
Pulang bulan madu, Anjani bukan senang tapi malah moodnya berantakan. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, mereka benar-benar langsung menuju kediaman papa Mario dan Mama Viona.
Sesampainya di sana, Anjani nampak buru-buru mengambil paper bag yang memang isinya oleh-oleh untuk kedua orang tuanya. Anjani memang sudah menyiapkan oleh-oleh untuk semua orang, termasuk pelayang di rumah.
Tanpa mempedulikan Arkan dan Seana dia bergegas masuk duluan menemui orang tuanya. Seana nampak ragu untuk masuk, tapi Arkan berusaha meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Akhirnya dengan perasaan bercampur aduk Seana menganggukkan kepalanya.
Anjani yang masuk langsung mendapati orang tuanya sedang bercanda di ruang keluarga langsung saja menghampiri mereka. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, eh sayang. Sama siapa ke sini? Gio mana?" Tanya Mama Viona.
Anjani tidak menjawab. "Ini ada oleh-oleh, aku beli di Lombok."
Mereka tau sih kalau Anjani dan Arkan pergi bulan madu, tapi ada apa sampai membuat Anjani terlihat tidak mood begitu?
Anjani berusaha biasa saja padahal ada banyak sekali kekesalan dalam dirinya. Tapi justru itulah yang membuat kedua orang tuanya keheranan.
Mario tersenyum dan memeluk putrinya dengan hangat, membuat Anjani juga membalas pelukan sang ayah yang memang Anjani perlukan sekarang. "Kenapa sayang, cerita sama kami. Berantem sama Gio?"
Anjani menggelengkan kepalanya, sungguh dia tidak tau harus menjawab apa. Tidak mau dia membahas Seana, dia yang memiliki banyak masalah di rumah ini, selesaikan saja sendiri.
Mario menghela napas dan memberikan Anjani waktu untuk meredakan amarahnya, dia tau Anjani sedang emosi sekarang meskipun tidak tau penyebabnya apa.
Tiba-tiba suara sepatu mengintruksi mereka dan membuat Mario dan Viona menatap ke arah sana. Sekarang mereka tau apa yang membuat Anjani semarah ini.
"Se ... " Viona terkejut, lebih terkejut lagi karena melihat putri sulungnya nampak tidak terurus dengan membawa anak kecil dalam gendongannya.
__ADS_1
Hati seorang ibu mana yang tidak sakit melihat ini? Arkan memberi waktu pada keduanya dengan mengambil alih Beryl dan membiarkan Viona memeluk putrinya.
"Maaa, maafin Seana Ma." Seana mulai menangis di pelukan sang ibu.
Viona yang masih tidak bisa berkata-apa, mengusap punggung putrinya. Kenapa, apa dan bagaimana. Semua itu bersarang dipikirannya. Selama ini yang dia ketahui Seana hidup nyaman di luar sana dan itu kenapa dia tidak menyangka kalau begini.
Mario menatap tajam pada putrinya itu, membuat Seana ketakutan. Karena memang ketakutannya selama ini adalah ayahnya sendiri. Kini Seana perlahan melepaskan pelukan pada ibunya dan menghadap Mario.
Dia sudah di sini dan tidak mungkin dia berlari lagi, melihat Mario yang tak mau menatapnya membuat Seana kini berlutut di hadapan ayahnya dengan anjani yang masih berada di samping Mario.
Anjani tidak tega sebenarnya, Arkan bisa melihat itu karena beberapa kali dia memalingkan wajah dan menyeka air matanya. Anjani itu sebenarnya penyayang, hanya saja dia mudah terbawa emosi. Tapi sebenarnya dia mudah menangis.
"Pa maafin Seana, Seana salah selama ini gak nurut apa kata papa. Maaf Seana selalu menyalahkan papa dengan merasa papa lebih sayang sama Anjani Seana minta maaf. Pa, Seana baru sadar apa yang papa bicarakan itu benar. Dia kabur dan gak bertanggung jawab. Aku bohong soal pernikahan itu karena takut papa marah. Maafin Seana.
Viona yang tak tega langsung menghampiri Seana dan memeluknya, namun Mario masih belum membuka suaranya. Meskipun keras begitu, Mario adalah ayah yang sangat menjaga anak-anaknya meskipun caranya terkadang salah.
Tanpa bicara Mario malah membawa Anjani ke ruang kerjanya dan tidak menanggapi Seana. Dia perlu Anjani untuk menghilangkan rasa kecewanya, karena Anjani selalu mengobati luka hatinya dengan memenuhi ekspetasinya sebagai seorang ayah sejak dulu. Hanya Anjani yang membuatnya bahagia sebagai seorang ayah sekarang. Itu kenapa dia perlu Anjani.
Anjani juga memang masih marah pada Seana dan akhirnya menurut juga. Membuat Arkan mau tidak mau harus menyusul mereka. Tapi sebelum itu Arkan mengembalikan Beryl kepada ibunya. "Ma lebih baik bawa Seana ke dalam dulu, mama yang bisa netral di sini. Biar saya bicara dengan papa dan Anjani."
Seana tertegun, dia salah fokus karena Arkan menyebut ibunya dengan sebutan Mama. "Dia–"
"Suami Anjani, nanti Mama jelaskan. Sekarang kamu bersih-bersih dulu dan ceritakan apa yang terjadi sama Mama ya. Papa perlu waktu, Sayang."
Mendengar itu Seana menganggukkan kepalanya dan mengikuti arahan ibunya. Lama sekali dia pergi dari sini dan banyak sekali perubahan di rumah ini. Sampai dia tidak tau kenapa Anjani bisa menikah di usia yang sangat muda begini. Apa yang terjadi?
Arkan mengetuk ruang kerja Mario dan masuk ke dalam. Di lihatnya Anjani dan Mario sedang bicara dari hati ke hati. Memang meskipun Anjani anaknya keras kepala, tapi dia sekarang adalah orang yang bisa diandalkan untuk mendengar cerita orang tuanya.
__ADS_1
Untuk itu Arkan bergabung di sofa single yang ada di sana. Membiarkan anak dan ayah itu tenang sembari mencoba menyusun kata-kata untuk bicara dengan ayah mertuanya. Karena bagaimana pun Arkan ini anak, seharusnya dia tidak menceramahi yang lebih tua. Mungkin lebih tepatnya Arkan harus menjelaskan posisi Seana dulu sih.
Anjani menyeka air matanya dan mengisyaratkan untuk Arkan bicara saja sekarang. Dia tau Arkan ingin bicara pada ayahnya meskipun tidak tau apa.
Melihat itu Arkan berdeham. "Sewaktu kami akan pulang dari Lombok, kami menyelamatkan anak yang hampir tertabrak oleh mobil. Anak itu anaknya Seana– Kak Seana."
Bingung sebenarnya Arkan harus memanggil apa. Secara teknis dia kakaknya Anjani, tapi realita mengatakan kalau Arkan lebih tua darinya. Membingungkan memang.
"Kamu cek keadaan rumah yang mereka tempati dan mereka tinggal dikawasan kumuh dengan bermodalkan tenda yang hampir rubuh. Jadi saya putuskan untuk membawa mereka pulang meskipun dengan resiko Papa marah," lanjut Arkan.
Degh ...
Mendengar itu Mario merasa sesak sekali. Selama ini dia berusaha memenuhi kebutuhan anaknya agar hidup dengan baik dan sekarang Seana harus merasakan hidup dengan susah karena seorang pria? Hatinya hancur sekali.
"Saya tau mungkin Papa marah dan kecewa, tidak apa-apa ungkapkan saja. Papa abdi selalu begitu pada saya. Tapi setelahnya mungkin Papa bisa pertimbangkan untuk memaafkan Kak Seana. Dia menyesal dan sekarang membutuhkan sosok ayahnya. Apalagi ada Beryl yang masih kecil."
"Salah sendiri kabur," celetuk Anjani.
"Anjani ... "
Nahkan sekarang gadisnya ini malah memanas, padahal Arkan berusaha menenangkan keadaan. Arkan harus sabar-sabar memang di sini. "Gak boleh gitu, dia kakak kamu."
Anjani mendengus sebal, sebenarnya ya bagaimana yang. Dia ingin menyalahkan semua keadaan pada Seana, dia ingin mengatakan kalau dia tersiksa akibat perbuatan kakaknya. Dia kesal saat tadi Seana tak mau menatapnya dan berpura-pura tidak kenal.
Padahal yang menanggung kekecewaan orang tuanya pada saat itu dia. Anjani yang diceramahi habis-habisan karena Seana hamil di luar nikah. Belum lagi dia dijodohkan karena tidak mau nasibnya sama seperti Seana.
Meskipun menikah dengan Arkan itu adalah kebahagiaan sekarang, tapi tetap saja. Dia pernah melewati masa sulit untuk menerima dan merasakan perasaan tertekan dengan sangat dan sekarang Seana begini padanya. Siapa yang tidak kesal coba?
__ADS_1