
Hera, Viona, Abdi dan Mario masuk ke ruang inap Anjani. Terlihat di sana Anjani yang masih tertidur lelap dan Arkan yang sedang berbicara dengan dokter.
Mereka tidak ingin menganggu juga sih jadi mereka membiarkan dokter selesai bicara baru menghampiri Arkan dan cucu mereka. Hera berusaha memelankan langkahnya dan menggendong cucunya, karena memang hanya Hera dan Abdi saja yang belum menggendong bayi kecil cantik itu, sementara Mario dan Viona sudah.
"Cantik sekali cucu Oma, sudah diberi nama, Sayang?" Tanya Arkan.
"Arsy."
Satu kata itu terlontar dari bibir Arkan, membuat yang lainnya menatap ke arah ayah si bayi yang belum melanjutkan perkataannya. "Arsyla Mutiara Altair."
"Arsyla itu kehidupan tanpa hambatan, tentram, bahagia dan sempurna dan anak perempuan saya adalah sebuah mutiara cantik dari keluarga Altair. Nama itu sebuah doa, jadi saya berharap doa baik akan menyertai anak saya kedepannya," jelas Arkan.
"Subhanallah, cantik sekali namanya. Cantik seperti wajahnya. Ini perpaduan kalian berdua, tidak ada yang lebih condong. Mama sampai jatuh cinta melihatnya," ucap Hera.
"Benar, Gio. Papa juga rasanya sudah sayang sekali dengan cucu papa. Terima kasih karena telah menghadirkan cucu papa yang cantik ini," ucap Abdi.
Arkan terkekeh mendengarnya. Sudah dia duga kalau mereka pasti merasakan hal yang sama saat melihat putri kecilnya itu, wajahnya ya yang tenang dan membawa kebahagiaan untuk semua orang yang di sekitarnya.
"Ini pasti anaknya belum disusui, kan?" Tanya Hera.
"Belum, Anjani belum bisa bergerak minimal delapan jam jadi ... "
"Mama tau itu kenapa mama sudah membeli susu formula untuk sementara, nanti setelah Anjani mulai bisa bergerak kamu usahakan agar Arsy menyusu pada ibunya ya?" Pinta Hera.
"Memang tidak apa-apa begitu, Ma? Maksudnya apa anak saya akan baik-baik saja kalau menggunakan susu formula?" Tanya Arkan, dia hanya tau asi adalah susu terbaik untuk bayi, jadi dia takut kalau anaknya itu kenapa-kenapa.
"Tidak apa-apa, ini mendesak. Kasian juga Anjani tidurnya lelap begitu, kasian menantu Mama biarkan istirahat dulu."
__ADS_1
"Iyaa, Gio. Untuk sementara tidak apa-apa. Lagi pula anak memang harus di susui setiap dua jam sekali, karena memang cepat lapar dan dan untuk memenuhi nutrisi hariannya," sambung Viona.
Para pria di sana hanya bisa mengiyakan, termasuk Arkan. Karena sudah jelas mereka ini ibu senior yang sudah paham betul bagaimana caranya merawat anak. Jadi urusan itu Arkan menyerahkannya pada Viona dan juga Hera.
Arkan, Mario dan Abdi berbincang di sofa. Sementara Hera dan Viona sedang asik dengan kegiatan mereka. Yang satu menggendong, yang satu memberikan susu. Mereka berdua nampak seperti anak kecil yang diberikan mainan baru.
"Aku gak nyangka loh, Ra. Kalau putriku sudah melahirkan, padahal aku merasa kalau dia baru lahir kemarin," ucap Viona sembari menatap wajah cucunya.
"Namanya juga seorang ibu, Vi. Pasti kita akan merasa kalau anak kita itu masih kecil. Jadi wajar kalau kamu merasa seperti itu. Anjani itu kuat, hebat. Sekarang dia baik-baik saja setelah berjuang menjadi seorang ibu dari Baby Arsy."
Viona tersenyum, dia bahagia memang. Sangat bahagia, putrinya itu kuat dan sekarang dia sudah menjadi seorang ibu. Viona yakin Anjani pasti akan menjadi ibu terbaik untuk cucunya, karena Anjani juga tumbuh dengan kebaikan selama ini. Ya meskipun dia khawatir, usia Anjani masih sangat muda sebenarnya untuk menjadi seorang ibu.
Rentan sekali dengan sydrom baby blues. Dia takut kalau Anjani akan stress dan lain sebagainya. Karena memang masih sekecil itu Anjani di mata Viona.
"Jangan banyak khawatir, ada Gio. Anjani bisa mendewasakan dirinya dan Gio juga belajar untuk lebih sabar di saat seperti ini. Kita percaya saja kepada mereka kalau mereka akan mampu menjaga dan merawat Arsyla dengan baik. Begitu juga menjaga diri mereka satu sama lain."
Hera tersenyum, ya dia ini juga seorang ibu. Dia paham apa yang menjadi ketakutan Viona. Jadi di sini lah perannya. Dia harus menjadi paling bijak di antara pemikiran Viona dan dirinya.
Keluarga yang lain memutuskan untuk pulang, karena memang Abdi dan Hera juga baru pulang, mereka pasti lelah. Mereka juga belum sempat bertemu Anjani. Tapi mereka akan memastikan kalau mereka akan kembali lagi ke sini setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Sementara Anjani tidur cukup lama, dia mencoba bangun tapi ternyata ada sedikit rasa ngilu, karena memang Anjani belum bisa bangun. Arkan yang melihat itu langsung menghampiri Anjani. "Mau kemana?"
"Aku mau gendong Arsy," ucap Anjani pelan. Entah kenapa pusat pikirannya hanya kepada bayi perempuan itu. Sejak memeluk Arsy saat di ruangan operasi, rasanya Anjani selalu ingin mendekapnya dalam pelukan.
"Nanti ya, Sayang. Kamu belum boleh banyak bergerak. Tunggu beberapa jam lagi," ucap Arkan.
Anjani menghela napasnya, dia tidak betah berlama-lama berbaring terlentang begini. Tapi kalau bergerak beresiko. "Mau liat Arsy."
"Mau melihatnya?"
__ADS_1
Anjani mengangguk, mendengar itu Arkan berdiri dan menggendong putri mereka untu diperlihatkan kepada sang ibu. Di dekatkan ya Arsy pada Anjani yang kini nampak berbinar melihat bayi yang cantik sedang membuka matanya.
Anjani terkekeh saat Arkan kembali duduk dan menaruh anak mereka di samping Anjani. "Kok aku bisa ya punya anak cantik."
"Tentu bisa, kamu ibunya."
"Asry liatin aku terus mungkin dia mikir kali ya, Mas. Kok Mama aku masih kecil juga?" Ucap Anjani random. Ya tidak percaya saja dia yang masih bocah begini mempunyai bocah juga.
"Iya mamanya kenapa kecil, kenapa Ayahnya sudah berumur, kok Mamanya mau sama Ayahnya," sambung Arkan.
"Mau lah! Ayahnya baik. Ayahnya sayang sama mamanya. Dia bahagia gak ya lahir dari mama yang masih bocah kaya aku, Mas?" Tanya Anjani.
"Kenapa harus tidak bahagia? Sangat bahagia, Sayang. Kata Arsy, mamanya paling hebat, kuat." Arkan tersenyum dan mengusap pipi Anjani. Ya dokter bilang, ibu sesudah melahirkan perasaannya juga sensitif, jadi Arkan harus terus memberikan afirmasi positif pada Anjani.
Belum lagi soal sydrome yang katanya menyerang ibu sesudah melahirkan. Arkan harus selalu ada untuk Anjani agar Anjani tetap baik-baik saja. Dia akan pastikan kalau tidak akan terjadi apa-apa pada istrinya.
Anjani menganggukkan kepalanya, sesekali dia menyentuh pipi putri kecilnya dengan jari telunjuk. Sebenarnya Anjani ingin memeluknya tapi belum bisa, jadinya dia hanya bisa menyentuh anaknya. "Mas kalau aku gak boleh bergerak, nanti Arsy minum susunya gimana?"
"Pakai susu formula dulu, Sayang. Nanti setelah kamu sudah bisa duduk, kamu belajar memberikan Asi padanya ya?"
Anjani mengerutkan dahinya, padahal Anjani ingin sekali kalau anaknya meminum Asi untuk pertama kali. Tapi memang keadaannya juga tidak memungkinkan. Tapi tetap saja.
Arkan yang melihat perubahan wajah Anjani tersenyum. "Jangan khawatir, tadi Mama dan Papa ke sini. Saya sudah berkonsultasi pada mereka jadi semuanya aman. Sekarang kamu harus pilih dulu. Baru pikirkan semuanya."
"Tapi aku gak mau Arsy harus minum susu formula, Mas. Aku maunya–"
Arkan kembali mengusap pipi Anjani, mencoba menenangkannya dan memberi pengertian pada istri kecilnya itu. "Saya tau, itu kenapa kamu harus cepat pulih, setelah itu bisa belajar untuk memberikan Asi pada Arsyla ya?"
Anjani menghela napasnya lalu mengangguk kecil. Kalau orang tuanya sudah turun berarti memang ucapannya benar, jadi Anjani menurut saja dan berdoa agar dia cepat pulih.
__ADS_1