
Setelah membiarkan Bagas mengantar Andira pulang, Arkan mengajak Anjani untuk pergi jalan-jalam di hari Minggu. Anjani menurut saja sih, karena ya bosan juga di rumah besar seperti ini dengan kegiatan yang begitu-begitu saja.
Namun dia terheran-heran saat Arkan memberhentikan mobilnya di sebuah rumah besar, untuk apa Arkan membawanya ke sini? "Mas, ini rumah siapa?"
"Oma dan Opa," jawabnya seraya membantu Anjani melepas seatbeltnya.
Mendengar itu Anjani mengangguk saja, mungkin memang Arkan merindukan Oma dan Opanya. Tidak masalah, yang terpenting sepulang dari sini Anjani akan meminta untuk dibelikan eskrim pada Arkan.
Dengan lembut Arkan menggenggam tangan Anjani untuk masuk ke rumah, memang pada dasarnya rumah ini dijaga ketat dengan 2 orang bodyguard yang sudah siap di depan pintu. Anjani bergidik ngeri, wajah mereka terlihat seram dengan tatto dan juga tubuh yang kekar. "Ini harus banget pake bodyguard, Mas?"
"Iya, karena ada orang tua di dalamnya. Saya harus memastikan mereka aman berada di rumah ini."
Anjani menghela napas dan kembali menganggukkan kepalanya, tanpa Anjani sadari kalau tujuan Arkan ke sini bukan menemui Oma dan Opanya karena mereka sedang berada di Sydney. Tapi menemui Fadlan dan Vanya, kedua orang tua Bagas.
Saat memasuki rumah besar itu Anjani takjub sih, karena memang ini adalah rumah Utama keluarga Altair, namun ya Vanya dan Fadlan menumpang di sini karena kebetulan bisnis yang sedang dijalani oleh Fadlan sedang menurun. Jadi dia terpaksa berada di rumah ini sampai bisa memulihkan perusahaannya.
"Ehh Gio, Anjani, mau ketemu Oma dan Opa? Bukannya kamu tau Gio mereka sedang berada di Sydney?" Tanya Vanya seraya menyambut mereka dengan baik.
"Gio tau, Tan. Saya ke sini memang sengaja ingin menemui Tante dan Om Fadlan," jawab Arkan dengan lugas.
"Ohhh oke baik, ayok kita bicara di ruang kerja Om," ajak Fadlan.
Anjani membulatkan matanya menatap pada Arkan, apa yang akan dilakukan oleh pria ini? Jantungnya berdebar kencang, perasaannya juga mulai tidak enak. "Mas, bukannya kitaa emmm apasih mau beli eskrim?"
"Nanti, Sayang. Biarkan saya bicara dulu dengan Om dan Tante." Arkan menepuk punyak kepala istrinya dengan lembut.
Anjani terus menahan tubuhnya karena tidak mau ikut, tapi Arkan seolah tidak mengindahkan perkataan gadis itu. Pokoknya dia harus menuntaskan semuanya hari ini juga untuk memberikan efek jera pada sepupunya.
Mereka berdua duduk di hadapan Fadlan dan Vanya. Untuk sesaat Arkan masih memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan semua ini. Karena ini pasti akan membuat mereka terkejut dan marah besar.
__ADS_1
"Jadi ada apa, Gio?" Tanya Fadlan Hestama Altair, putra kedua dari Oma dan Opanya.
"Bagas telah melukai istri saya," jawab Arkan tanpa basa-basi.
"Masss!!" Peringat Anjani.
"Diam, Anjani. Sudah saya bilang ini tanggung jawab saya."
Fadlan dan Vanya menatap mereka berdua bingung. Memang apa yang sudah dilakukan putra mereka? Padahal sejauh ini Bagas tumbuh menjadi anak yang penurut dan penuh perhatian. Sementara Anjani yang merasakan aura dingin dari suaminya hanya bisa terdiam, tidak tau juga bagaimana caranya menghentikan ini semua.
Arkan meletakan iPadnya di hadapan Fadlan dan juga Vanya. Dia sudah menumpuknya menjadi file sehingga mereka bisa menggulirnya dengan mudah. "Selama Andira koma, 2 tahun lalu Bagas menjalin hubungan dengan Anjani sampai akhirnya mereka berpisah karena Anjani harus menikah dengan saya."
"Anjani tidak mengetahui soal Andira, dia baru mengetahui saat dia di rumah sakit waktu itu. Tadi malam dia bertindak kasar pada Anjani di rumah saya sendiri, Om bisa melihat rekaman CCTV yang sudah saya ambil dan mengetahui apa yang mereka bicarakan. Pergelangan tangan Anjani juga masih memar, dia sedikit demam semalam karena itu."
Vanya sebagai ibu sangat terkejut, jadi selama ini putranya berpacaran dengan wanita lain saat Andira koma? Perlahan dia menghampiri Anjani seraya memeriksa pergelangan tangannya, benar saja ada memar di sana.
"Bagas sering melakukan dulu, bahkan dia pernah hampir membuat Anjani kehilangan nyawanya karena termakan emosi. Untuk itu saya ingin Om dan Tante bertindak tegas pada Bagas. Karena saya tidak bisa menerima ini semua."
Anjani mengangguk pelan, sebenarnya dia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Toh dia akan memulai kehidupan baru bersama Arkan, tapi sekarang Arkan suaminya, dia memang berhak untuk meminta pertanggung jawaban atas yang Anjani alami, karena dia kepala keluarga, dia yang nantinya akan memimpin rumah tangga ini.
Mungkin sudah ada 30 menit membahas ini, karena masalahnya juga cukup serius. Tak lama dari itu Bagas masuk ke ruangan orang tuanya karena sudah di perintahkan oleh bodyguard di luar.
Matanya tertuju pada Arkan dan Anjani, sungguh perasaanya sudah mulai tidak enak. Karena memang Fadlan mendidik keras anaknya, dia langsung menghampiri Bagas dan memberikan satu tamparan tepat di pipi putranya.
Anjani yang memang takut dengan adegan kekerasan langsung mencengkeram lengan Arkan, dia gemetar sekarang. Dia takut, Arkan yang merasakan ketakutan Anjani kini berdiri di hadapan gadis itu dan membiarkan Anjani memeluk tubuhnya.
"Kamu bikin papa malu, Bagas! Begini kah cara kamu memperlakukan wanita?!"
"Papa bilang apasih Bagas gak ngerti?!" Sentak lelaki itu, ya bagaimana tidak mengerti, dia datang-datang langsung ditampar tanpa basa-basi.
"Selama ini kamu menduakan Andira saat koma, lalu saat kamu dengan Anjani dengan beraninya kamu melakukan kekerasan? Papa pernah mengajarkan kamu untuk menjadi kasar?!"
__ADS_1
Bagas terdiam, dia tidak menduga saja kalau Arkan bertindak sejauh ini. Lebih tidak menduga karena Anjani mendukung dan menceritakan semuanya pada Arkan yang notabenenya baru di kehidupannya.
Arkan berdeham dan menggenggam tangan Anjani untuk berada di sampingnya. "Urusan saya sudah selesai, saya akan mengajak Anjani jalan-jalan, karena tujuan saya ke sini ingin memperingatkan sepupu saya agar tidak mengganggu istri saya lagi mulai detik ini."
"Anjani, Tante benar-benar minta maaf loh, Tante sama sekali tidak tau kelakuan Bagas di luar sana," ucap Vanya seraya mengusap kedua pipi Anjani.
Anjani mengangguk. "Gapapa kok, Tante. Anjani juga salah sebenarnya, kita sama-sama jadi yang lebih baik aja ya, Tan?" Ucap Anjani bijak.
Vanya mengangguk lalu memeluk Anjani dengan sayang, setelah itu mereka izin pamit karena memang akan pergi jalan-jalan.
Akhirnya saat sampai di mobil Anjani terus menatap Arkan dengan lekat.
"Mass ... "
"Kenapa, Sayang? Kamu butuh sesuatu?"
Anjani menggeleng, bukan itu yang dia maksud. "Sebenernya aku gak mau memperpanjang masalah ini, karena aku udah memutuskan untuk melanjutkan hidup sama kamu."
"Jadi kamu marah pada saya?" Tanya Arkan yang kini memfokuskan pandangannya pada Anjani seraya mengecupi punggung tangannya.
"Awalnya iya. Tapi aku paham kalau sebagai kepala rumah tangga kamu pasti harus punya harga diri yang bisa menjaga keluarga kita suatu saat."
"Pintar, lalu?"
"Gapapa sih aku cuma mau bilang makasih aja walaupun sebenernya aku gengsi bilangnya. Tapi ya mau gimanapun kamu udah peduli sama aku akhir-akhir ini. Jadi gak enak aja harus bersikap kaya gimana," ungkap Anjani jujur.
Arkan terkekeh, pantas saja Anjani mendadak jadi penurut. Rupanya dia bingung bersikap karena perasaan tidak enak padanya. Padahal bagaimanapun Anjani, Arkan tetap menyukai wanita itu. "Cukup jadi diri kamu sendiri, kalau Anjani banyak diam, penurut, tidak bandel dan cuek, justru saya yang akan aneh. Karena Anjani yang saya cintai galaknya melebihi macan mau lahiran."
"MASS!!! KOK MACAN!"
"Tuhkan keluar reognya, gemas." Arkan menarik lengan Anjani lalu menciumi pipinya. Dia berjanji, kalau mulai sekarang Anjani akan selalu aman berada di sampingnya.
__ADS_1