
Dengan berbagai macam pertimbangan, Arkan memutuskan untuk mereka tetap di sini sampai suasana kondusif. Sebenarnya Anjani inginnya pulang, tapi dia harus mengajarkan pada istrinya perihal memaafkan.
Anjani sebenarnya bisa, hanya saja butuh proses dan proses itu akan berjalan ketika mereka hidup dalam satu lingkup yang sama. Jadi solusinya adalah tetap di sini, kan?
Sesampainya di kamar Anjani duduk di tepi kasur, membuat Arkan menghela napasnya. "Marah sama saya?"
"Iya."
Marahnya Anjani bukan karena membawa Seana sebenarnya, tapi Arkan menahannya untuk emosi tadi. Padahal menahan emosi membuatnya pening. Tadi kalau bisa dia akan seperti biasa, menjambak rambut Seana sampai mereka saling menjambak. Tapi Arkan menahannya. Menyebalkan, bukan?
Arkan mendekat ke arah Anjani dan berjongkok di hadapan gadis itu seraya mengecupi kedua punggung tangan Anjani. "Ada beberapa hal yang memang harus diselesaikan tanpa melibatkan emosi."
"Aku awalnya gak emosi banget, tapi Seana kaya gitu ke aku. Kamu liat kan seberapa jahatnya dia sama aku, dia tuh jahat!" Anjani berusaha membela dirinya di hadapan suaminya itu.
"Iya jahat, tapi sebenarnya kalian berdua saling menyayangi. Saya bisa liat itu."
"Aku gak sayang dia!" Kesal Anjani.
"Kalau tidak sayang, kamu tidak akan kesal saat Kak Seana pura-pura tidak kenal," balas Arkan.
"Aisshh, itu aku kesel tau gak, Mas! Kesel banget sama manusia satu itu. Bisa-bisanya juga dia bawa ponakan aku tinggal di sana. Kenapa gak balik aja sih, gengsian!"
Arkan mengangguk-nganggukan kepalanya sembari mengulum senyumnya. "Itu namanya keturunan, genetika. Memang kamu tidak ya?"
Anjani tergagu, ya memang benar sih dia juga gengsian. Tapi kan dia tidak seperti Seana. Tidak kabur dan malu kembali. Dia dan Seana berbeda pokoknya! "Beda!"
"Kamu berbeda karena kamu dan dia nasibnya juga berbeda, Sayang. Coba bayangkan di posisi Seana saat itu. Hamil di luar nikah, takut sama papa dan akhirnya kabur, setelah itu pria yang menghamilinya kabur, orang tua kamu pasti sangat marah dan dia memutuskan untuk bersikap baik-baik saja padahal tidak, kan?"
"Hamil di tempat seperti itu, tidak ada keluarga yang tau, melahirkan bisa jadi di sana juga. Tidak ada suami yang mendampinginya. Kamu tau ibu hamil itu saat hamil dan sesudah melahirkan bisa terkena sydrome baby blues?"
Anjani terdiam mendengar penjelasan Arkan. Ya kalau dipikir-pikir lagi benar juga. Sementara Anjani menikahnya dengan Arkan, sudah tampan, kaya raya, hidupnya berkecukupan, Arkan juga perhatian. Tentu dia tidak merasakan seperti Seana.
__ADS_1
"Memaafkan itu tidak mudah, itu kenapa kita ada di sini untuk lewati prosesnya sama-sama, Sayang. Kamu, Papa, Mama, Kak Seana kalian perlu waktu bersama. Ya karena saya tidak bisa jauh dari kamu jadi saya ikut," ucap Arkan setengah bercanda. Membuat Anjani malah salah tingkah kan, padahal dia sedang merenung barusan. Memang meresahkan!
"Yaudah tapi jangan paksa aku buat maafin atau bicara sama Seana sekarang," ucap Anjani.
Arkan mengangguk dan mencium pipi istrinya dengan lembut. Melihat Anjani sudah mau mencoba saja Arkan senang, jadi tentu dia tidak akan memaksakan apapun di luar kenyamanan Anjani. Tugasnya kan hanya menjadi media keluarga ini, karena sekarang ini adalah keluarganya juga. Keluarga yang sempat berantakan ini tentunya harus kembali seperti semula.
.
.
.
Makan malam tiba, seperti biasa Arkan itu suka usil pada Anjani. Hingga saat akan makan malam mereka malah kejar-kejaran seperti anak kecil sampai turun ke bawah.
Seketika tawa mereka mereda saat menyadari sudah ada Mario, Viona, Seana dan juga si kecil Beryl. Meskipun ya memang Seana diam karena masih belum berbaikan dengan Ayah dan juga adiknya. Mario menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang begini ya mereka kalau di rumah? Gemas sekali seperti kakak beradik.
Bahkan Mario masih tidak menyangka kalau putri bungsunya ini sudah menikah. Dia masih merasa kalau Anjani adalah putri kecilnya yang masih harus dia tuntun kemana-mana.
"Kalian begini kalau di rumah Mama Hera sama Papa abdi?" Tanya Viona.
"Mas Arkan tuh suka usil, suka gelitikin aku!" Adu Anjani.
"Salah sendiri anak Papa dan Mama menggemaskan," jawab Arkan simpel.
Mario yang sedang minum sampai tersedak. Astaga, bagaimana anaknya tidak cepat jatuh cinta pada Arkan, Arkan ini memang pandai merayu wanita – Ralat lebih tepatnya pintar dalam memperlakukan wanita.
"Ishh!!" Anjani tersenyum malu, bisa-bisanya loh Arkan bilang begitu di hadapan orang tuanya sendiri.
Lagi-lagi Seana hanya menelan air liurnya. Memang sejak dulu dia selalu merasa iri kenapa Anjani selalu mendapatkan kehidupan lebih baik darinya. Tapi dia sekarang sadar kalau masalahnya ada pada diri dia sendiri.
Mario dan Viona sebenarnya orang tuang yang baik, tapi dia memang selalu berusaha menarik diri dari keluarganya dan menganggap dunia luar lebih menyenangkan. Sampai saat dia merasa dilukai dunia, dia sadar kalau keluarga itu adalah hal yang tak ternilai harganya.
"Seana mau makan apa?" Tanya Viona.
__ADS_1
"Seana bisa ambil sendiri. Mau suapin Beryl dulu."
Anjani mendadak diam mendengar itu, begitu juga dengan Mario. Tapi sejujurnya Anjani gemas saat Beryl menatapnya dan mengatakan. "Aunty."
"Iya itu Aunty Jani, Sayang. Pinter sekali cucu Oma makannya," ucap Viona seraya mengusap puncak kepala cucunya itu.
"Lucu, Sayang," gumam Arkan, seraya menatap ke arah Anjani. Dia tau Anjani sangat suka dengan anak kecil, tapi memang gengsi saja karena Beryl anak Seana.
Anjani hanya mengedikan bahunya, membuat Arkan mengusap puncak kepala Anjani dan berusaha memahami apa yang istrinya lakukan.
Sebenarnya hati Mario juga tergerak kala melihat cucunya. Dia punya gambaran dulu, kalau dia ingin sekali bermain dengan cucunya kalau Seana dan Anjani sudah menikah dan memiliki anak. Sekarang ada Beryl. Hatinya ingin memeluk cucunya tapi gengsinya masih setinggi langit. Ya begitulah.
Tidak heran kalau Anjani gengsinya setinggi langit. Memang ada genetikanya tersendiri. Satu-satunya air dalam rumah ini memang hanya Viona. Itu juga yang terkadang yang membuatnya menjadi pihak yang selalu disalahkan. Karena memang menjadi netral itu sulit.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Anjani.
"Sop sama ayam suwir," ucap Arkan.
Anjani berdiri lalu mengalasi piring suaminya, memang dia sudah terbiasa sih kalau soal begini dan Viona bangga pada Anjani karena dia tumbuh menjadi anak yang baik dan istri yang baik juga. Meskipun Viona tau di balik ini semua pasti Arkan kesulitan juga mengarahkan Anjani. Bagaimana pun Viona ibunya dan dia paham sekali dengan putrinya yang satu itu.
Akhirnya malam ini mereka berkumpul menjadi satu keluarga. Meskipun masih dalam keheningan, tapi ya lebih enak dilihat daripada sebelumnya. Mereka masing-masing sibuk dengan makanan yang ada di piring tak terkecuali Seana yang memang yang merangkap mengurus makannya Beryl.
Anjani melirik ke arah Seana, ternyata sulit juga menjadi Seana. Sepertinya bahkan prioritasnya bukan dirinya lagi tapi Beryl. Namun Seana akan tetap menjadi Seana.
Alasan dia tidak terlalu dekat dengan Seana karena dia selalu menutup diri, padahal sibling goals harapan Anjani adalah. Mereka bisa menjadi saudara yang saling mengandalkan dan berbagi apapun.
Anjani menghela napasnya. Arkan tau kok dari lubuk hati yang paling dalam Anjani ingin memeluk Seana. Jadi biarkan saja, karena kasih sayang juga bisa datang dari rasa empati.
Setelah selesai makan, Anjani dan Arkan tadinya berniat langsung ke kamar namun langkah mereka terhenti saat Mario bersuara.
"Seana, papa tunggu di ruang kerja."
Semua orang yang ada di sana deh dengan, apalagi suara barithon itu terdengar tegas. Anjani tau nih kalau begini Ayahnya akan marah besar atau sedang mode serius.
__ADS_1
Namun Seana tidak bisa mengabaikan itu, meskipun takut dia mengangguk dan menitipkan Beryl pada ibunya. Yang lain kaget, berbeda dengan Arkan yang nampak tersenyum. Kalau mereka berkomunikasi kan bagus, daripada diam dan tidak ada jalan penyelesaian masalahnya?
Aku update lagi 3 bab hari ini, yay or nay?