
Maaf guys aku lagi sibuk beberapa hari ini karena ada acara di rumah, tapi mulai besok aku bakalan up normal lagi kok, sekarang satu episode dulu yaa. Happy reading~
Menikmati pantai di sore hari membuat Anjani senang. Dia berlarian ke sana ke mari sambil tertawa saat ombak datang. Arkan melihat itu terkekeh. Ternyata istrinya ini memang masih kecil, masih suka bermain-main.
Karena melihat Anjani asik sendiri, akhirnya Arkan menghampiri istrinya, namun saat dia akan menggapai tangan Anjani, gadis itu malah menyimpratkan air kepadanya. "Little girl ... "
Melihat Arkan yang nampak kesal malah membuat Anjani tertawa. Dengan gerakan cepat dia berlari dan menghindari kemarahan suaminya. "Tangkap aku kalau mau marah!"
Arkan menghela napas, gadis itu malah meledeknya. Tidak bisa dibiarkan, dia tentu harus menghukum istri kecilnya itu. Anjani yang merasa dikejar kini mempercepat kakinya. Harus Arkan akui kalau Anjani sangat lincah, sampai dia kewalahan sendiri.
"Wlekkk, gak bisa tangkap aku ya! Huuu cupu!" Ledek Anjani yang tawanya pecah saat melihat Arkan yang kini memegang kedua lututnya.
Tentu kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Arkan dan saat Anjani lengah dia kembali mengejar Anjani dan menangkapnya.
Hap ...
Arkan menarik tangan Anjani dan mendekapnya dari belakang. "Ketangkap kamu."
"Ihh curang, kamu curang banget!!"
"Saya sudah dapat kamu, jadi apa hadiahnya. Beri saya hadiah," pinta Arkan seraya mengecup pipi Anjani.
"Mau hadiah apa?"
"Apapun."
Cup ...
Anjani mengecup bibir Arkan dengan cepat, ya dia malu lah bagaimana kalau ada yang melihat. Anjani tertawa, dia berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya, namun tubuhnya malah terangkat karena Arkan membawanya sedikit ke tengah. Pada akhirnya mereka berdua basah kuyup.
"Yahhh basahhh!!" Anjani memajukan bibirnya, tapi setelah itu dia tertawa. Kenapa ya? Tidak tau, dia senang saja.
"Kamu ih, padahal aku masih mau main di pinggir pantai. Pasti habis ini disuruh balik ke hotel," cibir Anjani.
"Tentu, nanti kamu masuk angin."
Tuhkan sudah Anjani bilang, memang Arkan ini. Padahal Anjani masih betah berlama-lama di pantai ini. Anjani memajukan bibirnya, dia bosan sekali kalau hanya berdiam diri di hotel masalahnya.
"Saya punya kejutan kalau kamu mau kembali ke hotel," bisik Arkan.
"Kejutan apa?" Tanya Anjani seraya menatap ke wajah Arkan yang kini berada di bahunya.
"Kalau saya kasih tau sekarang itu namanya bukan kejutan. Jadi mau atau tidak?" Tawar Arkan.
__ADS_1
Mendengar tawaran itu yasudah Anjani menurut untuk pulang ke hotel sekarang. Namun saat dia akan masuk, Arkan lebih dulu menariknya dan memakaikan bathrobe pada Anjani yang sudah di sediakan hotel.
"Jangan suka memamerkan apa-apa yang saya miliki, saya juga belum jelas melihatnya," peringat Arkan. Anjani memakai baju berwarna putih sehingga dalaman hitamnya tercetak di sana. Bikin pening saja gadis kecilnya itu.
"Padahal kalau di pantai biasa aja loh selagi gak te-lan-jang!"
"Tetap tidak boleh!"
Memang benar-benar bertolak belakang sekali kalau soal ini. Tapi ya Anjani menurut juga, takut juga ditinggal di sini kalau tidak menurut. "Yaudah iya!"
Arkan tersenyum puas mendapat jawaban Anjani, setelah itu mereka berjalan beriringan dan kembali menuju kamar. Ya memang harus segera juga karena sudah hampir gelap juga.
.
.
.
Anjani terpana melihat sebuah balkon pinggir pantai yang sudah dihias sedemikian rupa untuk makan malam mereka. Dia speechless lebih tepatnya, ternyata Arkan bisa se-romantis ini.
Arkan perlahan menari kursi milik Anjani dan Anjani pun duduk di sana seraya menatap ke arah sekitar. Cantik sekali di sini, apalagi mendengar deburan ombak malam-malam begini.
"Aku kira kamu gak bisa romantis kaya gini,", gumam Anjani.
"Bisa kalau kamu menginginkannya." Arkan menatap Anjani dengan tatapan hangat meneduhkan membuat Anjani juga larut dalam tatapannya.
Anjani hany tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah pantai, dia malu sekali kalau Arkan memujinya seperti ini. Dia selalu merasa sakit perut kalau diperlakukan seperti ini oleh Arkan. Padahal kalau dia menonton drama Korea rasanya dia akan berjingkrak kesenangan.
Tak lama dari itu pelayan datang untuk menyajikan makanan, hidup 6 bulan bersama Anjani membuat Arkan tau apa yang harus dia pesan untuk istrinya dan Anjani juga nampak menikmati makanannya.
"Mas ... "
"Hmm? Ada apa? Apa tidak suka menunya?" Tanya Arkan seraya menatap Anjani.
"Gapapa sih aku mau manggil aja."
"Biasanya kalau panggil saja itu rindu, kamu merindukan saya?" Goda Arkan setengah tertawa.
Anjani mendengus sebal, bukan itu sebenarnya. Tadi saat Arkan senang membersihkan dirinya, Anjani melihat ponsel Arkan dan banyak sekali pesan yang masuk, dari teman-teman sekolahnya, guru-guru perempuan. Sejujurnya dia tidak nyaman. Terlalu mengganggu privasi masalahnya. Apalagi sampai datang ke rumah mencari Arkan. Iya Manda mencari Arkan ke rumahnya.
Arkan yang menyadari perubahan wajah Anjani jadi sedikit cemas dan peka, pasti ada sesuatu yang dia rasakan. "Kenapa?"
Anjani nampak terdiam sesaat lalu memberanikan diri untuk bicara. "Kalau aku cemburu boleh gak?"
Arkan tersenyum mendengar ucapan Anjani. "Memang kamu cemburu kenapa? Saya sejak tadi kan sama kamu."
__ADS_1
"Bu Manda cari kamu ke rumah cuma mau kasih kue, belum lagi anak-anak sekolah. Aku gak suka. Kaya mau mempublikasikan kamu itu sama aku aja tapi gak bisa." Anjani melawan gengsi sebenarnya bicara seperti ini. Tapi jujur, ini mengganggu pikirannya sejak tadi.
Arkan kembali menggenggam tangan Anjani seraya menghela napasnya. "Jadi kamu tidak suka?"
Anjani mengangguk, ya memang ada ya seorang istri yang rela suaminya digoda oleh wanita lain, ya kalau suka itu masih wajar tapi kalau sudah melakukan tindakan itu Anjani tidak bisa kalau tidak cemburu.
Arkan mengerti, tanpa ada kata apa-apa lagi Arkan mengambil ponselnya. Membuat Anjani mengerutkan dahinya. Cukup lama pasalnya Arkan fokus pada layar tipis itu.
Bahkan setelah selesai pun dia tidak mengatakan apa-apa pada Anjani. Apa Arkan tidak mengindahkan keluhannya ya? Melihat Arkan yang seperti itu Anjani kembali melanjutkan makannya tanpa bicara. Mungkin ada beberapa menit mereka saling diam.
Tiba-tiba ponsel Anjani berbunyi, memperlihatkan notif pesan dari Della. Sepertinya penting karena banyak sekali.
ANJANI BUKA INSTAGRAM PAK ARKAN SEKARANG
P
ANJANI LIAT IHH!!!
^^^Oke sebentar, kenapa sih?^^^
Anjani memperhatikan Arkan yang nampak tenang saat Anjani menatapnya. Dia malah sedikit menaikan bibirnya, menunggu reaksi sang istri.
Tanpa berpikir panjang Anjani langsung mencari Instagram suaminya itu dan melihat apa yang sudah Arkan lakukan sampai teman-temannya heboh, bukan Della saja tapi Azzam juga.
Anjani tidak bisa menahan senyumnya, kenapa sih love language ya Arkan itu harus Act of service? Anjani kan dibuat berdebar terus kalau Arkan tiba-tiba melakukan hal yang di luar pemikiran Anjani.
"Mas ... "
"Kenapa, Sayang?" Tanya Arkan lembut.
Anjani tersenyum dan langsung menghampiri Arkan untuk memeluknya, merasakan hal itu Arkan menarik tubuh Anjani ke dalam pangkuannya dan membalas pelukan istrinya itu.
"Kenapa istri saya senang sekali?" Tanya Arkan dengan kekehan khasnya.
"Diem aku lagi salting brutal!" Rengek Anjani dengan nada manjanya yang natural.
Arkan hanya tertawa dan mengecupi bahu Anjani, ya dia belum bisa mempublikasikan istrinya, tapi setidaknya dengan ini kehidupan mereka akan aman dan damai karena semua orang sudah tau kalau Arkan sudah menikah.
"Makasih ya?" Cicit Anjani.
Arkan mengangguk. "Jadi sudah tidak cemburu?"
Anjani menggeleng, dia malah menciumi pipi suaminya itu saking gemasnya. Tapi Arkan tidak masalah, dia justru senang apalagi melihat Anjani senang begini.
__ADS_1
#Bonus hehe