I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Hukuman Menyebalkan


__ADS_3


"Salam dulu kalau mau pergi, saya suami kamu." Arkan mengulurkan tangannya pada Anjani yang kini menatapnya kesal.


"Bapak gila hormat ya?" Tanya Anjani yang malam menatapnya seperti menantang.


"Kewajiban," peringat Arkan.


Anjani memutar bola matanya malas, kenapa sih harus ada kewajiban yang banyak sekali saat menjadi seorang istri? Tapi kenapa Ibunya bisa menjalani pernikahan dengan senang? Kenapa Anjani merasa terbebani, atau hanya Arkan saja suami yang banyak mau dan banyak aturan?


"Clarissa."


Sambil memberengut Anjani menyalami Arkan dan menghentakkan kakinya sebelum masuk ke mobil, kenapa sih Arkan sangat menyebalkan sekali! Di satu sisi Arkan yang melihat istrinya kesal begitu malah terkekeh, ya mereka memutuskan untuk merahasiakan pernikahan mereka untuk sementara waktu, jadi selama Anjani masih sekolah biar supir saja yang mengantar.


Sampai di sekolah Anjani tadinya berniat masuk ke dalam karena upacara akan segera di mulai, tapi karena melihat Bagas berada di warung dekat gerbang sekolah, Anjani jadi menghampirinya karena ya kaget dengan apa yang sedang dia lihat sekarang.


Dengan berani Anjani menepis rokok yang Bagas pegang, dia juga meringis karena terkena ujungnya namun dia abaikan. "Kamu apa-apaan sih, Gas?! Jangan ngerokok!"


Bagas yang terkejut langsung menatap Anjani dengan datar. "Urusannya sama kamu apa, Jan? Apa peduli kamu hah?"


"Jelas aku peduli, dari dulu aku selalu peduli sama kamu dan gak ada yang berubah. Kalau kamu marah sama aku ya marah aja, gak usah nyakitin diri sendiri dengan ngerokok kaya gini, paru-paru kamu gak sehat, kamu paham gak sih kalau aku khawatir?!" Ucap Anjani dengan emosinya yang tersulut.


Bagas terkekeh, entah dia harus senang atau sedih atas perhatian Anjani. Serius Anjani melakukannya? Padahal Anjani lebih menyakitinya daripada rokok yang ada di tangannya ini. "Omong kosong!"


Bagas hendak pergi dari sana namun Anjani menahan lengannya. "Awww."

__ADS_1


Bagas yang mendengar itu langsung panik dan kembali memeriksa telapak tangan Anjani yang memang terlihat ada luka bakar di sana. "Kenapa kamu sebodoh ini sih?!" Geram Bagas.


Dengan cepat dia menarik tangan Anjani dan mengambil sebuah salep dari tasnya. Perlahan Bagas mengusapkan gel dingin itu ke telapak tangan Anjani. Jujur, kalau ditanya hatinya milik siapa, sudah pasti dengan tegas Anjani katakan Bagas lah pemiliknya. Jantungnya masih berdebar kencang untuk pria yang ada di hadapannya ini.


"Aku memilih jadi bodoh daripada jadi orang asing buat kamu, Gas," ucap Anjani lirih.


Bagas terdiam untuk sejenak, tapi setelahnya dia kembali fokus mengobati Anjani dan meniup-niup lukanya agar cepat sembuh. Bagas mengarahkan wajahnya menatap Anjani. "Tapi kita gak akan pernah bisa dekat, kamu udah menikah. Bukan milik aku lagi."


Bagas melepaskan tangan Anjani, membuat Anjani sedikit terhenyuk dan sesak di saat yang bersamaan. Bagas benar, dia telah menikah, namun bagi Anjani ini belum selesai, dia berbalik dan bergegas menyusul Bagas namun seketika langkahnya terhenti, saat melihat Arkan yang sedang memperhatikan Bagas dan juga Anjani yang telat untuk upacara.


Arkan menatap Anjani, meskipun datar tapi Anjani takut kalau Arkan akan marah padanya. Tangannya sedikit terkepal dan kembali melangkah untuk mensejajarkan diri di samping Bagas. Jujur, Anjani gemetar sekarang.


Arkan masih terus menatap mereka berdua tanpa suara, memang bukan tugasnya untuk berjaga merazia murid yang telat atau bolos saat upacara. Tapi tadi Arkan tak menemukan Anjani di barisan kelasnya, jadi dia mencarinya. Karena heran saja, Anjani pergi lebih dulu tapi belum ada di sekolah, ternyata dia sedang bersama Bagas.


"Masuk."


Tapi entah kenapa Anjani malah tenang, meskipun dijaga ketat oleh Arkan tapi sekiranya dia bisa berdampingan dengan Bagas, kan? Rasanya gadis itu merindukan mantan kekasihnya ini. Sesekali Bagas juga melirik ke arah Anjani, dulu juga mereka bertemu karena telat, sekarang mereka berdua malah bernostalgia.


"Ekhm." Arkan yang melihat keduanya saling curi-curi pandang langsung berdeham, cukup mengagetkan sampai-sampai membuat Anjani dan Bagas terkesiap.


"Biasakan kalau sudah sampai sekolah itu masuk ke gerbang," ucap Arkan. Tapi kalau begini roman-romannya Arkan menyindir Anjani karena dia tak langsung masuk saat sudah sampai.


Tapi ya Anjani memiliki sifat tengil dan terkadang susah diatur, dia hanya melece mendengarkan dengan kuping kanan dan keluar dari kuping kiri. Untuk ini di lingkungan sekolah, kalau tidak Arkan sudah berbuat yang iya-iya pada istri kecilnya itu.


Satu jam berlalu akhirnya upacara selesai, iya selesai penderitaan untuk yang lain, bukan untuk Anjani dan Bagas. Setelah ini mereka berdua harus lari 10 keliling lapangan karena telat upacara. Keduanya melongo sih, terlebih Anjani.

__ADS_1


"Pak, banyak banget sepuluh? Are you kidding me?" Tanya Anjani tak percaya.


"I'm so serious atau mau saya tambah menjadi 20?" Tanya Arkan berbalik.


Anjani semakin tak menyangka, ini yang disebut suami? Meskipun mereka guru dan murid tapi kan kalau memang Arkan benar-benar ingin menikah dengannya minimal dia tidak melakukan ini.


"Katanya istri tapi tetep aja dikasih hukuman gak kira-kira," gerutu Anjani dalam hati.


Dengan berat hati Anjani melaksanakan hukumannya, ya panas sih tapi ya mau bagaimana lagi? Arkan memang termasuk guru yang tegas jadi tidak ada yang bisa tawar menawar dengannya meski itu istrinya sendiri.


Ah ... Sial sekali ternyata hari ini. Kalau begini tidak lagi deh Anjani telat saat upacara kalau petugas inspeksinya Arkan, dia kapok demi apapun. Karena biasanya guru yang lain hanya akan menyuruh mereka membersihkan toilet yang itu pun sudah bersih karena memang warga sekolah yang diajarkan untuk apik dalam menggunakan toilet.


Selesai melakukan hukuman Anjani kembali ke kelas, sialnya lagi di jam pertama hari Senin ini memang pelajaran Matematika, dia harus kembali berhadapan dengan Arkan yang kini menatapnya saat dia masuk ke kelas.


"Anjani kerjakan nomor 1 sampai 5." Arkan mengulurkan spidol saat Anjani akan menyalaminya.


Yang benar saja, dia baru masuk loh ini? Dia juga baru selesai melakukan hukumannya dan sekarang dia harus mengerjakan soal matematika juga di depan? Benar-benar keterlaluan Arkan! Apa dia sengaja ya melakukan ini sebagai balas dendam karena tadi dia menemui Bagas?


"Ayok," perintah Arkan.


Anjani mati-matian menahan emosinya, dia mengambil spidol dari tangan Arkan dan menaruh tasnya terlebih dahulu sebelum kembali maju ke depan. Dia pikir menikah dengan Arkan sedikitnya ada keuntungan gitu bisa jalur nepotisme dalam segala hal, ternyata yang ada hanya membuatnya semakin repot saja.


Arkan memang sengaja menyuruh Anjani mengerjakan soal, hitung-hitung tambahan hukuman karena telah menemui Bagas. Bukan semata-mata karena kesal, tapi memang seharusnya Anjani harus mulai sadar dengan status barunya sebagai seorang istri, dia tidak bisa sembarangan dekat dengan lelaki lain terlebih itu adalah Bagas, mantan pacarnya sendiri.


"Nomor 3 salah, silahkan kembali ke meja kamu dan jangan kembali mengulang keterlambatan kamu hari ini," peringat Arkan.

__ADS_1


Anjani sedikit menipiskan senyumnya dengan terpaksa. "Baik, Pak Arkan terima kasih." Ucap Anjani penuh penekanan.


Setelah beres dengan Arkan dia duduk di kursinya, tak lupa dia mengambil kipas mini yang untungnya selalu dia bawa. Rasanya tubuhnya ini lengket oleh keringat, untung saja dia tidak ada genetika bau badan, sehingga dalam kondisi berkeringat pun dia malah akan bertambah wangi.


__ADS_2