
Cukup lama Arkan berada di kamar mandi, Anjani kini menatap suaminya, memperhatikan apa yang terjadi padanya. Tapi ya percuma saja, dia tidak menampilkan ekspresi apapun, tetap datar.
Anjani terkadang tidak bisa menebak apa yang terjadi pada Arkan ya karena ini, karena Arkan pintar sekali menyembunyikannya di balik wajah tampan yang kalem seperti ini.
Perlahan Arkan menaiki kasur dan mengecup bibir Anjani. "Kenapa belum tidur hm?"
Anjani menghela napasnya dan terus menatap ke arah Arkan. Bagaimana bisa tidur coba? Pertama adegan di film itu menghantui pikirannya, kedua dia masih mencerna apa yang yang tejadi barusan, ketiga dia kepikiran dengan Arkan yang tiba-tiba seperti marah padanya. Bagaimana dia bisa tidur kalau begini?
Anjani menggelengkan kepalanya. Melihat itu Arkan mengusap puncak kepala Anjani yang berbaring di sampingnya. "Tidur sekarang, besok kita snorkeling mau?"
Mendapat tawaran itu Anjani mengangguk, ya hanya mengangguk saja. Setelah itu dia membalikan tubuhnya dan tidur memunggungi Arkan. Entahlah semuanya nampak tidak jelas di kepala Anjani.
Arkan menghela napasnya perlahan. Apa Anjani marah padanya karena melewati batas? Arkan jadi merasa semakin bersalah pada gadis kecilnya itu. Tapi sejujurnya itu di luar kendalinya. Dia benar-benar terpancing tadi.
Tapi dia tidak akan melakukan apa-apa dulu, selagi masih bahaya, Arkan membiarkan Anjani untuk mengambil waktunya dulu. Arkan tau ini membuat Anjani kaget.
Sudah 30 menit berlalu mereka saling diam, Anjani terus mengubah posisinya, entah apa yang membuatnya tidak nyaman, dia menutupi kepalanya dengan selimut, lalu membukanya lagi, terkadang tidak memakai selimut, pokoknya dia gelisah sekali.
Arkan yang melihat itu mematikan ponsel lalu berbaring dan memeluk tubuh Anjani dari belakang. "Kenapa tidak tidur?"
Merasakan pergerakan Arkan yang tiba-tiba membuat Anjani sedikit kaget. Ya memang dia tidak nyaman tidur sih, biasanya dia tidur dalam dekapan Arkan dan sekarang mereka saling diam seolah bermusuhan. Kan aneh untuk Anjani apalagi dia tidak tau kesalahannya apa sampai Arkan mendiamkannya begitu saja.
Anjani menggelengkan kepalanya, tidak tau juga harus menjawab apa. Arkan mengeratkan pelukannya dan membenarkan selimut mereka. "Kamu marah sama saya ya?"
Anjani menggeleng. "Engga, aku pikir kamu yang marah sama aku."
"Kenapa berpikir begitu?" Tanya Arkan seraya menenggelamkan wajah di leher Anjani.
"Ya karena kamu tiba-tiba pergi, tiba-tiba diem. Aku gak tau salah apa jadi aku diem," jawab Anjani dengan jujur.
Arkan menghela napas jadi mereka berdua sama-sama salah paham rupanya. "Saya tidak marah. Saya hanya takut terlalu jauh, maaf ya."
__ADS_1
Anjani tidak marah sih walaupun dia memang sedikit takut kalau sampai mereka melakukannya ini, tapi tadi kan dia juga tidak berontak, malah membiarkan Arkan. Dia jadi malu sendiri membayangkan respondnya pada Arkan.
"Mau kan memaafkan saya?" Tanya Arkan seraya mengecup pipi Anjani.
"Aku gak marah."
"Tapi kamu hanya diam, kenapa?" Tanya Arkan.
"Gak tau aja mau jawab apa, aku pusing."
"Kepalanya sakit?" Tanya Arkan lagi.
Anjani sedikit mengangguk, memang pusing sejak tadi, tapi mereka tidak membawa obat pusing. Jadinya Anjani gelisah sendiri. Arkan semakin bersalah, tentu dia paham kenapa Anjani bisa pusing dengan yang tidak dia pahami. Karena Arkan juga mengalami hal yang sama. Tapi tidak mungkin juga dia jelaskan kenapa Anjani bisa pusing.
Perlahan Arkan membalikan tubuh Anjani, satu tangan di jadikan bantalan untuk kepala istrinya dan satu lagi memijat pelipis Anjani dengan pelan. "Kamu tidur, biar saya pijat seperti ini."
Anjani menahan tangan Arkan, bukan tidak mau tapi ya merasa tidak sopan saja. Dia tertidur tapi Arkan memijitnya, kan tidak sopan sekali dia pada suaminya sendiri. "Gak usah, kita tidur sama-sama aja."
Arkan tidak mengindahkan perkataan Anjani, dia yang telah membuat Anjani sampai pusing begini, jadi dia juga yang harus bertanggung jawab. "Pejamkan mata dan turuti perkataan saya."
Anjani menatap Arkan sekilas, tapi jujur memang kepalanya pusing sekali, jadi karena Arkan sudah tukuh pada pendiriannya dia menurut saja dan menenggelamkan wajahnya di dada Arkan. Ya sekiranya ini jauh lebih baik daripada tadi.
Arkan telah selesai mandi pagi ini, tapi anehnya Anjani tidak seperti biasanya. Setelah mandi dia malah menenggelamkan dirinya di kasur, apa dia masih mengantuk karena semalam tidak bisa tidur?
Perlahan Arkan menghampiri Anjani dan duduk di tepi kasur. "Anjani, kamu masih mengantuk? Ayok kita pergi sarapan."
"Gak mauuuuuu!!!" Rengek Anjani.
Arkan mengernyitkan dahinya, kenapa gadis ini? Apa dia mendadak badmood atau sedang PMS? "Kenapa? Tidak enak badan?"
Mendengar itu Anjani membuka selimut dan mengubah posisinya menjadi duduk. "Kamu apain aku ihhh!! Liat ini banyak merah-merahnya!!" Anjani kini menunjuk ke arah lehernya.
Arkan tidak tau harus menjawab apa, ini lucu sekali. Ternyata semalam dia menciptakan banyak tanda di leher dan dada bagian atas Anjani. Ternyata dia berbakat menjadi seniman, tentu dia sangat puas melihat hasil karyanya yang terpampang Indah di leher jenjang istrinya
__ADS_1
Arkan menahan tawanya. "Memang kenapa? Bagus kan?"
"Massss!!! Bagus apanya ini aku kaya macan corak! Kamu ihhhhh!!!" Anjani memukul-mukul lengan Arkan, membuat Arkan malah tergelak karena perlakuan Anjani.
"Kenapa ketawa ihhhh ini aku gimana keluarnya, mana aku gak bawa baju yang tertutup lehernya. Masss ih tanggung jawab!!!" Rengek Anjani.
"Anak siapa sih?" Arkan menarik Anjani dan memeluk gadis itu dengan erat, dia gemas sekali dengan gadis kecilnya ini.
"Masssss!!!" Rengek Anjani. Dia benar-benar akan malu sekarang kalau keluar dengan keadaan begini.
"Kenapa, kenapa sayang?" Tanya Arkan seolah tanpa dosanya.
"Ini gimana leher aku kaya gini, kaya digigit nyamuk!"
"Digigit saya, ya sudah tidak apa-apa. Bagus kok karya saya," bela Arkan untuk dirinya sendiri.
Anjani melongo, tak habis pikir. Bagus katanya? Bagus darimana sih? Seperti orang terkena alergi kalau begini, mana sudah dihilangkan, ah Arkan ini sangat menyebalkan!
Arkan kembali tergelak melihat perubahan wajah Anjani. Dengan lembut dia mengecup bibirnya. "Jangan pikirkan kata orang, ya biarkan saja. Lagi pula itu tanda."
"Tanda apa?" Tanya Anjani tak paham.
"Ini itu namanya tanda kepemilikan, berarti kamu milik saya dan orang tidak akan berani mendekati kamu selama ada tanda ini."
"Ihhhh kamu jahat tau gak! Jahat!"
"Jahat apanya, kamu kan istri saya?!"
"Ya jahat gara-gara kamu aku jadi gak bisa keluar nikmatin pantai ini, aku mau jalan-jalan aku bosen!" Gerutu Anjani.
"Yasudah ayok, lagi pula kamu sudah cantik. Kita makan dulu." Tanpa Aba-aba, Arkan menggendong Anjani ala brydal style, setelah itu dia mengecup Anjani dan keluar dari kamar.
Anjani memukul-mukul dada Arkan, dia malu loh menjadi pusat perhatian seperti ini. Tapi Arkan malah santai saja. Dia malah terkekeh melihat Anjani yang berontak seperti ini. "Masss diliatin orang ih!!"
__ADS_1
"Oh ada orang? Saya hanya melihat istri saya saja." Arkan terkekeh, sebanyak apapun umpatan dan sebanyak apapun Anjani berusaha berontak Arkan tidak peduli.
Mereka harus makan dan Anjani harus tetap keluar kamar kalau dia masih dilema dengan tanda di lehernya. Lagi pula seorang juga sudah pasti paham dan menganggap mereka pengantin baru, jadi untuk apa Arkan harus malu. Anjani istri sahnya, kan?