
Maaf aku up satu chap ya, aku lagi kurang enak badan. Takutnya gak maksimal, semoga besok aku bisa up banyak. Happy reading~
Hari ini pulang dari kampus Anjani tidak langsung pulang, tapi dia sengaja pergi ke rumah orang tuanya. Bukan karena ingin kabur atau sedang marah pada Arkan.
Tapi entah kenapa dia sedang ingin ke sana saja. Terlihat di taman sedang ada Beryl dan juga Seana sedang main kejar-kejaran, pasti seru kalau anaknya lahir dan ikut bergabung di sana.
"Se!" Panggil Anjani seraya melambaikan tangannya.
Membuat Seana tersenyum tapi yang berlari ke arah Anjani adalah Berryl, keponakannya. "Anteeeeeeee!!!"
Melihat itu Anjani seolah ikut berlari kecil menghampiri keponakan gemasnya itu, lalu saat mereka sudah dekat Berry memeluk kaki Anjani sembari menatapnya. "Ante!!"
Anjani terkekeh, anak kecil berusia hampir dua tahun ini memang belum bisa bicara banyak hal tapi melihat mata berbinar Berryl, Anjani tau kok kalau anak kecil itu merindukannya. Jadi dengan senang dia menggendong Berryl dan mulai mengecupi keponakannya. "Ih kamu lucu banget, Berryl. Semoga anak Ante kaya kamu, lucu banget lucu banget."
Anjani mengusak-usak pipi Berryl dengan bibirnya, ya karena memang Anjani selalu gemas kalau melihat anak kecil. Apalagi kalau melihat anak kakaknya dan juga Nanda. Seana yang melihat itu langsung menghampiri Anjani. "Tumben ke sini, darimana kamu?" Tanya Seana.
"Dari kampus, aku pingin aja ke sini. Lagian kangen Berryl. Nih aku beliin dia banyak mainan," kata Anjani polos.
"Kamu ini, Berryl jangan dimanjain loh. Mainan dia masih banyak!" Tegur Seana.
"Dih ya biarin, orang Berrylnya aja seneng. Ga oleh gitu jadi Mama," tukas Anjani.
Seana hanya menghela napasnya. Begini memang kelakuan Anjani. Sudah bisa dibayangkan bukan bagaimana gambaran Anjani menjadi seorang ibu? Dia pasti akan royal dalam segala hal.
"Mama sama Papa ada?" Tanya Anjani.
"Ada, ayok masuk. Berryl suruh jalan aja, itu perut kamu udah besar juga, sini aku aja." Seana dengan inisiatif mengambil Berryl dan juga membawakan barang bawaan Anjani.
Heran gituloh Anjani sedang hamil saja bar-bar sekali menggendong Berryl, padahal dia hamil besar. Memang Anjani tidak bisa diam. Tapi yasudahlah, memang sepertinya juga kandungan Anjani baik-baik saja.
__ADS_1
Tentu baik-baik saja, saat Seana hamil dia sendirian dan Anjani sekarang banyak sekali yang merawatnya. Meskipun sedikit iri tapi dia senang, setidaknya Anjani tidak mengalami seperti dirinya sewaktu mengandung Berryl.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam, terlihat Viona dan Mario sedang asik berbincang di ruang makan. Kebetulan juga mereka akan makan siang.
"Yaampun, Sayang." Melihat kedatangan Anjani, Viona langsung menghampiri putri bungsunya dan mengusap perut Anjani dengan lembut. "Sama siapa ke sini?"
"Sama supir, Ma. Mas Arkan lagi lumayan sibuk, tapi aman kok," jawab Anjani yang kini mengikuti ibunya untuk duduk di meja makan. Sebelumnya dia juga sempat mengalami ayahnya terlebih dahulu.
"Sudah pasti Gio sibuk, usahanya berkembang dengan baik, Sayang. Suami kamu hebat sekali," puji Mario yang memang memantau sekali pergulatan dunia bisnis yang pasang surut.
"Alhamdulillah, ya Mas Arkan emang punya goals gitu. Jadi suka ngejar target, kadang sampe memforsir dirinya sendiri."
"Itu berarti kamu harus selalu mengingatkan suami kamu agar tidak lupa istirahat, Sayang. Karena sebagai istri kita juga harus mengingatkan soal itu," nasehat Viona.
"Iya, Ma. Aku suka ingetin kok, Mama tenang aja ya."
Mendengar itu Viona tersenyum, aduh tidak menyangka loh Anjani anak manja begini sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Dia juga terlihat sangat cantik, aura ibu hamilnya juga terpancar. Apa karena sedang mengandung anak perempuan ya?
Pada akhirnya, mereka semua pun makan siang bersama di rumah ini. Anjani juga akan menginap mungkin 1 sampai 2 malam, dia tidak bisa kalau sudah bertemu Berryl tapi tidak menginap.
.
.
.
Malam ini Anjani sedang berada di kamar Seana, sebenarnya Anjani dan Seana bukan tipe kakak adik yang suka sharing sih. Mereka memang saling sayang, tapi menunjukkannya dengan cara yang berbeda.
"Se, susah gak sih jadi ibu?" Tanya Anjani yang kini menatap ke arah Seana yang tengah menidurkan putrinya.
"Susah, apalagi gak ada suami," jawab Seana jujur.
__ADS_1
"Kenapa, kamu takut?" Lanjut Seana.
"Lumayan, aku ini masih belum kepikiran menikah sebenernya tapi sekarang punya anak. Istilahnya aku masih menyesuaikan diri," ucap Anjani.
Seana terkekeh, ya tidak salah sih kalau Anjani merasa seperti itu. Dia saja bahkan tidak siap menjadi ibu, tapi karena keadaan dia harus menjadi ibu diusia muda.
"Menurutku kamu gak perlu takut. Gio itu baik, aku liat dia sayang banget sama kamu. Apalagi dia tergolong lebih dewasa. Jadi kalau ada yang gak kamu pahami bisa tanya dia," kata Seana.
Anjani menganggukkan kepalanya pelan, tapi tetap saja kan sebagai seorang ibu dia harus memiliki kesiapannya sendiri, maksudnya dia harus bisa melakukan hal-hal kecil dan tidak bergantung pada Arkan. Begitu loh maksudnya.
"Jangan khawatir, kalau dibayangkan emang gak akan kebayang. Sama seperti pernikahan, kamu juga gak punya bayangan sebelumnya, kan? Tapi saat dijalani kamu jadi punya bayangan."
Anjani menghela napasnya, Seana ada benarnya juga. Dia saja kali ya yang akhir-akhir ini terlalu banyak berpikir. Keinginannya menjadi ibu yang sempurna membuat dia jadi perfeksionis, sampai akhirnya overthinking.
"Kalau susah kenapa kamu gak nikah, Se?" Tanya Anjani.
Wajar bukan kalau Seana butuh sosok suami di sampingnya. Apalagi dia mengatakan kalau dia kesulitan mengurus Berryl karena tidak mempunyai suami. Banyak kok yang menyukai janda, sebenarnya juga Seana bukan janda. Dia hamil di luar nikah tapi tidak menikah.
"Gak semudah itu, Anjani. Kalaupun aku mau menikah, aku harus cari yang mau nerima aku, masa lalu aku dan Berryl. Pasti itu sulit, gak ada yang dengan mudah nerima itu. Yang paling terpenting itu aku kalau menikah bukan mencari orang yang mencintai aku, tapi mencintai Berryl kaya anaknya sendiri."
"Jadi gak mau nikah?"
"Belum kepikiran, sekarang kumpul sama kalian aja udah kebahagiaan buat aku. Bisa bicara sama kamu kaya gini juga udah bahagia."
Anjani menahan tawanya, kenapa bisa juga bahagia. Tapi memang mereka ini dulunya tidak ada gambaran menjadi seorang kakak dan adik yang bisa saling akrab. Bahkan tidak ada di rencananya untuk akrab dengan Seana. Karena Seana yang se-tertutup itu dulu.
"Yaudah sih, lagian kamu bener, Se. Yang terpenting itu pasti Berryl. Anak aku aja belum lahir kayanya aku pingin kasih apapun buat dia. Apalagi kamu yang udah jadi seorang ibu kaya gini. Take your time." Anjani tersenyum lalu mengusap lengan Seana.
Seana mengangguk lalu memeluk Anjani. Baru kali ini dia merasakan kasih sayang Anjani padanya. Dulu dia selalu menganggap Anjani adalah lawannya. Sampai dia tidak sadar kalau adiknya ini sekarang sudah jauh lebih dewasa dari beberapa tahun kebelakang.
Begitu juga Anjani, dia merasa memiliki tempat untuk sharing beberapa hal yang tidak bisa dia ceritakan pada Arkan atau orang tuanya, tapi dia bisa ceritakan pada Seana. Semoga saja kedepannya akan terus seperti ini. Si sulung dan si bungsu ini akur sebagai dua saudara.
__ADS_1