
Setelah sampai di bandara, tanpa berpikir panjang Anjani turun dan ikut masuk ke dalam. Abdi yang melihat Anjani begitu langsung menarik lengan menantunya dan melindunginya dari desakan banyak orang.
Sekilas Anjani menatap papa mertuanya itu lalu menggenggam erat tangan Abdi yang kini membawanya sambil terus melindunginya. Banyak suara tangis, rasa cemas dan khawatir saat ini.
Anjani sampai lemas memikirkan keberadaan Arkan. Bagaimana keadaannya saat ini? Sambil terus merapalkan doa dia terus menangis sembari menggenggam erat tangannya sendiri.
"Anak saya dalam penerbangan ini?" Tanya Abdi pada petugas.
"Bisa di cek namanya, Pak." Petugas itu langsung memberikan kertas-kertas, berisikan nama penumpang yang ada di sana.
Arkan Giovano Altair
Gerald Atmakusuma Wiharja
Anjani yang ikut meneliti itu mendadak tubuhnya ambruk ke bawah. Nama Arkan dan juga asisten pribadinya ada di sana. "MAS ARKAN ADA DI SANA, MAAA ... "
Abdi dan Hera melihat itu juga seketika lemas, mereka menjatuhkan dirinya, sembari memeluk Anjani yang sekarang sudah histeris. "Papa ... Pak balikin Mas Arkan aku gak bisa kehilangan Mas Arkan. Ayok kita cari, Paa. Anjani mohon." Anjani memeluk Abdi dan mencengkeram erat bajunya.
Apa yang terjadi hari ini masih belum bisa dicerna dengan baik. Belum lagi pesawat jatuh di kedalaman diperkirakan semuanya tidak selamat. Hera tidak bisa mengontrol dirinya dan menangis sekencang-kencangnya.
Anak yang dia kandung menghilang dalam kecelakaan pesawat, anaknya satu satunya yang sebentar lagi akan menjadi ayah. "Mass ayok cari Gio ... Aku yakin Gio masih hidup. Ayokk Masss!!" Teriak Hera.
Bagas dan Vanya yang melihat itu pertahanannya runtuh. Bagaimana bisa kejadiannya secepat ini? Anjani dan Arkan baru saja berbahagia untuk menyambut anak mereka. Bagaimana bisa ini terjadi? Apalagi melihat Anjani begitu terpukul saat ini membuat mereka terhenyuk, bahkan selama mengenal Anjani dan berbagai ceritanya baru kali ini Bagas melihat Anjani menangis seperti itu.
Dada Anjani begitu sesak, dia bahkan memukul-mukul dadanya sendiri saking sesaknya. "Paa ayok cari Mas Arkan. PAPAAAAA!!"
Abdi yang berusaha menahan air matanya kini tidak dapat di bendung lagi. Pikirannya sudah berkecamuk, mengandalkan perasaan tapi Medan di sana begitu tidak meyakinkan. Logika pun juga harus di pakai tapi perasaannya menolak. "Iya, Sayang. Iya nanti kita cari Gio, kita–"
Abdi tak bisa melanjutkan kata-katanya. Pertahannya runtuh seketika. Pikirannya kosong, karena terlalu banyak hal yang ingin dia ledakan seketika. Dia berusaha sejak tadi untuk biasa saja tapi tidak bisa, dia juga seorang ayah.
"Pa ayokk, Pa kita gak bisa di sini aja, kita–Akhhh." Perut Anjani seketika keram.
__ADS_1
"Sayang, kenapa?" Tanya Hera panik.
"Sakit, Ma. Tapi aku gapapa, ayok kita cari Mas Arkan Ma. Ayokk kita ke sana," pinta Anjani memohon dengan suara paraunya. Terdengar perih sebenarnya di pendengaran orang yang mendengarnya.
Hera semakin panik, di satu sisi anaknya, di satu lagi kehamilan Anjani dan juga menantunya. Apalagi Anjani yang nampak semakin kesakitan membuat Abdi harus mengambil keputusan.
Tiba-tiba Mario dan Viona datang. "Anjani!!"
"Akkhhh sakit banget, Maa," ucap Anjani sembari memegang perutnya.
Melihat itu Abdi merasa sedikit lega. "Begini saja, kalian bawa Anjani ke rumah sakit." Anjani tidak bisa tetap di sini kalau tidak dia akan terancam juga nyawanya.
Rasa sakit yang belum dia bayangkan sebelumnya. Perutnya seakan di sayat-sayat dari dalam. Membuat Anjani menangis dengan sakit yang menyeruak ke seluruh tubuhnya.
Mario yang mendengar keputusan Abdi langsung menggendong putrinya, namun Anjani menolak. "Aku gak mau, Pa. Aku mau cari Mas Arkan. Aku gak mau ke rumah sakit, aku mau cari Mas Arkan."
Namun Mario dan Viona tidak mendengarkan mereka malah fokus untuk menyelamatkan Anjani sekarang.
Viona yang tidak tega melihat Anjani begitu berusaha menenangkannya, dia tau ini tidak mudah tapi sedikitnya dia bisa ada untuk putrinya saat ini.
.
.
.
Di ruang tindakan Anjani meremas kuat bajunya. Para perawat sudah sigap memasangkan infus dan menyuntikan beberapa obat. Apalagi dari bandara ke rumah sakit jaraknya cukup jauh dan Anjani harus menahan rasa sakitnya.
Baru kali ini dia merasakan sakit yang berlipat-lipat begini rasanya. Perasaannya kacau, pikirannya kacau dan tubuhnya tidak mendukung membuat Anjani merasa lemah sekarang. Istri macam apa dia yang tidak bisa mencari suaminya.
Arkan selalu mengusahakan apapun untuknya, hanya Arkan orang yang dia cintai. Hanya Arkan juga yang dia mau sekarang, dia bahkan tidak memperdulikan dirinya sendiri sekarang.
"Dokk ... Izinkan saya pulang ya, saya mau cari suami saya" pinta Anjani kepada dokter yang menanganinya.
__ADS_1
"Tidak bisa Bu Anjani, kondisi ibu tidak baik-baik saja. Ibu bisa kehilangan anak ibu kalau memaksakan diri untuk mencari suami ibu. Ibu tenang ya. Saya keluar dulu dan ibu Anjani tunggu sebentar sebelum dipindahkan ke ruang rawat."
Mendengar itu Anjani kembali menangis, bagaimana ini? Tubuhnya juga seolah tidak bisa diajak kerja sama sekarang, lemas sekali. Bahkan untuk duduk pun rasanya susah.
"Mass ... " Anjani menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya. "Ya Allah selamatkan suami hamba, hamba tidak mau minta apa-apa lagi."
Katanya doa yang tulus dan pasr
ah berserah akan mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Anjani mungkin bukan manusia sempurna yang bisa melapangkan semuanya, tapi kali ini dia benar benar berdoa agar Arkan selamat, agar Arkan tidak meninggalkannya.
Semua rasa sesak itu menjalar sampai kepala, kepalanya sudah pusing dengan mata sembab yang tidak berhenti mengeluarkan air mata. "Mas kamu harus selamat demi anak kita. Anak kita butuh papanya."
Viona yang sudah diizinkan masuk langsung menghampiri Anjani dan memeluknya. Perasaannya tidak akan enak kalau belum memeluk Anjani. "Sayang ... "
"Mama, Mas Arkan," ucap Anjani lirih.
"Anjani ... "
"Gimana kalau Mas Arkan gak sela–"
"Anjani sudah, jangan bicara dulu, Sayang. Kita sama-sama berusaha sekarang. Papa Abdi dan Mama Hera sedang mencari tau letak pasti kecelakaan dan sudah menyiapkan kapal besar untuk ikut serta mencari Gio. Sudah, kamu harus tenang. Kasian anak kamu, Sayang."
"Tapi Mas Arkan gimana? Mama Anjani gak mau ditinggalin Mas Arkan. Anjani gak mau hidup tanpa Mas Arkan. Maa Anjani gak mau."
Viona semakin mengeratkan pelukan pada putrinya lalu menangku kedua pipi Anjani dan mengecupinya. "Kamu kuat, harus kuat. Kita berserah pada Allah ya, Nak? Mama tau kamu sakit, tapi percaya. Semuanya akan baik-baik saja."
Viona tetap memberikan Afirmasi positif pada Anjani meskipun dia juga sebenarnya tidak benar-benar yakin. Tapi anaknya butuh dirinya sekarang. Kalau Viona ikut terpuruk dan terpukul bagaimana bisa dia menjadi kekuatan untuk putrinya. Dia harus menegakkan dirinya demi Anjani.
Ada mungkin satu jam Anjani masih menangis dan dia juga belum mengetahui kabar dari Mario yang kini menyusul Abdi dan Hera kembali ke bandara. Anjani juga sudah dipindahkan ke ruang rawat. Setidaknya Anjani kalau mau pulang harus menghabiskan 1 labu dulu.
Sampai pada akhirnya suara sepatu dari luar sana mengalihkan pandangan mereka. Seseorang berlari dengan tergesa-gesa dan terlihat sangat panik.
"Anjani ... "
__ADS_1