I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Menjadi Istri Perhatian


__ADS_3


Arkan melirik ke arah Anjani yang nampak diam saja, berbeda sekali. Biasanya Anjani menangis kalau ada sesuatu yang menyakitinya.


"Tumben tidak menangis?" Tanya Arkan.


"Aku nangis kalau aku lagi sedih, bukan kalau aku lagi marah," jawab Anjani seraya memandang ke arah kaca.


"Jadi istri saya sedang marah sekarang?"


"Ya."


Arkan tersenyum lalu menatap Anjani, perlahan tangannya mengambil tangan Anjani untuk dia genggam dan menciuminya. "Kenapa? Apa yang membuat kamu kesal? Andira marah?"


"Gak mau cerita, nanti kamu belain Andira lagi bukan aku." Anjani tidak memalingkan pandangan dari kaca, dia kesalnya hanya pada Andira tapi mengingat Arkan adalah kakaknya Andira dia malah ikut kesal pada Arkan.


"Darimana kesimpulan itu kamu dapat?"


"Karena kamu kakaknya Andira," ucap Anjani cepat.


"Kamu juga istri saya, saya akan memihak yang benar, bukan karena kedekatan. Kalau kamu salah, saya tegur. Begitu pula sebaliknya."


Anjani menghela napasnya dalam. "Aku gak suka ditampar di depan orang tanpa alasan. Aku kalau marah suka meledak-ledak, tapi aku gak bisa marah sama Andira karena dia adik kamu. Emangnya dia punya hak apa? Nanda dan Della aja gak pernah tuh kaya gitu ke aku, kalau mereka marah mereka bilang. Gak pernah ngasarin aku."


"Ini dia siapa? Aku aja gak terlalu Deket loh sama dia. Aku simpati atas apa yang terjadi sama dia, tapi kalau dia orangnya kaya gitu aku gak respect. Emangnya dia pikir aku bakalan lemah ya? Bakalan gak marah dan minta maaf ke dia?"


"Kamu tau kan, Mas kejadiannya gimana? Sebel banget, dipikir oke kaya gitu? Gak tau aja aku pernah jambak kakak kelas karena mereka labrak aku. Kenapa sih dia kaya gitu?" Cerocos Anjani. Tidak peduli Arkan akan marah padanya, Arkan kakaknya Andira, dia harus tau kalau adiknya itu menyebalkan.


Arkan terkejut sebenarnya dengan kelakuan Andira. Bagaimana bisa dia menampar Anjani sementara yang salah di sini adalah Bagas? Tapi Arkan tidak berkomentar dulu, dia membiarkan Anjani marah sampai perasaannya lega.


Sebenarnya inilah sisi lain Andira, dia orangnya terlalu kekanak-kanakan, terkadang dia menjadi begitu bergantung pada orang lain dan saat dia tidak diikuti permintaannya dia akan marah tanpa pandang bulu.


"Yasudah nanti saya bicara dengan Andira."


Anjani mengedikan bahunya, tidak peduli juga apa yang Arkan lakukan. Karena dia juga sudah puas melawan Andira dengan ucapannya. Tapi jangan harap kalau semuanya akan sama, Anjani kalau tidak suka akan sulit untuk kembali seperti semula.


Sesampainya di rumah, mereka langsung ke kamar. Melihat Arkan yang basah kuyup ternyata tidak tega juga. Jadi setelah dia menaruh tas, Anjani langsung mengambil handuk dan menghampiri Arkan.

__ADS_1


Tanpa bicara Anjani membuka kancing kemeja Arkan satu persatu, membuat Arkan jadi tersenyum sendiri melihatnya, ternyata gadis itu perhatian. "Harusnya kamu tadi pake payung, minimal kamu gak kebasahan."


"Melihat kamu basah begitu saya ingatnya hanya kamu saja."


"Jangan gombal, aku serius!"


"Memang saya ada tampang bercanda?" Tanya Arkan.


Anjani menghela napas, dia sedang malas berdebat dengan Arkan, dengan spontan Anjani melempar kemeja itu ke keranjang yang tidak jauh dari sana dan mengeringkan tubuh Arkan dengan handuk.


Tidak lupa juga Anjani mengusap kedua pipi Arkan dengan handuk untuk mengeringkan wajahnya. Namun saat Anjani hendak menurunkan tangannya Arkan menahan kedua tangannya di pipi, membuat Anjani menatap tepat ke manik mata Arkan.


"Peluk."


Anjani mengerutkan keningnya, kenapa Arkan menjadi mode gemas seperti ini sih pada saat dia kesal begini? Namun Anjani berusaha menahan senyumannya dan tetap menampilkan wajah datarnya.


"Saya mau dipeluk, kamu tega melihat saya kedinginan?"


"Emang kalau dipeluk jadi hangat? Dipeluk sama selimut enak."


Arkan tidak menjawab, dia memeluk Anjani lebih dulu. Anjani yang semula kaget, kini malah membalas pelukan Arkan yang sekarang membenamkan wajah di bahunya. Hangat dari tubuh Anjani yang memakai Hoodie sedikit membuatnya nyaman, apalagi aroma tuh dan wangi strawberry dari rambut Anjani. Itu sangat Arkan sukai.


"Saya tau kamu sedang marah, tapi jangan marah sama saya juga. Saya maunya kamu terus senang kalau bersama saya."


Setelah selesai mandi, Anjani dan Arkan langsung berbagi cerita, namun tiba-tiba Arkan mengeluh karena tubuhnya terasa demam. Anjani yang sedikit panik langsung mengambil kompresan. Anjani meletakkan baskom berisi air hangat ke atas nakas, lalu dia pun duduk di samping ranjang.


Tangannya terulur untuk mengambil thermometer yang Arkan jepit di mulut. 39 derajat celcius, demamnya lumayan tinggi. Gadis itu meraih ponsel yang tergeletak di ranjang, lalu menggulir layar pipihnya yang menampakkan laman pencarian di internet dengan judul 'Cara Mengobati Demam Pada Orang Dewasa' seraya mengopres dahi pria itu.


"Kamu sih, harusnya jangan ikut kehujanan kalau gak biasa hujan-hujanan," kesal Anjani.


"Suaminya sakit malah diomelin, disayang harusnya," ucap Arkan seraya memegangi tangan Anjani. Aneh, Arkan mendadak manja begini ternyata ketika sakit.


Anjani berdecak, selalu saja ada jawabannya yang membuat dia kesal. "Kompres udah, dicek suhu udah, buka semua ba ..." Anjani menahan napas. Apa-apaan ini? Bagaimana bisa Anjani melakukannya?


Gadis itubmelewati bagian yang mengatakan untuk membuka semua pakaian supaya suhu panasnya bisa keluar. Dia langsung lompat ke step selanjutnya. "Jika demam tinggi, beri paracetamol. Ah, mana gak ada paracetamol. Ke mana mesti mencari paracetamol?"


"Tidak usah dikasih apa-apa," kata Arkan Laki-laki itu terlihat sangat pucat dan lemas. "Ada kamu di sini, saya pasti cepat sembuh."

__ADS_1


Mendengar perkataan Arkan membuat Anjani memutar bola matanya malas. "Bisa gak gombalnya nanti aja?"


Arkan terkekeh sembari menepuk sisi ranjangnya yang kosong. Melihat hal tersebut membuat Anjani terdiam. Tiba-tiba ada perasaan takut yang menyelusup. Eh, tapi kan Arkan sedang sakit. Tidak mungkin kan laki-laki itu akan berbuat macam-macam?


Anjani akhirnya menuruti permintaan Arkan untuk berbaring di sebelahnya. Mereka sama-sama berbaring miring, saling memindai wajah masing-masing. Mata Arkan yang tadinya lebar, kini mulai menyipit karena menahan pening. Laki-laki itu mengerjapkan mata dengan pelan.


"Kenapa kamu tiba-tiba sudah menjadi dewasa?" Tanya Arkan.


"Kenapa emang?"


"Kamu setelaten ini merawat saya, yah istri kecil saya sudah tidak kecil lagi, tidak bisa saya jahili."


Anjani mendengus kesal, maksudnya apa coba. Memang menjahili Anjani terlihat seru ya di mata Arkan? Meskipun Anjani juga jahil tapi dia tidak suka dijahili balik.


Tangan Arkan terulur dan mengusap pipi Anjani dengan lembut. "Gadis kecil."


"Mas maunya aku kecil terus?" Tanya Anjani polos.


"Jangan, nanti saya harus menunggu lama lagi," jawab Arkan spontan.


"Dasar om-om!"


Arkan terkekeh, dia tidak berani memeluk Anjani sebenarnya. Takut dia ketularan, nanti Anjani ikut sakit. "Kamu tidur di kamar lain mau? Atau saya pindah aja ya?"


"Kenapa gitu?" Tanya Anjani seraya mengerutkan keningnya.


"Saya tidak mau kamu ketularan."


"Gak ada, apa-apaan sih. Lagian imun aku kuat." Setelah mengucapkan itu Anjani malah memeluk Arkan dengan erat. Tangannya yang terlurur langsung mengusap-usap punggung pria itu, membuat Arkan berdebar saja.


"Anjani, nanti kamu-"


"Diem bisa, gak? Katanya mau disayang-sayang, udah dilakuin masih protes," kesal Anjani.


"Saya hanya tidak-"


"Diem atau aku pindah selamanya dari kamar ini?"

__ADS_1


Mendengar itu Arkan terdiam, kalau Anjani sudah main ancam begini lebih baik menuruti kemauannya saja, karena dia benar-benar akan melakukannya.


__ADS_2