
Pulang dari kantor, Arkan menyusul Anjani untuk ke rumah orang tuanya. Sudah biasa sih memang kalau Anjani tiba-tiba ingin menginap. Wajar juga karena memang sekarang keluarganya sudah jauh lebih membaik daripada sebelumnya. Tentu Anjani ingin membuat banyak moment bersama keluarga yang dulunya mereka sangat jarang membuat moment berharga seperti ini.
Malam ini sebenarnya ada yang ingin Arkan bicarakan, tapi Anjani sekarang sedang tidak mau makan. Nafsu makannya memang begitu, kadang begitu menggebu-gebu kadang juga tidak mau makan sama sekali, bahkan meminum susunya pun dia tidak mau.
"Kamu harus makan Anjani, mau saya buatkan apa? Sini bilang." Arkan menyerah, pasalnya dia sejak tadi sudah menawarkan berbagai macam opsi tapi Anjani sama sekali tidak mau.
"Engga mau, Mas."
"Anjani ... Kasian anaknya, Cantik." Arkan kini melembutkan suaranya, membuat Anjani nampak menimbang-nimbang.
"Yaudah aku mau makan buah tapi kamu ya g potongin," pintanya.
Nahkan kalau sudah ada permintaan seperti ini kan enak. Langsung saja Arkan berdiri dan menggendong istrinya ala brydal. "Ayok anak ayah harus makan."
Anjani mengulum senyumnya dan dengan inisiatif mengalungkan tangan di leher Arkan dengan terus menatapnya sambil tersenyum. "Kamu kenapa sih gendong aku, gak berat?"
"Tidak."
"Aku berdua sama bayi, gak berat juga?" Tanya Anjani lagi.
"Tidak, Sayang. Kamu tidak boleh lelah, tidak boleh cape-cape, selama ada saya, biar saya yang melakukannya termasuk menjadi kaki untuk kamu."
"Ishh kamu bilang kaya gitu kaya aku ringan aja!" Cetusnya.
"Memang, jadi makanlah lebih banyak agar kamu tidak seringan ini, Sayang," jawab Arkan spontan yang membuat Anjani memajukan bibirnya, ini Arkan saja yang terlalu kuat. Kada dokter beratnya ini ideal kok.
"Kalau nanti tambah besar perutnya digendong juga ga?"
Arkan mengangguk lalu mengecup bibir Anjani singkat. Banyak pertanyaan sekali istrinya, tapi tidak apa-apa juga sih, Arkan suka menjawabnya. Setelah sampai di bawah Arkan mendudukkan Anjani di meja bar, lalu meletakan kedua tangannya di antara tubuh Anjani. "Mau buah apa?"
"Emm ... Apa aja aku makan," kata Anjani seraya mengusap pipi suaminya itu dengan lembut.
"Manis sekali, baik tunggu sebentar." Arkan mencium bibir Anjani dengan lembut lalu berjalan ke arah kulkas yang berada di samping mereka.
Arkan mengambil buah anggur namun Anjani yang melihat itu protes. "Aku gak mau anggur, Mas. Aku mau pisang."
Mendengar itu Arkan mengangguk dan kembali menaruh anggur lalu mengambil buah pisang yang Anjani inginkan. Namun baru saja dia menutup pintu kulkas Anjani kembali bicara.
__ADS_1
"Gak jadi aku mau melon," katanya.
Arkan kembali mengangguk lalu membuka kulkas untuk mengganti buah pisang itu menjadi buah melon. Namun lagi-lagi belum sempat dia menutup pintu kulkas Anjani kembali menginstruksi. "Tapi melon gak ada seger-segernya, aku mau semangka aja yang banyak airnya."
Nahkan cobaan apalagi untuk Arkan malam-malam begini. Tapi dia hanya terdiam dan menghela napasnya setelah itu mengambil buah semangka dan mulai memotongnya di meja. Anjani tersenyum melihat itu, Arkan kok tidak marah ya? Tapi sejujurnya dia juga tidak tau kenapa selabil ini.
"Mass ... "
"Kenapa, Sayang?" Tanya Arkan yang kini mengalihkan fokusnya pada Anjani.
"Tapi kayanya bayi maunya makan apel, kaya seger manis asem gitu gak sih?" Ucapnya ragu.
"Semangkanya tidak jadi?" Tanya Arkan yang masih berusaha sabar loh ini menghadapi istrinya yang berubah-ubah pikiran begini.
"Kasih aku sepotong aja, habis itu aku mau makan apel aja. Boleh yaa?" Pinta Anjani sembari mengulurkan tangannya meminta buah semangka.
Arkan mengangguk, namun alih-alih memberikannya Arkan justru menghampiri Anjani dan menyuapkan buah itu pada istrinya. Diperlakukan begitu tentu Anjani senang dan menerima siapanya dengan senang hati.
Beres dengan semangka, Arkan kembali membuka kulkas dan mengambil buah apel yang Anjani mau, dia memilih mana yang paling besar agar Anjani kenyang juga memakannya.
"Mas Arkan ... "
"Apa, ingin ganti lagi?" Tanya Arkan. Tidak ada nada kemarahan, tapi Anjani takut kalau suaminya itu lelah mengikuti kemauannya.
Arkan mengangguk, dia langsung mengambil buah mangga dan mengupasnya untuk dia potong-potong kecil di piring. Melihat itu Anjani tersenyum. Perhatian sekali bukan?
"Mas ... "
"Hmm."
"Maaf ya?" Ucap Anjani yang terlihat sangat tulus sekali diperdengarkan Arkan. "Maaf kamu pasti repot karena aku yang banyak maunya, suka marah ke kamu gak jelas."
Arkan hanya diam dan kembali melakukan pekerjaannya sampai selesai. Setelah merapikan bekasnya, dia kembali ke hadapan Anjani dan menaruh piring itu di samping Anjani.
"Mass ... "
Arkan mengambil garpu dan menyuapkan mangga yang sudah di potong itu pada Anjani. Membuat Anjani kebingungan namun dia masih menerima suapan dari Arkan. "Enak?"
Anjani mengangguk, tapi dia masih menatap Arkan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Mas maaf–"
__ADS_1
Arkan kembali menyuapkan buah mangga itu pada Anjani, namun sebelum dia menelannya Arkan sudah lebih dulu menunduk dan menggigit sisa buah yang ada dibibir Anjani.
Membuat Anjani langsung memejamkan matanya dan menikmati buah itu bersama sampai bibir mereka bertaut. Keduanya saling menyesap dan menyecap. Bahkan Arkan bisa merasakan aroma mangga menyeruak dari bibir Anjani yang membuatnya candu.
Puas dengan itu Arkan menjauhkan bibirnya dan mengusap bibir Anjani dengan ibu jarinya. "Jangan pikirkan apa yang tidak perlu kamu pikirkan, Sayang. Untuk apa meminta maaf, ayah kan harus memenuhi kebutuhan anaknya. Ini anak saya."
"Jadi gak marah?"
Arkan menggeleng dan kembali menyuapkan mangga pada istrinya. Untuk apa juga dia merasa di repotnya, dia malah senang. Meskipun ya Anjani menyebalkan kalau labil begini.
"Sayang, saya ingin bicara sesuatu."
Anjani yang sedang anteng memakan buahnya mengangguk saja, lagian juga Arkan kalau mau bicara tinggal bicara saja.
"Besok saya harus pergi ke Jakarta dan turun langsung menangani proyek."
Anjani menurunkan garpunya dan menatap Arkan. Sejenak dia menghela napasnya. "Berapa lama?"
"Satu Minggu."
Selama ini Arkan tidak pernah ke luar kota lebih dari sehari dan sekarang Arkan harus ke luar kota seminggu, mana Anjani sedang hamil. Bagaimana Anjani tidak kepikiran. "Lama ... "
"Harus kamu kah?" Tanya Anjani.
Arkan mengangguk. "Harus saya, Sayang. Saya berjanji saya akan menyelesaikan pekerjaan saya secepat mungkin."
Anjani menggigit bibir bawahnya, membuat Arkan kini memegang bibir Anjani agar tidak dia gigit. "Jangan digigit."
"Aku gak mau ditinggal," kata Anjani merajuk.
"Kalau bayi kangen ayahnya gimana?" Lanjutnya.
Arkan menghela napasnya lalu tersenyum tipis. Ya dia juga sebenarnya berat kalau harus meninggalkan Anjani. Tapi kali ini memang tidak bisa diwakilkan oleh asistennya. Ini yang membuat Arkan dilema.
Dulu saat dia masih bujang, dia bisa pergi saja tanpa memikirkan apapun, tapi sekarang sudah ada Anjani dan anak mereka. Mereka pasti butuh afeksi darinya.
"Jangan begitu, saya semakin berat tinggalin kamu dan anak kita. Seminggu saja, ya? Keberangkatan saya besok siang."
Sedih sih sebenarnya, tapi Anjani juga tidak mungkin ikut atau mengekor Arkan. Lagian juga Arkan bekerja, dia harus punya tanggung jawab juga sebagai pemimpin sebuah perusahaan.
__ADS_1
"Yaudah gapapa, Mas." Anjani memeluk leher Arkan lalu menciumi pipinya. Jujur ini berat sekali untuk Anjani.
Ada rasa tidak mau ditinggalkan tapi dia tidak boleh egois juga. Karena yang Arkan lakukan pasti untuk kebaikan keluarga mereka. Arkan paham kok apa yang dirasakan Anjani, untuk itu dia berjanji akan segera pulang.