
Beberapa hari berlalu, Anjani sudah diperbolehkan pulang sejak kemarin. Untung saja dia sudah menyelesaikan tugas dan beberapa mata kuliah yang tertinggal. Jadi dia tidak begitu parno soal absennya yang sudah beberapa hari ini kosong.
Seperti biasa pagi ini Anjani sedang muntah-muntah di kamar mandi pagi ini. Tentunya menjadi sebuah kehebohan di kediaman Altair.
Hera sudah bolak-balik kamar dan sekarang dia membuat beberapa obat herbal untuk meredakan mual. Arkan dengan telaten mengusapi tengkuk Anjani dan membiarkan istrinya puas dulu untuk memuntahkan isi perutnya. Sesekali dia mengusap perut Anjani seraya membaca doa agar mualnya segera mereda. Memang ini rasanya yang bisa dilakukan Arkan sekarang, karena memang sudah dengan suplemen pun Anjani masih mengalami morning sickness.
Anjani mencuci mulutnya dan mengambil tissue untuk mengeringkannya. Setelah itu Arkan memeluk Anjani seraya mengecupi puncak kepalanya. "Cape ya? Maaf."
Anjani menatap ke arah Arkan. Kenapa juga dia minta maaf? "Maafkan anaknya, Sayang."
Anjani terkekeh, kenapa sih Arkan se-gemas itu? Padahal tidak ada yang perlu dimaafkan. "Kenapa minta maaf? Kayanya masa-masa repot kaya gini emang harus dinikmatin aja, Mas. Karena emang belum tentu nantinya kita punya kesempatan kaya gini. Aku baik-baik aja."
Arkan mengangguk paham. Tapi tetap saja dia khawatir, apalagi hari ini juga dia harus ke kantor. Dia tidak akan fokus di sana kalau Anjani masih sering mual begini.
"Tetap harus banyak istirahat. Untung kamu tidak ada kelas hari ini." Arkan kemudian menggendong Anjani ala brydal dan membawanya kembali ke kamar dan membaringkan Anjani.
"Mas kamu jangan ke kantor ya?" Pinta Anjani manja.
"Saya ada meeting, Sayang. Sebentar saja ya?" Ucap Arkan memberikan perhatian.
"Aku mau sama kamu aja, jangan yaa?" Anjani menarik-narik ujung baju Arkan. Entahlah kenapa tapi Anjani sedang tidak ingin ditinggal oleh Arkan.
"Sayang ... "
Tak selang beberapa lama Hera datang dengan pelayan membawa sarapan dan juga jamu yang dia buat sendiri khusus untuk menantunya. "Hera langsung mengambil alih posisi Arkan dan mengusap pipi Anjani. "Masih mual, Sayang? Pusing atau gimana? Coba bilang Mama."
"Anjani udah sedikit lebih baik kok," ucap Anjani seraya tersenyum tipis.
"Syukurlah, kalau begitu Gio kamu bisa mandi dulu gih. Biar Mama yang menjaga Anjani. Kalau bisa kamu tidak usah ke kantor dulu," kata Hera.
"Ma tapi–"
"Gio, istri kamu butuh suaminya loh. Masa udah ditinggal aja, seminggu di rumah itu tidak apa-apa. Pekerjaan kamu juga bisa dipantau dari jauh, kan?" Tanya sang Mama.
__ADS_1
"Iya tapi–"
"Tidak ada tapi-tapian, Papa juga akan ke kantor cabang kok sekarang. Jadi biar papa saja, kamu harus temani menantu Mama pokoknya."
Anjani menatap suaminya dengan senyum kemenangan. Ah memang mama mertuanya ini sangat pengertian kalau dirinya sekarang tidak mau di tinggal oleh Arkan.
Arkan menghela napasnya, ternyata begitu sulit menghadapi kaum bernama wanita. Dia sudah pasti kalah, apalagi ini mereka dua orang. Kalau begini mau tidak mau dia harus mengatur ulang jadwal meeting di kantor.
"Ya sudah iya."
Anjani kesenangan, membuat Hera juga tertawa melihat menantunya yang nampak bahagia itu. " Nah gitu, ya sudah Anjani sekarang makan ya? Biar Mama suapi."
Anjani mengangguk, setelah itu Arkan bisa bernapas lega kalau Anjani sudah ingin makan, dia lalu mengambil handuk dan bergegas untuk mandi.
"Mama kok tau kalau aku gak mau ditinggal Mas Arkan?" Tanya Anjani.
"Tau dong, karena Mama juga begitu dulu. Tapi papa memang sibuk, jadi kadang mama sering menangis karena masalah itu. Jadi, mama tidak mau kalau anak mama merasakan hal yang sama. Pekerjaan itu mudah, yang terpenting menantu Mama dan cucu mama sehat." Hera tersenyum lalu menyuapkan makanan ke mulut Anjani.
Anjani menerimanya dengan senang hati. Dia merasa beruntung memiliki mertua yang perhatian seperti Hera. Sudah pengertian, mama mertuanya ini baik karena mau menyuapinya. Anjani yang tadinya tidak bernafsu makan, jadi mau.
"Tapi kadang aku gak berselera makan, Ma."
Hera tersenyum, dia paham kok apa yang dirasakan menantunya. Memang ibu hamil juga sering merasakan itu, termasuk dirinya dulu. "Mama tau, tapi ketika kita menjadi seorang ibu yang harus kita pikirkan itu anak kita, Sayang."
"Kamu tau tidak, Sayang. Dulu mama waktu melahirkan itu ASI-nya tidak lancar. Terus Oma Sena bilang kalau Mama harus makan pare. Dulu mama tidak suka. Tapi mama tidak boleh egois karena Gio butuh ASI. Jadi mau tidak mau, mama harus mencoba."
"Begitu juga dengan kamu, jangan dipaksa. Tapi sedikit sedikit dicoba ya, Sayang. Demi kebaikan kamu dan anak kamu juga," lanjut Hera sembari menyuapkan makanan kepada Anjani.
Anjani berpikir, benar juga apa yang dikatakan ibu mertuanya. Sebentar lagi dia akan menjadi ibu, tentunya dia tidak boleh egois dan kekanak-kanakan. "Iya, Ma. Nanti Anjani coba yaa."
Hera mengangguk senang. Sebenarnya dia sedikit ragu untuk bicara dengan menantunya. Tapi ternyata menantu kecilnya ini memang mudah paham dengan apa yang dimaksud tanpa merasa disalahkan atau menimbulkan kesalah pahaman lainnya.
Arkan melihat itu tersenyum kecil. Senang saja kalau melihat interaksi antara ibu dan istrinya. Sangat lucu. "Akur ya."
Hera dan Anjani menatap ke arah Arkan yang sudah berdiri menatap mereka. "Ya akur orang mama kasih tau aku. Aku mau belajar parenting dari Mama Hera."
__ADS_1
"Giliran suaminya yang bicara banyak protes, untung saya sayang kamu, Anjani," gumam Arkan.
"Karena Mas Arkan kalau ngasih tau suka nyebelin," adu Anjani pada mertuanya.
"Kamu tidak boleh nyebelin, Gio. Kasih tau pelan-pelan istrinya. Sama mama menurut kok, iya kan, Sayang?"
Anjani mengangguk membuat Arkan menatapnya, namun wajah Anjani seperti meledek. Sebenarnya Arkan sering memberitahunya dengan baik tapi memang Anjani saja yang bandel minta ampun dan terkadang membuat Arkan mengalah untuk mengikuti kemauannya. Memang dasar anak kucing nakal.
"Sekarang minum ini, mama sudah buatkan. Ini katanya bagus biar kamu tidak mual terus," ucap Hera.
"Ma tapi jamu pahit."
Arkan menghampiri Anjani. "Tidak pahit, kamu minumnya sekali teguk. Jangan dirasakan."
"Mass," rengeknya.
Nahkan bukan Arkan yang menyebalkan tapi Anjani yang seperti ini kadang yang membuatnya tidak tega dan pada akhirnya membiarkan Anjani melakukan apa yang dia mau.
"Tutup hidungnya, Sayang. Ayok, coba dulu ya?" Pinta Hera.
Arkan menahan tawanya saat Anjani mencoba untuk memijit hidungnya dan meminum jamu itu. Memang the power of mama itu nyata, sehingga Anjani menurut dan menghabiskan jamu itu dalam sekali teguk.
Anjani menarik napasnya panjang, setelah itu Hera memberikannya minum. "Mama ini bikinnya pake saripati kehidupan ya?"
Hera tertawa. "Kenapa, Sayang?"
"Pahit banget."
"Hahahahaha memang jamu itu pahit, Sayang. Tapi bagus untuk kesehatan daripada obat yang di luaran sana. Tidak baik, kalau begitu nanti Mama akan buatkan setiap pagi ya."
Mendengar itu Anjani mengangguk saja, mana mungkin dia mengabaikan perhatian mama mertuanya. Meskipun dia juga ragu akan bisa meminumnya lagi atau tidak. Namun dia memajukan bibirnya saat melihat Arkan menatapnya dengan wajah meledek.
"Mass Arkan nyebelin!"
"Apa? Saya diam kok," jawab Arkan tanpa merasa ada dosanya sama sekali.
__ADS_1
Hera hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua anaknya ini. Sudah mau menjadi orang tapi masih saja sering bertengkar seperti anak kecil.