I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Rindu dan Kesedihannya


__ADS_3


Hari ini seperti biasa yang Anjani lakukan adalah mengurus anaknya, setelah mengurus ayahnya untuk pergi kerja, barulah Anjani bisa fokus pada Arsyla.


Dia sudah belajar banyak hal, dari memandikan bayi, mengganti popoknya, memakaikan baju dan juga menggendong, pokoknya Anjani sudah bisa melakukan itu semua berkat suami dan ibu mertuanya.


Seperti sekarang, Anjani memberikan sentuhan akhir sebagai pewangi pada Arsy agar anaknya ini semakin cantik. "Udah cantik deh anak mama, sekarang mau apa? Mau bobo lagi Arsyla? Atau mau nunggu Ayah? Tapi ayah masih lama kerjanya, gimana kalau ketemu Oma?"


Mendapat sambutan dari sang anak yang nampak senang Anjani langsung menggendong dengan Anjani.


Namun baru saja dia sampai di bawah, matanya tertuju pada mama mertua dan juga seorang wanita yang membawa anak. Tidak asing, Anjani memutuskan untuk mendekat dan benar saja, kan? Itu wanita yang sama seperti saat Anjani dan Arkan melakukan imunisasi.


Mau apa lagi coba dia ke sini? Mau cari perhatian? Kalau soal cari perhatian juga Anjani jagonya. Di sisi lain Hera yang merasakan kehadiran menantunya langsung mengajak Anjani untuk bergabung. "Sayang sini."


Hera menepuk sofa di sebelahnya dan Anjani pun langsung duduk di sana sembari menciumi putri kecilnya. Hera tersenyum, memang Anjani ini pintar sekali merawat anaknya, jam segini mereka berdua sama-sama sudah wangi dan cantik. "Cucu Oma sudah minum susu?"


"Udah, Ma. Udah wangi juga, mau main sama Omanya," balas Anjani sambil tersenyum.


Mendengar itu Hera terkekeh lalu menggendong cucunya itu dengan sayang. Bukan hal baru lagi memang, kalau Hera dan Abdi sudah di rumah pasti Arsy menjadi mainan mereka berdua. Selain lucu ya karena mereka memang sejak dulu ingin mempunyai anak perempuan.


Rindu yang melihat itu sedikit merasa terganggu, kalau dikatakan dia ke sini ingin mencari perhatian benar. Ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di Indonesia setelah sekian lama menetap di Amerika. Suami yang tidak bertanggung jawab, kehidupan yang memburuk baru saja terlepas dari hidupnya dan saat kemarin bertemu dengan Arkan, dia seolah menemukan kembali impiannya.


"Ini menantu Tante, namanya Anjani," ucap Hera sambil tersenyum.


"Udah kenal, Ma," ucap Anjani.


Hera sedikit merasa canggung, dia tau kalau Rindu kemarin menjadi alasan pertengkaran Anjani, tidak heran kalau Anjani merasa tidak nyaman dengan kehadiran Rindu di sini.


"Anjani masih muda ya, Tan?" Rindu terkekeh sembari mengusap puncak kepala anak yang bernama Jihan itu.


"Iya, Anjani dan Gio dijodohkan sewaktu Anjani masih SMA, sekarang dia sedang menempuh pendidikan di universitas negeri, tapi karena melahirkan cucu Tante jadi Anjani harus cuti dulu sementara waktu."

__ADS_1


"Ohhh muda sekali ... " Serius? Arkan mendapatkan istri karena dijodohkan berarti ada keterpaksaan di antara keduanya? Itu yang ada dipikiran Rindu.


"Iya tapi meskipun masih muda begini Anjani mudah belajar, dia bisa mengerjakan segala hal, mengurus anak, mengurus suaminya juga. Tidak salah pilih memang Tante," kata Hera.


Aduh boleh tidak Anjani salah tingkah sekarang, ini dia dipuji oleh mama mertuanya di depan orang yang menyukai suaminya. Bagaimana Anjani tidak melayang dan merasa di awan. Apalagi melihat raut wajah Rindu yang seketika merasa keheranan.


Tentu lah Anjani ini pemenangnya, salah kalau Rindu mau bermain-main dengannya. Salah besar! "Mama jangan gitu, aku juga masih belajar kok. Soalnya Mas Arkan kan SAYANG banget sama aku, jadi aku harus segala bisa juga. Biar gak ada PELAKOR juga kan, Ma?"


Anjani tersenyum ke arah Hera, membuat Hera membalas senyumannya juga dengan sedikit ngeri. Ternyata menantunya ini memang sangat frontal. Bukan seperti di senetron-sinetron yang dia tonton. "Hahaha iya tentu dong, Sayang. Gio itu memang kalau sudah mencintai sesuatu tidak main-main."


"Hahaha iya, Ma. Emang mas Arkan itu suami idaman. Tapi cuma sama satu wanita aja sih."


Rindu meneguk air liurnya dan meminum teh yang sudah disediakan. Tenggorokannya terasa tercekat mendengar itu. Ini memang benar? Arkan yang tidak mudah di sentuh jatuh cinta pada anak ingusan? Benar-benar aneh.


"Jadi suaminya, Mba gimana? Pasti sama dong, apalagi anaknya lucu begitu."


"Aku udah bercerai."


"Kenapa bisa bercerai, Rindu? Ya ampun, kok bisa meninggalkan kamu dengan anak kamu begini?" Tanya Hera.


"Aku juga gak tau, kehidupanku di Amerika gak seperti yang dibayangkan orang-orang, Tan. Selama hampir 7 tahun ini aku selalu mendapatkan kekerasan verbal dan non verbal. Padahal aku pintar dalam segala hal, aku berusaha melakukan yang terbaik untuk rumah tangga aku tapi mungkin memang dia bukan orang yang tepat."


"Yaampun," gumam Hera dan Anjani berbarengan.


Ya kalau didengar dari cerita Rindu sih menyedihkan ya? Tapi melihat Rindu yang kembali datang ke sini dengan alasan silaturahmi itu membuat Hera dan Anjani memiliki pemikiran yang sama.


Pasalnya Hera sudah tau dan hafal sekali dengan Rindu yang dulu tidak mudah menyerah meskipun sudah ditolak berkali-kali, jangan sampai deh kali ini juga begitu. Hera tidak mau kalau sampai putra dan menantunya.


Belum lagi setelahnya masih banyak cerita sedih yang dia ceritakan. Sejujurnya Anjani tidak berminat juga mengetahuinya tapi Rindu nampak menggebu-gebu sekali.


"Sabar ya, Rindu. Mungkin memang bukan yang terbaik, Tante berharap semoga kamu bisa melanjutkan hidup dengan baik."

__ADS_1


"Iyaa, Tan. Sebenarnya hidup aku itu bisa aku jalanin. Tapi kasian Jihan yang sangat menginginkan sosok ayah. Sosok yang bertanggung jawab."


"Carilah," ucap Anjani spontan.


"Di luar sana banyak kok, Mba cowok baik yang bisa jadi suami yang baik."


Rindu hanya terkekeh mendengar itu. "Gak semudah itu Anjani, selain yang nyaman dengan aku, harus nyaman dengan Jihan juga."


"Loh emang Jihan mau papa yang gimana?" Tanya Anjani pada Jihan.


"Kaya Om itu!" Jihan dengan polosnya menunjuk ke arah photo Arkan.


Sumpah, Anjani mengumpat dalam hati. Kenapa anaknya juga sama seperti ibunya sih menyebalkan sekali. Bisa bisanya dia menunjuk photo suaminya.


Wajah Anjani sudah berusaha mati-matian untuk tersenyum, di belakang sana Hera mengusap-usap punggung Anjani. Dia tau kalau menantunya ini mudah meledak, jadi dia di sini harus menenangkannya walaupun hanya dengan sentuhan seperti ini.


"Sayang, jangan gitu. Gak enak loh sama Tante Anjani, gak boleh ya? Aduh Anjani maaf ya, namanya juga anak anak."


"Iya hehehe." Anjani masih berusaha terkekeh, walaupun dalam hatinya dia mengumpat, mengumpat kejadian hari ini yang membuat moodnya berantakan.


Ada satu jam mereka bicara, sampai akhirnya Rindu pulang karena dia harus ke kantor siang ini. Serius sih Anjani tidak peduli dengan basa-basi dan lain sebagainya. Tapi maksudnya apa sih dia ke rumah ini? Bikin emosi saja.


Setelah mengantarkan tamunya ke luar Anjani langsung kembali ke samping ibu mertuanya. "Ma aku kesel."


"Sabar, Sayang. Rindu memang orangnya seperti itu," ucap Hera.


"Tapi maksudnya apa loh ke sini, Mas Arkan kan udah ada istri tapi dia kaya masih deketin gitu, aku gak suka. Mama boleh bilang aku kaya anak kecil, tapi cewek itu tuh!!" Anjani geram.


Hera yang sedang menggendong cucunya mengusap pipi Anjani dengan lembut. "Sayang, dengar mama. Mau sekuat apapun dia berusaha, kamu tetap pemenangnya. Di hati Gio, di hati mama, di hati keluarga ini. Jadi jangan khawatir soal itu."


Anjani langsung memeluk ibu mertuanya, ah dia terharu sekali. Memang sepertinya Arkan ini menurun dari ibunya, dia bisa menenangkan hati Anjani dengan begitu mudah dan Anjani senang untuk itu.

__ADS_1


__ADS_2