I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Pacar Gio Masih Balita


__ADS_3


Anjani cukup menikmati acara ini, karena ya ternyata tidak seburuk itu kok. Teman-teman Arkan banyak dan mereka semua baik-baik. Ya mungkin juga aada yang menatapnya tidak suka karena menurut info mereka adalah orang-orang yang pernah menyukai Arkan.


Anjani tidak masalah sih, kan semua orang punya perasaan. Maksudnya mereka bebas mencintai siapapun asalkan tidak berlebihan sampai mau membuatnya dengan Arkan berpisah. Secara kasarnya pelakor, kalau soal adu sinis ya Anjani juga jago, jadi dia bisa mengatasi itu semua.


Dia juga bisa ke sana kemarin karena Arkan juga membebaskannya. Dia senang juga ternyata di sini, karena memang Arkan membawa artis-artisnya ke sini, lebih tepatnya memang mereka sedang naik daun juga.


Semakin banyaknya tamu, semakin banyak juga orang yang datang. Tapi mata Anjani tertuju pada seseorang yang mirip dengan Nanda, dia ke sini juga? Tapi dengan siapa? Nampaknya seorang pria. Anjani hendak menyusul, tapi saat akan menyusul Arkan memanggilnya.


Anjani yang tadinya ingin mengikuti orang itu jadi berbalik arah, ah lagian juga mungkin dia salah orang. Apalagi wanita itu terlihat sangat mesra dengan seorang pria dewasa dan masuk ke sebuah hotel dekat cafe. Jadi tidak mungkin itu Nanda.


"Kenapa, Mas?" Tanya Anjani saat sampai di hadapan Arkan.


"Pamit dulu, setelah itu kita pulang. Ini sudah larut malam, besok kamu juga masih harus sekolah."


"Padahal mau sampe acara selesai pun gapapa," balas Anjani.


"Tidak bisa, saya tidak mau kamu kekurangan tidur nantinya. Ayok." Ajak Arkan seraya menggandeng Anjani di lengannya untuk berpamitan.


Kalau Arkan sudah membuat keputusan, Anjani menurut saja. Karena tidak mungkin juga dia di sini sendirian kalau Arkan memilih pulang duluan. Setelah pamit, barulah mereka keluar dari cafe dan masuk ke mobil.


Untuk sejenak dia masih memikirkan orang yang mirip dengan Nanda. Tapi dia juga tidak mau berburuk sangka, masalahnya penampilannya juga jauh berbeda. Bukan seperti Nanda. Apa besok dia tanyakan saja ya di sekolah? Anjani menggeleng, jangan deh nanti kalau dia tersinggung karena merasa bukan bagaimana?


Arkan sudah melajukan mobilnya, lalu Anjani menoleh ke arah suaminya. Menatapnya dengan lamat dan memperhatikan raut wajahnya. Kenapa sekarang kalau melihat wajah Arkan rasanya damai ya? Dia jadi teringat kata-kata Sabrina mengenai gosip Arkan saat di kampus dulu. Sontak saja dia tiba-tiba tertawa dan membuat Arkan melirik ke arahnya.


"Kenapa kamu tertawa, ada yang lucu?" Tanya Arkan. Ya aneh kan, tidak ada angin dan tidak ada hujan Anjani tertawa seperti itu. Takutnya kesambet lagi.

__ADS_1


"Hahahahahaha aku keinget kata-kata Kak Sabrina.Lucu banget kamu, Mas!" Balas Anjani yang tawanya semakin pecah.


Arkan menghela napas, salah memang mengajak Anjani ke hadapan teman-temannya yang memiliki minus akhlak. Begini kan jadinya. Tidak lagi-lagi deh Arkan mengajak Anjani, seberapa banyak aib lagi yang akan dibongkar teman-temannya pada Anjani?"Puas? Sudah puas tertawa kamu?"


Anjani menghentikan tawanya namun dia masih terkekeh kecil. "Puas banget! Lagian, kenapa sih Mas bisa sebucin itu Aku gak nyangka. Ya gak nyangka aja kalau diliat dari kamu yang kalem begini."


"Saya bukan bucin, saya hanya suka saja sama kamu. Itu alasan yang lebih tepat," jawab Arkan yang masih berusaha tetap kalem menghadapi Anjani yang random begini. Padahal dia sedang kesal karena bisa-bisanya gadis kecilnya ini menggodanya sampai tertawa sebegitunya.


Anjani mencibir jawaban Arkan, suka saja katanya. Jika memang hanya suka, mengapa bisa wallpaper di ponselnya menggunakan Photo yang masih berseragam SMP? Menurut penuturan Sabrina, Arkan tidak pernah mau memiliki pacar. Bisa dibilang, dia memang ramah ke beberapa teman wanitanya, tapi hanya sebagai formalitas saja.


Suatu hari, Arkan tanpa sengaja meninggalkan ponselnya di kantin. Teman-temannya yang menemukan pun membuka benda pipih itu dan terkejut saat wallpaper ponselnya adalah foto gadis berseragam SMP yang berpose candid. Salahnya Arkan memang tidak pernah menggunakan password di ponselnya. Mereka kira, itu adalah potret adik Arkan, tapi setelah diingat-ingat, laki-laki itu adalah anak tunggal.


Karena penasaran, mereka membuka galeri ponsel Arkan dan mendapati ada lebih banyak foto Anjani dari kecil sampai dia remaja. Setelah kejadian itu, Arkan sering diolok-olok teman-temannya-dalam konteks bercanda jika jodoh Arkan masih balita.


"Kamu dapet darimana sih photo aku, dasar penguntit!" Cetus Anjani. Kalau dia tidak tau Arkan menyukainya sejak kecil, mungkin dia akan takut. Ya kan bisa saja fetish?


"Sedikit," balas Anjani. Ya dia akan jujur saja, memang siapa yang tidak terbawa perasaan mendapati ada pria yang mencintainya di belakang sampai sebegitunya.


"Harusnya banyak, biar kamu cepat jatuh cinta sama saya."


"Maksa!"


"Memang harus memaksa kalau urusan begini!"


Anjani terkekeh, gemas sekali Arkan ternyata. Lebih gemas daripada yang dia bayangkan. Ini lama-lama Anjani bisa tertular bucinnya Arkan nih kalau begini. "Nanti kalau kamu mau reuni lagi ajak aku ya?"


"Kenapa? Mau meledek saya lagi atau mau saya undang Ardito?" Tanya Arkan dengan gamblang. Tadi saja menolak datang, sekarang malah ingin lagi. Kan aneh Anjani.

__ADS_1


"Dua-duanya benar!!!!" Anjani menjentikkan jarinya pada Arkan. Menyenangkan sekali memang menggoda Arkan apalagi sampai dia kesal.


Arkan menghela napasnya, dua duanya katanya? Salah satunya saja sudah pusing apalagi Anjani melakukan keduanya. Memang sih Anjani hanya ngefans, tapi tetap saja dia tidak suka Anjani lebih menyukai orang lain daripada dirinya.


Belum lagi dia sedari tadi membahas Ardito terus, cukup membuat penging pendengaran. Lebih ajaib lagi dia meminta kalau saat ulang tahun nanti didatangkan Ardito ke rumah. Apa semua remaja seperti Anjani? Sudah jelas-jelas Arkan lebih tampan, tapi dia malah menyukai yang lain. Benar-benar ajaib.


"Nakalnya, istri saya. Padahal sudah ada saya yang jelas-jelas lebih tampan," cibir Arkan.


"Loh cemburu? Cemburu bilang aja kali, malah membanggakan diri sendiri gitu," balas Anjani mencibir.


"Kalau saya cemburu memang kau mau bertanggung jawab?" Tanya Arkan seraya kembali melirik Anjani.


Anjani tertawa lalu menggeleng, sudah pasti Arkan meminta yang anenh-aneh kalau Anjani mengiyakan. Apalagi Arkan yang cukup agresif akhir-akhir ini membuat dia selalu ketar-ketir. Tidak deh, Anjani masih mau aman masalahnya.


"Aku mau jadiin wallpaper ah photo yang tadi, terus aku nanti mau pamer ke temen-temen kalau aku nyanyi sama Ardito. Nanti aku minta videonya ya? Kamu kan bisa minta ke managernya atau ke siapapun."


Anjani membuka ponselnya lalu mengubah tampilan gambar layar depannya yang baru saja dia dapat. Sengaja juga memang ingin membuat suaminya panas dingin, itu sepertinya membuat kesenangan tersendiri bagi Anjani.


"Masss!!" Panggil Anjani yang merasa tidak mendapat respon.


"Ya." Arkan menyerah, biasanya pria yang tidak peka, ini malah gadisnya yang tidak peka kalau Arkan kesal sekarang. Untung dia masih kecil, kalau tidak Arkan pastikan Anjani tidak bisa tidur nyenyak malam ini sampai pagi.


Dengan lembut Arkan mengambil ponsel Anjani dan mengganti wallpapernya menjadi gambarnya menjadi tokoh kartun. Beres dengan itu baru dia kembalikan. "Ini lebih bagus."


"SINCHAN! Maksudnya apa?!"


Arkan terkekeh melihat reaksi istrinya, ya lebih bagus seperti itu daripada dia memasang photo lelaki lain, tidak peduli juga dengan Anjani yang terus menggerutu, dia sangat suka menjahili gadis kecilnya yang menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2