I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Teman Patah Hati Anjani


__ADS_3


Arkan menatap Bagas yang nampak kacau, pandai sekali dia beradu akting di hadapan Arkan yang memang tau dengan apa yang terjadi. Bagaimana pun menurut Arkan, Bagas harus mempunyai keputusan. Kalau dia memilih Anjani ya perjuangkan, ini kan tidak? Jadi dia harus tegas di sini, karena Arkan juga ingin memperjuangkan Anjani.


Tangan Bagas terkepal, langkahnya maju satu langkah. Rasanya dia ingin memukuli Kakak Sepupunya ini. Namun Arkan maju satu langkah membisikkan sesuatu pada adik sepupunya itu.


"Kamu lepaskan dia sekarang atau saya buat dia membenci kamu sekarang juga karena menjadikannya selingan saat Andira terbaring koma?" Bisik Arkan penuh kemenangan.


Tangan Bagas yang tadinya terkepal sempurna untuk melukai wajah Arkan mendadak lemas. Memang tidak akan menang dia melawan Arkan kalau senjata yang dia gunakan Andira. Bahkan saat di ruangan guru pun dia memakai embel-embel. Belum boleh berpacaran. Itu cukup memukul mundur mentalnya.


Bahkan saat di meja makan pun Bagas tidak bisa memperjuangkan Anjani. Dia begitu mencintai Anjani tapi tidak bisa di pungkiri juga kalau perasaannya lebih condong pada Andira.


Anjani ditarik oleh Arkan untuk masuk ke mobil. Dia tau kalau Anjani kebingungan, dia juga tau Anjani bersedih karena mereka harus mengakhiri semuanya meskipun tanpa ada kata pisah. Tapi Bagas juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Arkan mengajak Anjani untuk pulang lebih dulu dengan alasan kalau besok Arkan akan mengadakan ulangan dadakan di kelas Anjani. Tapi itu benar kok, ya bertepatan lah untuk dijadikan alasan.


Sejak sampai di mobil sampai saat ini mereka di kamar Anjani tidak berhenti menangis. Ya wajar memang kalau dia kaget, wajar juga karena memang Anjani masih remaja. Perasaannya mudah larut, jadi Arkan tidak mengganggu gugat tentang hal itu.


Sebenarnya Arkan ingin memberitahukan Anjani sejak awal menikah, tapi dia merasa itu di luar haknya. Karena bagaimana pun itu adalah perbuatan Bagas, sudah seharusnya dia yang menjelaskan dan memberitahu Anjani.


Anjani membenamkan wajah di bantal dan dirinya di kasur. Arkan melihat itu hanya menghela napas. Memang dasar remaja. Arkan memilih untuk mengganti bajunya dulu, setelah itu baru dia bicara pada Anjani.

__ADS_1


Anjani merasa sesak sekali, selama 2 tahun ini dia dibohongi oleh orang yang dia cintai. Bodohnya dia tidak pernah sadar dan terbuai dengan perlakuan Bagas yang membuatnya melambung tinggi. Pantas saja sering ada moment di mana Bagas meninggalkannya saat sedang berdua dengan alasan keluarga. Ternyata dia harus berbagi juga dengan tunangannya.


Saking sesaknya Anjani sampai harus memukul dadanya sendiri beberapa kali. Saat di rumah sakit dia ingin sekali memaki-maki Bagas, menanyakan bahkan ingin sekali mengungkapkan pada Andira kalau selama dia koma Bagas bersama dirinya.


Anjani ingin marah, tapi dia juga berpikir. Apa Andira tidak lebih sakit darinya? Dia bersama dengan Bagas sejak kecil, dia juga terbaring koma selama hampir 3 tahun. Lalu Bagas selingkuh? Anjani melirik ke samping saat merasakan pergerakan di ranjang karena Arkan yang ikut berbaring di sampingnya. Mereka saling menatap. "Sudah lega?"


Anjani yang ditanya seperti itu malah semakin air matanya keluar, cengeng sekali pikirnya. Arkan mendekat lalu menghapus air mata Anjani dengan Ibu jarinya. "Sudah saya bilang, kamu tidak bisa menaruh ekspetasi kepada orang yang belum kamu tahu pasti. Akhirnya kamu juga yang jatuh karena ekspetasi."


Anjani menepis tangan Arkan, sudah sakit hati. Sekarang Arkan menceramahinya dan seolah menyalahkan dia atas rasa sakit hatinya. Arkan menghela napas, dia menatap Anjani dengan lamat. "Kemari, menghadap ke saya."


Anjani menolak, namun Arkan mecoba memaksanya. Dengan terpaksa dia membuat tubuhnya menyamping dan berhadapan dengan Arkan. "Kenapa ih, Mas aku tuh lagi galau. Kamu-"


Dengan perlahan Arkan membawa Anjani ke dalam dekapannya, mengusap punggung Anjani lembut dan membuatnya nyaman. Anjani tidak kuat, memang sejak tadi dia memerlukan pelukan seseorang, dia butuh dipeluk. Karena Arkan sudah memeluknya, Anjani membenamkan wajahnya di dada bidang milik Arkan dan menangis sejadinya.


Arkan menatap Anjani dengan wajah tenangnya dan menghapus air mata yang sedari tadi membasahi pipi Anjani. "Kenapa kamu tanya saya?"


"Karena kamu sepupunya, kamu pasti banyak tau soal dia. Kenapa juga kamu gak kasih tau aku soal ini di awal. Kamu cuma bilang dia gak boleh pacaran, orang tuanya gak akan merestui, kenapa kamu gak bilang soal Andira? Kamu juga bantuin dia-"


"Saya tidak mau menyakiti kamu. Kalau kamu tau dari saya itu akan semakin sakit rasanya daripada ini. Memang seharusnya Bagas juga yang lebih berhak menjelaskan."


"Tapi kaya gini juga sakit. Sakit banget kalau kamu mau tau. Orang yang kamu cintai ternyata cuma jadiin kamu opsi kedua dan bodohnya kamu gak tau kalau kamu jadi selingkuhan. Lebih parahnya lagi sekarang kamu dipaksa dekat sama tunangannya."

__ADS_1


"Tau, saya tau."


Arkan merapikan helaian rambut Anjani yang menghalangi jarak pandangnya dengan mata Anjani. "Saya tau kamu terluka itu kenapa saya datang ke sana. Karena yang saya pikirkan adalah perasaan kamu."


"Wajar kamu kecewa, wajar kamu menangis. Tapi saya tanya, gunanya juga apa untuk ditangisi? Hubungan kalian sudah berakhir, kamu sudah menikah dengan saya. Lalu?"


"Tapi belum selesai, bagaimana pun aku sama dia pernah menjalin hubungan. Bahkan aku pikir dia mencintai aku sampai sekarang, sama seperti yang aku rasakan. Tapi nyatanya? Ini harus diperjelas."


"Dia pasti jelaskan, dia masih kaget dan bingung bagaimana menjelaskannya. Sekarang saya tanya, kamu mau apa? Mau kembali padanya? Mau memintanya kembali? Masih mau bertahan dengan perasaan kamu?" Tanya Arkan. Memang agak menyakitkan sih untuknya, tapi pembicaraan seperti ini memang penting.


"Aku gak mau bertahan sama perasaan ini kok, aku cuma butuh penjelasan. Karena bagaimana pun kita bersama cukup lama. Itu aja."


"Ya sudah kalau begitu, beri jeda untuk diri kamu. Untuk Bagas juga. Saya tau dia bajingan, tapi saya akan pastikan dia memberikan penjelasan kalau kamu memang ingin. Tapi dengan satu syarat."


"Apa?" Tanya Anjani.


"Setelahnya kamu lupakan dia, lanjutkan hidup kamu. Jangan mengemis apapun dari pria yang tidak punya tanggung jawab."


Anjani tertegun sih mendengarnya, tapi semua yang Arkan katakan memang benar. Mereka sudah berakhir, untuk apalagi dia menangisi pria yang tidak mencintainya sepenuh hati. Perlahan Anjani mengangguk, dia juga tidak bodoh kok meskipun tidak bisa dipungkiri kalau dia hancur. Makanya dia memilih untuk menangis lagi di dalam pelukan Arkan.


"Mas, aku bodoh ya?" Tanya Anjani lirih.

__ADS_1


"Tidak, hanya remaja seusia kamu pikirannya masih didominasi perasaan. Mulai sekarang jangan berekspetasi lebih kepada siapapun. Termasuk saya, kalau kamu mencintai seseorang sewajarnya. Kalau orang itu mencintai kamu, dia tidak akan membiarkan kamu bingung. Dia akan memberikan dunianya pada kamu tanpa diminta," ucap Arkan seraya mengecup puncak kepala Anjani.


Arkan akan tetap memeluk Anjani seperti ini sampai gadis itu benar-benar lega. Ini nih yang dia takutkan selama ini, karena memang lambat laun Anjani akan tau juga soal keberadaan Andira dan posisinya dalam kehidupan Bagas. Tapi ya semoga saja ini juga awal yang baik untuk hubungannya bersama Anjani. Katakan Arkan egois karena memikirkan itu di saat Anjani tengah hancur begini. Tapi dia berjanji kalau akan membahagiakan Anjani setelah ini.


__ADS_2