I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Jadi Saya Antagonis Atau Cameo Saja Di Cerita Kamu?


__ADS_3


Namanya juga remaja yang baru mengalami putus cinta, sedari tadi Anjani diam menatap ke arah jendela sambil terus menangis. Arkan mencoba mengajaknya untuk bicara namun Anjani tak menghiraukannya. Arkan mewajari, apalagi wanita memang hatinya jauh lebih lembut dari pria yang di mana segalanya akan dibuat jauh lebih mudah dan berpikir menggunakan logika agar tidak terlihat lemah.


Perlahan Arkan mengambil ponselnya dan mencari kontak Mario calon mertuanya untuk dihubungi. Beberapa menit menunggu akhirnya panggilan itu dijawab.


"Selamat malam, Om. Saya izin terlambat mengantarkan Anjani pulang karena akan mengajaknya berkencan," ucap Arkan yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Anjani. Namun pria itu mengabaikannya seolah tak menganggap SP 1 dari Anjani.


"..."


"Baik, Om. Saya pasti akan mengantarkan Anjani pulang dengan selamat. Terima kasih karena telah mengizinkan saya membawa putri anda," balas Arkan dengan sedikit terkekeh lalu mematikan sambungannya.


Anjani menyeka air matanya dan menghadap ke arah Arkan. "Pak Arkan apa-apaan sih?! Aku mau pulang!"


Arkan menulikan telinganya dan tetap fokus menyetir. Akan susah memang jika harus menjelaskan pada remaja yang sedang patah hati, semuanya pasti akan di hadapi dengan emosi yang meluap-luap.


"Pakkk!!"


"Kamu menangis, Anjani. Saya tidak mungkin membawa kamu dalam keadaan seperti ini. Bukan hanya saya yang akan ditanya, tapi kamu bisa saja diintrogasi," jawab Arkan sederhana.


Anjani mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, setelah itu kembali menyilakan tangannya dan menatap ke luar jendela. Arkan menghela napas, tapi ya beginilah resiko memilih menikahi remaja, dia harus ekstra sabar mengahadapi calon istrinya yang masih dalam proses pendewasaan.


Arkan menghentikan mobilnya di sebuah taman yang cukup enak untuk dijadikan tempat pacaran. Bukan pacaran juga sih sebenarnya, ya dia tau pasti Anjani butuh ketenangan. Melihat Anjani yang belum mau turun akhirnya dia turun lebih dulu dan mampir ke salah satu kedai eskrim yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan. Apalagi kalau bukan Mixue.

__ADS_1


Setelah memesan dua cup eskrim boba, dia kembali menemui Anjani dan membukakan pintu mobilnya. Anjani menatap ke arah Arkan yang mengulurkan tangannya, namun dia seolah menolak. Arkan menghela napas. "Turun dulu."


Anjani menurut meskipun dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, dengan lembut Arkan menggenggam pergelangan tangan Anjani dan mengajaknya untuk bersandar di depan mobil. Tangan Arkan terulur memberikan satu cup eskrim pada Anjani. Jujur, kalau Anjani diberi eskrim mana bisa dia menolak. Jadi dengan terpaksa dia menerimanya.


Arkan menggelengkan kepalanya pelan, selain mudah marah, cengeng, dan galak. Ternyata Anjani juga ratu gengsi, dia sudah persis sekali dengan anak kecil yang kalau apa-apa merajuk, apa-apa harus dibujuk. Untung Arkan ini memang orang yang peka walaupun datar begitu.


"Patah hati itu wajar, jadi menangis lah kalau memang ingin," ucap Arkan.


"Patah hatinya karena Bapak!" Kesal Anjani seraya memasukan eskrim ke dalam mulutnya.


"Bagas yang memutuskan kamu kenapa saya juga yang kamu salahkan?" Tanya Arkan terkekeh.


"Kalau Pak Arkan gak menerima perjodohan kita pasti sekarang kita akan mudah. Pasti saya akan bahagia sama Bagas sampai kami lulus, kuliah bareng, menikah, lalu punya anak!"


"Kita saja tidak tau di menit berikutnya masih bernapas atau tidak," lanjut Arkan sembari memakan eskrim miliknya.


Merinding, lagi pula kenapa sih Arkan harus membahas itu? Sudah jelas yang dimaksud Anjani adalah mengenai kehidupannya bersama Bagas. Kalau soal kematian sudah jelas tidak ada yang tau, semakin membuat Anjani kesal saja pria ini.


"Tapi ini beda konteks, kaya kita menyusun cita-cita aja buat kedepannya dan saya udah susun itu dengan baik bersama Bagas di kisah saya. Lalu bapak datang seolah merusak kebahagiaan kedua tokoh protagonis!" Balas Anjani tak mau kalah.


"Maksud kamu saya antagonisnya atau cameo di dalam cerita kamu?"


"Ya tentu!" Jawab Anjani tanpa perlu berpikir lagi, karena bagi Anjani ceritanya ini ya berjudul Bagas dan Anjani. Jadi Arkan lah antagonisnya karena membuat mereka berpisah.

__ADS_1


Arkan terkekeh sembari memijat pangkal hidungnya, membuat Anjani semakin keheranan melihatnya. "Belum tentu juga, siapa tau saya pemeran utama ceritanya yang sengaja didatangkan di akhir oleh authornya. Kita hanya pemain, hanya mengikuti alur sampai kisah ini selesai. Benar, kan?"


Anjani yang merasa kalah langsung menatap Arkan, lagi-lagi meskipun datar tapi wajah itu seperti sedang meledeknya. Anjani tidak suka! Tapi Arkan tidak salah juga, namun dia tetap tidak ingin kalah dalam pergelutan argumen ini!


"Hidup harus realistis, kamu sudah memilih dan ini resiko yang harus kamu ambil. Kamu bisa memilih untuk menolak atau kabur tapi kamu tetap di sini, kan? Siapa tau takdir kamu itu memang saya."


"Tapi saya gak mau!"


"Silahkan mengadu pada Tuhan, kalau Minggu nanti acara pernikahan kita tidak batal, berarti kamu memang ditakdirkan hidup bersama saya," ucap Arkan enteng.


Anjani menahan napas untuk sejenak, kenapa bicara dengan orang dewasa seberat ini sih, padahal simpel menurut Anjani adalah Arkan membatalkannya dan sudah selesai. Tapi Arkan malah membawa soal takdir, kematian dan juga Tuhan.


Selesai makan eskrim dan mengalihkan pikiran, Arkan benar-benar mengantarkan Anjani pulang jam 10 tepat. Meskipun matanya masih terlihat menangis tapi Mario tau kok apa yang membuat Anjani menangis, jadi dia tidak serta merta memarahi Arkan atau menuduhnya macam-macam. Dia justru berterima kasih karena Arkan bertanggung jawab dengan baik malam ini.


Anjani yang masuk ke dalam tidak menghiraukan panggilan kedua orang tuanya. Dia sudah mengikuti perkataan mereka jadi sekarang biarkan dia diam, dia hanya ingin diam dan tidak mau mendengar apa-apa lagi. Kalau saja membenci orang tua itu tidak berdosa, pasti sudah Anjani lakukan. Tapi sayangnya berdosa.


Viona khawatir sih sebenarnya, bagaimana pun dia tidak mau kalau sampai harus jauh dari anaknya, apalagi melihat Anjani mendiamkannya membuat hatinya teriris. Bukan salah Anjani, dia tau kalau Anjani lelah harus selalu menjadi yang paling menurut, kalau saja bukan karena kejadian beberapa bulan lalu, pasti Viona tidak akan menyetujui ini. Iya, itu adalah alasan sesungguhnya kenapa mereka memilih menjodohkan Anjani dengan Arkan.


Anjani merebahkan dirinya di kasur, tidak berniat untuk membersihkan diri atau melakukan apapun. Dia kembali menangis saat membaca pesan-pesan kekecewaan yang dikirimkan oleh Bagas. Dia tau, dia sangat bersalah di sini tapi ini sudah resikonya. Dia juga bersalah karena tidak memberitahu Bagas lebih dulu, jadilah semuanya kacau berantakan.


Menurut Anjani, Arkan sangat jahat karena langsung mempertemukan dirinya dengan Bagas tanpa bicara dulu kalau di acara ini ada Bagas. Arkan benar-benar egois dan dia benci pria yang seperti itu.


"Gimana aku bisa jalanin kehidupan bersama orang yang aku benci? Gimana aku jalanin hubungan yang gak aku kehendaki? Gimana aku jalani hubungan dengan seseorang yang berkaitan erat dengan orang yang aku cintai?" Anjani bergumam seraya menumpahkan seluruh tangisannya yang sudah dia pendam.

__ADS_1


Kali ini dia benar-benar menumpahkan segalanya. Kamar ini adalah saksi di mana Anjani selalu menangis, tempat ini adalah saksi bisu di mana hanya mereka yang tau seberapa rapuhnya Anjani, seberapa besar dia mencintai Bagas, seberapa dia benci berada di keluarga ini dan seberapa bencinya dia pada Arkan Altair yang sebentar lagi akan benar-benar mengubah kehidupannya ke kehidupan yang tidak pernah dia harapkan.


__ADS_2