
Hari ini Anjani senang sekali karena bisa bermain di pantai hampir seharian, Arkan juga mengajaknya makan seafood meskipun Anjani hanya bisa memakan ikannya saja karena dia alergi seafood. Belum lagi Arkan mengajaknya menelusuri hutan rimbun.
Pengalaman seru untuk Anjani, apalagi Arkan memang jiwanya petualang, dia senang menjelajah dan bertemu dengan Anjani yang memang suka menjelajah tapi terbatas pergerakan orang tua.
Malam ini rencananya mereka akan movie date, sebenarnya ya menonton biasa saja, tapi agar lebih keren sedikit lah karena mereka sedang ada di luar rumah dan dalam suasana berlibur.
Anjani menarik selimut sebatas kakinya dan menyenderkan tubuhnya di headboard sambil memeluk bantal. Begitu juga dengan Arkan yang kini naik dan menyusul Anjani untuk selimutan.
Anjani memilih beberapa film yang menurutnya menarik menggunakan remote, namun sangat lama. Karena gemas akhirnya Arkan mengambil alih remote dan memutar asal film yang ada.
"Masss!! Itu film apa coba?!" Kesal Anjani.
"Tidak tau, ya kita putar saja. Kalau kamu yang pilih mungkin saya bisa ketiduran," ucap Arkan.
Anjani memajukan bibirnya, ya memang lama sih tapi kan Anjani ingin menonton film terbaik. "Awas aja kalau filmnya gak rame atau bunuh-bunuhan."
Arkan hanya menganggukkan kepalanya lalu menyenderkan kepala Anjani ke dada bidangnya. Mereka nampak serius menonton tv sembari memakan beberapa snack yang sudah mereka siapkan tadi.
Film romantis, ditambah lampu yang di matikan membuat suasana magis di sini begitu kental. Sesekali Arkan menggenggam tangan Anjani lalu menciuminya, membuat Anjani selalu tersenyum ketika Arkan melakukan itu.
Suara tangisan terdengar membuat Arkan kini melirik istrinya yang sedang sibuk dengan sapu tangannya. "Kenapa menangis?"
"Kasian itu ceweknya gak direstui sama ibunya si cowok, masa baru nikah udah dijulidin kaya gitu, mana dinikahin cuma buat balas dendam. Untung kamu sama Mama Hera gak kaya gitu ke aku." Anjani menangis sampai sesenggukan, membuat Arkan menahan tawanya.
"Jadi kamu sedih karena filmnya?" Tanya Arkan.
__ADS_1
Anjani mengangguk, belum lagi film ini juga protagonisnya disiksa habis-habisan. Padahal awal mulanya film ini sangat romantis karena perjuangan pria antagonisnya mendekati wanita yang akan dia jadikan ajang balas dendam.
Anjani jadi memposisikan dirinya di film itu, sampai-sampai pipu dan hidungnya memerah karena kulitnya yang memang putih akibat menangis.
Arkan memeluk sang istri lalu menenangkannya dengan mengusap punggung Anjani dengan sayang. Ada-ada saja memang Anjani sampai harus menangisi cerita fiksi. "Mereka aslinya tidak apa-apa kok, hanya sebuah film."
Anjani mendengus kesal ya tentu tidak apa-apa orang hanya film. "Ya iyalah orang film doang mana ada mereka kenapa-kenapa, kamu mah aneh!"
Arkan terkekeh dan mengecup bibir Anjani sekilas. "Itu kamu tau kalau itu hanya film, sudah jangan dipikirkan lagi dan fokus menonton."
Mereka kembali fokus menonton, sampai-sampai mereka berubah-ubah posisi. Kini mereka sama-sama bersandar pada headboard dan tiba-tiba muncul adegan dewasa yang membuat Anjani membulatkan matanya. "MASSS!!"
Ya memang sudah boleh melihat sih, tapi kini Anjani dan Arkan sama-sama panik mencari remote. Bisa-bisanya di saat seperti ini dia menghilang. Akhirnya mau tidak mau mereka menontonnya sampai habis karena memang sudah tamat karena itu adegan endingnya.
Suasana mendadak hening, mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali mereka saling melirik satu sama lain. Ahh adegan itu masih terbayang-bayang di kepala mereka, mana sangat jelas dan detail. Sialnya suara-suara sialan itu menggema di kepala Anjani. Sampai-sampai membuat Anjani frustrasi.
Arkan masih menetralkan deru napasnya, ya Arkan mana tau ada adegan seperti itu. "Saya kan asal putar, saya tidak tau kalau ada adegan begitu."
"Ya makanya lain kali kalau pilih film itu yang sabaran sedikit, aahhh mata aku ternodai!!!" Kata Anjani setengah berteriak.
Kalau Anjani frustrasi gara-gara matanya ternodai berbeda dengan Arkan. Dialah yang tersiksa di sini sebenarnya. Berada di ruangan dengan pencahayaan mengandalkan tv, berduaan dengan Anjani, menonton film dewasa dan lagi dia pria dewasa. Coba bayangkan saja bagaimana rasanya menjadi Arkan?
Anjani melirik ke arah Arkan yang nampak terdiam, wajahnya memang cool tapi tetap saja Arkan yang mendadak diam begitu membuat Anjani keheranan. Apa dia syok ya? "Mas kamu kenapa?"
Arkan tidak menjawab, dia malah berusaha menelan air liurnya dengan susah payah. Melihat itu Anjani malah mendekat, memang tidak tau bahaya Anjani ini. Anjani malah menempelkan telapak tangannya di kening Arkan. "Gak panas, kamu kenapa?"
Tentu saja merasakan sentuhan Anjani membuat Arkan merapalkan banyak umpatan untuk dirinya sendiri di dalam hati. Anjani sedikit geram karena Arkan hanya menatapnya, kenapa juga tidak mau menjawab. Dia gemas sendiri. "Kamu kenapa ihhhh?!!"
__ADS_1
Arkan tidak kuat, langsung saja dia menarik Anjani ke dalam pelukan dan meraup bibir mungil kesukaannya. Anjani yang awalnya kaget berusaha berontak tapi karena permainan dominan dari Arkan membuat Anjani akhirnya menikmati ciuman mereka.
Bibir mereka bertemu dan saling mengecap satu sama lain, yang semula ciuman itu hanya ciuman biasa, kini menjadi ciuman yang panas. Tangan Arkan tidak tinggal diam, tangannya menelusup ke dalam piyama Anjani dan menjamah punggung Anjani dengan sensual.
Anjani sedikit mengigit bibir Arkan karena merasakan sentuhan Arkan di kulitnya, entahlah ada perasaan baru yang dia rasakan pertama kali dan susah di jabarnya.
Merasakan itu Arkan malah semakin terpacu dan mengukung Anjani di bawah tubuhnya. Dia kembali meraup bibir itu lebih rakus, apalagi menatap wajah Anjani yang menikmati sentuhan tangan Arkan di perutnya. Ciumannya kini turun ke telinga dan sedikit mengembuskan napasnya di sana dan perlahan turun ke leher jenjang milik Anjani.
Pikiran Anjani berkecamuk, dia tidak bisa tapi respond tubuhnya lain, dia malah memeluk tubuh Arkan dan membiarkannya bebas menjelajahi leher jenjangnya. "Ahhh, M-mmasss. Emmmhh ... Stophh."
Arkan tidak mengindahkan perkataan Anjani dia kini malah menjilat, memberikan sedikit gigitan dan juga menghisap leher Anjani dengan kuat sehingga menghasilkan lukisan indah yang Arkan buat. Dia sangat puas dengan lukisan pertamanya di sana.
Namun satu saja tidak cukup, dia kembali menelusuri leher Anjani, membuat lagi tanda yang sama untuk menandakan Anjani adalah miliknya. Tangannya perlahan naik dan mengusap gundukan indah di dada Anjani yang terasa pas di tangannya.
Anjani semangkin melenguh, bagaimana ada rasa yang seperti? Kenapa rasanya sulit dijelaskan tapi membuatnya kecanduan padahal baru pertama kali. Anjani mencoba menahan tangan Arkan namun jelas tidak bisa, bahkan tangannya malah semakin menahannya di sana. "M-masshh, kamu n-ngapainnhh."
Anjani mencoba menghirup udara, ada perasaan yang memuncak di kepalanya yang hanya bisa dia salurkan dengan meremas apa saja yang bisa dia jangkau.
Namun di detik saat tangan Arkan melepaskan kaitan bra milik Anjani, Arkan menyadarkan dirinya sendiri dan mengeluarkan tangannya dari sana. Ini sudah terlalu jauh, dia sudah pernah berjanji pada Hera dan Viona kalau tidak akan menyentuh Anjani sebelum dia lulus.
Anjani membuka matanya dengan napas yang masih terengah-engah dan menatap ke arah Arkan. Dia tidak marah, dia hanya kaget. Bagaimanapun juga ini pertama kalinya untuk Anjani.
Untuk sesaat Arkan menatap Anjani dan merapikan piyamanya yang sedikit berantakan. "Maafkan saya ya." Arkan kemudian mengecup bibir Anjani dan turun dari kasur.
Ada sesuatu yang harus dia tuntaskan tentunya dan tidak mungkin dia tuntaskan pada Anjani. Untuk beberapa menit Anjani masih menetralkan napas dan debaran jantungnya. Dia terus menatap ke kamar mandi yang airnya menyala seraya mencoba mencerna apa yang terjadi barusan. Apa tadi dia melakukan kesalahan ya? Ah dia jadi tidak enak pada Arkan.
Anjani pusing sekali, memang kepalanya sangat pusing. Seperti ada sesuatu yang belum selesai tapi apa? Dia benar-benar membutuhkan obat sakit kepala sepertinya.
__ADS_1