I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Di Sekolah Tanpa Arkan


__ADS_3


"Selamat pagi Non Anjani." Pak Ganjar menyapa ramah saat Anjani turun dari teras utama dan berjalan ke arahnya. Seperti biasa Pak Ganjar membukakan pintu penumpang dan siap mengantarkan Anjani ke sekolah.


Namun tidak selang beberapa lama Arkan menyusul dari belakang dan merangkul pinggang Anjani. Bikin kaget saja kan, padahal biasanya Arkan tidak seperti ini. "Tolong antarkan istri kecil saya ke sekolah ya, Pak. Pastikan dia langsung memasuki gerbang agar tidak kabur kemana-mana. Karena hari ini upacara."


Anjani memajukan bibirnya dan menatap Arkan kesal. "Memangnya aku sekecil itu apa harus dititip-titip gitu sama Pak Ganjar?"


"Sudah saya bilang kamu memang kecil, sudah sana masuk. Nanti kamu terlambat ke sekolah," ucap Arkan seraya mengulurkan tangan kanannya pada Anjani.


Sekarang Anjani mulai paham sih, jadi dia menyalami Arkan. Lumayan kan pagi-pagi dapat pahala. "Katanya kalau salam sama suami dapat pahala, oke no problem."


Arkan mengangguk-nganggukan kepalanya seraya terkekeh karena kelakuan istrinya. Lalu setelah itu dia mengecup bibir Anjani dengan lembut. "Katanya, memberi kecupan pada istri saat pagi-pagi juga dapat pahala. Jadi saya juga dapat."


Anjani menahan napasnya, masalahnya ini di depan Pak Ganjar loh? Kan dia malu, apalagi Pak Ganjar langsung senyam-senyum sendiri saat melihat kemesraan majikannya. Sungguh mendamaikan perasaan.


"Mass!!!"


"Harus adil, kalau kamu mendapat pahala, saya juga. Sudah sana masuk, nanti kamu pulang dengan saya."


Mendengar itu Anjani menghela napas, dasar om-om licik. Selalu saja mengambil kesempatan darinya. Namun Anjani menurut kok, dia juga langsung memasuki mobil dan melambaikan tangan pada Arkan. Setelah Arkan membalasnya, Pak Ganjar mulai melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan Anjani terlihat tersenyum, ya bagaimana tidak? Sejak kemarin Arkan memperlakukannya dengan sangat romantis. Mereka jalan-jalan makan eskrim, pulang ke rumah dipeluk sambil menonton, belum lagi saat tidur Arkan memeluknya sampai pagi. Dan lagi pagi ini Arkan mengecupnya di depan orang. Siapa coba remaja yang tidak baper saat diperlakukan seperti itu?


"Non Anjani sepertinya sudah bisa menerima Den Arkan toh?" Tanya Pak Ganjar seraya terkekeh.


"Emang keliatan beda ya, Pak?" Tanya Anjani.

__ADS_1


"Beda, Non. Wajahnya tidak murung seperti biasanya," jawab Pak Ganjar jujur.


Anjani hanya tersenyum, mungkin lebih tepatnya dia sedang di masa transisi kali ya untuk menerima Arkan sehingga ya tanpa sadar dia jadi terlihat begitu ceria. Apalagi Arkan memang manis.


"Den Arkan itu sangat mencintai Non Anjani loh, bapak yang sejak kecil mengantar Den Arkan kalau mau mengikuti Non Anjani sebelum berangkat ke sekolah dari TK sampai SMA."


"Iyakah, Pak?" Tanya Anjani.


"Iya benar, Den Arkan melakukannya untuk memastikan Non Anjani selamat sampai sekolah."


Tuhkan Anjani jadi baper lagi. Kenapa sih Arkan Altair itu sangat meresahkan, tidak bisa! Dia jadi tidak karuan begini, rasanya ingin menarik pipi Arkan sekarang juga saking gemasnya.


.


.


.


Dellla melirik ke arah Anjani, yang nampak tidak bersemangat itu. "Kamu kenapa sih, Jan?"


"Gak kenapa-kenapa."


Mendengar itu Della hanya menghela napas, kalau begitu memang Anjani belum siap cerita. Jadi lebih baik dia diam dulu sampai Anjani sudah mau cerita. Tapi dia nampak penasaran saja dengan memar yang ada di pergelangan Anjani. Takut saja kalau ternyata Arkan melakukan kekerasan pada temannya itu.


Jam istirahat sudah berbunyi, tadinya Anjani tidak berniat kemana-mana. Tapi aneh saja semua orang yang masuk nampak terlihat sinis dan berbisik-bisik kecil. Kan aneh, padahal Anjani tidak melakukan apapun. Tidak lama setelahnya Nanda dan Della menarik tangan Anjani untuk ikut bersama mereka. "ANJANI GAWAT!"


"H-hah? Kenapa?" Tanya Anjani seraya menahan tubuhnya.

__ADS_1


"Ikut dulu!" Ucap Nanda dengan nada panik.


Memang ada apa sih? Perasaan hari ini Anjani merasa tidak membuat onar. Tapi kenapa sepanjang jalan sepertinya mereka nampak membicarakan hal buruk tentang Anjani. Langkahnya terhenti di depan mading, terlihat ada photo kebersamaannya dengan Arkan saat di bioskop. Sepertinya memang diambil secara diam-diam. Arkan memang tidak terlihat seperti dirinya karena pakaian dan juga masker tapi Anjani terlihat jelas. Belum lagi dengan judulnya yang membuat Anjani sedikit mengepalkan tangannya : Alasan Putusnya Couple Goals Sekolah Karena Anjani selingkuh!"


"Ini Pak Arkan, kan?" Tanya Della setengah berbisik.


Anjani mengangguk pelan napasnya memburu karena emosi, namun seketika dia menyadarkan dirinya sendiri untuk tetap sabar. Tidak boleh dia termakan berita tidak penting ini. "Apasih, gak jelas banget anak-anak mading. Bukannya mengedukasi malah bikin berita macem-macem."


"Sabar, Jan. Tapi kalau udah gini labrak lah!! Yakali diem-diem bae," kata Nanda mengompori, ya dia juga kesal lah temannya diperlakukan seperti itu.


Namun Anjani menggeleng. Tidak, sekarang bukan waktunya untuk membuat onar. Karena di ujung sana dia melihat Bagas yang nampak menatap ke arahnya. Setelah mengetahui ini dia masih diam? Memang pengecut, padahal di sini Bagas pelaku utamanya. Tapi tidak apa-apa, buat apa juga meladeni berita tidak penting, lebih baik Anjani pergi ke kantin untuk mengisi perutnya. "Aku mau ke kantin aja, lapar."


Dengan cepat Anjani melewati Bagas dan berbelok ke kantin, tidak lupa juga disusul oleh Della dan juga Nanda. Bagas menelan ludahnya kasar, semenjak kejadian kemarin dia tidak berani melakukan apapun, pasalnya kedua orang tuanya akan bertindak langsung pada Andira jika Bagas kembali mengganggu Anjani. Tapi untuk mengakui kalau di hubungan ini dia yang salah dan mengklarifikasi semuanya juga dia tidak bisa, nyalinya terlalu kecil. Apalagi citranya di sekolah memang bagus.


Saat memasuki kantin, semua orang menatap ke arah Anjani, namun karena Anjani memang memiliki sifat tengil dia seolah tidak peduli dan menaikan dagunya. Dia harus tetap terlihat biasa saja meskipun dia kesal, toh dia memang tidak salah.


Seperti biasa sebagai bentuk pelampiasan Anjani memesan beberapa makanan, dari mulai bakso, mie ayam dan juga batagor, tidak lupa juga dengan milkshake coklat kesukaannya.


"Kamu gak pernah berubah ya, gimana kalau Big Boss liat kamu yang kaya gini?" Tanya Nanda yang memang tidak pernah menyangka saja kalau gadis mungil seperti Anjani bisa menampung makanan yang sangat banyak.


Mereka juga memang sengaja menyamarkan nama Arkan, karena memang harus dirahasiakan. Selain itu penggemar Arkan juga banyak. Mereka sampai membuat komunitas dan grup untuk membahas semua yang berkaitan dengan Arkan yang diberi nama. P3K : Para Pecinta Pak Arkan. Ada-ada saja memang, tapi Anjani tidak masuk ke sana. Buat apa juga? Dia malah menjadi istri Arkan tanpa jalur ngefans.


"Gak, big boss pernah tau aku kalau kesel kaya gini dan katanya gapapa," jawab Anjani santai.


"Gila big boss kayanya sayang banget sama kamu, Jan," ungkap Nanda.


"Tapi Big bos baik kan?" Kok tangan kamu kaya memar gitu, gak di KDRT?" Tanya Della setengah berbisik.

__ADS_1


Anjani menggeleng, dia tidak bisa menceritakannya pada mereka memang. Tapi dia juga tidak mau kalau sampai mereka berpikir buruk, akhirnya dia bilang saja kalau itu di cengkeram Elang karena kemarin mereka ke kebun binatang. Jadi Nanda dan Della bisa tenang karena penjelasan Anjani.


Hai-hai aku udah update 3 bab ya, kita ketemu besok lagi! Karena aku juga harus menyelesaikan novel-novel sebelah. Kalau mau baca, melipir cuss!! See u guys~ 🤗❤️


__ADS_2