I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Malam Romantis


__ADS_3


Musik mengalun indah di malam romantis mereka, Arkan dan Anjani berdansa di bawah taburan bintang yang seolah mendukung suasana malam ini. Arkan terus menatap Anjani dengan kagum, apa coba yang kurang dari gadisnya. Sudah pintar, cantik, punya wawasan yang luas dan bijak. Meskipun ya dia sedikit galak dan banyak protesnya. Tapi di mata Arkan, Anjani itu sempurna.


Arkan merengkuh pinggang Anjani dan membuat mereka semakin lebih dekat dengan tangan Anjani yang kini melingkar di lehernya. Kaki mereka bergerak seirama ke kanan, ke kiri, ke belakang dan maju ke depan.


Menambah kesan romantis karena mereka memang pandai berdansa. "Kamu tau, aku selalu pingin dansa kaya gini sama kaya princess di film Barbie. Sekarang aku bisa rasain sama kamu."


"Se-bersyukur itu ya kamu punya saya?" Goda Arkan sembari menyatukan hidung mereka dan menggesekkan pelan.


"Heem, se-bersyukur itu. Karena kamu bikin aku tau gimana rasanya dicintai dengan utuh, aku jadi tau kalau dicintai kamu itu seindah ini."


Arkan terkekeh, pintar sekali gadis kecilnya ini sekarang membuatnya salah tingkah. Dengan sekejap Arkan menggendong Anjani ala brydal dan masuk ke dalam sebuah rumah kaca yang ada di sana.


Anjani terpaku melihatnya karena ternyata ini secret room di resort ini. Sebuah kamar dengan nuansa romantis karena dari dalam sini mereka bisa melihat bintang-bintang.


Arkan mendudukkan Anjani di tepi ranjang dan mengubah modenya menjadi gelap jika di lihat dari luar. Anjani sudah berpikiran kemana sih malam ini akan di bawa. "Mas itu gak akan keliatan dari luar?"


"Tidak sayang." Arkan mengunci pintunya dan langsung melonggarkan dasi miliknya di hadapan Anjani.


Arkan berdeham, memang orang sepertinya perlu basa-basi lagi ya? Apalagi tujuan mereka itu jelas ke sini untuk bulan madu. meskipun sudah melakukannya, tapi tetap saja Anjani masih gugup dan malu kalau soal begini.


Arkan lebih dulu melepas jasnya, lalu melinting kedua lengan bajunya. Sementara Anjani masih berusaha menenangkan dirinya sendiri. Arkan tersenyum dan duduk di tepi ranjang, di samping Anjani.


"Kita tau tujuan ke sini apa, kenapa kamu terlihat gugup?" Tanya Arkan seraya memegang kedua lengan Anjani dan mengelusnya dengan lembut.


Tatapan Arkan ituloh, sekejap membuat Anjani tergagu karena tidak fokus. "Takut sakit lagi."


"Kedua kalinya tidak akan."


Karena tidak ada balasan dari Anjani perlahan Arkan mendekat dan Arkan melingkarkan tangannya ke belakang pinggang Anjani, setelah itu mendekatkan wajah mereka, menyatukah ujung hidung mereka berdua, Arkan tidak memulai dari bibir, dia langsung menciumi rahang dan leher Anjani, mengelus punggung wanitanya dan mulai melakukan semuanya sesuai dengan kehendaknya.


Anjani sendiri hanya berusaha untuk mengimbangi permainan karena memang kemarin hanya Arkan yang banyak melakukan tugasnya. Arkan menjauhkan wajahnya, dia kemudian beralih ke baju Anjani, kemudian tanpa sungkan langsung menarik belahan baju tersebut merobek baju yang menurut Anjani sangat cantik itu, tapi kemudian Anjani sadar bahwa Arkan tidak mungkin memberi gaun tersebut kalau tidak karena imajinasi liarnya yang harus dituntaskan.

__ADS_1


Anjani kemudian kembali melenguh saat Arkan kembali menggerayangi tubuhnya, sekarang Anjani benar-besar sudah nyaris polos, tapi juga berusaha menikmati semua hal yang Arkan lakukan atas tubuhnya.


Dia memejamkan matanya membiarkan dirinya terhanyut dalam sentuhan Arkan yang kadang membuatnya hampir gila. Arkan selalu memperkenalkan sesuatu yang baru untuknya dan sampai saat ini Anjani selalu enjoy dengan semua hal baru yang akhirnya dia tau.


Ciuman Arkan turun ke perut dan kini ke kedua pahanya, tanpa sungkan pria itu menanggalkan kain tipis yang masih menutup pusat tubuh Anjani. Anjani menarik napasnya, dia membuka matanya dan menatap Arkan, menunggu apa yang selanjutnya akan pria itu lakukan.


"M-mass ... "


Arkan menelan ludahnya sendiri menatap Anjani, sebelum akhirnya dia kembali mendekatkan wajahnya kemudian menciumi pusat dari tubuh Anjani tersebut membuat Anjani terkejut, ada hal semacam ini?


Karena selanjutnya bukan hanya mencium tapi Arkan juga memainkan lidahnya di sana, sebuah perasaan yang sebelumnya tidak pernah Anjani rasakan. Anjani melenguh beberapa kali, refleks tangannya menarik rambut Arkan menuntut yang lebih dari pada ini.


"M-masshh jangan ... Jorokk ... Jan– ahh." Anjani mencengkeram sprey dengan kencang. Ini benar-benar gila karena Arkan memang ingin memberikan hal manis di anniversary mereka.


Anjani tidak mampu melanjutkan kata-katanya, ucapannya terputus-putus karena napasnya yang pendek. Seluruh tubuh Anjani sudah lembab karena keringat, belum lagi lidah Arkan yang terus menerobos di bawah sana.


Dan ketika Anjani sudah tidak mampu lagi menahan gelombang kenikmatan yang Arkan tawarkan, Anjani meledak untuk yang pertama kalinya. Dan tentu saja Arkan sudah siap untuk menghabiskan semua tanpa sisa.


Setelah puas mengoyak bagian bawah Anjani dengan lidahnya, Arkan tidak tahan lagi untuk menanggalkan semua pakaian dan langsung masuk kepada intinya. Perlahan dia memasukan kembali miliknya pada milik Anjani. Membuat Anjani kembali merasakan terbang, Arkan benar yang kali ini tidak sakit, tapi malah nikmat saja yang dia rasakan.


.


.


.


Pagi harinya Anjani sudah berdiri di balkon kamar mereka sembari menatap ke arah lautan. Pagi ini dia memutuskan ingin berenang, tapi dia takut. Dia takut tenggelam. Oleh karena itu Arkan juga ikut karena katanya Anjani harus merasakan berenang di laut itu menyenangkan.


Apalagi suasana di resort ini sama seperti Maldives. Ada perosotan yang bisa mereka gunakan untuk masuk ke air dan berenang di lautan secara privasi. Lalu di sampingnya ada tangga untuk kembali ke atas.


Anjani melepaskan kimono tidurnya dan kini hanya menggunakan bikini yang tidak terlalu terbuka berwarna pink. Arkan tidak melarangnya kali ini karena memang hanya ada mereka berdua.


"Cantik." Arkan kembali memeluk Anjani dan menciumi ceruk leher istrinya seolah tidak puas dengan yang semalam. Padahal mereka beberapa kali melakukannya. Tapi wajar saja, namanya juga pengantin baru. Iya baru melakukan maksudnya.

__ADS_1


"Ahhh, M-mass jangan mulai aku mau berenang!"


Arkan terkekeh mendengar protes dari istri kecilnya. Ya bagaimana ya? Anjani membuat Arkan kecanduan sih, jadi jangan salahkan Arkan. Salah sendiri Anjani begitu candu.


"Masih rindu padahal."


"Rindu kamu itu beda tau, kamu kalau bilang rindu maunya ke sana ... "


Lagi-lagi Arkan terkekeh, cepat sekali Anjani belajar dan memahami apa yang dia inginkan. Namun pagi ini tidak akan kok, dia hanya senang saja menciumi ceruk leher Anjani. Nyaman.


Arkan lebih dulu meluncur di perosotan, sementara Anjani masih di atas menunggu Arkan menjaganya di bawah. Agar saat Anjani turun dia yang tangkap. Setelah siap baru lah Anjani berani meluncur dan ...


Hap.


Arkan berhasil menangkapnya. Anjani tidak mau turun, merasakan kakinya tidak menapak pada tanah. "Mass aku gamau tenggelam!" Kata Anjani panik.


Untuk sejenak Arkan tertawa. "Gerakan kakinya seperti ubur-ubur, Sayang. Nanti tubuh kamu akan terapung, tidak akan tenggelam."


Anjani menggeleng dan mengeratkan pelukannya pada Arkan. Dia tidak mau sampai tenggelam, meskipun dia sudah bisa berenang sebenarnya. "Dicoba sayang."


Perlahan Arkan melepaskan tubuh istrinya yang menempel sekali dengannya, Anjani sudah menjerit-jerit saat Arkan menjauh, tapi Anjani mempraktekkan apa yang akan ucapkan dan akhirnya dia bisa.


Anjani bahagia sekali. "Mass!! Bisaaa!"


Arkan ikut tertawa melihat itu, memang istrinya ini mudah belajar. Bahkan sekarang dia sudah mengejar Arkan. Akhirnya mereka saling bercanda dan kembali berpelukan.


"I love you!" Ucap Anjani.


"I love you too."


"I love you banyak-banyak!" Ucap Anjani.


"I love you banyak juga, Sayang."

__ADS_1


Lalu kemudian mereka mendekatkan wajah dan kembali berciuman satu sama lain. Meskipun singkat tapi bulan madu ini berkesan sekali untuk keduanya dan Arkan senang karena ternyata Anjani mencintai dirinya dengan utuh tepat di satu tahun mereka menikah.


__ADS_2