I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Keusilan Arkan


__ADS_3


Melihat Bagas yang pergi dengan kesal, Anjani tersenyum puas. Memang apa balasan yang tepat untuk orang seperti Bagas. Sudah menyakiti dua orang wanita dan sekarang dia ingin Anjani kembali. Tidak akan pernah!


Anjani melepaskan ciumannya dengan Arkan, ya dia melakukan itu karena merasa kesal dan ingin membuktikan kalau dia mencintai suaminya, tapi Arkan kini tidak membiarkan Anjani lepas dari rengkuhannya. "Selesaikan dulu."


"H-hah? Kan udah selesai."


"Belum tuntas, bisa-bisanya kamu mencium saya tapi hanya sebentar. Tidak bisa begitu, Anjani," protes Arkan.


"Ihhhh kan itu aku mau buktiin aja kalau aku cintanya sama kamu!" Kesal Anjani.


"Tapi karena kamu, saya ingin cium lagi!" Balas Arkan tak mau kalah.


Anjani menghela napasnya, kenapa jadi seperti ini sih? "Mass ihh ini di luar loh."


"Padahal kamu yang duluan mencium saya, memang remaja seusia kamu suka memberikan harapan lalu menjatuhkannya tiba-tiba ya?" Tanya Arkan seraya bersidekap dada melepaskan pelukannya pada Anjani.


"Gak gitu ... "


"Duduk," perintah Arkan meskipun dengan wajah yang masih ditekuk karena tidak mendapatkan jatahnya dari sang istri.


Anjani melihat itu hanya menurut saja, terkadang Arkan yang seperti ini menyebalkan. Seperti anak kecil yang tidak diberikan mainan oleh orang tuanya dan merajuk. Arkan tidak tau saja kalau dia malu sekali memulainya duluan seperti tadi di depan orang lagi.


Tanpa bicara Arkan berlutut dan membuka heels yang Anjani pakai, tidak lupa juga dia mengusapnya dengan tissue basah antiseptik agar steril. Setelah beres barulah dia mengoleskan petroleum gell pada kaki istrinya.


Anjani tersenyum melihat ini, sudah tampan, perhatian, romantis, suka ngambek, cemburuan, pokoknya lengkap sekali deh Arkan ini. Menikah dengannya seperti nano-nano.


"Mas marah ya sama aku?" Tanya Anjani sembari menusuk-nusuk pipi Arkan dengan jari telunjuknya pelan.


"Marah sekali," jawab Arkan jujur.


Anjani memajukan bibirnya, terus terang sekali suaminya ini marah karena tidak diberi ciuman. Padahal mereka bisa melakukannya di rumah, kalau di luar seperti ini kan aneh, kalau bukan karena ingin membuat Bagas berhenti dia juga pasti berpikir ulang, untungnya saja tidak ada orang di sana.

__ADS_1


"Jangan marah ihh," rayu Anjani.


"Kamu pandai merayu tapi kali ini saya tidak akan bisa dirayu, Anjani." Arkan menatap tegas ke arah istrinya.


Anjani memajukan bibirnya lagi, jadi Arkan benar-benar marah nih padanya? "Jangan marah."


Arkan seperti tidak mempedulikan perkataan Anjani. Gemas sekali Anjani pada suaminya, perkara cium saja bisa merajuk seperti ini. Kalau begini dia harus menurunkan gengsinya.


Setelah Arkan memakaikan plester Anjani kembali memakai heelsnya dan menarik tangan Arkan masuk ke dalam. Arkan mengernyitkan dahinya. Apakah gadisnya ini berbalik marah padanya?


Tapi Arkan tidak bicara apa-apa dan mengikuti Anjani sampai ke dapur rumah ini. Anjani menyenderkan dirinya di pantry, setelah itu dia berjinjit dan mengecup bibir Arkan. "Di sini aja kalau di luar aku malu."


Tentu dia akan memenuhinya tapi tidak di depan umum atau di luar seperti tadi. Daripada Arkan marah padanya. Lagi pula mereka juga sedang sering melakukannya. Arkan tersenyum lalu mengangkat tubuh istrinya dan didudukan di pantry, tangan Anjani mengalung di leher Arkan dan mencium bibir suaminya dengan lembut.


Mereka saling menyesap bibir satu sama lain, kamu Arkan menjilati permukaan bibir Anjani yang terlihat seksi di matanya malam ini. Sesekali mereka terkekeh, ya karena lucu saja mereka berciuman seperti ini seperti main kucing-kucingan karena takut ada pelayan yang tiba-tiba masuk.


Mereka memperdalam ciuman mereka dan membuat suasana menjadi panas. Arkan terus menekan tengkuk Anjani dan menjelajahi setiap rongga mulutnya. Mereka rasanya tidak peduli lagi jika ada orang yang melihatnya. Mereka sangat menikmati aktifitas mereka.


"Yaampun kalian ini," ucap Hera yang menghela napas karena melihat kelakuan anak dan menantunya.


"Kalian kalau mau begitu di kamar, nanti ada yang lihat gimana. Ayok Gas harus dicuci lukamu itu. Lagian kenapa sih tonjok kaca segala." Hera nampak menyeret keponakannya itu.


"Akhhh sakit, Tan." Bagas mengaduh, sudah panas, sakit akibat emosi dan sekarang harus melihat mereka berdua bermesraan lagi.


Apalagi Arkan dan Anjani nampak belum mau beranjak dari sana dan membiarkan Hera membersihkan kepingan kaca dan mencuci luka Bagas dengan air beserta kotak P3K yang tadi diambilnya.


Arkan tau apa yang terjadi, apalagi Bagas meliriknya dengan tajam. Membuat jiwa iseng Arkan mencuat begitu saja.


Dialihkannya wajah Anjani yang semula menatap Hera yang sedang membersihkan luka Bagas dan dikecupinya bibir Anjani berkali-kali. "Mass ada Mama ihhh."


Hera terkekeh mendengar itu. "Ya kalau ada Mama saja tidak apa-apa, lanjutkan lah."


Mendapatkan restu dari sang Mama tentu membuat Arkan senang, dia kembali mengecupi bibir Anjani dan menatapnya penuh cinta. Shitt, kenapa Bagas harus melihat pemandangan ini. Kepalanya terasa mau pecah.

__ADS_1


"Mas nanti aku mau makan cheesecake," pinta Anjani.


"Boleh, mau apalagi?" Tanya Arkan yang kembali mengecup bibir Anjani.


"Mau makan eskrim, mau makan steak yang tadi di depan," pinta Anjani yang terlihat manja sekali pada suaminya.


"Pasti Gio turuti dong, Sayang. Harus makan yang banyak, biar menantu Mama sehat," balas Hera seraya masih fokus membersihkan luka di tangan keponakannya.


"Pasti, kan istri saya ini manja. Kalau tidak diikuti dia bisa marah, Ma," kata Arkan mengadu.


Anjani memajukan bibirnya, tapi memang benar sih. Sebenarnya dia hanya suka ngambek pada Arkan karena Arkan nanti akan membujuknya dan dia suka sekali dibujuk. Bukan karena benar-benar marah.


"Bercanda, boleh. Apapun yang kamu inginkan, tapi ada syaratnya." Arkan nampak menaikan alisnya dan tersenyum jahil pada Anjani.


"Apa syaratnya?"


Arkan memajukan bibirnya pada Anjani. Membuat Anjani mengulum senyumnya, gemas sekali ternyata suaminya. Seperti bayi yang ingin dicium oleh mamanya.


Anjani mengangguk cepat, setelah itu dia menangkup pipi suaminya dan mengecupi bibir Arkan berkali-kali. "Lagi?"


"Lagi."


Anjani terkekeh lalu mengecupi bibir suaminya dengan lembut. Entah kenapa Hera senang saja melihat keduanya mesra begitu, berarti saat Lulu nanti Anjani dan Arkan bisa lah ya memberikannya cucu.


"Ayok, Mas. Aku mau makan steak sama cheesecake."


Bagas menggeram, membuat Anjani dan Arkan melirik padanya. Suka sekali Arkan melihat wajah panik dan wajah kesal Bagas. Dia sudah sangat jauh di depan kalau dikompare dengan Bagas. Anjani miliknya.


"Makanya jangan gampang tersulut emosi," peringat Arkan pada Bagas. Sialnya Bagas ingin mengumpati Arkan detik ini juga, wajahnya seperti meledeknya dan Bagas tidak suka itu.


"Ayok, Sayang kita makan steak dan cheesecake kesukaan kamu. Ma, kami kembali ke dalam ya?" Arkan menurunkan Anjani, setelah ibunya mengangguk barulah Arkan menarik tangan Anjani dan membawanya kembali ke dalam.


Arkan senyum-senyum sendiri, membuat Anjani keheranan. "Kamu dapet lotre ya, Mas? Seneng banget itu mukanya."

__ADS_1


"Dapet kamu, bahkan rasanya lebih bahagia dari mendapatkan lotre," jawab Arkan terang-terangan.


Anjani memukul lengan Arkan dan terkekeh, gombal sekali suaminya. Tapi memang benar kok apa yang dia katakan. Dia senang karena Anjani bersamanya dan bisa membuatnya merasa beruntung sebagai pemenang karena memiliki Anjani.


__ADS_2