I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Kebiasaan Baru Sebagai Orang Tua


__ADS_3


Arkan melemparkan jas dan dasinya asal saat dia sampai di kamar. Bukannya apa-apa sih, dia rasanya rindu sekali pada istri dan putri kecilnya, apalagi melihat Anjani yang tengah bermain dengan si kecil membuat Arkan ingin cepat-cepat memeluk mereka.


Arkan mencium lembut bibir Anjani, setelah itu dia berpaling pada si kecil yang nampak sudah menatap ke arahnya sejak dia pulang. Arkan melinting lengan bajunya lalu naik ke atas kasur, belum sempat dia menyentuh putrinya Anjani sudah memukul lengan Arkan. "Cuci tangan sama cuci muka dulu ih, nanti banyak bakteri."


Arkan berpikir sejenak, benar juga. "Baik, sabar ya anak ayah."


Arkan tersenyum lalu dia turun dari kasur untuk mencuci tangan dan wajahnya, setelah memakai antiseptik dan bersih, baru lah Arkan kembali menggendong Arsyla dan menciumi anaknya itu dengan gemas. "Ayah rindu sekali dengan anak ayah ini."


Anjani membiarkan saja Arkan bermain dengan Arsy dia juga harus menyiapkan air untuk Arkan mandi dan memunguti dasi serta jas yang tadi suaminya itu lempar asal.


Sejujurnya Anjani kesal sekali, semenjak anak mereka lahir kebiasaan buruk Arkan ya begini. Dia bisa menjadi sangat berantakan hanya karena ingin cepat-cepat bermain dengan putri kecilnya itu. Tapi Anjani paham sih, mungkin Arkan memang tidak tahan ingin segera bermain dengan Arsy.


Anjani menatap Arkan dan Arsy yang nampak seperti saling bicara, padahal anaknya itu belum bisa mengeluarkan suara, hanya membuka mulutnya saja, namun Arkan menimpali. Siapa coba yang tidak meleleh melihat pemandangan seperti ini.


Anjani dulu selalu mau mempunyai pasangan yang menyayangi anak kecil dan sekarang suaminya Arkan Altair. Ini akan menjadi pemandangan favoritnya sih mulai hari ini. Di senang melihat pemandangan seperti ini.


"Aishh, jangan tatap Ayah seperti itu, Sayang. Kamu tidak mau kalah dari Mama ya yang selalu menghantui pikiran ayah setiap hari hm?" Arkan mendekatkan wajahnya lalu menggesekkan ujung hidungnya pada hidung putrinya.


Bagaimana nanti Arsy sudah besar ya, dia tidak akan pernah bisa marah pada Arsy sepertinya, ditatap seperti ini saja dia sudah salah tingkah dan luluh. Dia malah berjanji akan menjaga putrinya dengan segenap jiwa dan Arkan.

__ADS_1


"Ahh kamu memang benar-benar menggemaskan, Sayang. Ayah lemah nih kalau begini. Kamu gemas sekali, melebihi mamanya." Arkan kembali mengecupi putrinya dan memeluknya erat, membuat siapapun yang melihatnya tau kalau itu salah sebuah tindakan kasih sayang alami dari seorang ayah pada putrinya.


Siapapun yang melihat ini pasti akan tersenyum, apalagi seorang Arkan Giovano Altair yang melakukannya. Termasuk Anjani yang sedari tadi tidak berani mengganggu kegiatan anak dan Ayah itu. Ya ingin memberikan ruang sejenak saja, agar mereka bisa Quality Time dan itu akan dibiasakan oleh Anjani mulai hari ini.


"Kayanya aku gak akan bosen deh liat kamu kaya gini sama Arsyla, Mas," ucap Anjani yang langsung membuat Arkan tersenyum.


"Bahkan kayanya aku iri liat kedekatan kamu sama Arsy, kayanya nanti dia bakalan lebih Deket sama ayahnya daripada mamanya," lanjut Anjani.


"Kenapa iri, Sayang? Harusnya saya yang iri, Sayang. Kamu bisa setiap hari dengan Arsy, saya harus bekerja dulu, Sayang. Waktunya terbatas, dia pasti juga akan dekat dengan ibunya, bicara banyak hal tentang kecantikan, kehidupan dan juga percintaan, sepertinya akan lucu."


"Iyakah?"


Arkan tersenyum dan turun untuk mendekat ke arah Anjani. Dia sudah berjanji, setelah itu dia menaruh Arsy dalam gendongan ibunya. Anjani yang paham langsung menerima Arsy dan mendekapnya dengan hangat. "Airnya udah aku siapin."


"Terima kasih, Sayang. Saya mau mandi dulu, nanti saya bersama kalian lagi." Arkan tersenyum dan menyempatkan untuk mencium bibir Anjani. Setelah itu barulah dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Arkan sudah selesai mandi, dan kini sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil memeriksa E-mail yang masuk di laptopnya sekaligus menunggu Anjani yang sedang menidurkan Arsyi di ruangan sebelah kamarnya. Kamar Arsyi hanya bersekat dinding jadi Arkan mau pun Anjani masih bisa mendengar kalau-kalau Arsyi menangis di malam harinya karena haus. Tak lama kemudian Anjani datang bersamaan dengan Arkan yang mematikan laptopnya.


Tidak banyak E-mail yang masuk. Jadi tidak memakan waktu terlalu banyak. Lagi pula Arkan memang hanya memeriksa E-mail yang sekiranya penting. Karena biasanya asisten dan sekretarisnya akan mengurus beberapa E-mail yang Arkan lewatkan.


"Sudah?" anya Arkan begitu Anjani ikut duduk bersandar di kepala ranjang di samping Arkan.

__ADS_1


"Hmm" jawab Anjani mengangguk. Seraya tersenyum ke arah suaminya.


"Kalau udah kenyang Arsyi langsung tidur, lucu banget sukanya makan, tidur, main sama ayahnya," tambah Anjani sambil terkekeh. Tapi memang apalagi yang dilakukan anak bayi seperti Arsy. Jadi mereka kadang kesepian juga kalau Arsy tertidur.


"Karena anak saya sudah tidur dan kita tidak ada kegiatan apa-apa lagi, sekarang giliran saya. Kamu akhir-akhir ini mengabaikan saya," ucap Arkan lalu menidurkan kepalanya di paha Anjani.


Entahlah, akhir-akhir ini bahkan selama di rumah sakit, Arkan suka sekali tidur di pangkuannya seperti ini dan minta di usap kepalanya. Anjani merasa memiliki dua bayi sekaligus rasanya.


"Gimana pekerjaan Mas di kantor? Aman aja gak? Ada yang mau diceritain? Kamu kangen aku ya? Maaf ya, Mas. Nanti aku perbaiki." Anjani tersenyum dan mengusap rambut Arkan yang sedang berbaring di pangkuannya. Ya selain seorang ibu dia juga seorang istri, hal seperti ini tidak boleh dia lupakan juga hanya karena sibuk dengan Arsy.


"Melelahkan, banyak rapat yang harus saya hadiri. Saya inginnya di rumah saja, bersama kamu dan Arsy. Saya sedang senang saja di rumah," jawab Arkan jujur. Lagi pula apa yang bisa Arkan sembunyikan mengenai pekerjaan di kantor. Anjani pasti tau sesibuk apa dirinya setelah mengambil libur panjang kemarin.


Yahh tidur di pangkuan istri dan belaian lembut di kepalanya benar-benar membuatnya nyaman. Dia merasa memiliki tempat untuk berbagi apapun kalau sedang di posisi seperti ini, menatap wajah Anjani, menciumi punggung tangannya atau memainkan jari-jari lentik istrinya itu.


“Kamu tidak mau kasih saya suntikan vitamin, Sayang?” Tanya Arkan. Anjani yang mengerti maksud Arkan pun langsung menunduk dan mengecup bibir Arkan singkat. Cuma kecupan, padahal Arkan ingin lebih. Dia sangat merindukan istrinya, inginnya bermanja-manja, sama seperti anaknya yang selalu dipeluk dan ciumi.


"Hanya kecupan saja?" Tanya Arkan dengan wajah datarnya. Memang perempuan yang tidak peka itu adalah Anjani. Padahal Arkan sering bilang kalau dia bilang rindu atau meminta vitamin inginnya lebih dari itu.


"Emangnya Mas mau apalagi? Kan udah aku cium, mau dicium di mana lagi?" Balas Anjani seraya menarik hidung suaminya yang mancung itu dan mengecupinya. Kenapa malah membangkitkan gairahnya ya? Ah Arkan sudah gila kalau begini.


Tapi sialnya, Arkan masih harus menahan diri karena dokter belum mengizinkan melakukan hubungan suami istri sebelum 40 hari. Gila aja kan? Arkan harus puasa lebih dari 40 hari lamanya.

__ADS_1


Tak hilang akal, Arkan memilih bangkit dan mencium bibir Anjani sebagai gantinya. Rasanya sudah lama sekali Arkan tidak mencium Anjani seintens ini, biasanya mereka hanya melakukan ciuman singkat di bibir sebelum Arkan berangkat ke kantor atau setelah Arkan pulang kantor.


Mereka saling melepas rindu dan hanyut dengan suasana romantis yang Arkan ciptakan. Bukan Arkan saja yang merindukan moment seperti ini, tapi Anjani juga. Jadi selagi ada waktu senggang, ya mereka bisa menikmati hal-hal seperti ini yang masih dalam batas wajar dan tidak berlebihan.


__ADS_2