
Beberapa hari berlalu, malam ini Anjani terbangun dari tidurnya. Dia melirik ke arah jam dan ternyata sekarang waktu menunjukkan pukul 11 malam. Tapi satu yang Anjani herankan, Arkan kemana ya? Kok dia tidak ada?
Karena dia tidak bisa tidur kembali karena tidak ada Arkan di sampingnya, akhirnya Anjani membuka selimut lalu turun dari kasurnya. Niatnya ingin keluar untuk mencari Arkan di ruang kerjanya, namun yang dia dapati adalah Arkan yang sedang merokok di balkon.
Anjani menghela napasnya, dia tidak suka dengan pria yang merokok, tapi Arkan sudah dewasa, dia pernah mengatakan kalau dia memang suka merokok walaupun tidak banyak. Paling seminggu 2 kali untuk penyegaran.
Tapi entah kenapa Arkan terlihat begitu sexy matanya sekarang. Terlebih Arkan bertelanjang dada dan menampilkan punggung tegapnya, tangannya yang melinting rokok dan juga asap yang keluar dari mulutnya. Kenapa ya? Padahal Anjani sering tuh melihat orang merokok, tapi Arkan vibesnya berbeda. Perlahan Anjani menghampiri Arkan. "Mass ... "
Arkan berbalik dan menatap istrinya, namun dia menjauhkan rokok itu dari istrinya karena takut terhirup oleh Anjani. Itu tidak baik. "Kenapa bangun, Sayang?"
Anjani menggeleng dan malah semakin mendekat ke arah Arkan lalu memeluknya. Dipeluk seperti itu membuat Arkan tentu tidak mau ambil resiko dan mematikan puntung rokoknya. "Ada apa? Mimpi buruk?"
Anjani kembali menggeleng. "Engga, aku kebangun terus kamu gak ada, taunya ada di sini."
"Maaf ya, membuat kamu jadi terbangun karena tidak ada saya di sana."
Anjani mengangguk paham dan menciumi dada bidang Arkan. "Kamu kenapa ada di sini? Lagi ngapain?"
"Saya sedang ... "
"Ada masalah di kantor ya?" Tanya Anjani. Dia menebak saja sih, karena Arkan terlihat sedang tidak baik-baik saja. Tentu dia kepikiran lah sebagai istri.
Meskipun anak-anak begini, tapi dia sekarang sudah bisa membuat anak. Salah, maksudnya dia sudah jauh lebih dewasa untuk menjadi pendengar orang dewasa yang berstatus suaminya itu.
"Ada, tapi tidak terlalu besar. Masih bisa saya handle." Arkan tersenyum dan membalas pelukan Anjani.
Sudah Anjani duga sih kalau Arkan sedang ada masalah. Karena Arkan lemah bilang, dia akan merokok, mengopi cukup sering itu berarti di pikirannya sedang ada masalah.
Terlebih Anjani tau kalau Arkan sulit untuk menjelaskan apa yang dia rasakan karena berpikir tidak mau membuatnya pusing. Padahal Anjani ingin sekali menjadi teman Arkan dalam berbagi segalanya.
__ADS_1
"Masalah apa?"
Arkan terdiam, benar dia sebenarnya lebih suka menyelesaikan masalah sendiri tanpa harus membebankannya pada Anjani. Tapi karena mereka suami istri, bukannya memang mereka harus saling berbagi untuk apapun? Takutnya Anjani merasa tidak dia percaya.
"Saya gagal mendapatkan kerja sama kontrak De Friance," ucap Arkan.
Anjani mengeratkan pelukannya, lalu mengusap punggung suaminya. "Lalu?"
"Saya merasa gagal karena meskipun kontraknya bukan kontrak yang besar sekali, tapi itu salah satu goals karir saya, Anjani," jelas Arkan.
Anjani mengangguk-anggukan kepalanya paham. Meskipun ya kalau soal perusahaan Anjani tidak mengerti, tapi kalau soal mendengarkan setidaknya dia bisa menjadi pendengar yang baik untuk suaminya.
Anjani tersenyum. "Kamu udah hebat tau."
"Kamu punya kesempatan buat presentasi di depan mereka itu udah keren menurut aku. Karena meskipun kamu bukan pemenangnya tapi kamu termasuk pilihan mereka juga, kan?"
"Kadang tuh kita sebagai manusia jangan larut sama kecewa, Mas. Manusia kan gitu, bertumbuh – Gagal – bangkit lagi. Begitu juga seterusnya, jadi akan lebih baik kalau kita menikmati prosesnya dan hasil akhirnya mau menang atau engga, kita harus bangga karena udah bisa lakuin proses itu dengan baik," lanjut Anjani.
Mendengar itu entah kenapa Arkan merasa lega. Lega karena bisa berbagi bebannya dengan Anjani dan membuatnya lebih ringan. Arkan lu tersenyum lalu mencium bibir Anjani cukup lama. "Anjani, kenapa kamu tumbuh begitu cepat hm? Kemarin kamu masih SMP yang sering diceramahi, sekarang kamu malah bisa membuat saya jauh lebih tenang dengan kata-kata kamu."
Anjani terkekeh mendengar itu, sebenarnya dia kalau soal mendengarkan itu jago. Jadi apa salahnya juga mendengarkan Arkan. Dia malah senang kalau Arkan mau berbagi apapun padanya, karena pernikahan itu kan bukan hal yang manis-manis saja yang harus dirasakan berdua, tapi sedihnya juga.
"Harus tenang, kamu tau mungkin bayi kita gak bisa tidur di dalam sana karena kepikiran kalau ayahnya lagi banyak masalah. Jadi dia gak mau tidur," ucap Anjani.
Arkan tersenyum mungkin benarnya. Perlahan Arkan berlutut di hadapan Anjani. Entah kenapa ya perut Anjani sekarang terlihat sedikit membesar semenjak mereka mempublikasikan kehamilan Anjani.
Mungkin benar kali ya kalau kehamilan sudah dipublikasikan itu bayinya akan semakin menunjukkan keberadaannya dan Arkan senang. Karena itu tandanya anaknya baik-baik saja di dalam sana. Dengan lembut Arkan menciumi perut Anjani.
"Maafkan ayah ya? Kamu pasti tidak bisa tidur. Kasian mama kamu juga tidak bisa tidur, jadi bagaimana kalau sekarang kita tidur bertiga?" Tanya Arkan seraya menatap ke arah Anjani.
Anjani pun mengangguk, lagi pula ini juga sudah malam. Mereka besok masih harus beraktifitas, jadi tidak baik kalau mereka terlalu larut untuk terjaga seperti ini.
__ADS_1
"Ayok tidur." Anjani mengusap rambut Arkan dan tersenyum ke arahnya.
Arkan pun berdiri lalu merengkuh pinggang Anjani, tapi sebelum tidur Arkan juga tidak lupa untuk menggosok giginya. Dia sadar diri kalau tadi habis merokok. Meskipun hanya bekasnya tapi itu tidak sehat untuk Anjani. Barulah setelah selesai dia naik ke ranjang dan kembali memeluk Anjani.
"Sayang."
Anjani membalas pelukan Arkan seraya menatap ke arah Arkan. "Kenapa, Mas?"
"Terima kasih karena kamu selalu berusaha menjadi istri yang terbaik dalam hidup saya, saya tau itu tidak mudah," ucap Arkan seraya merapikan helaian rambut yang menghalangi jarak pandang mereka.
Arkan tau di usianya yang masih muda Anjani pasti belajar keras untuk menjalani pernikahan mereka. Di mana juga dia tau kalau seusia Anjani sekarang lebih senang untuk menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-teman kampusnya.
Berbeda dengan Anjani yang sekarang lebih banyak di rumah dan menghabiskan waktu bersamanya dibandingkan dengan teman-temanya.
Anjani tersenyum. "Gak mudah emang, tapi kalau jalaninnya sama kamu aku bisa kok. Aku kan punya kamu, walaupun kamu suka nyebelin. Tapi aku selalu punya kamu. Begitu juga kamu, kamu bakalan selalu punya aku dalam setiap hal apapun yang kamu lewati."
"I love you," ucap Arkan.
"I love you more, Mas," balas Anjani seraya menenggelamkan wajahnya di dada Arkan.
Namun sejenak Anjani menatap ke arah Arkan lagi. "Kamu gak mau pake baju, Mas?"
Arkan menggeleng. "Panas, biarkan begini saja. Saya lebih nyaman seperti ini sekarang. Apa kamu tidak nyaman?"
"Engga, nyaman-nyaman aja kok. Tapi gak boleh kaya gini di depan orang lain ya?" Pinta Anjani. Jelas tidak rela lah kalau Arkan memamerkan tubuhnya di depan orang-orang. Berbagi wajahnya saja tidak mau Anjani.
"Iya, Sayang. Tidak akan, ayok pejamkan mata, lalu tidur, saya peluk kamu sampai besok pagi," ucap Arkan.
"Mas juga tidur."
"Iya saya juga tidur, Anjani."
__ADS_1
Setelah mengucapkan selamat malam untuk kedua kalinya. Akhirnya mereka berdua pun terlelap dalam tidurnya masing-masing. Berharap kalau besok semua ini akan berganti dengan pikiran dan tubuh yang fresh.