. Jadi Anjani percuma 100 persen kalau Mira tidak akan berbohong padanya.


Jadi perempuan itu siapa? Kenapa Anjani langsung tertuju pada Janda gatal itu ya? Tapi untuk apa dia kesini? "Lama ke sininya? Ngapai, kamu tau? Misalnya ada bisnis atau apa gitu?"


"Kurang tau sih, Bu. Tapi sepertinya memang sudah ada jadwal dengan Pak Arkan."


Anjani menghela napas, dia mengangguk sejenak dan mulai berpikir aneh-aneh. Tapi lebih baik dia menanyakan langsung saja pada Arkan deh daripada begini. Dia harus tau jawabannya langsung dari Arkan agar dia lega.


Setelah pamit, Anjani langsung bergegas ke ruangan Arkan sembari menciumi puncak kepala anaknya. Dia harus tenang, jangan sampai dia bicara pada Arkan tapi nadanya tidak enak.

__ADS_1


Merasakan ada orang yang masuk, Arkan yang tadinya sedang sibuk dengan berkas-berkas ternyum, ternyata istri dan anaknya datang. Dengan senang dia menghampiri Anjani, menyambut salam dari Anjani, mengecup pipi dan bibirnya barulah menggendong si kecil Arsy dan menciumi pipinya. "Tumben anak ayah juga di bawa ke sini, kenapa tidak bilang dulu, Sayang?"


Anjani membenarkan rok yang dipakai Arsy lalu tersenyum ke arah Arkan. "Gapapa, mau kasih kekuatan aja. Kamu belum makan siang, kan?"


"Belum." Arkan membalas senyum Anjani dan menciumi kembali putrinya lalu kemudian dia duduk di sofa.


Anjani yang melihat itu mengikuti Arkan dan membukakan makanan yang dia bawa untuk Arkan. Kebetulan sekali Arkan mulai merasa lapar, jadi lah Arkan pun semangat untuk menghabiskan apa yang istrinya bawa dan menyerahkan Arsy terlebih dulu pada mamanya.


Anjani menatap ke arah suaminya yang lahap memakan makanannya, dia senang sih kalau Arkan begitu. Itu berarti Anjani berhasil membuat suaminya senang dengan apa yang dia lakukan.


Kalau di lihat dari wajah Arkan tidak mungkin lah ya Arkan menyembunyikan sesuatu tapi sesantai ini, jadi dia memberanikan diri untuk bertanya. "Seharian ini kamu ngapain aja, Mas?"


"Meeting."


Anjani menganggukkan kepalanya pelan dan membulatkan bibirnya. "Ohhh, terus ngapain lagi?"


"Ya menyelesaikan beberapa kerjaan dan memeriksa beberapa berkas beserta jadwal saya beberapa Minggu ke depan, Sayang. Seperti biasanya," jawab Arkan.


Arkan menaruh sendok dan garpunya lalu mengusap puncak kepala Anjani. "Tidak ada, Sayang. Saya hanya bekerja, seperti biasanya. Hari-hari melelahkan di kantor, untung kamu ke sini dan membawa anak kita, saya jadi semangat lagi."


Mendengar itu Anjani hanya tersenyum kaku, ini Mira yang berbohong padanya atau Arkan sih? Biasanya Arkan menceritakan semuanya tapi kenapa dia tidak bilang kalau Rindu ke sini? Mira tidak mungkin berbohong, kan? Jelas yang dia sebutkan itu adalah ciri-ciri Rindu dan juga anaknya.


Anjani terdiam, entah kenapa perasaanya tidak karuan. Dia merasa apa ya, bingung. Feeling-nya pun mengatakan kalau Arkan menutupi sesuatu sampai dia tidak mengatakan kalau Rindu ke sini. Tapi kenapa suaminya berbohong?


Moodnya seketika berubah, tapi dia juga tidak mungkin tiba-tiba marah tak jelas pada Arkan yang sekarang tersenyum di hadapannya. Pada akhirnya yang tadinya dia ingin berkomunikasi agar tidak ada kesalah pahaman, menjadi sebuah hal mengganjal yang tidak bisa dia ungkapkan dan memilih untuk menyimpannya sendiri.


"Kenapa, Sayang?"


Anjani menggeleng lalu tersenyum tipis. "Gapapa, Mas. Lanjutin gih makannya, abisin."

__ADS_1


Mendengar itu Arkan kembali melanjutkan makannya sementara Anjani mencoba mengontrol dirinya sendiri, dia menciumi Arsy, berharap mendapatkan saluran ketenangan dari anaknya.


Dia bukan anak kecil yang tiba-tiba meledak, dia tidak boleh begitu. Bukannya diam lebih baik daripada nantinya menimbulkan hal-hal yang di luar kendali?


30 menit berlalu, setelah selesai makan Arsy bermain dengan ayahnya dan Anjani izin ke kamar mandi untuk beberapa saat. Niatnya ingin mencuci tangan dan buang air, namun matanya tertuju pada tong sampah.


Tubuhnya gemetar melihat bungkusan pengaman yang ada di sana. Perlahan Anjani mengambilnya dari sana. Seketika dia mengigit bibir bawahnya. "Ini kan?"


Anjani menggelengkan kepalanya cepat, tidak-tidak mungkin suaminya begitu. Arkan sering mengatakan kalau hanya Anjani satu-satunya dalam hidup, ini pasti milik orang lain. Iya, pasti milik orang lain.


Anjani mati-matian menahan tangisnya, menahan semua gejolak perasaan yang ada, tubuhnya dingin dan panas secara bersamaan. Tanpa pikir panjang Anjani membuangnya dan kembali ke ruangan Arkan.


Melihat Anjani yang pucat membuat Arkan khawatir. Apalagi Anjani buru-buru mengambil Arsy dan mengatakan ingin pulang. Arkan jelas panik. "Kenapa?"


Anjani membenarkan gendongannya dan berusaha untuk biasa saja. "A-aku lupa mau nemenin mama. Aku pulang dulu."


Anjani menyalami suaminya, namun Arkan merasa ada hal yang aneh, kenapa Anjani mendadak ingin pulang begini, terburu-buru lagi. "Sayang, mau saya antar."


Anjani menggeleng dan melambaikan tangannya. "Gak, gak usah. Aku pulang ya, Mas. Semangat."


Setelah mengatakan itu Anjani keluar dari ruangan Arkan, dengan perasaannya yang berantakan. Arkan berbohong, belum lagi ada bungkus pengaman di sana, Rindu ke sini cukup lama, meskipun membawa anak tapi bisa saja, kan?"


Anjani berusaha mengalihkan pikirannya, kenapa dia susah sekali sih untuk berpikir positif, tapi tidak tau kenapa semenjak ada Arsy dia tidak pernah lagi marah semenggebu-gebu itu, dia pasti hanya akan diam seribu bahasa tanpa mau banyak berdebat. Rasanya tidak enak sekali.


Anjani memilih pulang menggunakan taxi, di sana lah dia baru bisa ga meluapkan tangisannya. Dia tidak kuat kalau terus membendung air matanya terlalu lama. Anjani menarik napasnya berkali-kali dan menciumi Arsyi. "Ayah kamu baik, kan? Ayah gak gitu sama mama kan, Sayang? Iyakan?"


Seperti ikatan batin, melihat ibunya menangis, Arsy jadi ikut menangis juga. Anjani melihatnya malah semakin terbawa suasana dan memeluk putrinya dengan erat. "Maafin mama, jangan nangis, iya mama gak nangis. Tapi aebentar


boleh ya? Mama gabisa kalau mendem."

__ADS_1


Anjani berbisik pada anaknya, tidak peduli juga bagaimana tanggapan supir taxi ini. Yang Anjani rasakan sekarang adalah sesak bercampur dengan segala hal negatif.


__ADS_2