
Hidup memang perihal merelakan, melepaskan, melupakan dan ikhlas. Itu yang sedang dijalani oleh Anjani belakangan ini. Karena mau bagaimana pun, dia sudah menikah sekarang. Apa-apa yang mau dia sesali pun seharusnya tidak menjadi bayang-bayang masa depannya. Jadi berusaha menerima ini mungkin tidak ada buruknya. Ya hanya saja sedikit sulit karena nyatanya kenangan bersama orang lama masih mendominasi.
Arkan juga tidak masalah sebenarnya, karena dia juga paham kalau sesuatu tidak ada yang instan dan semuanya butuh proses. Yang harus dia lakukan adalah terus bersama Anjani untuk melalui prosesnya. Hari ini adalah hari Sabtu, Arkan mengajak Anjani untuk ikut ke kantor cabang perusahaan Altair. Mengingat ada beberapa hal yang memang harus dikerjakan.
Matanya tertuju pada bingkai photo yang ada di meja Arkan. Photo pernikahan mereka. Seulas senyum terukir di bibirnya, ternyata Arkan manis juga, ya untuk ukuran orang dingin seperti Arkan ini manis.
"Kenapa dipajang?" Tanya Anjani.
"Biar saya tidak lupa dunia dan segera menyelesaikan pekerjaan untuk cepat pulang," jawab Arkan yang masih fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Padahal akunya aja cuek, kok bisa kamu jadiin aku motivasi dalam segala hal. Gak ngerti jalan pikiran kamu," gumam Anjani.
"Karena kamu cuek, saya jadi punya motivasi untuk membuat kamu luluh." Simpel sebenarnya yang ada dipikiran Arkan, kalau Anjani tidak mau, dia akan berusaha membuat Anjani mau. Buktinya dia bisa membuat Anjani mau menjalankan hubungan mereka akhir-akhir ini meskipun masih mau tak mau.
Anjani mengedikan bahunya, memang selalu ada jawaban kalau berargumen dengan Arkan. Mau sesulit apapun pertanyaan pasti dia akan menjawab meskipun sedikit memaksa. Ya sudahlah, terserah maunya Arkan saja. Yang jelas Anjani tidak mau memaksakan dirinya untuk segala hal, dia sejak dulu selalu mengutamakan dirinya sendiri karena punya prinsip : I love myself first.
Anjani senang sih di sini, dia sering ke kantor papanya tapi tidak ada yang asik. Berbeda dengan kantor Arkan yang memang berjalan di industri hiburan dan musik. Banyak artis yang menjadi naungan perusahaan ini. Ya tidak bosan lah Anjani, hitung-hitung cuci mata. Apalagi ruangan Arkan nyaman begini.
Anjani menatap Arkan yang duduk di kursi kebesarannya seraya menandatangani beberapa berkas, sedikit tersenyum saja. Dia suka melihat Arkan yang fokus begitu, apalagi saat sesekali dia membenarkan kacamatanya. Membuat Anjani tanpa sadar tersenyum.
"Kenapa? Kamu terpesona dengan saya?" Tanya Arkan seraya mengadahkan kepalanya menatap Anjani yang kini ada di hadapannya.
"Terpesona sama ruangannya."
Iya di sini begitu sejuk, apalagi dibelakang kursi Arkan terdapat kaca besar yang langsung menyuguhkan pemandangan gedung-gedung tinggi. Seperti dirancang sesuai karakteristiknya Arkan yang tenang. Begitulah ruangan ini.
Anjani mengangguk-nganggukan kepalanya seraya kembali menatap Arkan. "Cocok lah sama karakteristik kamu."
Arkan terkekeh, ya mungkin memang benar. Arkan merancangnya ya sesuai dengan keinginan dirinya sendiri, agar dia nyaman, tenang, dan bisa menyelesaikan pekerjannya dengan baik. "Lalu?"
"Ya gapapa sih, maksudnya kalau orang yang baru pertama kali masuk ke sini dan gak tau kamu yang nempatin. Pasti mikirnya yang nempatin ruangan ini ganteng, maskulin, ya karena vibesnya gitu." Anjani berjalan ke belakang kursi Arkan namun dengan cepat Arkan berputar dengan kursinya dan menarik Anjani untuk duduk di pangkuannya.
"Mas!!"
Arkan menarik hidung Anjani gemas lalu terkekeh. "Gemes banget istri saya."
__ADS_1
"Gemes apanya loh, aku kan cuma bilang vibes ruangan ini ganteng. Bukan kamunya."
"Sama saja kamu bilang saya tampan," ucap Arkan percaya diri.
Anjani memutar bola matanya malas, sebenarnya dia lebih ke kaget sih, jantungnya masih berdebar kencang, secara posisi mereka intens begini. Belum lagi Arkan yang menatapnya seolah membangun suasana magis di antara keduanya.
"Ternyata kamu ada di hadapan saya seperti ini jauh lebih indah dari pemandangan yang sering saya lihat," ucap Arkan seraya menyelipkan anakan rambut Anjani yang menghalangi jarak pandangnya.
"Gak mempan digombalin," balas Anjani.
"Memang saya gombal? Saya mengungkapkan perasaan yang saya rasakan saja. Tersipu ya?" Ledek Arkan.
"Enggaa!!" Elak Anjani yang memang sedikit salah tingkah ditatap seperti itu oleh Arkan.
Tiba-tiba pintu terbuka, tanpa berbalik Arkan justru menarik Anjani agar menunduk dan bersembunyi dari jangkauan orang yang masuk. Ternyata itu sekretaris Arkan, ya mungkin ada keperluan. Jadi Anjani menurut saja, karena malu juga mengingat posisi mereka seperti ini.
"Permisi, Pak. Ada berkas yang harus bapak cek," ucap si sekretaris dengan ramah..
"Simpan di meja, nanti akan saya periksa," balas Arkan tanpa memutar kursinya.
"Baik, Pak terima kasih."
Setelah mendengar itu, suara heels kembali terdengar keluar dari ruangan ini. Arkan ini sudah gila, kah? Bagaimana bisa dia membiarkan Anjani sulit bernapas karena jarak mereka yang begitu dekat. Anjani merasa seperti anak kucing yang sekarang celingukan melihat ke arah pintu.
"Anak kucing." Arkan terkekeh lalu memeluk pinggang Anjani.
Anjani menatap Arkan dengan wajah serius. Tidak bisa nih Anjani seperti ini terus. Apalagi perasaannya ini masih bisa dibilang labil. "Kamu jangan bersikap manis sama aku, kamu mau aku baper ya?!"
"Memangnya kalau terbawa perasaan kenapa? Saya suami kamu, tentu kamu harus selalu terbawa perasaan dengan saya," jawab Arkan simpel. Ya memang begitu kan? Mereka menikah, tentu harus ada euforianya sendiri dalam perasaan. Karena itulah serunya, mereka harus jatuh cinta setiap hari agar kehidupan pernikahan mereka berwarna.
"Gak mau bucin!"
"Kalau bucin juga saya akan bertanggung jawab." Arkan menaikan satu alisnya. Ah kesal sekali Anjani memandang wajah menyebalkan itu.
"Gak mau, kemarin aja bucin bikin sakit hati."
"Kamu bucin dengan orang yang salah, coba kalau bucin dengan orang yang tepat. Kamu akan mendapatkan perasaan yang setimpal tanpa dibuat-buat."
__ADS_1
"Emang kamu orang yang tepat? Cih, kemarin aja Bagas gitu tuh. Menunjukkan dirinya orang yang tepat, taunya aku cuma selingkuhan. Cowok kaya gitu semua."
"Beda. Dia tidak berani bawa kamu ke hadapan orang tuanya. Saya meminta kamu secara langsung kepada kedua orang tua kamu, berjanji di hadapan Tuhan dan membawa kamu ke rumah saya, ke kehidupan saya. Jadi apa yang kamu ragukan lagi?" Tanya Arkan.
"Halah, ni yaa. Jangan dulu Gr ya ini pandangan aku aja sebagai cewek ke kamu. Kamu kan katanya mantan Ketua OSIS, Mantan Presma kampus juga, ya harus aku akui kamu ganteng lah ya, kaya, CEO besar, guru tertampan di sekolah juga. Pasti kamu sering kan main sama cewek, banyak chat cewek, kan?"
Arkan mengangguk. "Banyak."
"Tuh kan, berarti gak ada cowok yang bener-bener murni cuma sayang sama satu cewek di dunia ini. Yang ada itu-"
"Tapi saya tidak pernah membalas, mau kamu yang balas?" Arkan memberikan ponselnya pada Anjani, membuat Anjani meneguk air liurnya dengan susah payah.
"H-hah?" Anjani mengambil ponsel Arkan yang terulur padanya, ya dia baru pertama kali loh diberi kepercayaan memegang ponsel pria.
"Sekalian kamu bilang kalau kamu istri saya, saya sudah pusing dengan mereka."
Anjani mengerjapkan matanya dan melihat isi ponsel Arkan. Ya benar, banyak sekali pesan masuk dari wanita. Bahkan ada yang sampai spam beratus kali. Tapi hanya Anjani yang dia sematkan pesannya.
"Anak kucing?! Kamu rename aku anak kucing?!" Tanya Anjani tak percaya.
"Memang anak kucing, kalau kamu saya peluk diam aja. Penurut seperti anak kucing. Manja," tutur Arkan.
"PARAHH!!" Kesal Anjani sembari memajukan bibirnya.
Arkan tertawa melihat tingkah istrinya, dia sadar ternyata dia benar-benar menikahi gadis belia seusia Anjani. "Memang kamu menamai saya apa di kontak? Suamiku?"
"Geli!"
"Lalu apa?"
"Tukang Es," jawab Anjani membalas perlakuan Arkan padanya dan tersenyum pongah.
Arkan menatapnya datar, bisa-bisanya Anjani menamainya tukang es. "Kamu mau buat saya marah, Anjani?"
Anjani menutup mulutnya seolah tau apa yang akan terjadi di pesekian detik berikutnya. Namun salah, dengan gerakan cepat Arkan menggelitiki perut Anjani, membuat gadis itu tergelak karena rasa geli di perutnya.
"Hahahahahahaha, Maaaas!!! GIOO!!"
__ADS_1
"Dasar anak nakal!"
Setelah itu mereka tertawa karena aktifitas itu. Ya cukup lah untuk menghibur rutinitas Arkan hari ini. Semakin dekat dengan Anjani membuatnya semakin semangat dalam menjalani apapun.