I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Arkan Cemburu?


__ADS_3


Seharian menjalani Ospek hari pertama membuat Anjani merasa kelelahan. Ya secara dia sudah hampir 2 bulan berada di rumah terus kan, jadi dia harus membiasakan diri lagi dengan aktivitas di luar rumah seperti ini.


Penampilannya sudah berantakan dengan wajah lesu yang dia tampilkan, tak selang beberapa lama mobil Arkan pun berhenti di hadapannya. Anjani langsung masuk ke dalam dan menyenderkan punggungnya di jok, membuat Arkan tau kalau istri kecilnya itu pasti kelelahan mengikuti ospek hari ini.


"Cape, Sayang?"


"Cape banget, badan aku remuk semua kayanya."


Arkan tersenyum dan mendekat ke arah istrinya untuk dia pakaikan seatbelt, Anjani yang menatap Arkan dari jarak dekat seperti ini jadi tersenyum juga. Rasanya ya tenang saja melihat Arkan begini. Dengan lembut Arkan mencium bibir Anjani. "Vitamin."


Anjani terkekeh dan mengusap pipi Arkan dengan lembut. "Terima kasih Mas jelek!"


Arkan mengangguk saja, setelah itu dia me memakai seatbelt-nya kembali dan melajukan mobilnya. Anjani menatap ke arah Arkan. "Mas kamu tau gak aku tadi berantem sama senior.


Nahkan, apalagi ini. Padahal baru hari pertama tapi sudah ada laporan begini. Tapi Arkan tidak mau langsung menilai kelakuan istrinya. "Kenapa berantem?"


"Masa dia hukum aku keliling lapangan 10 kali dan kamu tau itu lapangan sebesar stadion. Padahal aku ga ngelakuin apa-apa?"


"Kok bisa?"


"Gak tau, mana habis itu banyak senior belain dia dan anggap aku mahasiswa pembangkang. Terus kamu tau tadi ada senior cowok tinggi besar gitu ngambil nametag aku gak sopan, ditarik gitu. Terus dia mau nampar aku."


"Jadi kamu ditampar?" Tanya Arkan. Dia kaget sih, memang siapa yang bisa terima kalau istrinya dilukai seseorang. Arkan tidak akan membiarkan itu pastinya.


"Engga, untung Kak Saka dateng. Dia nolongin aku jadi gak jadi ditampar," ucap Anjani santai."


"Saka?"


"Iya Kak Saka itu Presma Kampus aku, terus mereka dimarahin. Aku gak peduli sih, salah sendiri mereka cari gara-gara sama aku."


"Harusnya tadi kamu telfon saya, biar saya beri pelajaran."


"Masih aman kok, Mas. Kalau engga aku pasti bilang kamu lah. Emang mereka siapa. Emang Kak Saka itu baik banget sih. Temenku aja suka sama dia, katanya ganteng."


Arkan nampak menghela napasnya, memang Anjani mencari penyakit. Sudah tau Arkan sensitif kalau masalah pria lain, dia malah dengan lugas menceritakan tentang Presma kampusnya.

__ADS_1


"Saya dulu juga presma kampus," ucap Arkan.


"Kan udah tau, aku juga udah liat photo kamu waktu masih kuliah."


"Lebih tampan mana?" Tanya Arkan.


Anjani melirik ke arah suaminya yang wajahnya nampak dingin. Perlahan dia mengangguk-anggukkan kepalanya paham. "Emmm siapa ya?"


Arkan menghentikan mobilnya karena memang lampu merah juga, setelah itu menatap istri kecilnya yang nampak sedang berpikir. "Sungguh kamu sampai harus berpikir untuk mengetahui siapa yang paling tampan, Anjani?"


"Ya kan aku harus bandingin dulu biar tau jawabannya!" Balas Anjani.


Arka kembali menghela napasnya, bisa-bisanya dia dibandingkan dengan bocah ingusan. Ini nih yang membuat Arkan ingin menjadi dosen seketika di kampus Anjani.


Anjani tertawa melihat itu. "Kenapa sih, Mas?"


"Tidak."


Anjani mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Arkan dengan lembut. "Sayang."


Arkan masih tidak bergeming, sudah dipastikan kalau dia sedang cemburu sekarang. "Bercanda ya Allah. Lebih ganteng kamu kemana-mana. Aku gak tertarik juga sama dia. Biasa aja. Buat apa tertarik, orang yang lebih menarik ada di samping aku."


"Arghht Anjani, mau saya hukum kamu?!"


Anjani malah tertawa seolah tak mengindahkan perkataan suaminya. Ya lucu saja kalau Arkan sedang mode cemburu seperti ini, padahal Anjani di kampus sudah membatin karena tidak ada yang bisa mengalahkan suaminya ternyata.


.


.


.


Anjani ter dan Arkan sedang makan malam sekarang, kali ini mereka hanya makan malam berdua, karena seperti biasa Hera dan Abdi ya begitu, nomaden. Itu kenapa rasanya Arkan tidak perlu pindah rumah, karena memang di sini jarang ada orang.


Anjani juga tidak merasa keberatan, dia senang tinggal di mana saja. Karena memang Anjani orangnya mudah dan tidak menuntut banyak hal. Selagi kebutuhannya terpenuhi, dia masih bisa main, itu sudah cukup untuk Anjani.


"Tadi di kantor banyak kerjaan, Mas?" tanya Anjani.

__ADS_1


"Lumayan. Tapi tidak terlalu banyak, standar lah," jawab Arkan.


Ya semenjak mereka bulan madu itu Anjani mulai membiasakan berkomunikasi seperti ini. Karena memang mereka tidak boleh sampai Miss komunikasi nantinya. Tentu mereka harus selalu kompak.


"Kalau banyak kerjaannya, aku bawa mobil aja ya, Mas. Kasian kamu harus ninggalin kerjaan gitu," ucap Anjani.


Tentu ini kesempatan juga untuknya agar diperbolehkan untuk membawa mobil oleh Arkan. Arkan yang paham akan itu pun menggelengkan kepalanya. "Pekerjaan saya bisa ditunda atau diselesaikan di rumah. Kamu lebih utama.


Memang manis sih, tapi kenapa ya Arkan tidak mau mengizinkannya membawa mobil. Padahal dirinya ini sudah dewasa. Sudah bisa mendapat SIM malah sejak dulu. Hanya perlu di latih saja.


"Sudah, kamu sama saya saja. Untuk apa kamu punya suami kalau kemana-mana pergi sendiri."


Anjani memajukan bibirnya, gagal deh dia membujuk Arkan agar bisa membawa mobil sendiri. Huft susah memang punya suami seperti Arkan Altair ya g over protektif.


"Besok masih ospek?"


Anjani mengangguk. "Males sebenernya, kalau gak inget kewajiban aku mending bolos aja. Gak berguna juga ospeknya. Mending langsung belajar aja."


"Tidak boleh begitu dong, Sayang. Ospek itu juga ada materinya. Materi tentang kehidupan kampus yang harus kamu pelajari dan panduan selama kamu di lingkungan kampus. Harus semangat, istri saya kan pintar," ucap Arkan menyemangati.


"Kamu tau gak sih, Mas ospek sekarang tuh gila-gilaan, kayanya kalau gak ada perpeloncoan tuh gak afdol. Aku udah males kalau berhadapan sama yang kaya begituan. Apalagi masalah tadi, gak sopan banget. Mereka gak tau aja kalau suami aku itu kamu. Arkan Giovano Altair!"


"Oh kamu istri saya rupanya?" Goda Arkan.


"Ishh males ah, Mas! Ya maksud aku pokoknya ospek zaman sekarang tuh gak ada gunanya. Lebih bagus ospek zaman dulu! Lebih bermanfaat!"


"Sama saja sih, hanya saja sekarang kalau tampan, mereka pasti aman," jawab Arkan seraya menyuapkan makanan pada mulutnya.


Karena memang begitu, perpeloncoan itu memang selalu ada. Bahkan saat dirinya menjabat sebagai Presma pun begitu dan lebih parah sepetinya karena harus memakai baju ala-ala anak ospek. Bedanya sekarang lebih rasis dalam gender. Biasanya kaum Adam yang mendapat privilage begitu.


"Bener banget! Bagas sama Azzam aja aman tadi, padahal mereka telat! Coba kalau aku yang telat, udah disuruh manjat pohon duren kali. Kecentilan banget senior ceweknya," kesal Anjani.


Arkan menaruh sendok dan garpunya lalu menatap ke arah Anjani. Barusan dia bilang apa? "Jadi Bagas tampan?"


Anjani yang menyadari kesalahannya langsung mengumpat dalam hatinya. Kenapa juga dia harus bicara seperti itu sih, sudah tau suaminya ini benar-benar sensi kalau urusan beginian. Apalagi ini Bagas, mantannya. Sudah pasti Arkan semakin sensi.


"Ya– mereka ganteng, kan? Makanya aman?" Anjani berusaha bermain aman.

__ADS_1


Arkan masih terdiam menatap Anjani. Sementara Anjani hanya cengengesan dan langsung menghipit pipi suaminya dengan kedua telapak tangan. "Tapi lebih ganteng suami Anjani. Buktinya aku lebih milih Mas kan daripada Bagas?"


__ADS_2