I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Ayah dan Mama Pacaran Dulu


__ADS_3


Menjadi orang tua itu menyenangkan tapi memang ada masanya Arkan dan Anjani ingin menikmati waktu berdua. Jadi hari ini Arkan mengajak Anjani ke luar rumah. Arsy kemana? Tentu dia dititipkan pada Hera dan Abdi.


Mereka juga kok yang menyarankan, karena memang sejak melahirkan orang tua muda itu tidak memiliki banyak waktu luang. Kasian juga apalagi mereka tau kalau Arkan dan Anjani ini selalu punya rutinitas berdua untuk melepas penat.


Mereka kemana? Iya benar ke taman bermain, karena Anjani ingin bermain di sana. Menikmati berbagai wahana dan hanya berdua dengan Arkan. Gaya mereka yang casual dan wajah yang awet muda maka tidak ada yang menyangka kalau mereka sudah mempunyai 1 anak.


"Mass aku mau main itu." Anjani menunjuk wahana ayunan terbang dan Arkan yang melihat itu pun mengangguk.


"Kamu berani?" Tanya Arkan.


Tentu saja Anjani berani, dia itu pemberani jadi jangan samakan Anjani dengan wanita menye-menye di luar sana. Dia tentunya berbeda dari semua itu.


Karena melihat keyakinan itu, Arkan menggenggam Anjani dan menaiki wahana itu. Beberapa saat mereka duduk dan memakai pengaman. "Yakin?"


"Yakin lah, Mas. Aku kayanya udah naik ini beberapa kali, waktu liburan sama study tour," kata Anjani.


"Jangan menangis ya?"


"Ishhh." Anjani memajukan bibirnya, namun sepersekian detik berikutnya dia tertawa. Tidak lah Anjani tidak akan mungkin melakukan itu.


Wahana itu berjalan, ayunan itu lama lama menjadi tinggi, Anjani tertawa lepas. Membuat Arkan tersenyum juga karena sudah lama tidak melihat Anjani tertawa selepas ini. Dia ibu muda, dia pasti masih suka bermain-main, jadi sepertinya ini memang keputusan yang paling tepat untuk mengajak Anjani pergi bersama begini.


"MASS SERUUU!!!"


Arkan hanya mengangguk, sesekali dia mengarahkan kamera ponselnya pada Anjani. Rasanya moment-moment seperti ini selalu ingin Arkan abadikan karena memang jarang sekali.


Beberapa menit berlalu wahana itu pun berhenti, Anjani sempat pusing dan hampir terjatuh tapi dengan sigap Arkan menopangnya. "Nahkan pusing."


"Hehehe aku udah lama gak main ini, tapi seru kok," balas Anjani.


"Masih mau bermain?"

__ADS_1


"Iyalah ayok!" Anjani dengan semangat menarik tangan Arkan dan mencari wahana yang ingin dia naiki.


Enak saja mereka pulang, padahal baru menaiki satu wahana. Tidak bisa lah, kalau bisa mereka menikmati semua wahana sampai tuntas. Banyak yang mereka naiki, seperti roller coaster, Arum jeram rumah hantu dan banyak lagi. Mereka sampai tidak bisa berhenti tertawa karena sesekali menertawakan kebodohan mereka.


"Hahahahaha tadi di rumah kaca tuh aku cari kamu eh malah ada peti, pas aku buka isinya pocong langsung deh aku tonjok hahahah." Anjani tidak bisa berhenti tertawa. Mereka berdua seperti pengacau di wahana itu sampai di dalamnya kewalahan.


"Lagian kamu kenapa berpisah dari saya, saya dikejar kuntilanak hahaha, untuk saya mendapatkan kamu lagi." Arkan memeluk Anjani gemas sembari mengigit pipi Anjani. Benar deh Arkan ini jadi awet muda bersama Anjani.


Anjani begitu semangat sampai Arkan tidak bisa menolak keinginan istrinya itu, bahkan meskipun baju mereka sedikit basah pun Anjani tidak mau pulang sebelum menyelesaikannya.


Mereka berhenti hanya untuk makan dan mengisi energi, selebihnya mereka lanjut lagi. Tidak heran juga sih, sudah dibilang Anjani ini masih suka bermain-main.


"Kamu belum lelah?" Tanya Arkan seraya menatap Anjani yang sedang fokus menjilati eskrimnya.


"Mau ke istana boneka."


"Setelah itu kita pulang?" Tanya Arkan.


"Iya, tapi main istana boneka dulu."


Akhirnya meskipun Arkan merasa seperti anak kecil, dia pun duduk di perahu yang akan membawa mereka ke istana boneka. Melihat Anjani yang tersenyum selama perjalanan membuat Arkan merasa bahagia, pasalnya kemarin kemarin dia juga banyak ngambeknya.


Perahu berjalan dengan tenang, mereka berdua menikmati hari-hari pacaran dengan senang juga. Meskipun Arkan tidak mengerti sih kenapa menaiki wahana ini, karena dia juga tidak tau apa bagusnya, tapi karena Anjani ingin ya dia ikuti saja.


"Mas ... " Anjani menyenderkan kepalanya di dada Arkan. Merasakan itu Arkan langsung menyambut untuk merengkuh tubuh istrinya agar merasa nyaman.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Arkan penuh perhatian.


"Aku sebenernya gak tenang tau ninggalin Arsy, maksudnya ada perasaan bersalah gitu, kaya gak enak aja." Anjani bicara jujur saja sih, karena kalau bukan Arkan siapa lagi yang bisa diajak bicara seperti ini?


Wajar sih mungkin naluri seorang ibu, tapi serius. Anjani sekarang kalau kemana-mana Arsy harus ikut, karena seperti ada yang kurang jika anaknya tidak ada. Ada hal yang membuatnya tidak nyaman.


"Tidak apa-apa, kan mamanya juga butuh hiburan." Sebagai kepala rumah tangga Arkan lah yang harus bijak-bijak untuk kebahagiaan keluarganya. Jadi ya Arkan paham soal itu.

__ADS_1


Anjani tersenyum dan menatap ke arah Arkan, memang suaminya ini perhatian sekali. Sangat menjaga kesehatan mental istrinya yang memang akhir-akhir ini jenuh dengan rutinitas. "Tapi aku harus minta maaf sih sama Arsy. Maaf karena mamanya kaya aku, gak kaya mama orang lain."


"Kenapa?" Tanya Arkan keheranan, menurut Arkan Anjani sudah menjadi ibu yang tepat dan baik kok. Kenapa juga harus dibandingkan dengan orang tua lain?


"Karena mamanya masih anak kecil, masih suka main-main kaya gini, masih suka mau berduaan sama ayahnya terus ninggalin dia."


"Dimaafkan." Arkan tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Anjani.


Anjani membalas pelukan Arkan, mencium aroma maskulin suaminya seperti ini membuatnya tenang dari segala pikiran yang ada di kepalanya. Apalagi hari ini beban yang rasanya mulai menelusup di kepala sedikit terobati.


"Terima kasih ya karena sudah menjadi ibu yang baik sejauh ini untuk anak saya, Sayang. Terima kasih untuk kerja kerasnya, terima kasih untuk semua usahanya. Terima kasih kerja samanya."


Mendengar itu Anjani merasa damai entah kenapa, jarang kan ada suami yang berkata begitu. Bahkan teman temannya pun bilang tidak pernah diperlakukan begitu dan sekarang Arkan melakukan itu padanya. Ucapan terima kasih yang sepertinya sederhana itu mampu membuat Anjani mood sampai berminggu-minggu rasanya.


"Kenap kamu selalu bilang makasih?"


"Karena udah sekecil apapun yang kamu lakukan itu berarti untuk saya, patut diapresiasi agar kamu menjadi lebih baik lagi, Sayang."


"Yaudah kalau gitu sama-sama Mas sayang, makasih juga atas kerja samanya menjadi suami dan ayah yang baik, mamanya seneng banget."


"Are you happy?"


"I'm Soo happy, very-very happy right now."


"Good pretty girl."


"Besok-besok kita harus ajak Arsy ke sini sih, dia pasti suka liat boneka-boneka kaya gini. Dia harus ke sini minimal sekali dalam hidupnya dia, Mas," ucap Anjani.


"Apa perlu saya beli tempat ini agar dia bisa ke sini setiap hari?"


Anjani membulatkan matanya, jangan deh jangan sampai, bukannya apa-apa, dia sudah tau Arkan ini orangnya nekad, dia bisa mewujudkan apa apa saja yang menjadi keinginannya, tidak deh. "Jangan, ya minimal sekali gitu loh."


"Dia harus sering main di luar agar dia tau kalau dunia itu luas, jangan minimal, tapi maximalkan."

__ADS_1


Arkan kembali menciumi Anjani, mereka benar-benar seperti pacaran lagi. Arsy, mama sama ayahnya pacaran dulu ya!


__ADS_2